ANMELDENBrak!Jovita tersentak kaget mendengar suara pintu ditutup dengan sangat keras. Viola berlari dengan perasaan hancur setelah kenyataan kelam tentang ibu kandungnya dikuliti tanpa sisa.Sebelum Jovita sempat mengambil langkah untuk mengejar, lengan kekar Raymond sudah lebih dulu merengkuh pundaknya, menahan pergerakannya dengan hangat dan protektif.“Biarkan dia sendiri dulu, Jo,” bisik Raymond lembut di samping telinganya. “Vio butuh waktu untuk mencerna dan meresapi semua kenyataan ini.”“Aku takut Vio nekat seperti biasa.”“Kita di sini dulu, lihat perkembangan.” Raymond menatap tangga yang baru saja dilalui putrinya.“Terima kasih, selama ini sudah menemani Vio. Tapi… untuk kedepannya aku harap kamu bisa lebih tegas sebagai mamanya.”“Tapi selama ini, Om sendiri yang nggak pernah tegas sama Vio.”“Vio hanya punya Om, kalau Om terlalu keras, aku takut dia semakin lepas kendali.”“Kalau Om baru tegas sekarang, orang akan berpikir setelah nikah jadi kejam sama anak sendiri.”Raymond m
“P-Papa...”Bibir Viola bergetar hebat, wajahnya pucat pasi saat melihat sosok tegap ayahnya berdiri tak jauh dari mereka.Dari ekpresi dan ucapannya barusan, Viola yakin papanya telah mendengar seluruh perdebatan dan pengakuannya sejak awal.Panik dan merasa tersudut, Viola melemparkan tatapan penuh dendam ke arah Jovita. “Kamu sengaja, kan? Kamu menjebakku, Jo?!”Jovita menggeleng pelan dengan raut tenang. “Bukankah sejak awal Om Ray sudah bilang kalau kita bakal makan siang bareng di rumah ini, Vio?”Raymond melangkah mendekat, mengabaikan tatapan histeris putrinya. Ia berdiri tepat di samping Jovita, menatap sang istri dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan kondisi fisik dan kandungan Jovita tetap aman tanpa guncangan berarti. Setelah yakin Jovita baik-baik saja, barulah pandangan tajam Raymond teralih sepenuhnya kepada Viola.“Vio...” suara Raymond mengalun berat, dingin, dan sarat akan penyesalan mendalam. “Papa yakin, kalaupun obat itu bukan berasal dari mamamu, i
Berulang kali Raymond melirik jam tangan di pergelangan kirinya sembari memacu mobilnya membelah lalu lintas kota.Perasaannya sama sekali tidak tenang. Ia tidak ingin Jovita terlalu lama berada dalam situasi canggung saat berduaan dengan Viola.Tapi, bagaimanapun juga, jembatan perdamaian di antara istri dan putrinya tetap harus diusahakan demi keutuhan keluarga mereka.Setibanya di pekarangan rumah yang sudah beberapa hari tak diinjakkannya itu, Raymond bergegas turun dan melangkah cepat ke dalam. Tapi, baru beberapa langkah melewati pintu utama, dahi Raymond seketika berkerut heran mendapati pemandangan yang sangat janggal.Bi Lastri tampak berdiri kaku di dekat pintu kaca menuju taman belakang, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik lipatan gorden tebal.Raymond melangkah mendekat tanpa suara, lalu berbisik lirih di samping asisten rumah tanganya itu, "Ada apa, Bi?"Bi Lastri terkejut, buru-buru menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi kode agar sang majikan tidak b
“Bagaimana kabar baby-nya, Jo?” Suara Viola dibuat sehalus dan sepeduli mungkin. “Katanya kemarin kamu sempat bedrest total, ya?”Jovita mengusap perutnya secara refleks, mencoba bersikap sewajarnya. “Sudah jauh mendingan, Vio. Sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi.”“Syukurlah kalau begitu...” Viola tersenyum makin lebar, lalu mengibaskan tangannya pelan mengisyaratkan ke arah pintu utama. “Yuk, masuk. Kita ngobrol santai di dalam aja.”Sambil melangkah berdampingan memasuki rumah megah tersebut, Viola berusaha setengah mati menjaga intonasi dan tutur katanya agar tetap manis di hadapan Jovita, meski sejujurnya hal itu sangat bertentangan dengan gejolak emosi dan kekesalan yang tengah membakar hatinya saat ini.Setibanya di dalam rumah, Viola langsung berbalik menatap Jovita dengan raut ramah yang dibuat-buat.“Jo, kita ke kamarku saja yuk, seperti biasa. Di atas kan lebih santai dan leluasa buat ngobrol,” ajaknya halus.Jovita tertegun. Lidahnya mendadak kaku saat memi
Raymond terdiam beberapa saat, mendengarkan dengan penuh perhatian suara di seberang telepon. Wajah tegasnya perlahan melunak, menyunggingkan senyum hangat yang tulus.“Baik, nanti papa sampaikan sama Jojo,” ujar Raymond lembut. Pria itu mengusap tengkuknya, lalu melanjutkan dengan penuh keharuan.“Papa senang banget kalau kamu mau menerima Jojo sebagai mamamu. Papa yakin... dia bakal jadi mama sekaligus sahabat yang sangat baik buat kamu.”Jovita menahan napasnya. Binar amarah yang sempat menyala di matanya seketika runtuh, berganti dengan rasa haru yang membuncah begitu menyadari siapa sosok di balik telepon tersebut.Raymond menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menambahkan instruksi dengan suara tenang namun penuh penekanan.“Ketemuannya di rumah saja, ya. Kalau nanti siang papa longgar, papa pulang agar kita bisa makan siang bareng. Kalau nggak, kamu bisa ngobrol sama Jojo sepuasnya.”“Yah… padahal aku pengin ajak Jojo nongkrong di kafe biasanya,” sahut suara di seberang sa
“Sukanya ninggalin istri sendiri di kamar...” keluh Jovita pelan dengan bibir memanyunkan rasa sebal.Sambil merapatkan tali jubah satin yang membalut tubuhnya, ia bergegas melangkah keluar menuju area dapur. Namun, rasa jengkelnya seketika menguap begitu pandangannya menangkap sosok sang suami.Di depan kompor, Raymond tengah sibuk memasak hanya dengan mengenakan celana training santai. Punggung lebar serta tubuh bagian atasnya yang atletis terpampang jelas, dihiasi jejak-jejak kemerahan, tanda cinta yang baru saja ditinggalkan Jovita dari pergelutan hangat mereka pagi tadi.Jovita mengusap lembut perutnya yang masih terasa hangat, bergumam manis pada calon buah hatinya, “Lihat... Daddy sudah buatkan sarapan enak buat kalian.”Raymond menoleh saat mendengar langkah kaki dan gumaman tipis itu. Senyum tampannya terkembang melihat sang istri sudah berdiri tak jauh darinya.“Sudah bangun?”Jovita tak menjawab, tanpa ragu mendekat dan melingkarkan kedua tangannya dengan manja di pinggang
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







