MasukCora menatap keluar jendela dengan senyum di wajahnya pada pemandangan bukit dan hutan pohon pinus yang membentang di halaman belakang Alpines Nest—rumah keluarga Bastian Dwipangga."Aunty!" Dari belakang, Kenzo berlari ke arahnya. Cora menoleh dan tersenyum melihat bocah berusia 4 tahun itu berlari ke arahnya. Ia berjongkok dan langsung memeluk bocah itu. "Kenzo... kesayangan Aunty..." "Aunty, mama bilang kalau Aunty mau pulang. Apa betul?" tanya Kenzo sambil menatap dan merangkul leher tante favoritnya itu."Ho-oh," Cora bergumam sambil mengangguk mengiyakan. "Aunty harus pulang karena ada yang Aunty dan Uncle Reno harus kerjakan.""Tapi Aunty, kita belum jalan-jalan sama Milo dan Buttercup." Kenzo merajuk, berharap tante cantik itu tinggal lebih lama di rumah mereka."Mungkin nanti ya ganteng, Aunty dan Uncle nanti ke sini lagi." Cora mengecup pipi bocah menggemaskan itu. Ia pun sebenarnya masih ingin berada di sana, namun banyak hal yang harus mereka selesaikan di Fragrant
Melihat wajah-wajah tegang mereka, Indra sebenarnya ingin tertawa dan memberitahu mereka bahwa sebenarnya ia hanya menjalankannya tes kehamilan. Namun setelah berpikur kembali, ia tidak melakukannya.Alih-alih, ia melirik Cora dan mengulum senyum menyadari Cora pun tidak memberitau mereka perihal tujuan tes lab itu.Indra menghela nafas dengan sedikit mendramatisir. "Baiklah, kalau kalian ingin mengetahuinya... aku akan membukanya sekarang."Indra lalu mengangkat amplop di tangannya lebih tinggi sambil melirik semua yang ada di sana."Ndra, buka saja!" Bahkan Bastian tidak sabar menunggunya."Oke... Oke..." Indra membuka amplop dan membaca kertas yang ada di dalamnya.Tiba-tiba saja wajah Indra berubah muram, dan dia berdiam cukup lama menatap kedua kertas hasil tes di tangannya."Indra, apa hasilnya?! Kenapa diam saja?!" Reno cemas dan tidak sabar.Kenapa wajah Indra seperti itu? Apakah istrinya baik-baik saja?Apa hasil tesnya? Indra masih tidak bersuara. Wajahnya murung saat
Bastian dan Reno saling bertukar pandang. Pada akhirnya Bastian yang angkat bicara. Mengenai siapa saja yang terlibat dalam penyelidikan yang ia lakukan di Emerald City adalah sepenuhnya tanggung jawabnya."Ini mungkin kesalahan tidak sengaja yang kubuat..." ujar Bastian setelah menghela nafas.Namun Reno segera menimpali. "Bas, ini bukan kesalahan. Tidak ada yang mengetahui jika Ezra adalah Darrel.""Apa maksudmu ini kesalahanmu?" tanya Indra semakin penasaran. Kenapa Bastian justru menyalahkan dirinya?"Saat Reno meminta bantuanku untuk menyelidiki tabrakan kapal Aphrodite, aku memang tidak melibatkan Ezra," ucap Bastian menerangkan."Kami sibuk dengan pekerjaan, jadi aku mendelegasikan penyelidikan itu langsung kepada Jay.”“Jay yang menghandle semuanya, dan Informasi langsung ditujukan padaku. Sementara Ezra, dia hanya mengetahui secara garis besar bahwa aku dan Reno sedang menyelidiki silsilah keluarga Cora--istri Reno," tambah Bastian memperjelas pemaparannya."Ini masuk a
"Ardy, Bas, Naya, apa yang kalian lakukan di sini?" Indra terkejut melihat Bastian, Kanaya dan Ardyan--salah satu sahabat Bastian juga, datang ke kantor itu.Bastian berjalan sambil menggandeng tangan Kanaya. "Reno yang memberitahukanku apa yang terjadi," jawab Bastian, lalu pandangan matanya bergulir kepada asisten pribadinya.Merasakan tatapan mata Bastian tertuju padanya, Ezra sontak berdiri. Bagaimanapun ia adalah asisten pribadi Bastian. Sudah kebiasaannya jika Bastian datang ia akan berdiri menyambutnya. "Boss, saya..."Bastian menghampiri asistennya itu. Ia memegang pudak Ezra dengan peuh perhatian. "Jadi benar yang dikatakan Reno? Bahwa kamu adalah Darrel--kakak Cora yang selama ini mereka cari?" Bastian memastikan berita yang didengarnya kepada yang bersangkutan secara langsung.Ezra telah bekerja pada Bastian lebih dari 5 tahun lamanya. Ezra adalah orang yang penting baginya. Selain sebagai asisten pribadi, Ezra adalah juga tangan kanan dan orang kepercayaan Bastian nom
