MasukPrasetyo Mulyo Rahardjo sangat membenci Natalia Schutzman, pegawai minimarket yang berhasil menjebaknya hingga ia harus menahan malu karena harus menikahi perempuan kampung tersebut. Prasetyo bersumpah, ia akan membuat Natalia menyesal karena sudah berani mempermainkannya.
Lihat lebih banyakNatalia melirik Prasetyo yang nampak sibuk dengan ponselnya, mereka memang bukan pasangan harmonis yang melewatkan momen sarapan bersama sembari membicarakan jadwal harian. Tapi sikap lelaki itu beberapa bulan terakhir ini memang mencurigakan, Prasetyo menjadi lebih sibuk dengan ponsel ketimbang layar laptop yang biasanya digunakan untuk memeriksa laporan dari para karyawan.
“Malam ini kamu makan malam di rumah kan, Mas?” Prasetyo menggelengkan kepala tanpa mau repot-repot melirik istrinya. “Pekerjaanku cukup banyak.” “Dua hari yang lalu kamu juga beralasan yang sama.” Kata Natalia. “Dan seterusnya aku akan menggunakan alasan yang sama.” Balas Prasetyo dingin. “Jangan menatapku seperti itu, kamu tahu pekerjaanku memang banyak.” Kata Prasetyo sembari meraih serbet untuk membersihkan sudut bibirnya dari sisa-sisa makanan. “Sul, siapkan mobil!” teriak Prass sembari beranjak dari kursinya. Natalia menghela napas, berusaha menguatkan hati karena meski sudah hampir satu tahun menikah, Prasetyo masih juga belum mau membuka hati untuknya. Lelaki itu kian dingin dan bahkan beberapa bulan belakangan ini nyaris tak tersentuh. ting! Ponsel Prasetyo tertinggal, Natalia biasanya tidak pernah penasaran. Tapi instingnya kali ini membuat perempuan itu memperhatikan ponsel suaminya yang tergeletak di atas meja. Natalia bersyukur ia sedang tidak mengunyah makanan, karena profile perempuan cantik yang pertama kali Natalia lihat dari pop up chat yang terbuka. Samantha. Pasta dan garlic bread kesukaan kamu. Aku juga tambahin extra keju, kamu suka kan? “Sejak kapan kamu jadi kurang ajar seperti ini?” Jantung Natalia seketika mencelos, ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Prasetyo yang dengan kasar mengambil ponselnya di atas meja. Lelaki itu marah, Prasetyo memandang Natalia dengan tatapan muram. “Jadi dia alasan kamu nggak bisa makan malam di rumah?” tanya Natalia dengan dingin. “Bukan urusanmu.” “Mas!” “Apa?!” teriak Prasetyo tidak kalah keras, wajah lelaki itu memerah menandakan seberapa besar kemarahan yang coba ia tahan. “Dengar, Nat. Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, bukan aku yang menjebak kita berdua dalam hubungan yang menyeramkan ini.” Prasetyo menarik napas, berusaha meredakan emosinya. “Kamu adalah satu-satunya orang yang sanggup melakukannya, jadi terimalah konsekuensinya bahwa pernikahan kita tidak akan pernah sama seperti pernikahan orang lain.” Prasetyo menyimpan ponselnya, lalu meraih jasnya di pinggiran kursi.”Apa yang kamu harapkan, Nat? aku akan menjadi lelaki yang setia?” Prasetyo mendengus. “Jangan mimpi terlalu tinggi, karena bagiku pernikahan ini sama sekali tidak memiliki arti apa pun.” Prasetyo tahu ia sudah sangat kelewatan, tapi mulutnya tidak mau berhenti mengeluarkan kata-kata yang sanggup menyakiti perasaan istrinya. Tidak peduli, bahwa saat ini buku-buku jari Natalia sudah memutih karena terlalu kuat mencengkram pisau roti. Tidak peduli, seberapa kuat usaha perempuan itu menahan tangis, Prasetyo terus mengatakan apa yang ingin ia katakan. “Jangan mimpi terlalu tinggi, Nat. Karena dengan atau tanpa pernikahan ini kamu tidak akan pernah menjadi satu-satunya untukku, jadi berhenti mencampuri urusanku, mengerti?” Natalia mengangguk, ia sama sekali tidak sanggup membuka mulut. Lidahnya kelu, ia takut begitu membuka mulut justru suara tangis gemetar yang terdengar. Karena itu Natalia memilih mengangguk, meyakinkan Prasetyo bahwa ia mengerti posisinya di rumah tersebut. “Teruslah berdiri dan menjadi hiasan yang cantik untuk keluarga ini, kamu menyukai peran itu bukan?” desis Prasetyo sebelum berlalu, meninggalkan Natalia yang menangis tanpa suara di ruang makan yang sunyi dan asing.Di dalam sebuah kamar hotel yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, Nathalia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat gelas teh hangat yang sudah mulai mendingin. