ANMELDENBu Ratih menekan Loos speaker.“Ya, Bu.”“Ilalang makannya masih baik?”Pertanyaan itu membuat Linggar mengerjapkan mata.Ia menoleh kepada Ilalang yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya.“Masih, Bu.”“Syukurlah. Saya sempat khawatir. Ilalang itu kalau sudah suka sambal, susah mengerem. Perutnya sering bermasalah kalau terlalu banyak makan pedas.”Linggar tersenyum kecil.“Sekarang saya sudah tahu, Bu. Jadi sambalnya saya atur biar nggak terlalu pedas.”“Pantas saja kapan hari saat ke Tokyo dia terlihat makin berisi badannya. Kayaknya ada yang memperhatikan pola makannya.”Nada Laras terdengar ringan.“Kalau begitu, selama saya belum pulang, tolong terus perhatikan makanannya.”Linggar terdiam sesaat.Cara bicara Laras membuatnya merasa seperti seseorang yang sudah lama membantu mengurus kebutuhan Ilalang. Linggar mengusap ujung hijabnya.“Iya, Bu.”“Sebentar lagi tahun baru, kan?”“Iya.”"Mungkin kamu belum tahu kalau tahun baru kami sekeluarga kumpul sekalian tasyakura
Malam itu di ruang keluarga. Bu Ratih bersama Nia nonton TV sambil nungguin Lintang yang hendak belajar didampingi Linggar. “Sepertinya sekarang ada yang rajin pakai hijab di rumah," canda Bu Ratih ketika Linggar datang bersama Ilalang. Linggar spontan menundukkan wajah. Malam itu ia memang sengaja mengenakan hijab meski hanya berada bersama keluarga. Kain tersebut menutupi lehernya yang masih menyisakan bercak kemerahan akibat ulah Ilalang. Ia berharap tidak ada yang memperhatikan, tetapi rupanya Bu Ratih justru lebih dulu menyadarinya.Linggar semakin salah tingkah ketika Ilalang yang duduk du sebelahnya menyenggol sikunya pelan.Ia melirik lelaki itu dengan kesal, tetapi Ilalang justru memasang wajah tanpa dosa.Mbak Nia yang berada tidak jauh dari mereka tampak menahan senyum. Linggar bisa melihat sudut bibir perempuan itu bergerak, seolah berusaha keras agar tidak tertawa.Sayangnya, Lintang yang belum mengerti apa-apa justru bertanya dengan polos.“Bunda kenapa pakai hijab te
Ilalang seketika kaget dengan pertanyaan Linggar.“Cindy bukan orang seperti itu.”Suara Ilalang terdengar tenang, tetapi justru membuat dada Linggar terasa sesak.“Dia wanita yang selama aku tahu, menjaga diri.”Linggar tidak bicara.Ilalang masih berdiri menghadapnya. Tatapannya lurus, seolah ingin memastikan Linggar benar-benar mendengarkan setiap perkataannya.“Setidaknya saat bersamaku, dia begitu,” lanjut Ilalang. “Aku memang biasa tinggal di luar negeri, tapi aku punya prinsip. Aku nggak sembarangan berhubungan dengan perempuan."Linggar menundukkan wajah.Entah kenapa, penjelasan itu sama sekali tidak membuat hatinya lega, padahal seharusnya ia senang, kalau Ilalang menjaga batasannya.“Dan sepertinya Cindy tahu prinsipku itu.”Linggar mengembuskan napas pelan. Cara Ilalang bicara tentang Cindy seperti itulah yang bikin dia merasa Ilalang membela Cindy tanpa ragu.Ilalang memperhatikan wajah Linggar yang sejak tadi berubah.Lelaki itu menyipitkan mata.“Kenapa kamu kok aneh?"
“Linggar.”Suara Ilalang membuat Linggar tersadar dari lamunannya.Sejak Lintang masuk ke dalam kelas, pandangannya belum beranjak dari pintu yang telah tertutup. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan. Bukan karena Lintang berada di sekolah. Anak itu sudah sering ia tinggalkan untuk belajar.Namun pagi ini terasa berbeda.Entah kenapa, tatapan Cindy kepada Lintang terus terbayang.Cara perempuan itu mendekat. Cara tangannya menyentuh pipi Lintang. Bahkan senyum yang sempat muncul sebelum Cindy mencium kepala anak itu.Linggar tidak tahu kenapa semua terasa begitu ganjil. “Linggar. Kamu kenapa? Wajahmu pucat."Kali ini suara Ilalang terdengar lebih dekat.Linggar menoleh.Tanpa banyak bicara, Ilalang menggenggam tangannya.Sentuhan itu membuat Linggar sedikit terkejut.“Mas?”“Kita berangkat.”Linggar mengangguk pelan.Cindy yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan tangan Ilalang yang masih menggengga tangan Linggar sebelum berkata,“Aku ikut ke perkebunan. Kita bahas kerja sama
"Siapa bilang?" Linggar mengibaskan tangan Ilalang yang melingkar di pinggangnya."Ngaku, deh.""Mas, kamu kok maksa sih."Ilalang terkekeh lalu kembali memeluk Linggar dari belakang."Pagi ini dingin, ya."Bisikan Ilalang membuat Linggar menegang.Rintik hujan terdengar pelan dari balik jendela. Udara pagi terasa lembap. Tubuh lelaki itu semakin mendekat, lalu tangannya sudah menjalar menyentuh tubuh Linggar.Linggar menggeliak menikmati sentuhan itu."Enaknya ngapain ya?"Bibir Ilalang menyentuh lehernya.Linggar makin memejamkan mata. Terlena dalam buaian lelaki itu. Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu. Tidak ada keinginan untuk segera menjauh.Namun hanya sesaat. Pikiran lain menyelinap saat mendengar adhan Subuh menggema."Mas baru pulang?""Siapa bilang. Kamu sih, tidur kayak babi. Dipeluk pun nggak ngerti."Ilalang makin membuat Linggar menggeliak. Namun tiba-tiba Linggar membuka mata. Tangannya menahan dada lelaki itu."Sudah, Mas. Nanti kita kesiangan."Ilalang berhenti."K
“Nenek sudah tahu kalau Cindy sudah kembali?”Bu Ratih mendengus.“Kamu pikir Pak Budi itu orangmu hingga dia nggak cerita sama Nenek?”“Bukan begitu, Nek. Aku hanya tidak ingin Nenek berpikir yang macam-macam.”“Kamu sudah menikah. Nenek tidak mau kamu terus mengurusi wanita itu.”Kaki Linggar berhenti. Ia berdiri beberapa langkah dari ruang tengah.Suara Ilalang terdengar beberapa saat kemudian.“Dia di sini sudah nggak punya siapa-siapa, Nek.”“Pembantu yang mengurusi rumah leluhurnya juga ada.”“Tapi tetap saja.”“Walau begitu, kenapa kamu yang repot?”“Dia sedang sakit.”“Lalu?”“Nenek mau aku membiarkannya sendiri?”Bu Ratih menghembuskan napas panjang.“Ilalang.”“Apa?”“Kamu itu sudah punya istri.” Suara Bu Ratih terdengar lebih tegas. “Linggar adalah istrimu.”Tak ada jawaban.Linggar menunduk. Merasa tak enak hati. Karena permintaan wanita itulah hingga Ilalang terpksa menikahinya.“Nenek tidak peduli apa yang terjadi sebelum kamu menikah.”Linggar menatap lantai.“Tapi sete







