แชร์

Kaki Tangan Kael

ผู้เขียน: Djoana Jasmine
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-24 18:05:04

Vara hendak berbalik, tapi sebuah tusukan jarum mendarat di pundaknya. Entah apa yang disuntikkan ke tubuhnya, tapi cairan asing itu mengalir cepat, panasnya menjalar seperti ular api di bawah kulit. Napasnya terputus-putus, telinganya berdenging. Matanya berkunang-kunang.

Suara Felix yang memanggilnya membuat Vara berusaha bergerak menjauh.

Dia tidak boleh tertangkap lagi. Bayangan malam di kapal itu datang seperti kilatan teror, dingin air laut, dan rasa nyeri membakar, mendorongnya untuk terus bergerak.

Dia menginjak kaki siapa pun yang berniat meringkusnya. Lantas berusaha lari.

Berhasil. Tapi setelah beberapa langkah, dia tersandung sesuatu dan ambruk. Pandangannya gelap. Dan kesadaran meninggalkannya.

***

“Kau sudah bangun, tukang kabur?”

Tanpa membuka mata, Vara tahu suara siapa itu. Tidak. Dia tidak mau kembali dalam cengkraman pria jahat itu lagi. Vara membuka mata, ternyata dia kembali berada di ruang rawat rumah sakit yang sama seperti sebelumnya.

“Kenapa aku ada di sini? Kau menculikku lagi?”

“Aku bukan penculik, aku penyelamat. Dasar gadis bodoh tidak tahu terima kasih!” bentaknya. 

“Aku tidak mau di sini. Biarkan aku pergi!” Vara berteriak. Berusaha bangkit tapi Kael menyibak jaketnya, gagang pistol menyembul di pinggangnya, membuat nyali Vara sempurna sirna.

“Tidak mau di sini? Lantas kau mau di mana? Ikut berbulan madu bersama mantan tunanganmu tersayang itu?” ejeknya.

Kael memang jahat, Vara tahu itu, tapi mengatakan sesuatu semacam itu benar-benar keterlaluan. Hatinya seperti ditikam pisau karatan. Tidak berdarah tapi menyakitkan. Seketika komentar-komentar jahat netizen di media sosial terekam kembali oleh benaknya.

Penipu matre. Cinderella licik. Komposer karbitan.

Air mata Vara meleleh. Sakit sekali mengingat dia dihakimi tanpa diberi hak bicara. Padahal dia yang dijahati, tapi dia yang dibenci.

Rheiner. Bagaimana mungkin dia setega itu. Dia kelihatannya begitu lembut dan penuh kasih selama ini. Dan kenapa? Alasan itu yang tak pernah bisa Vara terka.

“Menangis tidak akan membuat keadaanmu lebih baik. Hanya gadis bodoh yang menangisi lelaki brengsek!” Suara Kael tajam. 

Vara ingin membantah. Tapi dia tidak punya bantahan apa pun. 

“Ikuti aku. Kau akan temukan jawaban dari semua pertanyaanmu, Picco!”

“Picco?” Vara menatap heran. Kael, dia seperti bunglon yang moodnya bisa berubah dalam hitungan detik.

“Ya. Artinya gadis bodoh!” Kael mencibir. Tampak menikmati membuatnya marah.

“Aku tidak bodoh! Dasar kau manusia jadi-jadian nirempati berlidah silet!”

“Benar! Kau tidak bodoh! Hanya satu level di atas tolol!” Kael membalas makiannya.

Vara mengepalkan tangan. Ingin sekali menampar Kael dan mulutnya yang sialan. Tapi Vara tahu itu tindakan bodoh. Kael bisa meremukkannya dengan satu tangan dan itu bukan hal sulit. Juga jangan lupakan pistol di pinggangnya. 

“Ikuti aku. Karena kau tidak punya pilihan. Kau bahkan tidak punya tempat pulang. Tidak ada yang cukup mengenalmu untuk bilang bahwa kau bukan penipu yang mengkhianati putra bungsu keluarga Pranata!”

Vara mendongak. Mereka bersitatap. Dan bayangan panti yang terbakar habis juga kabar meninggalnya Madam Ellya membakar amarahnya. Dia butuh alasan. Dan Kael tahu benar hal itu.

“Aku masih punya teman! Dia seorang wartawati dan penulis di portal berita online besar. Dia akan membantuku! Aku tidak butuh perlindunganmu! Dan tenang saja. Aku akan bayar seluruh biaya operasi yang kau keluarkan!"

“Teman? Ayuna Tyas?”

