LOGINSetelah kedua pasang mata saling bertatapan, Theresia mengalihkan tatapannya, lalu berkata dengan tersenyum, “Mengenai masalah marga, nggak perlu diganti dengan buru-buru. Bagaimanapun hal itu bersangkutan dengan banyak hal, seperti kartu identitas, dokumen-dokumen penanggung jawab perusahaanku, stempel, dan yang lain. Terlalu merepotkan.”Aska berkata, “Cepat atau lambat juga mesti diganti. Kamu tidak usah urus. Kakek akan suruh orang untuk membantumu mengurus semuanya.”Jemmy berkata dengan tersenyum, “Morgan, bagaimana menurutmu?”Morgan masih saja menunjukkan ekspresi dingin dan datarnya seperti biasa. “Ini masalah Theresia sendiri. Pemikiranku tidaklah penting.”Bulu mata Theresia sedikit gemetar. Dia memalingkan kepalanya melihat bunga di dalam halaman. Cahaya senja yang mulai gelap, bunga magnolia yang siang tadi begitu mekar indah kini tampak sedikit sendu.Julia melirik keduanya, lalu tersenyum. “Kalau tidak ganti marga, kita tetap bisa memindahkan data kependudukannya ke sini
“Kakek sih gembira, tapi Kakek takut kamu tidak gembira!” Nada bicara Aska terdengar lembut. “Kegembiraanmu lebih penting daripada apa pun!”Tiba-tiba hati Theresia mulai terasa pilu. Dia merasa ada sesuatu yang tersendat di tenggorokannya, membuat suaranya terdengar sedikit serak. “Terima kasih, Kakek.”“Kalau begitu, jangan berpikir terlalu banyak. Kamu baru saja pulang, kita sekeluarga bisa berkumpul dengan gembira. Sisanya pelan-pelan saja. Kalau Morgan berani menindasmu, Kakek pasti akan tegakkan keadilan buat kamu. Kakek memang sudah tua, tapi Kakek juga akan melindungimu!” Aska kelihatan tegas. “Kalau ada yang berani menindas cucu perempuanku, aku akan mencarinya sampai ke rumah.”Tiba-tiba Theresia teringat dengan gambaran Morgan dipukul Jemmy dengan kemoceng saat Hari Raya waktu itu, lalu membayangkan kakeknya sendiri mengajaknya mendatangi Keluarga Bina, Theresia pun tidak bisa menahan tawanya. Dia tersenyum cerah hingga matanya berbinar.Julia berjalan mendekat di atas jalan
Ketika Roger melihat Hallie seperti ini, dia pun merasa tidak tega. Pada akhirnya, Roger berkata, “Rasa suka itu sejenis perasaan. Mungkin karena aku duluan bertemu dengan Theresia, makanya aku lebih memprioritaskannya.”Hallie mengangguk. Air mata pun ikut menetes. Dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata, lalu berdiri dan berkata, “Kalau begitu, Tuan Roger istirahat dengan baik. Aku pergi dulu.”Roger berkata, “Aku akan tepati ucapanku. Asalkan kamu memerlukanku, aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku.”Hallie tersenyum getir. “Aku nggak kekurangan apa-apa dan juga nggak menginginkan apa-apa. Anggap saja nggak terjadi apa-apa waktu itu!”Selesai berbicara, Hallie pun membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.Roger sedang merasa pusing. Setelah mengatakan ucapan panjang lebar, kepalanya semakin kliyengan lagi. Hanya saja, dia merasa lebih lega setelah menjelaskan kepada Hallie.Hallie meninggalkan kamar pasien. Dia menyeka air mata di wajah dengan ekspresi muram. Dia tidak
Suara Roger terdengar agak lemas. “Saat bangun tadi pagi, aku sudah merasa baikan. Tapi sekarang masih sedikit pusing. Aku tidak kenapa-napa.”Theresia berkata dengan suara berat, “Tadi aku baru saja menerima telepon dari pihak kepolisian. Katanya, orang yang menabrakmu itu karena mabuk, tapi aku merasa masalah nggak sesederhana ini. Kamu mesti lebih hati-hati, jaga keselamatanmu.”Roger terdiam sejenak, baru berkata, “Oke, aku sudah tahu. Terima kasih, There. Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit semalam. Kata suster, kamu yang mengurus semua prosedurnya.”Theresia tersenyum datar. “Sebelumnya, kamu juga pernah membantuku. Kita itu teman, jadi nggak perlu terlalu perhitungan.”Roger bertanya, “Semalam ibuku kemari. Dia tidak persulit kamu, ‘kan?”Theresia membalas, “Nggak.”“Baguslah kalau begitu!”“Kamu rawat lukamu dengan baik. Kamu tidak usah berpikir kebanyakan.”“Oke.”…Baru saja Roger mengakhiri panggilan, Hallie pun berjalan ke dalam dengan memeluk sebuket bunga segar.
