LOGINMarta melihat anak kecil yang berdiri ketakutan di belakang ibunya, sementara sang ibu terlihat tetap tenang dan percaya diri. Natasya bahkan masih sempat memberikan senyum sinis penuh cibiran pada wanita mandul itu. "Zayn," Suara Marta menarik ketegangan. Ia mendekat lalu menahan keponakannya yang hendak memberi bogem mentah. "Apa yang terjadi?""Kamu bahkan bilang pada Marta?!" Keterkejutan Marvel tidak bisa dibohongi. Kedatangan istrinya membuatnya panik. Gigi Marvel gemertak. Ia masih bisa mengatasi jika kepergok oleh Azalea dan Zayn, tapi ia tidak menyangka para bocah ingusan itu akan dengan cepat menghubungi istrinya. Marvel menggeleng pelan, ia merasa sudah terperosok jatuh sekarang. akan sangat sulit membela diri. Namun ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya. Yah, ia masih butuh Marta untuk tetap di sampingnya dan menopangnya sebagai istri yang terhormat. "Jelaskan pada tanteku! Siapa dia!" Tunjuk Zayn pada Natasya. Suara Zayn tegas dan juga penuh penekanan. Marta
"Mmm itu, Zayn, sebenarnya--" Azalea ragu hendak mengatakan semuanya, apalagi posisi mereka masih berada di tengah koridor. Ceritanya cukup panjang, Azalea pun meminta Zayn untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Di taman rumah sakit, Azalea mulai menceritakan duduk permasalahannya lalu satu per satu yang berkaitan dengan pertanyaan Zayn ia jawab. Zayn mendengarkan dengan duduk tenang, ekspresinya tidak banyak berubah. Padahal Azalea kira Zayn akan kaget tak menyangka jika Azalea bilang omnya memiliki simpanan. "Zayn, kamu percaya padaku kan? Aku tidak bicara omong kosong.""Kamu punya buktinya?" tanya Zayn serius. Azalea lalu menyodorkan ponselnya, ia menunjuk foto-foto dan bukti yang sudah dikumpulkannya. "Lea," Zayn menatap gadis itu dengan serius. "Masalah sebesar ini harusnya kamu katakan padaku--"Dari respon Zayn, tampaknya pemuda itu kecewa. "Masalah ibumu itu, apa kamu pikir aku tidak bisa menyelesaikannya?"Azalea menggeleng cepat. "Tidak Zayn, aku hanya tidak ingin me
"Na-Naura, ti-tidak! Kami tidak bermaksud begitu!" elak ketiga siswi itu. Keributan mereka menarik perhatian yang lain, termasuk Azalea yang kini menoleh dan mendengar namanya disebut-sebut. "Zayn, sepertinya ada yang bertengkar!" Azalea menggoncang pundak Zayn. "Zayn, itu Naura--"Zayn menegapkan duduknya dan menaruh buku di meja. Ia lalu melihat ke arah pintu, ada Naura dan siswi lain yang tampak sedang adu jambak. "Zayn, ayo lihat! Kamu harus melerainya!" Azalea hendak menarik tangan Zayn. Namun pemuda itu justru menarik tangannya dan memaksa duduk. "Apa kamu punya energi lebih untuk meladeni mereka? Lebih baik kamu simpan untuk nanti, kamu harus lembur." Zayn memerintah untuk Azalea fokus pada tugas yang sedang digarapnya. Sementara Zayn beberapa saat hanya memperhatikan, kemudian ia bangkit dan menghampiri keributan. Di saat Zayn berdiri tak jauh, Naura yang tadi berkelahi terpelanting, ia hampir jatuh namun menabrak Zayn. "Zayn?" Tahu jika Zayn yang menangkapnya, Naura se
