ログインJam di ponselnya Agnes sudah menunjukan hampir pukul 10 malam. Agnes membaca setiap berkas yang diberikan Daniel dengan seksama. Ternyata semuanya mengatakan bahwa seluruh fungsi organ reproduksi pria yang ada di hadapannya berada dalam kondisi yang sehat.
‘Dia konsultasi ke tiga dokter andrologi, berarti dia memang memiliki masalah seksual. Tapi seperti apa tepatnya? Apa hanya masalah kenyamanan saat berhubungan? Atau apakah respon terhadap rangsangannya lambat? Atau jangan-jangan sama sekali tidak… Tapi dari hasil pemeriksaan ini semua, tidak menujukkan adanya indikasi impotensi.’
Dari balik berkas, Agnes melirik Daniel yang ternyata masih terus memandangnya. Ia mengalihkan pandangan dan langsung kembali pura-pura membaca berkas, lalu lanjut berpikir.
‘Tapi dr. Indra tadi bilang, aku bisa menyembuhkannya. Berarti dia memang punya masalah mengenai fungsi seksual. Bukannya dia mau menikah? Jadi ini alasannya dia dikirim padaku, karena dia harus segera ditangani.’
Tanpa berekspresi, Agnes merapikan berkas-berkas yang dipegangnya, lalu disimpannya dengan rapi di atas meja.
Agnes memutuskan untuk mulai menggunakan keahlian persuasifnya, karena menyadari bahwa Daniel termasuk pria dingin yang sulit untuk mengungkapkan sesuatu pada kondisi atau lingkungan yang baru.
“Apa mas Daniel pernah mendengar mengenai istilah psikosomatis?” tanyanya dengan menggunakan panggilan yang lebih akrab, agar Daniel bisa merasa lebih nyaman berbicara dengannya.
Bulu di tengkuk leher belakang Daniel tiba-tiba bereaksi mendengar Agnes memanggilnya dengan panggilan yang lebih akrab. Ia sudah bertemu ratusan perempuan cantik yang mendekatinya dengan segala macam tipe, genit, centil, manja, bahkan sampai ada orang yang memanggilnya dengan panggilan sayang, tapi Daniel tidak pernah merasakan ada sedikit percikan di dadanya ketika mendengar dirinya dipanggil ‘mas’.
Agnes memperhatikan wajah Daniel yang terpaku, kemudian melanjutkan penjelasannya. “Tubuh kita ini adalah sebuah sistem yang kompleks. Semuanya saling berkaitan. Dari mulai jantung, sampai ke saraf terkecil di dalam otak.”
Agnes berhenti untuk memperhatikan respon dari Daniel.
‘Sepertinya dia serius mendengarkan.’
“Psikosomatis adalah sebuah kondisi di mana faktor psikologis mempengaruhi fungsi tubuh kita. Secara gampangnya, stres, trauma, atau kondisi tertekan bisa membuat badan kita memiliki gejala fisik yang tidak seharusnya atau bahkan terasa sakit. Padahal jika diperiksa secara medis, kondisi badan kita sehat.”
“Maksud kamu, aku sekarang sedang dalam keadaan stress?”
‘Berhasil. Aku berhasil membuatnya menganti kata saya menjadi aku.’
Agnes yang sedikit bangga pada dirinya sendiri, menyelipkan rambutnya di balik telinga, lalu menegakkan posisi duduknya.
“Saya tidak tahu, apakah mas Daniel sedang memikirkan sesuatu? Mungkin pekerjaan atau …,” Agnes sengaja memberikan jeda sebagai penekanan, “ada kondisi yang membuat mas Daniel merasa tertekan?”
Daniel tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Dadanya berdebar. Marah. Ia tidak suka jika ada orang yang berusaha mengetahui apa yang ada ada di kepalanya, apa yang sedang terjadi di hidupnya. Karena pada akhirnya, orang itu akan menghakiminya dan menuduhnya lemah. Lebih dari itu, ia tidak suka ada respon baru di tubuhnya yang tidak ia mengerti apa sebabnya.
Daniel bangkit, lalu melangkah ke pintu ruang kerja.
Agnes ikut berdiri, “Kamu mau apa?”
Daniel mengunci pintu ruang kerja, lalu berpaling menatap Agnes. Ia lalu melangkah mendekati Agnes. “Kalau kamu bisa menebak apa yang ada di kepalaku, tapi apa mungkin kamu bisa menebak juga yang terjadi pada fisikku?”
‘Apa maksudnya?’
Dahinya berkerut. Agnes mundur satu langkah, tapi Daniel yang memiliki kaki lebih panjang, melangkah lebih cepat dan membuat jarak antar mereka semakin mengecil.
