Home / Rumah Tangga / Istri Simpanan Sang Aktor / Lipstik Dalam Saku Celana

Share

Lipstik Dalam Saku Celana

Author: LeneRina
last update Last Updated: 2024-03-21 15:39:18

Aaron berdiri menatap ke arah jendela ruangannya. Kedua matanya menatap jauh ke arah langit yang begitu cerah pagi itu. Batin dan pikirannya melayang ke kejadian kemarin. Wajah cantik wanita yang tanpa sengaja ditabraknya kemarin begitu membekas diingatannya.

Lamunannya buyar begitu mendengar suara ketukan pada pintu ruangannya.

“Masuk!” perintah Aaron pada seseorang yang berada dibalik pintu ruangannya.

Aaron membalikkan tubuhya begitu mendegar suara langkah yang berjalan masuk ke arahnya.

“Sudah kamu temukan siapa wanita itu?” tanya Aaron dengan serius.

“Sudah, Pak. Ini semua identitas dan foto yang telah kami temukan.”

Aaron mengambil beberapa berkas dari tangan sekretarisnya itu.

“Kamu tidak salah orang kan? Sudah kamu periksa benar-benar nomor polisi mobil yang saya berikan kemarin?”

“Sudah, Pak.” Sekretarisnya menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Silahkan bapak cek dulu foto yang ada di dalam, apakah benar dia yang bapak cari.”

Aaron membuka berkas itu dan mengambil lembaran foto wanita yang ada di dalam. Wajah seriusnya berubah sumringah begitu melihat wajah cantik yang begitu mirip dengan yang ada di pikirannya sejak tadi.

“Benar. Ini dia.” Aaron menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Dia seorang aktris dan juga model yang sedang naik daun saat ini.”

“Bagus! Segera hubungi managernya. Saya ingin dia yang menjadi pemeran utama film yang akan kita garap bulan ini.”

“Tapi kita sudah menghubungi artis lain untuk menjadi pemeran utamanya, Pak.”

“Ganti! Aku ingin dia yang menjadi pemeran utamanya bagaimanapun caranya!”

“Baik, Pak.”

“Silahkan kembali ke ruangan kamu. Lakukan perintah saya secepatnya.”

“Baik, Pak.”

Sekretaris Aaron menganggukkan kepalanya kemudian berjalan keluar dari ruangan Aaron.

“Film ini akan menjadi jalanu untuk bisa lebih dekat dengannya,” gumam Aaron dengan wajah yang sumringah.

Aaron segera mengambil ponselnya dan memasukkan kontak Dona yang di dapat oleh orang kepercayaannya itu ke dalam daftar kontak ponselnya.

***

Dona terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Doni masih bergulung dalam selimut tanpa mengenakan sehelai benangpun disampingnya. Tatapan dingin Dona masih terus melekat pada tubuh lelaki yang semalam terus memuji dan memanjakannya. Tubuh lelaki itu tiba-tiba bergerak, membuat Dona tersadar dan dengan cepat berusaha beranjak dari tempat tidur itu. Namun sayang, gerakannya kalah cepat dengan tangan Doni yang sudah meraih lengan tangan Dona.

“Mau kemana sayang? Mana morning kissku?” ucap Doni manja dengan suara khas bangun tidurnya yang seksi.

“Aku mau ke kamar mandi dulu sayang. Sebentar ya nanti aku kembali lagi ke sini.” Dona dengan lembut menepis tangan Doni dari lengannya.

“Jangan lama, Oke?” Doni mengedipkan mata kanannya sambil tersenyum manis pada Dona.

Dona menganggukkan kepalanya kemudian segera beranjak menuju ke kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci, Dona mengambil tisu toilet yang ada di dekatnya dengan membabi buta kemudian mengoyaknya sampai sangat kecil. Matanya telah basah dengan air mata yang tak bisa lagi di bendung.

Dona tergugu. Tubuhnya melemas seketika dan jatuh ke lantai. Di sandarkannya tubuhnya ke dinding.

