공유

Diskusi

작가: Calibrie
last update 게시일: 2025-10-15 16:05:48

Pagi hari pun tiba. Aku terbangun. Dan aku tak sadar jika aku sedang memeluk Dinda dari belakang. Kami masih belum mengenakan pakaian dan semalam, bahkan kami pun tidur tanpa selimut.

Saat aku menarik tanganku, Dinda pun ikut terbangun.

“Sudah pagi ya?” ucap Dinda dengan suara serak.

“Iya...” balasku.

“Duh pegel-pegel rasanya. Masih mau bobok...” Dinda menarik kembali tanganku, memintaku memeluknya.

Aku pun melakukannya sambil mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk.

“Punyamu berdiri lagi mas..
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Pak Rendra Datang ke Rumah

    Pagi itu terasa berbeda. Rutinitas yang biasanya berjalan otomatis kini diselimuti oleh ketegangan yang tak kasatmata. Aku mengeluarkan mobil Dinda dari garasi lebih dulu, mesinnya menderu halus di udara pagi yang sejuk. Tak lama kemudian, Dinda dan Dewi keluar rumah. Mereka tampak seperti wanita karier profesional pada umumnya; rapi, anggun, dan berwibawa, sangat kontras dengan kegilaan yang kami bicarakan di meja makan tadi.Dinda sempat menatapku ragu sebelum masuk ke kemudi, sementara Dewi hanya melambaikan tangan dengan senyum penuh arti yang selalu berhasil menyulut saraf-sarafku. Setelah mereka pergi, aku mengeluarkan mobilku sendiri dan berangkat menuju kantorku.Namun, fokusku hancur total hari itu.Di balik meja kerja, mataku terus tertuju pada layar ponsel. Bayangan Dinda yang berada di ruangan yang sama dengan Pak Rendra membuat darahku mendidih, namun bukan oleh amarah murni, melainkan oleh campuran adiksi akan rasa cemburu dan keinginan untuk berkuasa. Aku tidak bisa mem

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Undang Pak Rendra Ke Rumah?

    Dinda tidak memberikan celah bagiku untuk memprotes. Ia duduk tegak di atas tubuhku, membusungkan dada dengan keangkuhan yang asing namun sangat memabukkan. Di bawah cahaya lampu yang temaram, keringat yang membasahi kulitnya berkilau seperti lapisan porselen mahal.Ia mulai bergerak. Bukan dengan ritme kasar yang tadi kulakukan, melainkan dengan putaran pinggul yang lambat, presisi, dan sangat menyiksa. Setiap inci pergerakannya terasa seperti ia sedang memetakan kembali wilayah kekuasaannya di atas tubuhku. Aku mencoba mengangkat pinggulku untuk menyambutnya, namun Dinda segera menekan dadaku dengan kedua tangannya, memaksaku tetap terbaring pasrah.Aku hanya bisa menatapnya dari bawah. Pandanganku terkunci pada wajahnya yang mendongak, matanya terpejam rapat saat ia menikmati sensasi yang ia ciptakan sendiri. Rambutnya yang hitam tergerai jatuh, menyentuh perutku setiap kali ia merunduk untuk memberikan kecupan-kecupan singkat yang membakar.Ia mulai bergerak dengan liar, menunggan

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Permainan Lama Waktu Itu

    Dinda tidak melanjutkan kalimatnya. Kata-kata seolah sudah tidak lagi dibutuhkan saat ia melihat betapa reaktifnya tubuhku terhadap setiap jengkal cerita pengkhianatannya. Ia melepaskan sisa kain yang menghalangiku, membiarkan aku terekspos sepenuhnya di bawah lampu kamar yang temaram.Aku mencoba mengatur napas, namun paru-paruku terasa menyempit saat melihat Dinda perlahan turun dari posisinya di atas pinggangku. Ia merangkak dengan gerakan kucing yang mengintai mangsa, lalu berlutut di antara kedua kakiku."Dinda..." desisku, suaraku nyaris tak keluar.Ia mendongak sejenak, menatapku dengan mata sayu yang masih menyimpan bayangan kemewahan dari perlakuan Pak Rendra, namun tangannya kini menggenggamku dengan kepemilikan yang mutlak. Tanpa peringatan, ia mendekatkan wajahnya dan mulai menggunakan mulut serta lidahnya untuk memanjakanku.Sensasi hangat dan basah yang menyergap secara tiba-tiba membuatku tersentak. Lidahnya bekerja dengan sangat lincah, bergerak dengan ritme yang seola

