แชร์

BAB 7

ผู้เขียน: Avelynne
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-05 14:46:13

Aku duduk kaku di kursi ergonomis yang terasa terlalu besar untuk tubuhku.

Meja kerjaku terletak strategis. Tepat di depan pintu ganda ruang kerja CEO. Posisi yang seharusnya prestisius, namun bagiku terasa seperti kursi pesakitan yang dipajang di alun-alun kota.

Tidak ada tumpukan berkas di mejaku. Tidak ada tugas yang jelas. Hanya layar komputer yang menampilkan wallpaper logo perusahaan dan telepon yang tidak pernah berdering.

Keberadaanku di sini adalah sebuah anomali. Dan semua orang tahu itu.

Sejak pagi, lalu lalang karyawan di koridor ini tidak pernah berhenti. Mereka berjalan membawa dokumen, tablet, atau kopi dengan langkah terburu-buru. Namun, setiap kali melewati mejaku, langkah mereka melambat sepersekian detik.

Mata mereka melirik. Tajam. Menilai.

"Itu anak baru yang dibawa Pak Arjuna langsung?"

Bisikan itu terdengar samar, namun cukup jelas di telingaku yang berdengung karena tegang. Dua orang wanita berpenampilan modis berdiri di dekat mesin fotokopi yang tak jauh dari mejaku. Mereka berpura-pura sibuk merapikan kertas, tapi mata mereka terus mencuri pandang ke arahku.

"Iya, denger-denger sih intern khusus. Padahal HRD nggak buka lowongan magang bulan ini."

"Cantik sih. Tapi gayanya..." Wanita itu terkekeh pelan, nada suaranya merendahkan. "Kucel banget. Selera Bapak turun atau gimana?"

Aku menundukkan kepala, berpura-pura sibuk membaca manual telepon yang kutemukan di laci. Wajahku panas. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.

Mereka benar. Di antara setelan jas mahal, rok pensil branded, dan sepatu hak tinggi yang mengilap di lantai ini, aku seperti itik buruk rupa yang tersesat.

Aku mengenakan kemeja putih lamaku yang warnanya sudah agak kekuningan di bagian kerah. Rok hitamku berbahan kain murah yang kusut meski sudah disetrika. Sepatuku... ah, sepatu pantofel diskonan yang solnya sudah tipis.

Arjuna memberiku kartu hitam semalam. Tapi aku belum berani menyentuhnya. Memakainya terasa seperti menjual sisa harga diriku yang terakhir.

"Sst! Bapak keluar!"

Suara bisikan itu lenyap seketika. Suasana koridor yang tadinya berdengung dengan gosip berubah hening dan tegang.

Pintu ganda di belakangku terbuka lebar.

Aku refleks berdiri, menyingkir sedikit agar tidak menghalangi jalan. Jantungku berpacu cepat, mengingat pesan teksnya semalam tentang gaun sutra biru itu. Bayangan tentang kamera CCTV di kamarku masih menghantui setiap kedipan mataku.

Arjuna Diwangsa melangkah keluar.

Dia diapit oleh tiga pria paruh baya yang terlihat serius. Arjuna mengenakan setelan jas abu-abu gelap three-piece yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang, menampilkan wajah keras yang tanpa celah.

Dia terlihat berbeda. Sangat berbeda.

Tidak ada jejak "predator" yang menelanjangiku lewat pantulan kaca semalam. Tidak ada suara berat yang membisikkan ancaman di meja makan.

Sosok di depanku ini adalah mesin. Dingin. Efisien. Tak tersentuh.

"Laporan kuartal tiga harus selesai sebelum RUPS," suara Arjuna terdengar tegas, memotong udara. Dia berjalan cepat, matanya lurus ke depan seolah sedang menatap masa depan perusahaan.

"Baik, Pak. Tapi untuk saham minoritas, kami masih butuh persetujuan..." Salah satu direktur mencoba menyela, langkahnya tergopoh-gopoh menyamai langkah lebar Arjuna.

"Itu urusan kalian. Saya mau solusi, bukan masalah," potong Arjuna tajam.

Mereka berjalan melewatifku.

Arjuna tidak menoleh. Tidak sedikit pun.

Dia berjalan seolah aku tidak ada di sana. Seolah aku hanyalah perabot kantor yang tidak kasat mata.