“Maafin  Dona ya, Bu. Dona terpaksa melakukan hal ini. Dona akan balaskan semua sakit yang kita rasakan dulu, bu.” Dona menahan suaranya agar tidak keluar. Salah satu tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.

Tidak lama kemudian terdengar seseorang membuka kenop pintu kamar mandi, membuat Dona terkejut. Dengan segera di bersihkannya potongan-potongan tisu yang ada di lantai dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Segera dibukanya pakaiannya dan memakai kimono mandinya.

“Sayang, are you okay?”

Terdengar suara Doni dari sisi luar pintu kamar mandi.

Fine, Honey,” teriak Dona dari dalam.

Setelah mengusap wajahnya dengan air agar memanipulasi sisa tangis di wajahnya tadi, Dona segera membuka pintu kamar mandi.

“Baru juga mau mandi,” jawab Dona sambil bersedekap di depan kamar mandi.

“Mandi? Barengan yuk.” Doni memeluk Dona sambil terus mencium leher jenjang nan Indah milik istri keduanya itu.

“Gak. Aku gak mau masuk angin terus. Kalau mandi bareng mas itu bakalan gak mandi-mandi.” Dona mendorong pelan Doni.

“Mas janji ini gak akan lama. Kali ini kita mainnya cepet.” Doni kembali memeluk Dona dengan erat.

“Janji?” Dona menatap Doni.

“Janji.”

Dengan cepat Doni menggendong Dona masuk ke dalam kamar mandi. Teriakan yang diikuti tawa renyah terdengar dari mulut Dona begitu tubuhnya diangkat oleh tubuh tinggi nan atletis Doni. Beberapa menit kemudian terdengar suara desahan yang bersahut-sahutan dari dalam kamar mandi diikuti bunyi air dan peraduan yang bertubi-tubi.

Sejam kemudian, Dona dan Doni keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk dan kimono mandi mereka masing-masing.

Dona duduk di depan meja riasnya dan mulai mengeringkan rambutnya yang basah.

“Kenapa, Mas?” tanya Dona yang bingung melihat ekspresi serius di wajah Doni dari pantulan cermin meja riasnya.

“Jihan nelpon rupanya dari tadi. Sampai 20 panggilan tak terjawab,” jawab Doni.

“Telpon balik aja, Mas,” ucap Dona sambil terus mengeringkan rambutnya yang basah dengan alat pengering rambut.

“Sayang, boleh gak mas minta tolong pengering  rambutnya dimatikan dulu sebentar? Hanya selama mas menelpon Jihan saja,” pinta Doni.

“Oke.” Dona mematikan alat pengeringnya dan meletakkannya di atas meja.

Thank you Honey,” ucap Doni.

Doni segera menghubungi Jihan. Belum selesai satu deringan, Jihan sudah mengangkat panggilan teleponnya.

“Halo sayang, tadi kamu menelpon ya? ada apa?” tanya Doni lembut pada istri pertamanya itu.

Terdengar suara jawaban dari dalam ponsel Doni. Walaupun terdengar tidak jelas, namun Dona sudah bisa menebak topik apa yang sedang di bicarakan oleh Jihan pada suaminya.

“Baik sayang. Kamu tunggu ya, sebentar lagi mas pasti pulang,” ucap Doni setelah mendengarkan Jihan bicara panjang lebar di telepon.

Ponsel Doni menyala, pertanda panggilan telepon sudah diputuskan oleh Jihan. Doni menarik napas dengan kasar.

“Mbak Jihan marah lagi?” tanya Dona.

“Ya begitulah. Entah kenapa dia selalu menuntut dan marah-marah. Beruntungnya mas punya istri sebaik dan sesabar kamu sayang.” Doni memeluk Dona dari belakang.

“Dulu Mas juga begitu tergila-gila kan dengan mbak Jihan?”

