LOGINAland masih berdiri di sana. Kedua tangannya masuk ke saku celananya. Memperhatikan wajah Erick dengan teliti. "Kalau dilihat-lihat, wajahnya memang ada kemiripan dengan wajah Tante!" gumam Aland. "Hmmmm... Kalau bukan karena Tante Ratna. Mungkin aku tidak peduli dengan nyawamu. Sekarang pergilah, temui ibumu!" seru Aland. Erick terkejut, pria itu memperhatikan sekeliling. Ia hanya melihat deretan makam yang berjejer. "Ibu?" Erick bingung. "Di sana! Mamamu sedang mendoakanmu agar masuk surga," kata Aland sambil menunjuk ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara yang dikiranya adalah kuburan sang anak. "Apa! Mendoakanku masuk surga?" sahut Erick makin bingung. "Yah, Tante Ratna mengira kamu sudah mati di tanganku. Lebih tepatnya dia mendoakanmu agar diampuni segala dosa-dosamu!" lanjut Aland lagi. "Hah! Jadi Mama menganggapku sudah mati?" Aland mengangguk. Erick menoleh ke arah Nyonya Ratna yang sedang berjongkok pada sebuah pusara entah itu punya siapa. "
Aland terkesiap. Wajahnya tegang tapi terlihat sangat lucu. Sedangkan Vina yang ikut duduk di samping nyonya Ratna, ia cuma bisa tertawa kecil mendengar jawaban suaminya. Entahlah, ada saja jawaban pria itu. "Oh, iya. Dia mati karena digelitik sampe tidak berdaya. Ah, Tante tahu sendiri aku ini sangat kejam, bukan. Meskipun cuma digelitik tapi bisa menghilangkan nyawa karena anak Tante itu susah sekali matinya!" jawab Aland dengan sangat percaya diri. Vina yang mendengar itu semakin memijit pelipisnya. Ulah suaminya benar-benar sangat konyol. Nyonya Ratna sendiri bingung, entah dirinya harus senang atau bersedih. Lantaran, alasan Aland sangat gokil dan hampir membuat wanita itu tertawa kecil. Mana ada orang terbunuh hanya karena digelitik. "Memangnya bisa ya mati dengan cara itu, Land?" tanya nyonya Ratna bingung. "Ya ada dong! Buktinya, aku sudah membuat Erick mati karena aku gelitikin. Dia nggak kuat nahan geli pas aku gelitikin keteknya, membuat napasnya sesak dan akhirnya
"Tolong, bisakah kau pertemukan aku dengan Tuan Aland?" mohon Erick pada anak buah Aland yang ada di ruangan itu. "Maaf, kami tidak bisa membiarkan orang lain untuk menemui bos kami tanpa seizin beliau, apalagi kamu!" jawab salah satu dari mereka. "Aku mohon, hanya sekali saja pertemukan aku dengannya. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggunya lagi!" balas Erick. Saat ini pria itu sudah terlihat sangat sehat. Namun, anak buah Aland masih menjaganya dengan ketat. Di saat yang bersamaan, datang Romi untuk melihat keadaan Erick setelah mendapat donor dari bosnya. "Selamat pagi, Tuan Erick. Senang bisa melihatmu hari ini!" ucap Romi sesaat dirinya masuk ke dalam ruangan itu. "Di mana Tuanmu? Aku ingin bertemu dengannya!" "Bos kami ada di rumah. Ada urusan apa Anda ingin bertemu? Apa Anda ingin mencelakai beliau lagi? Tidak bisa, Anda harus melangkahi kami dulu sebelum menyentuh bos kami!" jawab Romi. Dengan tegas Erick menjawabnya. "Siapa yang ingin mencelakainya? Ak
Aland duduk di samping Nyonya Ratna. Ia meraih tangan perempuan itu. Tak bisa dipungkiri bahwa Aland sangat menyayanginya. Nyonya Ratna adalah mengganti ibunya yang telah tiada. Nyonya Ratna sendiri melihat kedatangan sang keponakan. Wanita itu tersenyum getir namun kedua matanya terlihat mengembun. Aland harus bersikap biasa dan tenang meskipun ia ingin sekali menangis. Ia mencoba untuk menghibur nyonya Ratna agar kondisi wanita itu semakin membaik pasca operasi. "Tante apa kabar? Maaf aku baru datang! Aku lihat Tante nggak mau makan, ya? Jangan dong, Tan!" Aland mengambil makanan yang sudah disiapkan untuk Nyonya Ratna. Lalu, ia menyendok nasi untuk disuapkan ke mulut Nyonya Ratna. "Mamam, ya! Ayo buka mulutnya, a,a!" Aland ikut membuka mulutnya agar Nyonya Ratna mau makan. Seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. Sayangnya, Nyonya Ratna menggelengkan kepala. "Hmmmm, kenapa? Tante nggak suka sama makanannya? Apa Tante mau makan yang lain? Katakan saja nanti aku belik
"Hehem, kangen?" Aland menatap istrinya penuh arti sambil mengulum senyumnya yang terlihat menggoda. Seketika Vina salah tingkah dan langsung meralat ucapannya. "Ohhh, enggak! Kamu salah denger. Aku nggak ngomong gitu tadi!" jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. Aland tidak menjawabnya, tapi dari tatapan matanya Vina sudah tahu jika suaminya sudah mengerti apa yang ia pikirkan. Wanita itu segera mengalihkan pembicaraan agar sang suami tidak berpikir hal itu lagi. "Ah, Mas. Sepertinya kamu harus segera minum jamunya. Keburu dingin, nanti nggak enak! Bentar ya aku ambilkan!" Vina segera pergi untuk mengambilkan jamu yang sudah ia buat untuk sang suami. Namun tiba-tiba saja Aland menahan tangan wanita itu. Vina terkesiap dan hatinya benar-benar gugup dan napasnya naik turun seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Padahal mereka sudah menikah dan memiliki banyak anak. "Apalagi, Mas? Aku mau ambilin kamu jamu," tanya Vina tanpa menoleh ke belakang. Benar saja, Aland mendekati is
Vina terkejut mendengar suara suaminya. Wanita itu langsung menoleh dan ia melihat wajah basah sang suami yang terlihat begitu segar dan lebih tampan. "Eh, ini loh Mas. Pak Waluyo nelpon kalau sekarang Tante Ratna udah dipindahin ke ruangan pemulihan. Operasinya berjalan lancar," jawab Vina sambil senyum-senyum melihat wajah suaminya yang dilihat-lihat mirip sekali dengan tokoh manhwa king Isha khan yang gagah dan perkasa. "Syukurlah!" Aland terlihat bahagia dan lega. Sementara itu sambil memegangi gagang telepon, Vina tak berkedip sama sekali melihat suaminya yang begitu tampan hari ini. "Ya Tuhan, kenapa suamiku tampan sekali hari ini. Ah, sayangnya aku belum selesai nifas. Coba aja kalau aku udah selesai. Emmm pasti aku kekepin dia, pingin dipeluk dan dijepit, ahhhh gila!" Vina bermonolog sendiri membayangkan jika saat ini dirinya bebas dari masa nifas. Sementara itu Pak Waluyo bingung karena tak ada suara Vina lagi. "Halo, halo Bu Vina! Bu Vina masih di sana, kan?" Suara