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Mendengar Pengakuannya

    Pijatan Dinda di punggungku terasa semakin lembut, namun setiap tekanannya kini seolah membawa beban cerita yang baru saja dimulai. Suaranya terdengar lirih, nyaris berbisik di dekat telingaku."Malam itu, setelah Pak Rendra memanggilku dari kamar yang aku tempati bersama Dewi, dia tidak membawaku ke ruang rapat atau bar hotel," Dinda memulai, jemarinya kini berpindah ke tengkukku. "Dia membawaku ke penthouse miliknya di lantai paling atas."Aku tetap terdiam, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang sedang terbakar cemburu."Di sana, Mas... aku merasa seperti bukan karyawan lagi," lanjutnya. "Dia sudah menyiapkan gaun tidur sutra di atas tempat tidur. Dia memintaku mandi, lalu dia sendiri yang menuangkan wine untukku. Dia meratukanku. Benar-benar memanjakanku dengan kata-kata yang membuatku merasa sangat berharga.""Lalu?" tanyaku singkat, suaraku sedikit serak.Dinda terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat feminin dan penuh rahasia. "Dia bilang, dia l

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Tak Kunjung Bercerita

    Setelah mandi, aku segera berpakaian dan kembali ke meja makan di dapur. Dinda dan Dewi sudah duduk menungguku dengan senyum yang sulit kutebak. Ada sesuatu di raut wajah mereka, semacam kode rahasia yang sengaja disembunyikan dariku.Aku menarik kursi dan duduk, menatap mereka bergantian. "Jadi, bagaimana acara kalian? Seru?"Dinda hanya tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piringku. "Makan dulu, sayang. Nanti juga aku cerita.""Iya, Mas Aryo. Makan dulu. Pasti lapar kan seharian kerja?" Dewi menimpali dengan senyum yang sama menggemaskannya.Aku menatap mereka curiga. Mereka kompak sekali, seolah sudah berkomplot untuk membuatku penasaran. Tapi aku menurut saja. Selera makanku memang sedang bagus, terutama setelah mencium aroma ayam rica-rica yang memenuhi ruang makan.Kami makan dalam suasana santai. Sesekali Dinda dan Dewi saling melempar pandangan, lalu tertawa kecil tanpa alasan yang jelas. Aku hanya menggeleng sambil terus menyuap nasi. Mereka benar-benar menikmati momen ini,

  • Jejak Lelaki Lain Di Tubuh Istriku   Dinda Dan Dewi Sudah Pulang

    Jam delapan pagi, kami akhirnya meninggalkan rumah. Udara pagi masih terasa sejuk ketika aku menyetir mobil melewati jalanan kota yang mulai ramai. Claudia duduk di sampingku dengan senyum tipis yang terlihat berbeda dari biasanya. Blazer hitamnya sudah kembali rapi menutupi tubuhnya, rambut yang tadi pagi masih basah kini sudah ditata kembali menjadi gaya profesional yang biasa ia kenakan.Tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan. Hanya sesekali pandangan kami bertemu, lalu salah satu dari kami tersenyum, sebuah kode rahasia yang hanya kami berdua yang paham. Aku mengantarnya ke sebuah minimarket tidak jauh dari gedung kantornya. Tempat yang cukup aman untuk berpisah tanpa menarik perhatian."Sampai di sini saja, ya," ucapnya sambil melepas sabuk pengaman.Aku mengangguk. "Baik, Kak."Sebelum turun, ia menoleh sejenak, menatapku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Ada rasa terima kasih di sana, mungkin juga sedikit penyesalan, atau justru kelegaan. Entahlah."Terima ka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status