Vara terbelakak. Bagaimana Kael bisa tahu nama itu?

“Bagaimana kau tahu?”

“Dia wartawati yang mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa bulan lalu dan sampai saat ini jasadnya tidak ditemukan.”

Tidak. Astaga. Bahkan Ayuna. Sahabatnya. Salah satu dari dua orang yang memperingatkannya untuk hati-hati dengan Rheiner. Yang peringatannya tidak pernah Vara gubris.

Vara tercenung lama. Bingung. Berduka dan dihantam rasa bersalah. Apa yang menimpanya bukan perkara main-main. Nyawa orang-orang melayang karenanya.

Ada yang salah di sini. Vara menatap Kael tajam. Berusaha membongkar kebohongannya. Sebuah kesimpulan gila mampir di benaknya.

“Kael, semua ini bukan ulahmu, kan?”

“Apa maksudmu?” Kael ternganga. Kentara sekali dia shock dengan tuduhan itu. Dia berdiri dan melangkah mendekati Vara dengan tatapan murka. Membuat gadis itu bergidik. 

Harusnya Vara mengunci mulutnya saja. Tapi dia butuh jawaban. Kepastian. Bersuaralah, Vara. Meski itu hal terakhir yang kau lakukan.

“Bukan kau yang membakar panti dan mencelakakan Ayuna, kan?” tanya Vara memberanikan diri.

Tangan Kael mengepal. Entah apa isi kepalanya, mungkin hendak menempeleng, mencekik atau kejahatan lainnya.

“Apa yang akan kudapat kalau aku menjawab pertanyaan konyolmu itu?” suaranya serak, kentara sekali menahan luapan amarah. 

Vara mengkeret ketakutan. Aura mengintimidasi Kael benar-benar menyala. Vara menggeleng. Beringsut menjauh dari Kael yang terus melangkah maju.

“Aku ... Aku mungkin akan menerima tawaranmu untuk ... Untuk membalas keluarga Pranata kalau ... Kalau ....” Vara terbata-bata.

“Deal! Sepakat! Kalau begitu, dengarkan aku baik-baik, Picco!” Kael membungkuk. Matanya beberapa senti dari mata Vara. Sampai-sampai Vara bisa mengenali warna iris matanya yang biru kelam.

“Bukan aku pelakunya! Tapi tunanganmu! Kalaupun aku sedemikian monsternya, kalau pun aku ingin sekali menghancurkanmu, aku tidak akan macam-macam pada panti yang berisi anak-anak terlantar. Tidak akan pernah! Kau dengar aku, Picco? Tidak akan pernah!”

Vara menentang tatapan Kael. Mencari setitik pun kebohongan yang mungkin terbersit di sana, tapi ternyata tidak ada. Vara bahkan tidak terlalu terkejut mendengar siapa pelakunya. 

“Kenapa?” tanya Vara. Menjauhkan wajahnya.

“Karena itu sama seperti membakar diriku sendiri.” Ada nada yang berbeda dalam jawaban Kael. Sesuatu yang dalam tersirat di sana.

Bukan itu jawaban yang diperkirakan Vara. Dan itu membuat Kael semakin penuh misteri.

“Aku tidak mengerti.” Vara menunduk. Kalah dalam adu tatapan. Tatapan Kael begitu tajam, begitu penuh amarah, sampai-sampai Vara hampir yakin, menatapnya lebih lama akan membuat dirinya terbakar habis jadi abu.

“Tidak semua hal harus kau mengerti. Tidak tahu kadang menjadi anugerah!” Suara Kael melunak. Dia beringsut mundur.

“Tapi ....”

Dan kau sudah sepakat. Mulai hari ini, kau orangku!”

“Orangmu?”

Kael tidak menyahuti, dia meninggalkan ruang rawat. Vara duduk termangu dengan kebingungan dan segudang pertanyaan.

Dia harus tahu alasan di balik semua tragedi ini. Dia harus menuntut keadilan untuk Madam Ellya dan adik-adik pantinya, juga untuk Ayuna. Meski dengan begitu, dia harus menjadi kaki tangan seorang Kael.

Kael. Orang seperti apa dia? Dan apa yang dimaksud menjadi  orang-nya? Orang Kael? Vara bergidik.

***

Di kafetaria rumah sakit yang lengang, Kael duduk bersama Diandra dan Felix. Kael meneguk kopi hitamnya dengan wajah muram.

“Terima kasih karena sudah menemukan dan membawa gadis itu kembali, Felix!” kata Kael sembari menatap pria yang lima tahun lebih tua darinya itu.

