แชร์

14. Tertangkap basah

ผู้เขียน: Rainina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-21 13:00:11

Abby mengerutkan keningnya samar, jantungnya mendadak berdetak satu ketukan lebih cepat. "Kenapa, Kak?"

"Dia nggak balas pesanku dari kemarin sore," keluh Valerie, mengibaskan rambut panjangnya dengan anggun. "Teleponku juga nggak diangkat sampai pagi ini. Apa dia lagi sibuk banget sama tugas kampus atau proyek dosen?"

Darah Abby seakan berhen

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   17.

    "Aku sampai kaget setengah mati, lho!" Valerie tertawa puas memecah keheningan kabin mobil. "Habisnya bentuk alergi di leher adikmu itu benar-benar mirip kissmark! Untung aja tadi Abby buru-buru bilang kalau itu cuma karena cuaca. Kalau enggak, aku udah mikir yang macam-macam soal adikmu ini, Justin."Justin yang sedang fokus memutar kemudi ke arah kiri sama sekali tidak merubah ekspresi wajahnya."Begitukah?" sahut Justin datar, matanya tetap lurus ke jalan raya."Iya!" Valerie mengangguk antusias. "Makanya tadi aku sempat godain Riko. Muka pacarnya Abby itu langsung tegang banget. Kayanya dia kaget karena aku bicara terlalu blak-blakan."Di kursi belakang, Abby menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong pada jemari tangannya yang bertaut erat di atas paha. Abby diam-diam mengangkat pandangannya, melirik ke arah pantulan mata Justin di kaca spion tengah. Pria itu tampak begitu tenang. Rahangnya rileks, matanya tidak memancarkan rasa bersalah sedikit pun.Bagaimana bisa Justin

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   16.

    Merasakan tatapan mengintimidasi dari Riko yang tak pernah ia lihat sebelumnya, kepanikan Abby semakin memuncak. Ia buru-buru menarik tangannya dengan sekuat tenaga. Namun nihil, Riko sama sekali tidak melepaskannya. Cengkeraman pria itu justru terasa semakin erat."Kamu bicarain apa sih, Rik?!" seru Abby, suaranya sedikit bergetar menahan panik dan sakit."Jujur ke aku, By," desak Riko, wajahnya menunduk mendekati wajah Abby dengan kilat mata yang menggelap. "Kamu nolak aku dan pura-pura belum siap pacaran gara-gara laki-laki lain, kan? Siapa orang yang bikin tanda itu di lehermu?""Rik... lepasin!"Riko mengeratkan pegangannya. Abby meringis kesakitan saat kuku-kuku pria itu mulai menancap di pergelangannya. Ia memalingkan wajahnya, berusaha mencari bantuan di sekitar jalan setapak yang sepi itu."Oh, Abigail?"Sebuah suara riang tiba-tiba memecah ketegangan itu.Abby dan Riko sontak menoleh ke arah sumber suara. Jantung Abby seakan melompat ke tenggorokan saat melihat siapa yang b

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   15. Bukan Cuma Alergi, Kan?

    Entah untung atau tidak, tapi cuaca akhir-akhir ini membuat kulit sensitifnya benar-benar memunculkan ruam merah yang gatal, sebuah reaksi alergi yang kerap muncul di kulit Abby."Ini benar-benar alergi, Kak Valerie," potong Abby. Ia menyodorkan lengan kirinya agar Valerie bisa melihat dengan jelas bercak-bercak kemerahan yang menonjol di atas permukaan kulit putihnya. "Kulitku memang sensitif sama cuaca."Valerie terdiam sejenak, menatap lengan Abby dengan alis sedikit bertaut, kehabisan kata-kata untuk membalas."Makanya dari tadi aku kelihatan pucat dan nggak semangat. Obat alergi yang kuminum dosisnya cukup tinggi, membuatku ngantuk terus dan lemas."Hening sesaat menyelimuti meja mereka. Valerie masih menatap l

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   14. Tertangkap basah

    Abby mengerutkan keningnya samar, jantungnya mendadak berdetak satu ketukan lebih cepat. "Kenapa, Kak?""Dia nggak balas pesanku dari kemarin sore," keluh Valerie, mengibaskan rambut panjangnya dengan anggun. "Teleponku juga nggak diangkat sampai pagi ini. Apa dia lagi sibuk banget sama tugas kampus atau proyek dosen?"Darah Abby seakan berhenti mengalir sesaat sebelum berdesir panas menyerbu wajahnya.Kemarin sore.Pikiran Abby langsung berkhianat. Memorinya memutar ulang dengan sangat jelas apa yang terjadi kemarin.Hawa dingin dari meja konter, dada bidang Justin yang menekan punggungnya, dan ciuman yang merampas habis kewarasannya.

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   13. Pacar Abby

    Mata gelap Justin menatap Abby dengan intensitas yang mendadak menajam, mengunci pergerakan gadis itu."M-maksudku..." Abby buru-buru menurunkan suaranya, menelan ludah dengan susah payah."Nanti Kakak harus mutar terlalu jauh. Arah kafenya beda dengan gedung fakultas Kakak. Apalagi jalanan di perempatan depan lagi perbaikan, macet parah. Biar aku naik bus aja."Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu. Abby menahan napas, merutuki alasannya yang terdengar menyedihkan."Baiklah," ucap Justin akhirnya, nadanya kembali terdengar datar.Mendengar jawaban Justin, tanpa mengatakan apapun lagi, Abby setengah berlari menuju pintu utama

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   12. Bukan Mimpi!

    Abby membuka matanya dengan napas yang tersengal.Dada gadis itu naik-turun dengan liar, meraup udara sebanyak mungkin seolah ia baru saja hampir tenggelam. Keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya.Matanya mengerjap berkali-kali, berusaha membiasakan diri dengan sekelilingnya.Abby kini berada di atas ranjangnya sendiri, di dalam kamarnya, terbungkus rapat oleh selimut tebal. Suara rintik hujan terdengar menderu pelan dari luar jendela.Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul satu dini hari.Tubuh Abby masih bergetar samar. Ia menyibakkan selimut dan tertegun. Ia mengenakan piyama lengan panjangnya dengan kancing yang tertutup rapi, lengkap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status