Saat mereka berdua sedang berbicara, Vans masuk dari pintu samping. Dia berkata dengan kaget, “Julia … kamu lagi main catur?”Jemmy berkata dengan tersenyum, “Julia sudah bisa main catur sejak kecil dulu. Saat di sekolah, dia juga pernah menang kompetisi catur. Dia hebat sekali!”Vans kelihatan sangat kaget, bahkan sangat mengaguminya. Dia pun duduk di samping. “Aku juga mau belajar!”Julia melirik Vans sekilas. “Lebih baik kamu belajar main gomoku saja!”Vans bertanya dengan kaget, “Kenapa?”Julia membalas dengan serius, “Gomoku lebih sulit, lebih cocok dengan IQ tinggimu!”Vans kelihatan gembira. “Terima kasih atas pujian Julia!”Jemmy yang berada di samping pun terus tertawa.…Beberapa hari ini, Hallie pulang sangat larut. Saat pukul sepuluh, dia baru memasuki rumah. Dia pun menyapa Jemmy dan Julia, lalu bertanya dengan perhatian, “Di mana Kakek Aska?”Julia membalas, “Di ruang baca!”Hallie berjalan ke ruang baca di samping ruang tamu. Pintu ruangan tidak tertutup rapat. Belum sem
Setelah pulang ke rumah, Julia turun tangan sendiri untuk menghangatkan makanan di dapur.Ketika Aska melihat kepulangan Theresia, dia pun berkata dengan nada gembira, tetapi terlihat rasa kasihan di atas wajahnya, “Kenapa selalu lembur? Bukannya kamu sudah merekrut banyak karyawan, apa mereka semua nggak bekerja?”Julia berjalan kemari dan berkata, “Karyawan punya tugasnya masing-masing, bos juga punya tugasnya sendiri. Kamu jangan selalu ikut campur. Jeje bisa mengaturnya dengan baik.”Theresia menjelaskan dengan lembut, “Ada urusan di sore hari tadi, makanya aku pulang kerjanya agak malam. Aku akan lebih perhatikan lain kali.”“Kita pergi makan dulu.” Julia menarik tangan Theresia untuk berjalan ke dalam ruang makan.Aska ingin mengikuti langkah mereka, tetapi pada akhirnya dia menahan dirinya. Dia kembali ke ruang baca untuk lanjut minum teh bersama Jemmy.Di dalam ruang makan, Julia duduk berhadapan dengan Theresia. Pelayan menyuguhkan makanan ke atas meja. Setelah itu, pelayan pu
Sonia tahu, apa maksud pertanyaanya, sehingga perempuan itu pun berpura-pura tenang dan menjawab, “Biasa saja.”Ranty kembali bertanya dengan khawatir, “Kamu merasa nggak sifatnya aneh?”Kedua telinga Sonia pelan-pelan mulai memerah. Perempuan itu berusaha mencari sedikit kepingan-kepingan memori di t
Reza mematung di tempat dia berdiri. Dia tidak kaget dengan serangan dadakan dari Tandy, tapi kaget karena gadis yang tiba-tiba melompat keluar. Namun, Reza tidak langsung mendorongnya, karena dia merasakan detak jantung gadis itu yang keras. Kemudian, dia menundukkan kepalanya sedikit dan melihat p
Ada juga tidak apa-apa. Asalkan dirinya mempunyai kesempatan, Stella pasti bisa membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya.Namun, bagaimana caranya agar dirinya bisa mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Juno kembali?***Cuaca semakin hari semakin panas, Sonia yang tidak dapat menahan diri kare
Saat ini Reza pergi ke dapur untuk mengambil air. Lampu di dalam ruang tamu masih menyala, cahayanya samar-samar memancar dari celah pintu.Apa dia insomnia lagi?Rasa penasaran menyerang diri Sonia. Dia menuruni ranjang, lalu terdengar Reza sedang menelepon.“Ada masalah apa?”Suara di ujung telepon te