“Itu dulu. Jihan yang mas kenal dulu begitu berbeda dengan Jihan yang bersama mas sekarang. Sangat bertolak belakang,” Ucap Doni tepat di ssamping telinga Dona.

“Jadi aku hanya pelampiasan kekecewaan Mas terhadap mbak Jihan?” Dona dengan cepat mendorong Doni agar menjauh darinya kemudian berdiri menjauh.

“Bukan begitu sayang. Mas mencintaimu setulusnya. Sejak awal kita bertemu, mas sudah merasa kalau kamulah yang selama ini mas cari. Kamu memang takdir yang tepat untuk mas.” Doni kembali mendekati Dona.

Dona membalikkan tubuhnya dan tersenyum sinis.

“Kamu percayakan dengan Mas?” Doni memeluk Dona dari belakang.

Dona menganggukkan kepalanya membuat Doni menghelakan napas lega sambil tersenyum dan memeluk tubuh Dona dengan erat.

“Oh iya mas, kalau tidak salah tadi aku lihat cincin mas di kamar mandi. Mbak Jihan bisa marah kalau tahu mas tidak memakainya nanti,” ucap Dona.

“Astaga iya.” Doni melihat ke arah tangannya.

“Sana ambil. Nanti kelupaan loh.”

Doni dengan segera berjalan menuju kamar mandi. Selagi Doni di kamar mandi, dengan cepat Dona memasukkan lipstiknya ke dalam kantong celana yang akan di pakai oleh Doni. Bertepatan dengan itu, Doni keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati Dona.

“Kok cincinnya gak ada sih? Sudah mas cariin tadi.”

“Ah masa? Perasaan tadi ada kok disana,” jawab Dona.

“Kamu ngapain pegang celana, Mas?”

“Tadi gak sengaja aku duduki, Mas. Terus aku ngecek apa celananya kusut atau gak. Kan mas itu publik figur yang sanagt terkenal. Kalau ada yang lihat mas pakai pakaian yang kusut di luar kan bisa merusak citra keartisan mas.”

“Kamu memang istri yang sangat perhatian.” Doni menyentuh pelan ujung hidung Dona.

“Mas pakai dulu celananya, biar aku lihat cincinnya di kamar mandi.” Dona menyerahkan celana yang sedang di pegangnya pada Doni.

Setelah memastikan Doni memakai celana itu barulah Dona berjalan masuk ke dalam kamar mandi.

“Kok gak ada ya mas? Perasaan tadi ada disana deh,” ucap Dona sambil keluar kembali dari kamar mandi.

“Gak ada kan? Mas juga tadi nyari loh. Dimana ya cincin itu? Bahaya kalau mas pulang tanpa cincin itu di jari mas.”

“Oh itu mas.” Dona menunjuk ke atas meja nakas yang ada di dekat tempat tidur.

“Kok bisa ada disana ya?”

“Mas lupa kali. Nih buruan pakai.”

Doni mengambil cincin itu dari tangan Dona kemudian memakainya.

“Untunglah ketemu. Terima kasih ya sayang.” Doni mencium puncak kepala Dona.

Dona menatap Doni sambil tersenyum.

“Besok Mas akan ke Singapura selama tiga hari. Mas ada pertemuan kerjasama pembuatan drama asia di sana,” ucap Doni sambil mengelus lembut rambut hitam nan halus Dona. Menyingkirkan setiap anak rambut yang menutupi kening putih nan mulus Dona.

“Mas pemeran di drama itu?”

“Nggak. Mas produsernya, Sayang. Kalau Mas pemerannya, sudah pasti kamu lawan main Mas di sana.”

“Kenapa aku nggak didapuk menjadi pemeran film itu sih mas? Aku kan juga ingin merambah ke film internasional.”

“Mas nggak ikhlas kalau kamu main dengan aktor selain Mas, Dona. Mas nggak sanggup melihat bibir lembut nan ranum ini dikecup oleh pria lain.” Doni mendekatkan wajahnya hendak mencium Dona.