Rasa sakit yang aneh menyengat dadaku. Padahal semalam, dialah yang memaksaku masuk ke dunianya. Dialah yang mengancam dan mengawasiku seperti obsesi gila.

Tapi di sini, di bawah terang lampu neon kantor, aku baginya hanyalah debu.

Rombongan itu terus berjalan menuju lift. Para karyawan lain menunduk hormat saat Arjuna lewat, aura kekuasaannya membuat udara terasa tipis.

Tepat sebelum mencapai belokan koridor, langkah Arjuna berhenti mendadak.

Para direktur di belakangnya ikut berhenti, nyaris menabrak punggung tegap itu.

Arjuna tidak berbalik. Dia hanya diam sejenak, melihat jam tangan mahalnya sekilas.

"Kopi," ucapnya datar. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di keheningan koridor.

Dia tidak menyebut nama.

Semua orang saling pandang bingung. Sekretaris seniornya, Bu Ratna, yang duduk di ruangan kaca di seberang sana, langsung berdiri sigap.

"Sekarang," tambah Arjuna dingin.

Lalu tanpa menunggu jawaban, dia kembali melangkah masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Pintu logam itu tertutup, menelan sosoknya yang agung.

Bu Ratna hendak bergerak, tapi matanya bertemu denganku. Wanita paruh baya itu menatapku dengan tatapan kasihan bercampur peringatan. Dia mengedikkan dagu ke arah pantry di ujung lorong.

Itu perintah untukku. Arjuna tahu aku mendengarnya. Dia sengaja tidak menyebut namaku untuk menegaskan posisiku.

Aku bukan tamu istimewa di sini. Aku adalah pelayan.

Dengan kaki gemetar, aku berbalik dan setengah berlari menuju pantry.

Pikiranku kacau. Sisi mana dari pria itu yang nyata? Sang monster di Penthouse atau sang dewa di kantor ini? Atau keduanya hanyalah topeng untuk menyiksaku perlahan?

Aku masuk ke dalam pantry yang sepi. Tanganku meraih cangkir keramik hitam yang kutahu khusus miliknya.

Aku menuangkan air panas dari dispenser. Tanganku gemetar hebat.

Byur!

Air panas itu meluap, tumpah mengenai punggung tanganku.

"Ah!" Aku memekik tertahan, menjatuhkan sendok kecil ke lantai. Kulitku memerah seketika. Perih.

Tapi rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan rasa takut yang merayap di perutku. Kopi ini harus sempurna. Jika aku salah sedikit saja, aku tidak tahu hukuman apa yang menungguku di balik pintu tertutup Penthouse nanti malam.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 232

    Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 231

    Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 230

    Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 229

    Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 23

    Penthouse itu gelap gulita saat aku melangkah masuk.Tidak ada lampu kristal yang menyala. Tidak ada pemandangan kota Jakarta yang biasa menyambutku dari balik dinding kaca. Tirai-tirai tebal yang biasanya terbuka lebar kini tertutup rapat, mengubah ruangan luas itu menjadi gua tanpa cahaya.Hawa d

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 28

    Cahaya matahari pagi yang cerah terasa seperti ejekan.Aku duduk bersandar pada headboard ranjang, memeluk kedua lututku erat-erat ke dada. Ikatan dasi sutra abu-abu itu sudah hilang. Arjuna melepaskannya semalam—entah kapan tepatnya, aku tidak ingat karena kelelahan menangis—meninggalkan jejak kem

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 24

    Napas Arjuna masih memburu, namun tatapannya perlahan berubah dari api yang membakar menjadi es yang membekukan. Dia melepaskan cengkeramannya di rahangku dengan kasar, membuat kepalaku tersentak ke samping.Dia tidak bicara lagi. Dia bergerak cepat, menyambar tas ranselku yang tergeletak di lantai

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 29

    Keheningan yang menyesakkan di Penthouse pecah oleh suara dering ponsel.Bukan ponsel Arjuna, melainkan ponselku. Ponsel retak yang baru saja dikembalikan Arjuna pagi ini setelah "masa isolasi"-ku berakhir. Dia meletakkannya begitu saja di meja makan sebelum berangkat kerja, seolah benda itu tidak

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status