Daniel mengambil tangan Agnes, lalu meletakkannya di dadanya. “Aku ingin tahu apakah kamu memang memiliki keahlian sesuai apa yang direkomendasikan dokter Indra.”
Agnes menarik tangannya, tapi genggaman Daniel terlalu kuat. “Apa yang mau kamu lakukan?”
Daniel menatap Agnes lekat-lekat, satu alisnya bergerak naik, seperti menantangnya.
Meski tatapan itu membuat Agnes terpesona, tapi ia harus tetap profesional di hadapan pasiennya, “Dengar. Ini sudah melanggar batas etika konsultasi!”
Daniel diam tidak bergerak.
Agnes bersumpah bisa melihat sebuah senyuman kecil di ujung bibir Daniel. Daniel lalu perlahan menuntun tangannya turun ke bawah. Ia bisa merasakan lekukan dada bidang, otot perut yang kencang, dan jemari tangan Daniel yang besar dan kuat menggenggam pergelangan tangan kanannya.
‘Aku harusnya berontak. Ini sudah termasuk ke ranah pelecehan. Tapi kenapa aku menikmatinya?’
Agnes berusaha mengumpulkan kewarasan di dalam kepalanya. Namun wangi badan Daniel yang ada tepat di depan hidungnya, menghipnotisnya. Ia sekarang amat sangat ingin memeluk badan itu, sosok yang ada di hadapannya.
‘Pantas saja jutaan perempuan bersedia langsung bertekuk lutut di hadapan pria ini. Aku pun tidak berdaya.’
Agnes menatap mata Daniel, seraya tangannya terus dituntun sampai akhirnya berhenti tepat di atas sabuk celana.
“Apa kamu berani membuktikan bahwa respon seksualku tidak berfungsi?” tanya Daniel dengan nada menantang.
“Pulang, mbak?” sapa Lina yang sedang merapikan isi tasnya di meja resepsionis.“Iya,” jawab Agnes tersenyum sambil melangkah keluar dari klinik sambil berdoa data Daniel Mathew yang dimasukkannya ke dalam daftar pasien khusus tidak terbaca oleh Lina.Mobil mewah milik asistennya Daniel, sudah berhenti di depan pintu klinik. Pintu penumpang tengahnya, terbuka. Agnes melongo ke dalam mobil.Asisten Daniel, Deri yang sedang menyetir, menoleh ke belakang dan tersenyum, “Masuk, mbak.”“Iya.” Agnes masuk ke kursi penumpang tengah. Pintu mobil otomatis tertutup perlahan.Tak lama kemudian mobil berjalan.Agnes membuka ponselnya, memeriksa apakah ada gosip terbaru mengenai Daniel di media sosial. Beberapa akun gosip mengunggah berita tentang film terbarunya Daniel. Pemeran utama perempuannya adalah, Renata, aktris cantik yang juga lulusan Harvard. Ia lalu membuka kolom komentar. Ada beberapa komentar yang menarik perhatiannya.@Acilovjimin : Daniel cocokan sama Renata ketimbang sama Sabina.
“Halo?” Agnes masuk ke kamar kosnya sambil melemparkan tas ke lantai.“Halo,” terdengar suara Vivi, teman baiknya, yang menjawab dengan nada seperti baru bangun tidur.“Udah tidur?”“Kalau aku udah tidur, nggak bakalan jawab telepon kamu. Ada apa?”“Aku tadi ada pasien,” jawab Agnes sambil membuka blazer kerjanya.“Bagus lah, makin banyak dong tabungannya?”“Masalahnya bukan itu.”“Apa? Pasiennya susah?”“Nggak.”Agnes terdiam. ‘Dia malah super duper baik, ganteng, kaya….’“Nes?”“Kayaknya aku jatuh cinta sama dia.”“Wuih! Ini baru cerita,” Vivi terdengar bersemangat. “Siapa dia? Orang mana? Ganteng? Kaya? Aku kenal?”Agnes menggelengkan kepala, “Nggak. Nggak jadi deh.”“Astaga! Kebiasan ya, nelepon, mau curhat, terus nggak jadi!”“Sori. Ya udah, tidur lagi sana. Daaah!”“AG…!”Agnes mematikan sambungan telepon lalu merebahkan diri ke kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya. Tangan kanannya terlipat di dadanya, tangan kirinya terlentang di kasur.‘Apa yang baru saja terjadi? Pas
Agnes masih memegang tangan kanan Daniel. Jari telunjuk tangan kanannya masih menyentuh lengan bawah tangan kiri Daniel.Daniel masih tidak percaya akan reaksi badannya sendiri. Jantungnya berdebar seolah ingin melompat keluar dari dalam dadanya. Begitu juga dengan alat vitalnya yang mendadak membengkak. Dengan tangan kirinya, ia menarik pergelangan tangan Agnes yang masih menyentuh lengan kanannya dan mendekatkan wajahnya pada Agnes.“Selama bertahun-tahun,” Daniel berbisik sambil menatap lekat mata Agnes yang juga terkejut. “Aku sudah bertemu banyak perempuan cantik. Mereka bahkan ada yang sampai menari di pangkuanku. Tidak ada yang bisa membuatku bereaksi seperti ini. Tapi kamu….”Daniel bisa melihat gerakan naik turun di tenggorokan Agnes.Agnes menarik tangannya dan membuang pandangannya dari wajah Daniel.‘Aku hanya menyentuhnya. Kenapa ini bisa terjadi?’“Aku hanya seorang psikolog. Dan kamu adalah pasienku.” Agnes mengambil buku dan pulpennya lalu menulis sesuatu dengan cepat.