“Anytime.” Felix mengangguk. Sibuk dengan pasta yang sedang disantapnya.

“Siapa sebenarnya dia, Kael? Kau jangan main-main. Kau bisa ditemukan orang-orang itu. Tidak ada keberuntungan kedua kalau itu sampai terjadi, Kael!” Diandra menatap kakak angkatnya itu sebal.

“Pionku! Untuk menghukum keluarga Pranata!”

“Diandra benar, Kael. Jangan usik mereka. Mereka bisa melakukan yang lebih kejam dari yang mereka lakukan padamu sebelumnya. Hidup barumu sudah cukup tenang. Tetaplah begitu!”

Kael menatap kedua orang di hadapannya dengan tatapan kaku. Mereka tidak mengerti. Tidak akan pernah. Tapi tidak masalah. Dia tidak butuh dimengerti. Dia hanya butuh sumber daya mereka untuk memuluskan rencananya.

“Felix!” Kael menatap asistennya itu tajam-tajam. Asisten mendiang ayahnya.

“Jaga gadis itu. Jaga dia lebih dari kau menjagaku!” titahnya.

Felix menatapnya balik. Kael tahu Felix hendak memberondongnya dengan banyak pertanyaan, tapi Kael menggeleng pelan. Felix, meski enggan, namun dia paham isyarat itu. 

“Apa pun perintahmu, Tuan Muda!” katanya kemudian.

Kae mendengus. Benci mendengar panggilan itu. Tuan muda apanya. Dia hanya pelarian.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Suara Hati Sang Eksekutor

    Kael memerintahkan beberapa preman jalanan yang menjadi anak buahnya untuk menjaga sekeliling panti Sari Kasih, sebab kalau benar apa yang diceritakan Dean, dan Kael hampir yakin kalau itu benar, maka Madam Ellya pasti akan mengirim orang untuk mengawasi situasi dan memastikan keamanan dirinya.Setelah berpamitan pada Pak Abdul pengelola panti, Kael menyuruh Barat pulang, menyelidiki suatu hal, sementara dia membawa mobil berkeliling tanpa tujuan. Melalui spion Kael tidak lagi menemukan mobil Miselia membuntutinya. Baguslah, laki-laki sialan dari keluarga jahanam itu akhirnya lelah sendiri membuntutinya.Pengakuan Dean barusan masih memenuhi setiap ruang di kepalanya. Madam Ellya, sungguh, berat sekali percaya kalau dia adalah dalang segala kekacauan di panti, penyebab dari rangkaian penderitaan Elvara.Ponsel Kael berdering, dengan menahan jengkel karena diganggu di saat yang tidak tepat, dia mengeluarkan ponsel itu dari saku.Oma Teresa. Kael menghela dan menarik napas beberapa kali

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Fakta Sang Ibu Panti

    Seperti dugaan Kael, tak ada yang bisa ditemukan di bangunan yang sudah menjadi arang bercampur abu itu. Felix bertanya ke orang-orang sekitar, ke mana anak-anak dan pegawai yang selamat dipindahkan. Dari pemilik warung lontong, Felix menemukan nama panti Sari Kasih. Satu kilometer dari sana.Pemiliknya seorang pria baruh baya, berambut seluruhnya putih dan kacamata tipis membingkai kedua matanya yang menatap sayu.“Anak-anak pindahan dari panti asuhan yang dikelola Madam Ellya memang ada di sini, beberapa harus menangangi terapi serius karena menjadi saksi kunci bahwa kebakaran itu disengaja, tetapi tak ada yang percaya pada keterangan anak kecil, kan. Jadi kasus terbakarnya panti itu telah ditutup lumayan lama.”“Boleh saya bertemu dengan anak itu, Pak?” tanya Kael sesopan mungkin, satu hal yang harus disyukurinya adalah dia sudah tidak memiliki cambang, jenggot dan kumis berantakan yang membuatnya seperti perampok sadis tukang mutilasi. Ini semua gara-gara topeng sialan itu, dan ia

