เข้าสู่ระบบUntuk sesaat Nadine menatap Salim tanpa berkedip. Ia membasahi bibirnya sedikit gugup seraya mengangguk pelan. “Dan Papa pikir aku akan mudah percaya gitu aja?”Salim menggeleng. “Papa nggak pernah berpikir akan dengan mudah meyakinkan kamu.” Terdengar helaan napas panjang. “Meski Papa tau hari ini pasti akan datang.”Salim kemudian berdiri dan pergi ke lemari besi yang berdiri kokoh di sisi lain ruangan. Itu adalah lemari berkasnya. Setelah memasukkan angka kombinasi, ia kembali mendekati meja dan meletakkan clear holder.Nadine mengambil benda itu dan membukanya. Isinya bukan berkas melainkan kliping berita dari koran. Untuk sesaat lamanya ia membalik-balik tiap lembar dan membaca tanggalnya. Semua kliping itu berisikan berita kapal MV Satria Elang yang meledak. Nadine membaca lebih cermat dan di bagian akhir menemukan seorang manajer yang kemudian dijadikan tersangka dan raib sejak paska ledakan.“Dia memang menghilang. Mungkin pelariannya terlalu bagus sampai sekarang nggak perna
“Nggak nyaman …,” ulang Nadine pelan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari sang ayah yang juga sedang menatapnya. Anehnya … tatapan pria yang sangat dekat dengannya itu tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Bukan … bukan. Itu bukan sorot takut. Seorang Salim Prajogo tidak sedang memandangnya dengan sorot takut. Itu sorot sedih. Atau … itu sorot menyerah?“Kenapa Papa nggak nyaman menyebut nama itu?” Nadine tidak mengalihkan pandangan. “Karena itu perusahaan yang sudah lama nggak ada?”Salim mengembuskan napas. “Bukan cuma itu.”“Lalu apa?”Salim menyandarkan tubuhnya ke kursi.Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan. “Kamu sudah bertemu siapa?”Nadine mengerutkan kening. “Kenapa tanya begitu?”“Karena kamu nggak mungkin tiba-tiba bertanya tentang PT. SEpelayaran kalau nggak ada yang memberitahumu sesuatu.”Nadine tersenyum tipis. “Nggak harus ketemu siapa-siapa. Bisa aja aku ketemunya berkas, bukan ketemu orang.”“Kalau kamu nggak bisa menyebut n
Nadine biasanya pulang lebih lama dari orang-orang di rumahnya.Kadang ia baru tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam. Kalau ingin menghindari kemacetan, paling cepat ia bisa sampai sekitar pukul delapan. Namun yang jelas, hampir tidak pernah Nadine sudah berada di rumah pada sore hari.Ia juga tidak menggunakan sopir.Bukan karena tidak mampu atau tidak memiliki orang yang bisa mengantarnya. Nadine hanya lebih suka menyetir sendiri. Ia merasa lebih bebas berbicara melalui telepon tanpa khawatir ada orang lain yang mendengarkan percakapannya.Entah kenapa, ia memang tidak pernah nyaman jika ada sopir yang seakan-akan bisa selalu menyimak apa yang sedang dibicarakannya. Selama masih bisa menyetir sendiri, Nadine akan melakukannya.Karena sudah berjanji akan berbicara dengan papanya, Nadine sengaja pulang lebih cepat. Bahkan ketika tiba di rumah, hari masih menyisakan cahaya sore.Alih-alih langsung menuju kamarnya, Nadine justru melangkah ke kamar Nayla.Biasanya ia hanya membuka p
“Begini, Bu. Kami sebenarnya ingin mengatur pertemuan dengan Ibu terkait progres proyek. Sekaligus memperkenalkan arsitek yang akan melanjutkan pekerjaan—”“Saya lagi nggak bisa.” Nadanya langsung berubah ketus.Perempuan di seberang sempat diam. “Maaf, Bu?”“Kalau soal proyek itu, hubungi sekretaris saya saja.”“Tapi, Bu, kami ingin—”“Saya bilang, hubungi sekretaris saya. Dia yang akan mengatur waktu pertemuan. Nggak pernah ke saya langsung karena saya juga nggak tau kapan waktu saya kosong.” Nadine menekan pelipisnya. “Sekarang saya sedang ada urusan.”“Baik, Bu. Tapi kalau memungkinkan, kami berharap—”“Sekretaris saya akan mengatur jadwalnya,” ulang Nadine. Kali ini suaranya lebih tegas. “Terima kasih.” Ia langsung memutus panggilan dan meletakkan ponsel di pangkuan.“Proyek segala macam. Kenapa harus dilimpahkan ke aku lagi, sih,” gerutunya.Beberapa detik kemudian, Nadine menghela napas. Ia tahu perempuan tadi tidak salah apa-apa. Hanya saja hari ini bukan hari yang tepat untuk
Nadine masih menatap Warsito beberapa saat setelah pria itu selesai bercerita.Air matanya telah ia hapus, tetapi matanya masih menyisakan merah. Ada terlalu banyak hal yang baru saja ia dengar. Tentang kapal yang selama ini hanya ia kenal sebagai bagian dari masa lalu Satria. Tentang Margareth yang ternyata berada di sana bukan sekadar sebagai istri pemilik perusahaan. Tentang Daniel yang berada di bagian mesin ketika semuanya berakhir.Dan tentang dirinya sendiri. Tentang keluarganya. Nadine menarik napas panjang.“Pak Warsito.”Pria itu memandangnya. “Saya rasa cukup sampai di sini.”Warsito tampak sedikit terkejut. “Ibu nggak mau bertanya lagi?”“Nggak untuk sekarang.”Nadine menggeleng pelan. “Saya sudah mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang saya bayangkan ketika datang ke sini.”Warsito diam.Nadine meraih tasnya yang sejak tadi diletakkan di samping kursi.“Saya juga nggak mau memaksa Bapak mengingat semuanya. Apalagi kalau sebagian besar hanya tersimpan dari cerita oran
Warsito memandang berkeliling beberapa saat. Ia lalu sedikit menundukkan kepalanya seolah sedang berbisik. “Bukan karena mereka nggak tau risikonya.” Rautnya menegang. “Justru karena ada orang yang tau risikonya, saya pikir keputusan itu dibuat dengan sengaja.”Nadine menatapnya. “Siapa yang minta?”Warsito kembali menegakkan tubuhnya. “Saya nggak mau menuduh Pak Salim kalau saya nggak bisa membuktikannya, Bu.” Ia menarik napas. “Tapi saya bisa mengatakan satu hal. Kalau … orang yang mengurus perubahan itu bukan pegawai biasa.”Pria itu kembali mengangguk. Wajahnya masih terlihat amat serius. “Dan permintaan itu datang dari pihak KSD Holding.”Nadine sedikit mencondongkan tubuh. “Tapi saya butuh nama, Pak.”Warsito diam.“Begini,” lanjut Nadine. “Kalau hal ini menjadi momok dan terus memenuhi pikiran Bapak sampai puluhan tahun, saya memang nggak janji bisa menebus rasa bersalah itu.”Ia menelan ludah. “Tapi ini hal penting.” Nadine menatap Warsito lebih dalam. “Ini soal keluarga say







