เข้าสู่ระบบAlena masih menatap sosok yang berdiri di depan gerbang Vila Amarilis. Dia adalah Alres.Regan memperlambat mobil hingga akhirnya berhenti beberapa meter dari gerbang.Alena tidak segera turun. Tatapannya tetap tertuju pada Alres yang berdiri di sana, seolah sudah menunggunya sejak lama.“Apa perlu aku mengusirnya?” tanya Regan.Alena menggeleng. “Tidak perlu.” Ia menarik napas pelan. “Aku akan mengurusnya.”Regan menoleh kepadanya. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. “Kalau begitu, aku kembali dulu.”Alena membuka pintu mobil dan turun. “Terima kasih.”Regan kemudian menjalankan mobilnya melewati gerbang. Ia memutar arah ke Vila miliknya yang berada tidak jauh dari Vila Alena.Alres memperhatikan mobil tersebut sampai menghilang di balik gerbang vila yang berada beberapa rumah dari tempat Alena tinggal.Ekspresinya berubah. Selama ini ia tidak tahu bahwa Regan tinggal di kawasan yang sama dengan Alena.Alres mengalihkan pandangan kepada Alena. “J
Dalam bayangan Alena, tangannya yang kecil mengenakan sebuah gelang sederhana dengan manik-manik yang dibuat oleh ibunya. Ia masih ingat gelang itu. Gelang yang hampir selalu ia pakai hadiah ulang tahun dari ibunya.Namun, ada satu kejadian yang membuat gelang itu hilang. Alena memejamkan mata. Ingatan lama itu terasa semakin dekat. Ia seperti melihat permukaan air yang berkilau diterpa matahari. Mendengar suara seseorang berteriak.Seorang anak laki-laki seusianya, tercebur ke dalam danau. Alena kecil berusaha menolongnya. Setelah itu tubuhnya sendiri terasa sangat lemas. Dan ketika sadar ia sudah berada di rumah sakit dan gelangnya pun sudah tidak ada.Alena membuka mata. Napasnya sedikit memburu. “Bu ... Waktu itu ....” Alena berusaha mengingat. “Gelang itu hilang setelah aku menolong seseorang di danau, kan?”Bu Mareta mengangguk pelan. “Iya, ibu menemukannya di rerumputan sekitar danau, Namun setelah itu, kamu jarang sekali datang berkunjung.”Alena menatapnya. “Hari itu, siapa y
Alres masih berdiri di depan meja kecil di kamar Alena. Tangannya belum juga melepaskan dokumen yang baru saja ditemukan.Ia membalik lembar pertama sekali lagi, memastikan dirinya tidak salah membaca. Hasil pemeriksaan kehamilan. Nama Alena tercetak jelas di bagian atas. Mata Alres kemudian berpindah pada lembar berikutnya.Sebuah foto hasil USG. Ia menatap gambar hitam putih itu cukup lama. Di bawah foto tersebut terdapat keterangan mengenai usia kehamilan. 8 minggu.Napas Alres seketika tertahan. “Delapan minggu ...?” Suara itu keluar lirih.Ia mencoba menghitung. Pikirannya langsung kembali pada tanggal pemeriksaan tersebut. Tanggal yang sama ketika Keira kembali dari Landen.Jika pemeriksaan itu dilakukan saat usia kandungan Alena delapan minggu, dan sekarang sudah sekitar dua bulan berlalu, Alres kembali menghitung dengan cepat. Setelah saat itu dua bulan berlalu, itu artinya usia kandungan Alena sekitar 16 atau 17 minggu. Alena hamil empat bulan.Tangannya perlahan mengepal. “J
Alres membawa Keira masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa pun. Sejak mereka meninggalkan kerumunan wartawan di lokasi pameran, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tetap tenang, tetapi sikapnya jauh lebih dingin dari biasanya.Keira beberapa kali melirik ke arahnya. Biasanya Alres akan bertanya apakah ia baik-baik saja setelah menghadapi tekanan seperti tadi. Namun, kali ini tidak ada satu pun pertanyaan.Begitu sampai di ruang tengah, Alres melepaskan jasnya lalu meletakkannya di atas sofa. Ia kemudian berdiri di dekat jendela, membelakangi Keira.Keira yang sejak tadi menahan kegelisahan akhirnya tidak tahan. “Alres.”Tidak ada jawaban.Keira mendekat beberapa langkah. “Alres, kamu percaya padaku, kan?”Alres masih diam. Keira kemudian meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat. “Aku Lovely,” ucapnya meyakinkan. “Kamu tahu itu, kan? Aku yang membuat semua desain itu.”Alres perlahan menoleh. Tatapannya jatuh pada tangan Keira yang masih menggenggam tangannya
“Regan, Alena ... kalian di sini?” Suara seseorang dari arah belakang membuat Regan dan Alena menoleh bersamaan.Seorang wanita paruh baya berjalan mendekati mereka. Alena langsung mengenalinya.“Bu Mareta?”Wanita itu tersenyum lebar. “Ya ampun, akhirnya kalian datang juga.”Alena segera bangkit dari ayunan. Regan ikut menoleh kepada wanita itu dengan senyum yang lebih lebar.Bu Mareta adalah kepala panti asuhan yang dulu sering dikunjungi Alena bersama kedua orang tuanya.“Sudah lama sekali kalian tidak berkunjung sejak orang tuamu tiada,” ucap Bu Mareta sambil menatap Alena.Alena terdiam sesaat. Ada rasa hangat sekaligus sedih yang muncul ketika mendengar ucapan itu. Ia kemudian menghampiri Bu Mareta.“Bu Mareta, bagaimana kabarnya?”“Kabar Ibu baik-baik saja.” Bu Mareta tersenyum. “Harusnya Ibu yang bertanya. Bagaimana kabarmu, Alena?”Alena membalas senyum itu. “Aku juga baik, Bu. Sangat baik.”Bu Mareta menatap wajah Alena beberapa saat. Tatapan wanita itu perlahan berubah menj
Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Regan berhenti di sebuah tempat. Alena yang sejak tadi memandang keluar jendela langsung mengangkat wajah.Di hadapannya terbentang sebuah danau yang cukup luas. Permukaan airnya terlihat gelap di bawah cahaya malam. Angin berembus pelan, membawa udara yang terasa lebih sejuk daripada suasana di kota.Alena turun dari mobil. Matanya menyapu tempat tersebut. Ada sesuatu yang terasa familiar. Namun ia tidak langsung tahu apa.Regan berjalan beberapa langkah ke depan. Alena mengikutinya. Semakin dekat dengan danau, semakin kuat perasaan aneh itu muncul.Kemudian matanya menangkap sebuah ayunan. Ayunan lama yang berdiri tidak jauh dari tepian danau. Alena berhenti. Napasnya tertahan. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat.Sebuah gambaran samar melintas di kepalanya. Dirinya yang masih kecil. Duduk di ayunan. Sepasang tangan mendorong tubuhnya dari belakang. Lalu berganti dengan tangan lain. Ayah dan Ibunya, mereka tertawa.