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Berburu Bukti

    Felix menatap laki-laki muda yang duduk di sampingnya. Sudah berkali-kali dia mencoba bicara, tetapi Kael tidak bisa diajak bicara, dia sedang kalut, tampaknya kusut, ekspresinya seperti begundal yang bersiap mengobrak-abrik seisi kota.“Kau akan menemukannya, Kael. Seperti sebelumnya, bahkan jika dia berada di tengah Samudra Pasifik sekalipun, kau selalu berhasil membawanya kembali.” Felix menyerah mencoba mencegah Kael, dia mengerti seberapa penting gadis itu bagi Kael, bahkan sejak dia pertama kali datang ke rumah majikan tuanya, Tuan Kilian, Kael membawa serta kenangan akan gadis itu.“Ketika mereka duduk untuk makan malam, Kael akan selalu bercerita tentang gadis itu. Elvara yang pemberani, yang konyol, dan sangat pandai membuat lagu.“Kau menyukai anak perempuan itu, Kael?” Kilian bertanya pada Kael kecil yang baru dua belas tahun, baru beberapa hari menjadi bagian dari keluarga itu. Felix ingat jelas, saat itu, Kael hanya tersipu, menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yan

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Tertangkap (Lagi)

    “Bar, CH4!” seru Kael, ada kepanikan yang berusaha disembunyikannya saat menyerukan perintah aneh itu pada tangan kanannya.“Heh? CH4? Metana?” Alis El terangkat keheranan. Kael berdecak tak sabaran. Dari seberang sana, Nyonya Pranata meneriaki anak buahnya. “Tangkap yang perempuan!”“Blok H, Gang C No.4. itu markas preman kawasan Cijantung. Daerah terdekat dari sini, sekarang diamla, fokus menahan mereka sampai bantuan datang.” Setelah mengucapkannya, Kael bergerak taktis, menghadang setiap orang yang berusaha menjangkau El.Tak butuh waktu lama hingga Barat terkapar kalah di tanah dan Kael terengah-engah kehabisan tenaga, El jangan ditanya, dia sudah melupakan gerakan bela diri apa pun dan hanya mengelak sembarang arah, asal tidak kena, asal tidak tertangkap. Seluruh otot dan sendinya rasanya hampir lepas, kelelahan.“El, awas!” Kael memeluknya dari belakang, tetapi kemudian dia terdorong jatuh, Kael mengerang memegangi punggungnya.“Kael? Are you okay?” Lagi-lagi pria ini melindung

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Terkepung

    El menatap sekelilingnya, matanya waspada. Para anak buah Nyonya Pranata, yang tampaknya seperti preman-preman sewaan yang biasa hidup di jalan. Elvara versi lama pasti akan gemetar ketakutan saat ini, sembarang melangkah, tersandung hingga rebah, tapi itu dulu. Terpujilah Kael yang mengajarinya bahwa hidup itu keras, membawanya ke lingkungan tempat orang-orang sejenis berandal yang mengepungnya ini tinggal.“Lihat mereka, perhatikan wajahnya lekat-lekat, tatap balik matanya. Mungkin suatu saat, kamu akan berada pada situasi harus berhadapan dengan mereka.”Kala itu, El hampir kabur ketakutan, padahal anak buah Kael hanya mengulurkan tangan, seraya menyeringai genit. Dia bersembunyi di belakang punggung kekar Kael, sampai Kael menyuruh orang itu pergi. Tapi kali ini, tidak punggung Kael yang akan melindunginya. Dia harus mengatasi hal ini sendiri.El memasang kuda-kuda, preman-preman itu tertawa meremehkan. Satu dari mereka menjajal maju, El mengelak dengan mulus, satu yang lain berg

  • Kembalinya Sang Pewaris yang Terbuang   Wajah yang Hilang

    “Bergerak, Bar!” Perintahnya pada Barat. Barat mengangguk singkat, mengetik pesan di ponselnya, lantas kedua pemuda selisih dua tahun itu bergegas kembali ke mobil.***“Pico!”“Apa itu artinya?”“Tolol!”“Hah?”“Ya, kamu. Jauh di atas tolol!”Potongan percakapannya dengan Kael terbertik lagi di benaknya. El benci mengakuinya, tapi memang nyatanya demikian. Dia jauh di atas tolol. Sudah tahu, ada yang tidak beres pada temannya ini, tetapi kenapa dia masih menurut untuk dibawa pergi.Kecurigaan itu datang di toilet warung. Ketika dia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari wajah aslinya. Seperti langit dan Bumi, seperti wajah gadis kampung dan aktris Korea. Tidak ada setitik pun kemiripan. Lantas, bagaimana Ayuna bisa mengenalinya di detik pertama? Tanpa ragu menyapanya? Pasti ada yang memberikan informasi padanya, dan Ayuna tiba-tiba muncul pasti dengan maksud lain.“Yun, kita mau ke mana?”“Ke tempat yang kamu suka.” Ayuna tersenyum manis, ti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status