Dengan cepat Dona memundurkan tubuhnya, menolak bibir yang mendekat hendak meraup bibirnya itu

“Jangan mulai lagi, Mas. Mbak Jihan sudah menunggu. Aku tidak ingin ada cakaran lagi di tubuh Mas karena amarah Mbak Jihan.”

Doni terkekeh mendengar ucapan Dona sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah kalau begitu. Mas pulang dulu ya, Sayang. Kamu baik-baik di sini. Jangan coba-coba nakal!”

Dona hanya menyunggingkan sebuah senyuman sambil mengantarkan Doni keluar dari dalam apartemennya.

“Selamat overthinking malam ini, Jihan. Hidup dalam kecurigaan dan rasa khawatir itu benar-benar menyiksa,” gumam Dona sambil tersenyum.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tirai Terakhir

    Sepuluh tahun kemudian.Waktu memiliki cara kerja yang aneh di Pulau Nusakambangan. Bagi dunia luar, satu dekade adalah waktu yang cukup untuk mengubah peta politik, melahirkan teknologi baru, dan menumbuhkan generasi yang berbeda. Namun, di balik tembok beton Penjara Batu yang lembap dan berlumut, waktu hanyalah tetesan air keran yang bocor: lambat, monoton, dan menyiksa.Di bangsal isolasi rumah sakit penjara, Doni Pratama terbaring lemah. Tubuhnya yang dulu dipuja jutaan wanita kini tak lebih dari rangka tulang yang dibungkus kulit pucat kekuningan. Penyakit paru-paru kronis, ditambah dengan gangguan jiwa yang tak pernah pulih, telah menggerogoti sisa-sisa nyawanya.Napasnya berbunyi ngik yang menyakitkan, beradu dengan suara hujan deras di luar sana. Badai sedang menghantam pulau itu lagi, seolah alam semesta ingin mengulangi latar belakang tragedi hidupnya."Suster..." panggil Doni dengan suara serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang cekung menatap langit-langit yang retak.Seo

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Harga Sebuah Masa Depan

    Deburan ombak di bawah tebing Bali pagi itu terdengar lebih tenang, seolah laut telah kenyang menelan satu nyawa yang penuh dosa. Polisi dan tim forensik telah meninggalkan villa mewah tempat Aaron dan Dona menginap. Garis polisi berwarna kuning yang sempat terpasang di balkon kini sudah dilepas.Laporan resmi telah dibuat: Seorang pasien gangguan jiwa yang melarikan diri dari RSJ Grogol, menyusup ke area hotel, dan tewas terjatuh dari tebing karena kecelakaan saat hendak menyerang tamu.Tidak ada yang tahu bahwa wanita itu adalah Jihan, mantan supermodel dan mantan istri Doni Pratama. Wajahnya hancur terbentur karang, dan sidik jarinya sudah rusak karena terlalu lama menggelandang. Dia dimakamkan di pemakaman umum tak bernama di desa terdekat, tanpa nisan, tanpa pelayat, kecuali Dona yang mengirimkan seikat bunga mawar putih tanpa kartu ucapan.“Sudah selesai,” ucap Aaron, meletakkan ponselnya di meja sarapan. Dia baru saja memastikan semua berita di media massa terkendali. Tidak ada

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tamu Tak Diundang Dari Masa Lalu

    Hari pernikahan Dona dan Aaron tiba. Sebuah hotel bintang lima di tepi tebing Bali dipilih sebagai lokasi. Ombak memecah karang di bawah sana, langit biru bersih tanpa awan, dan dekorasi bunga Lily of the Valley—bunga yang melambangkan kebahagiaan yang kembali—memenuhi setiap sudut venue.Namun, di balik keindahan itu, Aaron Dwirangga tidak bisa tersenyum.Dia berdiri di balkon suite pengantin pria, memegang ponselnya erat-erat. Kemeja putihnya sudah rapi, tapi keringat dingin membasahi punggungnya.“Bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya?!” desis Aaron pada kepala keamanannya di telepon.“Maaf, Pak. Dia cerdik sekali. Dia mencuri pakaian perawat dan menumpang truk sayur yang keluar dari area RSJ. Sinyal terakhir terdeteksi di pelabuhan Gilimanuk pagi ini.”“Gilimanuk? Itu di Bali! Dia sudah menyeberang!” Aaron memijat pelipisnya. Jihan ada di pulau yang sama. Jihan datang untuk merusak hari ini.“Perketat keamanan. Siapapun yang tidak punya undangan barcode, jangan biarkan mendeka

