เข้าสู่ระบบ"S-saya tidak tahu soal itu! Yang jelas Tuan Zayn ada di dalam dan pesan tidak boleh diganggu!" sahut satpam itu terbata-bata. Tanpa menunggu balasan lagi, ia buru-buru berbalik dan setengah berlari kembali ke dalam pos penjagaan, menutup pintunya rapat-rapat dan tidak memberikan kesempatan anak-anak muda itu menanyainya. Azalea mematung menyaksikan reaksi panik satpam itu. Reaksi yang bahkan tidak mampu disembunyikan dengan baik. "Kalian lihat reaksi dia tadi?" bisik Ezra dengan nada penuh curiga. Varel menyilangkan tangan di dada, napasnya berembus berat. "Reaksi satpam itu jelas banget. Dia panik mendengar nama Tante Marta. Artinya, ada sesuatu yang disembunyikan." "Benar. Tidak mungkin Zayn berdiam di rumah saat tahu tantenya hampir kehilangan nyawa." "Atau justru mereka sengaja menyembunyikan Zayn supaya tidak tahu apa yang terjadi sama Tante Marta," timpal Varan dingin. Tatapannya masih terkunci pada gerbang tinggi di hadapan mereka. "Sekarang semua sudah jelas. H
Azalea memutuskan keluar dari apartemen karena Zayn yang tak kunjung membalas pesannya. Ia juga menolak percaya pada ucapan Alya, Azalea masih berharap jika foto itu hanya rekayasa meski terlihat sangat nyata. Namun selagi Zayn belum berkata apa pun, Azalea akan tetap menunggunya. Dreeet!Ponsel Azalea bergetar saat ia berjalan menuju lift. Nama Ezra tertera di layar sebagai pemanggil. "Halo, Ez, ada apa—""Lea, kamu sudah tahu kabar tentang Tante Marta?" potong Ezra terburu-buru."Tante Marta? Belum. Memang kenapa, Ez?" Dahi Azalea berkerut bingung, ia jadi ikut berdebar mendengar suara Ezra yang panik. "Tante Marta... dia hampir saja meninggal!""Apa?!" Azalea membelalak, tak percaya dengan pendengarannya. "Kamu bercanda, kan, Ez? Mana mungkin—""Lebih baik kamu ke butik Tante Marta sekarang. Cepat!"Nada bicara Ezra yang mendesak membuat Azalea tak sempat bertanya lebih lanjut. Ia bergegas menyusul ke butik Marta.Begitu tiba, suasana lokasi sudah ramai. Beberapa mobil
"Alya, kamu terus mengirimku pesan omong kosong. Kamu pikir aku akan percaya begitu saja? Mana Zayn? Kalau memang dia di sana, biarkan aku bicara--"Kalimat Azalea dipotong oleh tawa Alya yang cukup keras. "Sepertinya kamu sangat tidak percaya ya, tapi sayang banget tuh Zayn baru ajah keluar."Azalea tersenyum miring. Ia semakin yakin Alya hanya sedang mempermainkannya. "Oh. Baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya.""Haha, tunggu! Bukankah kamu masih ingin--"Panggilan diputus secara sepihak oleh Azalea. Tawa Alya semakin kencang, ia yakin ekspresi Azalea saat ini sangat menyedihkan. Di lain tempat, Rico berjalan ke ruang bawah tanah. Ia membawa makanan yang tak layak dimakan manusia lalu melemparnya begitu saja di lantai. Prak! Makanan di bungkusan itu jatuh dan tercecer di lantai, hanya seidkit yang tepat berada di piring. Di sudut ruangan yang lembap dan berbau apek itu, sosok Marvel terkapar tak berdaya di lantai yang kotor. Tubuhnya yang dahulu tegap kini tampak kuyu da
Zayn mengangkat telepon itu dengan berpindah dari duduknya. Cukup jauh hingga Azalea tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. "Lea--" Zayn kembali mendekat setelah menutup telepon, namun ia tetap berdiri dengan sikap gusar. "Aku harus pulang, Kakek sakit.""Kakek sakit?" Azalea ikut berdiri. "Lalu bagaimana dengan lukamu? Kamu juga masih sakit--""Tidak apa-apa aku bisa menahannya. Di rumah nanti ada dokter. Aku harus lihat kondisi Kakek." Zayn bersiap pergi, ia lihat Azalea yang tampak bingung dan takut. "Lea, kamu tidak apa-apa menginap di sini sendiri kan?"Azalea mematung, ia ragu jika harus berada di tempat ini tanpa Zayn. Ia mendongak, menatap Zayn berharap pemuda itu sedikit peka untuk mengantarnya pulang saja. "Kalau kamu tidak ada, untuk apa aku di sini?""Besok libur, Lea. Aku akan segera kembali, atau paling lambat besok pagi," tegas Zayn tidak sedikit pun membahas ingin mengantar Azalea pulang. "Tapi, Zayn--""Tidurlah. Aku tidak punya waktu untuk mengant
Zayn tidak menjawab secara gamblang. Tadi di dalam gudang, ia memang sempat tersungkur akibat tinju telak Raven. Namun, kejatuhatannya itu justru membakar sisa-sisa amarahnya. Dengan sisa tenaga dan ego yang terluka, Zayn bangkit kembali dan membantai Raven tanpa ampun hingga lawannya itu tak sanggup berdiri lagi sampai hitungan sepuluh berakhir. Zayn menang, hanya saja, saat Azalea bertanya di luar gudang tadi, Zayn memilih diam karena emosinya masih belum berakhir. "Aku tidak pernah kalah dari bajingan itu, Lea," ucap Zayn penuh penekanan. Cengkeramannya pada roda kemudi makin mengencang. "Raven tidak punya hak apa pun atas kamu. Pertandingan itu selesai, dan aku yang menang."Azalea menatap Zayn tak percaya, campuran antara lega, marah, dan semakin terkejut dengan jalan pikiran Zayn "Kalau kamu memang menang, kenapa tadi kamu diam saja saat aku tanya?!"Zayn tersenyum miring. "Itu karena sejak awal kamu menganggapku kalah. Jadi aku enggan bicara."Azalea menarik napas dalam-d
Sementara itu tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam terparkir tanpa lampu menyala. Rico bersama dua anak buahnya sudah sejak tadi mengintai pergerakan Zayn dan Azalea dari kejauhan tanpa menarik perhatian. "Bos, mereka pergi," ucap salah satu anak buah Rico seraya menunjuk mobil Zayn yang melesat pergi meninggalkan pelataran. Rico terkekeh rendah, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum miring yang penuh arti. "Biarkan saja dulu, aku yakin mereka hanya akan menghabiskan waktu untuk bertengkar," sahut Rico tenang, menikmat kekacauan yang baru saja terjadi. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara, menatap jalanan kosong yang baru saja dilewati mobil Zayn. Bagi Rico, kehancuran hubungan Zayn dan Azalea dari dalam adalah pemandangan yang sangat menguntungkan. "Yang penting... selalu awasi pergerakan Zayn," lanjut Rico dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Tunggu sampai dia benar-benar lengah." Dua anak buahnya mengangguk. "Kurasa Zayn s
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