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, meski di dalam kepalanya, badai belum juga reda. Kejadian beberapa jam lalu masih terputar jelas dalam ingatannya—bagaimana ia hampir kehilangan nyawa, bagaimana Prasetyo dan Arman akhirnya menghadapi dalang yang selama ini mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.Dan kini, Prasetyo ada di ruangan yang sama dengannya. Duduk di kursi dekat jendela, diam, hanya menatap keluar seakan mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan.Hening di antara mereka terasa begitu tegang, tetapi berbeda dari biasanya. Dulu, keheningan seperti ini muncul karena ketidaksukaan Prasetyo terhadapnya, karena dinginnya sikap pria itu yang selalu menempatkan dirinya seolah Nathalia tidak berarti apa-apa. Namun kini, ada ketegangan yang berbeda—sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, dan lebih
Di dalam sebuah kamar hotel yang tersembunyi dari hiruk-pikuk kota, Nathalia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat gelas teh hangat yang sudah mulai mendingin. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, meski di dalam kepalanya, badai belum juga reda. Kejadian beberapa jam lalu masih terputar jelas dalam ingatannya—bagaimana ia hampir kehilangan nyawa, bagaimana Prasetyo dan Arman akhirnya menghadapi dalang yang selama ini mengatur segalanya dari balik bayang-bayang.Dan kini, Prasetyo ada di ruangan yang sama dengannya. Duduk di kursi dekat jendela, diam, hanya menatap keluar seakan mencari sesuatu yang tidak bisa ia temukan.Hening di antara mereka terasa begitu tegang, tetapi berbeda dari biasanya. Dulu, keheningan seperti ini muncul karena ketidaksukaan Prasetyo terhadapnya, karena dinginnya sikap pria itu yang selalu menempatkan dirinya seolah Nathalia tidak berarti apa-apa. Namun kini, ada ketegangan yang berbeda—sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit, dan lebih
Di dalam mobil yang melaju cepat, Prasetyo menatap Arman dengan tajam. Napasnya berat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Kebenaran yang baru saja diucapkan Arman masih menggema di kepalanya.“Aku mengkhianatimu,” ulang Arman, kali ini dengan suara lebih mantap. “Aku yang memberi informasi tentangmu kepada mereka.”Prasetyo mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak melayangkan pukulan ke wajah pria di sebelahnya. Namun, bukan itu yang paling mengusiknya—melainkan kata ‘mereka’ yang diucapkan Arman.“Siapa ‘mereka’?”Arman mengalihkan pandangannya keluar jendela, lalu menghela napas. “Orang yang ingin kau lenyap dari garis keturunan Rahardjo. Mereka tidak mau kau kembali dan mengambil hak warismu.”Dira dan Rendra bertukar pandang. Sejak awal, mereka merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perebutan harta dalam kasus ini.“Apa ini ada hubungannya dengan keluargamu, Pras?” tanya Dira.Prasetyo mengangguk. “Aku meninggalkan semuanya bertahun-tahun lalu. Aku tidak peduli
Di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, Nathalia duduk di dekat jendela, menatap layar ponselnya dengan gelisah. Sudah lebih dari enam jam sejak terakhir kali Prasetyo mengirim pesan. Ia tahu pekerjaan suaminya penuh risiko, sering kali membuatnya terjaga semalaman. Tapi kali ini, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang berbeda—sesuatu yang lebih berbahaya dari sebelumnya.Ponselnya bergetar, membuatnya tersentak. Dengan cepat, ia meraihnya, berharap ada kabar dari Prasetyo. Namun, pesan yang muncul justru dari nomor tidak dikenal:"Dia dalam bahaya. Jika kau ingin menyelamatkannya, bersiaplah."Nathalia merasakan jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membaca pesan itu berulang kali, mencoba mencari makna tersembunyi di baliknya. Ia ingin mengabaikannya, berpikir mungkin ini hanya trik seseorang yang ingin mempermainkannya. Namun, instingnya berkata lain.Ia mencoba menghubungi Prasetyo, tapi tak ada jawaban. Makin gelisah, Nathalia berdiri dan melangkah ke meja kec


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan