로그인Jika Evalia tidak sepenuhnya mabuk, jika wanita itu mengenalinya dengan jelas, semua rencananya bisa gagal sebelum dimulai. Maka Jonathan memilih kegelapan sebagai perlindungan. Dan bodohnya, malam itu ia juga ikut minum.
Jonathan terlalu gugup menunggu kedatangan wanita itu hingga mengonsumsi jumlah minuman yang sama seperti yang diberikannya.
Perut Jonathan terasa berg
Jonathan mengernyit. Kebingungan melintas di wajahnya, tetapi meskipun dipenuhi ketidakpastian, ia tetap menurut. Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel.Layar menyala seketika, memantulkan cahaya samar ke matanya yang sudah dipenuhi kegelisahan.Untuk sesaat, Jonathan ragu. Apa yang harus ia cari? Nama Aleksander? Evalia? Atau dirinya sendiri?Namun sebelum Jonathan sempat memutuskan, napasnya tercekat. Tangannya membeku di udara. Karena berita-berita itu sudah muncul. Terang. Menggemparkan. Mustahil untuk diabaikan.[CEO Griya Batubara Holdings, Aleksander Batubara, Menelantarkan Putranya yang Berusia Empat Tahun Bersama H.K.]Mata Jonathan melebar. Kemudian muncul berita lain.
Jika Evalia tidak sepenuhnya mabuk, jika wanita itu mengenalinya dengan jelas, semua rencananya bisa gagal sebelum dimulai. Maka Jonathan memilih kegelapan sebagai perlindungan. Dan bodohnya, malam itu ia juga ikut minum.Jonathan terlalu gugup menunggu kedatangan wanita itu hingga mengonsumsi jumlah minuman yang sama seperti yang diberikannya.Perut Jonathan terasa bergejolak. Ia juga mengingat ketika pagi tiba, wanita itu sudah pergi. Tidak ada aroma parfum yang tertinggal. Tidak ada barang pribadi yang tercecer. Tidak ada tanda kehadiran yang terasa familiar.Saat itu, Jonathan menerima semuanya sebagai tindakan Evalia. Ia mengira wanita itu melarikan diri dalam diam karena rasa malu, berusaha menghapus kejadian yang telah terjadi.Namun sekarang… Sekarang semua ingat
Jonathan merasa seperti sedang menyaksikan palu menghantam dinding-dinding pertahanan yang telah ia bangun dalam dirinya selama bertahun-tahun. Setiap detik yang berlalu membuat benteng tak kasatmata itu semakin runtuh.Rahasia tidak pernah menyukai cahaya.Di seberang meja, Aleksander tetap tenang. "Di mana aku mendapatkan semua itu," ujar Aleksander dengan suara rendah dan dingin, "nggak penting."Napas Jonathan mulai tidak teratur."Yang penting," lanjut Aleksander, tatapannya tajam menusuk, "adalah bagaimana kau bisa menciptakan ide sejahat itu. Kenapa kau melakukannya?""Aleksander...""Jangan."Satu kata itu menghantam udara sepe
Jonathan ragu.Dan keraguan itu tidak luput dari perhatian Aleksander.Rahang Aleksander mengeras nyaris tanpa terlihat saat ia mengamati pria di hadapannya. Ia tidak membutuhkan pengakuan melalui kata-kata. Reaksi Jonathan, mata yang melebar, kepanikan sesaat, serta perjuangannya mencari jawaban, sudah lebih dari cukup.Sebagai seorang pria, Aleksander bisa memahami rasa kagum. Karena ia tahu Evalia memang cantik. Cerdas. Keras kepala. Seorang wanita dengan kepribadian kuat. Pria mana pun yang memiliki mata dan akal sehat pasti akan tertarik padanya. Jonathan, yang telah bekerja dekat dengan Evalia selama bertahun-tahun, membuat kemungkinan itu sama sekali tidak mengejutkan.Bukan hal itu yang membuat Aleksander marah. Yang membakar dirinya sekarang adalah sesuatu
Mobil mewah itu melaju dengan mulus melewati jalanan kota yang sunyi sebelum akhirnya berhenti di depan pintu utama salah satu restoran pribadi paling eksklusif di kota tersebut. Cahaya lembut dari lampu restoran memantul di permukaan kendaraan yang mengilap, menciptakan suasana elegan yang terkendali.Bayu turun terlebih dahulu. Dia bergerak cepat dan membukakan pintu belakang untuk Aleksander. "Boss."Aleksander keluar tanpa mengatakan apa pun. Wajahnya tetap tenang, tetapi ketegangan yang tersembunyi di balik ekspresinya tidak dapat disembunyikan. Tatapan tajamnya menyapu area pintu masuk untuk sesaat."Boss," kata Bayu sambil melihat ponselnya. "Saya baru menerima pesan darinya. Dia sudah menunggu di ruang VIP."Aleksander tidak memberikan jawaban verbal. Dia hanya m
Mata Aleksander menyipit samar.Bayu melanjutkan, merasa perlu memberikan penjelasan lengkap. "Menurut jadwalnya, dia memiliki beberapa pertemuan di luar negeri. Semuanya berkaitan dengan bisnis, nggak ada yang mencurigakan. Sekretarisnya memastikan bahwa dia…"Namun, Aleksander sudah berhenti mendengarkan.Suara Bayu perlahan berubah menjadi kebisingan latar ketika pikiran Aleksander mulai mengembara. Kepalanya sibuk menyusun berbagai skenario yang jauh lebih memuaskan mengenai kepulangan pria itu. Ia bisa saja menelepon bajingan itu. Tentu saja bisa. Tetapi di mana kesenangannya? Melalui telepon terlalu sopan. Terlalu beradab. Terlalu mengecewakan.Pertemuan langsung akan jauh lebih menarik.Rahang Aleksander menegan
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