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Undangan Dari Neraka

    Satu tahun kemudian.Pulau Nusakambangan, Penjara Batu.Suara deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam karang terdengar sayup-sayup dari balik tembok beton setinggi lima meter yang memisahkan dunia luar dengan neraka bagi para pendosa kelas kakap. Di sini, waktu seolah berhenti. Tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada cahaya blitz. Hanya ada lembap, dingin, dan kesunyian yang bisa membunuh jiwa seseorang perlahan-lahan.Di Sel Nomor 109, Doni Pratama duduk bersila menghadap tembok.Penampilannya sudah tidak bisa dikenali lagi. Rambutnya memutih sebagian, meski usianya baru menginjak awal tiga puluhan. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit, dengan tato nomor narapidana di lengan kirinya. Matanya, yang dulu memiliki sorot tajam nan memikat, kini keruh seperti kolam air yang sudah lama tidak dibersihkan."Dona bilang dia suka warna biru..." gumam Doni pada seekor cicak yang merayap di dinding. "Nanti resepsi kita pakai tema laut ya, Cak? Kamu setuju kan?"Cicak itu diam

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Puing-puing Ego

    Cahaya pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela kaca setinggi langit-langit di Penthouse Aaron, menyinari sebuah boks bayi berwarna putih gading yang dihiasi kelambu sutra. Di dalamnya, Bima—bayi yang baru berusia dua hari—tertidur pulas. Napasnya teratur, pipinya kemerahan, tampak begitu damai dan tidak sadar akan badai dosa yang melingkupi kelahirannya.Dona berdiri di sisi boks itu, tangannya memegang secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Dia mengenakan gaun tidur satin berwarna champagne, rambutnya tergerai bebas. Dia menatap bayi itu bukan dengan tatapan seorang ibu yang penuh cinta tanpa syarat, melainkan dengan tatapan seorang pemahat yang sedang mengagumi karya seni terbarunya."Dia tidak mirip Jihan," gumam Dona pelan, jari telunjuknya menyentuh jemari mungil Bima. "Dia juga tidak mirip Doni. Syukurlah."Aaron muncul dari arah dapur, membawa botol susu formula hangat. Dia sudah rapi dengan setelan kerjanya, siap untuk kembali menguasai dunia bisnis Jakarta, seola

  • Istri Simpanan Sang Aktor   Tangisan Di Tengah Badai

    Langit di atas kaki Gunung Salak seolah terbelah dua. Kilatan petir menyambar-nyambar dengan ganas, menerangi hutan pinus yang gelap gulita dalam sekejap mata, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah tua itu. Hujan turun bukan lagi seperti air, melainkan seperti jarum-jarum es yang menghantam atap seng dengan suara bising yang memekakkan telinga. Namun, di dalam salah satu kamar yang lembap dan berbau apek di rumah isolasi itu, ada suara lain yang berusaha menandingi kegaduhan alam: jeritan seorang wanita yang sedang bertaruh nyawa.“AAAAARGHHH!!! SAKIIIT!!! MAS DONIII!!!”Jihan mencengkeram besi ranjang tua itu hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya, membuat daster lusuh yang dipakainya basah kuyup seolah dia baru saja diangkat dari kolam. Wajahnya yang dulu dipuja jutaan orang sebagai wajah bidadari, kini tak ubahnya topeng kematian. Tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat, dan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status