Uhuuuk! Azalea sampai tersedak ludahnya sendiri. Apa tadi? My little baby duck? Apa dia gila! "Itu manis mana, Lea? Ayo, jawab!" Buru-buru Azalea menyeruput minumannya. Meski ucapan Zayn aneh dan terdengar gila, namun Azalea bukan seseorang yang bisa menolaknya mentah-mentah. "Mmm, tapi kenapa little baby duck Zayn? Maksudmu anak bebek?" tanya Azalea dengan wajah bodohnya. Sandy belum berkomentar apapun, yang jelas ekspresi wajahnya makin ditekuk-tekuk. "Ya. Kamu--" Zayn dengan harinya menyingkirkan anak rambut Azalea yang menutupi wajah. "Seperti anak bebek yang selalu mengikutiku ke mana pun, cerewet, tapi penurut. Yah, kurang lebih seperti itu--" Azalea memaksakan tawanya, itu sama sekali tidak lucu! Tapi karena Zayn yang bicara jadi Azalea tidak mungkin menegurnya. "Apa-apaan seperti itu! Lea bahkan bukan kekasihmu, kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan yang menggelikan!" protes Sandy lagi, tentu saja kali ini mendapat tatapan dan raut serius Zayn. "Salah lagi?" Zayn me
Diam-diam Alya mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya, jika ia perhatikan sebenarnya hubungan mereka tidak begitu hangat. Baik Ayah dan ibunya sama-sama gila kerja, bedanya ibunya jarang lembur tapi kalau berangkat ke butik selalu awal. Alya menghela napas, fakta jika ia hanya anak pungut ditambah keluarga yang kurang harmonis membuatnya merasa tidak nyaman, tapi ia harus bertahan. Tidak ada yang boleh tahu tentang status aslinya, bagaimana pun selama ini ia hidup seperti seorang putri. Alya sadar akan itu, kemudahan baik di sekolah dan hidupnya semua ia dapat karena memiliki status sebagai anak konglomerat, maka dari itu ia bahkan tidak punya niat sedikit pun mencari keluarga kandungnya. Apalagi soal perjodohan dengan Haikal, Alya harus mempertahankan itu. Tidak peduli Haikal menerimanya karena terpaksa atau tak punya pilihan lain, yang jelas Alya harus mengikatnya. Jika suatu hari semua terbongkar, ia harap di saat itu Alya sudah mandiri, punya suami dari keluarga tajir se
Tidak sampai lima belas menit pemuda itu kembali dan Azalea belum menyelesaikan tugasnya. "Zayn, apa proposal ini akan digunakan dalam waktu dekat?" tanya Azalea. Ia cukup tertarik dengan apa yang sedang ia garap."Benar," jawab Zayn sembari mendekat. Ia duduk di samping Azalea dan meletakkan sesuatu yang baru saja dibelinya. "Akan ada bazar buku. Tugas dewan siswa mengajukan proposal ini ke guru advisor. Kalau disetujui, pihak sekolah yang akan mendanai penuh seluruh operasional bazar bukunya.""Ah, begitu. Kalau terlaksana pasti akan sangat seru," celoteh Azalea menanggapinya antusias. "Makan dulu, setelah ini kamu harus selesaikan itu," titah Zayn menggeser kotak makanan, ia membelinya khusus untuk Azalea yang belum sempat makan malam. Azalea melihat itu, matanya berbinar. Perut yang sejak tadi berbunyi akhirnya bisa ia bungkam. "Makasih Zayn."Azalea tidak menyangka Zayn akan seperhatian itu. Menghabiskan nasi gorengnya, tapi menggantinya dengan sepotong ayam yang empuk. Yan
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
Alya menyambar ponselnya, tidak ingin gadis kampung itu lama-lama menatapnya. Setelahnya ia bergegas pergi dengan menyenggol bahu Azalea hingga gadis itu terhuyung. "Lea!" Sean menangkapnya. "Kamu tidak apa-apa?" Azalea tersadar dari lamunannya. "Maaf, Kak Sean. Aku tidak apa-apa." Azalea memak
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--







