Share

Bab 7

Author: Thaiteaa
last update publish date: 2026-05-06 21:39:29

"Lagi mikirin apa sih? Suara bariton berisik sensual di pendengaran salsa, sembari lengan kekarnya memeluk lekuk pinggang sexynya dari belakang. Bibir sang pria mencium leher jenjang yang tidak pernah membuat nya puas. Perempuan cantik yang selalu membuatnya dimabuk kepayang, ketagihan hingga gila rasanya jika tidak menyentuhnya.

"Nggak ada Indra, kamu ini dari kemarin tanya-tanya terus, " Salsa tertawa geli sembari menikmati setiap ciuman Indra , pria yang dua tahun ini menjadi FWB dalam hidupnya. Setelah kembalinya dari Inggris.

"Bohong kaku Salsa, semalam kamu ngg6fikus. Padahal aku udah kasih kamu sesuatu yang nikmat lho, " Bisik Indra, kini jemarinya meremas bagian dada Salsa dan kini sukses membuat perempuan itu mendesah.

"Kamu mikirin mantan kamu itu kan? Alfan kan? Ngapain sih, pria nggak peka begitu kamu pikirin lagi, " Lanjut Indra tidak tahan mengucapkannya, sejujurnya ia sudah tahu jika Salsa mulai mencari cara untuk mendekati Alfan lagi. Namun perempuan itu enggak mengakuinya.

Salsa berdecak, kalau berbalik badan lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Indra. "Jangan begitu, dia pria baik Indra. Aku saja yang jahat sama dia, " Jawab Salsa terdengar menyesal. Perempuan bersurai cokelat itu mulai melepas pelukannya, kembali ke dalam kamar kemudian mengambil satu batang rokok dari atas meja. Salsa menyematkan di ujung bibir, menyalakan rokok itu hingga asap menyelimuti wajah cantiknya.

"Kalau dia baik, nggak mungkin dia bikin kku sudah sampai harus pindah ke Inggris segala, " Ungkap Indra mengambil satu botol minuman beralkohol dari dalam kulkas.

"Itu bukan masalah, aku cuma pengen nyapa Mas Alfan saja. Tapi dia selalu blokir nomorku, " Kekehnya hampa, ia hisap lagi rokoknya untuk mengusir rasa tidak nyaman dalam hatinya.Alfan benar-benar berubah, padahal dulu pria itu terlihat begitu mencintai nya.

*****

"Jadi ciri utama dari teks deskripsi itu berfokus pda penggambaran objek, tempat dan peristiwa yang secara jelas dan melibatkan indera pembaca ua. Sampai di sini ada yang ditanyakan? " Jelas Karina memberikan kursus 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩 𝙯𝙤𝙤𝙢 kepada anak didiknya di bimbel.

"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴, " Jawab murid laki-laki yang menyimak Karina sembari menulis di buku catatan.

"Oke, Ibu harap PSAT nya besok bisa semua ya, lancar nggak ada halangan" Ujar Karina tulus dan halus, berharap mereka semua bsa mengerjakan dengan baik.

"Siap Ibu Karin!!! " Seru anak-anak dirinya terdengar bersemangat.

"Kalau gitu, Karina kali ini kita tutup sekarang ya. Sampai jumpa minggu depan, " Pamit Karina melambaikan tangannya di depan MacBook barunya yang di belikan Alfan, lalu ia menutupnya. Karina merenggangkan tubuhnya, sejak kemarin ia belum tidur cukup karena kerjaan commis sedikit menumpuk. Dua hari berturut-turut ia tidur jam 2 pagi. Ia harus bangun lagi jam 5 buat masak sarapan Alfan.

Sejenak Karina tersenyum tipis melihat barang pembelian Alfan, tidak menyangka suaminya itu sedikit peduli dengannya meskipun mulutnya melebihi cabe rawit. Namun, seperti karina sudah mulai terbiasa walaupun terkadang ia takut dengan tatapan tajam Alfan, dan aura dominannya. Meskipun suaminya tidak pernah membentak, atau memukul tapi tetap saja cara bicaranya terkadang membuat nyalinya ciut. Sebenarnya ia juga cukup penasaran dengan larangan Alfan untuk tidak masuk kamar nya. 𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢? Pikiran ngawur itu terlintas di dalam pikiran Karina. Lalu ia cekikikan sendiri karena itu hal yang mustahil. Ini karena Karina terlalu banyak baca novel mafia mancanegara. Lamunannya terganggu oleh suara bel rumah, membuat Karina sedikit was-was karena dia sendiri di 𝘮𝘢𝘯𝘴𝘪𝘰𝘯, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘪 𝘐𝘫𝘢𝘩 pulang agak awal tadi. Karina akhirnya memutuskan untuk turun, ia melihat layar monitor di samping pintu.

"Mas Aldan? " Lalu ia segera ia membuka pintu.

"Siang karina, " Sapa Aldan tersenyum lebar, dan seperti biasa terlihat ganteng dan menawan. Pria itu menjulang tinggi di depan Karina, memakai kaus lengan pendek putih bertuliskan 𝘊𝘢𝘭𝘷𝘪𝘯 𝘒𝘭𝘦𝘪𝘯 di padu celana jeans yang semakin terlihat cocok.

"Mas Aldan? Mau cari Mas Alfan? " Karina sedikit heran dengan kedatangan Aldan ke sini, setahu dirinya Aldan adalah model yang pastinya di sibukkan dengan pemotretan.

"Ngapain aku cari Suami kamu! Justru aku mau ngakak kamu shopping, " Jawab Aldan penuh semangat lalu mengedipkan mata genitnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status