Akhirnya Agnes tahu yang menjadi alasan kenapa Daniel menemui tiga orang dokter andrologi dan sekarang datang menemuinya, seorang psikolog khusus terapi seksual.‘Jadi ini keluhannya. Daniel, seorang pria tampan dengan imej pria idaman semua wanita, tidak memiliki respon seksual pada alat vitalnya?’Mata Agnes terpaku pada bibir Daniel yang tepat ada di hadapannya. Ia bisa dengan jelas melihat rahang Daniel yang tegas. Semua itu, membuatnya ingin mengarahkan tangannya yang sekarang berada di atas celana Daniel untuk jauh lebih ke bawah lagi, tapi ia sadar ada cctv di ruang kerjanya. Dan hubungannya dengan Daniel adalah hubungan profesional yaitu, pasien dan terapis.“Mas Daniel adalah pasien saya dan saya adalah seorang psikolog profesional,” ucap Agnes yang harus sedikit menengadah untuk bisa menatap mata Daniel yang tajam. “Ada kamera di ruangan ini. Kalau mas Daniel tidak berhenti melakukan ini, saya bisa melaporkannya. Dan reputasi mas Daniel bisa….”Dalam sekali gerak, Daniel mel
Jam di ponselnya Agnes sudah menunjukan hampir pukul 10 malam. Agnes membaca setiap berkas yang diberikan Daniel dengan seksama. Ternyata semuanya mengatakan bahwa seluruh fungsi organ reproduksi pria yang ada di hadapannya berada dalam kondisi yang sehat.‘Dia konsultasi ke tiga dokter andrologi, berarti dia memang memiliki masalah seksual. Tapi seperti apa tepatnya? Apa hanya masalah kenyamanan saat berhubungan? Atau apakah respon terhadap rangsangannya lambat? Atau jangan-jangan sama sekali tidak… Tapi dari hasil pemeriksaan ini semua, tidak menujukkan adanya indikasi impotensi.’Dari balik berkas, Agnes melirik Daniel yang ternyata masih terus memandangnya. Ia mengalihkan pandangan dan langsung kembali pura-pura membaca berkas, lalu lanjut berpikir.‘Tapi dr. Indra tadi bilang, aku bisa menyembuhkannya. Berarti dia memang punya masalah mengenai fungsi seksual. Bukannya dia mau menikah? Jadi ini alasannya dia dikirim padaku, karena dia harus segera ditangani.’Tanpa berekspresi, Ag
Daniel Mathew, aktor tampan papan atas yang disukai semua perempuan - termasuk Agnes - turun dari mobil mewah warna putihnya. Dengan menggunakan long coat hitam, ia menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan melangkah ke arah pintu masuk klinik, sambil membawa tas map yang terbuat dari kulit.Agnes bergegas keluar dari ruangan untuk menyambut Daniel. Ia tiba di lobi bersamaan dengan Daniel masuk ke dalam klinik.Mereka saling berpandangan.Jantungnya berdebar keras. Jari tangannya terasa semakin dingin. Tenggorokannya kering. Agnes menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Ia tidak menyangka bintang film dan bintang iklan dengan bayaran paling mahal, kini ada di hadapannya.Tiga hari yang lalu, ia - dan tentu saja jutaan fans Daniel lainnya - patah hati begitu mendapatkan kabar dari sebuah akun gosip yang mengunggah foto-foto lamaran Daniel dan calon istrinya, seorang artis pendatang baru bernama Sabina. Akun gosip itu juga membocorkan hari pernikahan Daniel bulan dep