"Bisakah kalian menceritakan padaku apa yang terjadi?" Cora menatap Reno dan Ezra bergantian.Reno menatap Ezra, seperti tengah meminta ijin. Dan setelah Ezra memberinya anggukan, barulah Reno merangkul istrinya dan duduk bersamanya."Jadi begini ceritanya..." Reno mulai bercerita."Aku dan Rendy pergi menemui Ibu Amelia--istri dari almarhum Pak Tama dikediamannya. Dan beliau menerima kami dengan sangat hangat.""Setelah berbicara panjang lebar mengenai tujuan kami datang ke sana, Ibu Amelia akhirnya menunjukkan kami foto Darrel." Reno menatap Ezra yang juga tengah mendengarkan ceritanya dengan seksama."Aku dan Rendy terkejut karena ternyata Darrel yang kita cari ternyata adalah Fahreza Pratama.”“Sayang, selama ini kita tidak mendeteksi identitas Ezra sebagai Darrel karena..." Reno menjeda ucapannya.Namun sebelum Reno sempat meneruskannya, Ezra mendahului."...karena aku tidak secara resmi diadopsi oleh mereka."Semua yang ada di sana sontak menatap Ezra, merasakan celekit di
Ezra berhenti bergerak. Untuk beberapa saat ia terdiam membeku.Lalu perlahan ia menurunkan tangannya yang gemetar dan menoleh ke samping, ke arah suara itu.Ekspresi wajah Ezra sangat berbeda. Ketenangan dan kontrol diri yang dia miliki sebagai tangan kanan seorang Bastian Dwipangga seakan hilang saat itu.Ketakutan, kesedihan dan penyesalan yang mendalam tampak dalam tatapan matanya.Akan tetapi saat kedua mata itu bertemu dengan sepasang mata foxy yang hadir dalam benaknya, tatapan mata itu melembut, dan diganti dengan kerinduan yang mendalam.Airmata mengalir dari dudut matanya saat dengan bergetar dia meyebut, “Darra adikku…”Seketika itu juga ia dan Cora saling berpelukan. Airmata jatuh menetes di pipi keduanya dengan begitu deras.“Maafkan Kakak, Darra… maafkan Kakak…” Ezra tidak henti mengucapkan kalimat penyesalan yang mendalam sembari ia memeluk Cora.Ia memeluknya dengan sangat erat, khawatir ini semua hanya mimpi—tidak nyata. Dan adik kecilnya akan kembali menghilang jika
“Semua—nya Nona. Apa—Nona sudah meminumnya?” tanya Heri sekali lagi dengan canggung.“Sudah. Katakan pada “Bapak” untuk tidak perlu kuatir aku akan hamil anaknya!” Setelah mengatakan hal itu, Cora memutar tubuhnya menghadap ke depan, mengalihkan pandangannya dari asisten Reno itu.Pintu di tutup, d
“Apa yang kamu lakukan, Laura? Apa kamu yang meracuni anakku?” Suara Sofyan yang terdengar setengah berbisik itu bertanya dengan nada menuduh.Laura—duduk mengenakan kaca mata hitam berseberangan dengan kursi Sofyan di cafe itu— melipat tangannya di depan dada.“Bukankah kamu menyuruhku untuk mend
“Apa ini Cora?” Di hadapannya, Reno berseru dengan kedua mata yang menatap tajam ke arahnya, lalu kepada Devon di sampingnya.“Aku ingin putus!” ucapnya, lalu ia meraih lengan Devon. “Aku bersama Devon sekarang, dan kita tidak punya hubungan apa-apa lagi!”Kedua mata yang dalam itu menatapnya deng
“Reno! Kenapa kamu mengusirku?” tanya Cora dengan lantang sambil ia berjalan mendekat. “Kamu lebih memilih perempuan bayaran?”Ada kemarahan dan emosi dalam nada suaranya. Reno membuka matanya dan menatap Cora dengan tatapan yang tidak bisa Cora deskripsikan dengan kata-kata. Ia mendengus kasar. “







