เข้าสู่ระบบAku duduk kaku di kursi ergonomis yang terasa terlalu besar untuk tubuhku.
Meja kerjaku terletak strategis. Tepat di depan pintu ganda ruang kerja CEO. Posisi yang seharusnya prestisius, namun bagiku terasa seperti kursi pesakitan yang dipajang di alun-alun kota.
Tidak ada tumpukan berkas di mejaku. Tidak ada tugas yang jelas. Hanya layar komputer yang menampilkan wallpaper logo perusahaan dan telepon yang tidak pernah berdering.
Keberadaanku di sini adalah sebuah anomali. Dan semua orang tahu itu.
Sejak pagi, lalu lalang karyawan di koridor ini tidak pernah berhenti. Mereka berjalan membawa dokumen, tablet, atau kopi dengan langkah terburu-buru. Namun, setiap kali melewati mejaku, langkah mereka melambat sepersekian detik.
Mata mereka melirik. Tajam. Menilai.
"Itu anak baru yang dibawa Pak Arjuna langsung?"
Bisikan itu terdengar samar, namun cukup jelas di telingaku yang berdengung karena tegang. Dua orang wanita berpenampilan modis berdiri di dekat mesin fotokopi yang tak jauh dari mejaku. Mereka berpura-pura sibuk merapikan kertas, tapi mata mereka terus mencuri pandang ke arahku.
"Iya, denger-denger sih intern khusus. Padahal HRD nggak buka lowongan magang bulan ini."
"Cantik sih. Tapi gayanya..." Wanita itu terkekeh pelan, nada suaranya merendahkan. "Kucel banget. Selera Bapak turun atau gimana?"
Aku menundukkan kepala, berpura-pura sibuk membaca manual telepon yang kutemukan di laci. Wajahku panas. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi.
Mereka benar. Di antara setelan jas mahal, rok pensil branded, dan sepatu hak tinggi yang mengilap di lantai ini, aku seperti itik buruk rupa yang tersesat.
Aku mengenakan kemeja putih lamaku yang warnanya sudah agak kekuningan di bagian kerah. Rok hitamku berbahan kain murah yang kusut meski sudah disetrika. Sepatuku... ah, sepatu pantofel diskonan yang solnya sudah tipis.
Arjuna memberiku kartu hitam semalam. Tapi aku belum berani menyentuhnya. Memakainya terasa seperti menjual sisa harga diriku yang terakhir.
"Sst! Bapak keluar!"
Suara bisikan itu lenyap seketika. Suasana koridor yang tadinya berdengung dengan gosip berubah hening dan tegang.
Pintu ganda di belakangku terbuka lebar.
Aku refleks berdiri, menyingkir sedikit agar tidak menghalangi jalan. Jantungku berpacu cepat, mengingat pesan teksnya semalam tentang gaun sutra biru itu. Bayangan tentang kamera CCTV di kamarku masih menghantui setiap kedipan mataku.
Arjuna Diwangsa melangkah keluar.
Dia diapit oleh tiga pria paruh baya yang terlihat serius. Arjuna mengenakan setelan jas abu-abu gelap three-piece yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang, menampilkan wajah keras yang tanpa celah.
Dia terlihat berbeda. Sangat berbeda.
Tidak ada jejak "predator" yang menelanjangiku lewat pantulan kaca semalam. Tidak ada suara berat yang membisikkan ancaman di meja makan.
Sosok di depanku ini adalah mesin. Dingin. Efisien. Tak tersentuh.
"Laporan kuartal tiga harus selesai sebelum RUPS," suara Arjuna terdengar tegas, memotong udara. Dia berjalan cepat, matanya lurus ke depan seolah sedang menatap masa depan perusahaan.
"Baik, Pak. Tapi untuk saham minoritas, kami masih butuh persetujuan..." Salah satu direktur mencoba menyela, langkahnya tergopoh-gopoh menyamai langkah lebar Arjuna.
"Itu urusan kalian. Saya mau solusi, bukan masalah," potong Arjuna tajam.
Mereka berjalan melewatiku.
Arjuna tidak menoleh. Tidak sedikit pun.
Dia berjalan seolah aku tidak ada di sana. Seolah aku hanyalah perabot kantor yang tidak kasat mata.
Rasa sakit yang aneh menyengat dadaku. Padahal semalam, dialah yang memaksaku masuk ke dunianya. Dialah yang mengancam dan mengawasiku seperti obsesi gila.
Tapi di sini, di bawah terang lampu neon kantor, aku baginya hanyalah debu.
Rombongan itu terus berjalan menuju lift. Para karyawan lain menunduk hormat saat Arjuna lewat, aura kekuasaannya membuat udara terasa tipis.
Tepat sebelum mencapai belokan koridor, langkah Arjuna berhenti mendadak.
Para direktur di belakangnya ikut berhenti, nyaris menabrak punggung tegap itu.
Arjuna tidak berbalik. Dia hanya diam sejenak, melihat jam tangan mahalnya sekilas.
"Kopi," ucapnya datar. Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas di keheningan koridor.
Dia tidak menyebut nama.
Semua orang saling pandang bingung. Sekretaris seniornya, Bu Ratna, yang duduk di ruangan kaca di seberang sana, langsung berdiri sigap.
"Sekarang," tambah Arjuna dingin.
Lalu tanpa menunggu jawaban, dia kembali melangkah masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. Pintu logam itu tertutup, menelan sosoknya yang agung.
Bu Ratna hendak bergerak, tapi matanya bertemu denganku. Wanita paruh baya itu menatapku dengan tatapan kasihan bercampur peringatan. Dia mengedikkan dagu ke arah pantry di ujung lorong.
Itu perintah untukku. Arjuna tahu aku mendengarnya. Dia sengaja tidak menyebut namaku untuk menegaskan posisiku.
Aku bukan tamu istimewa di sini. Aku adalah pelayan.
Dengan kaki gemetar, aku berbalik dan setengah berlari menuju pantry.
Pikiranku kacau.
Sisi mana dari pria itu yang nyata?
Mungkin pertanyaan itu salah. Mungkin keduanya nyata, utuh dan tidak terbagi. Dan itu justru yang paling menakutkan.
Aku masuk ke dalam pantry yang sepi. Tanganku meraih cangkir keramik hitam yang kutahu khusus miliknya.
Aku menuangkan air panas dari dispenser. Tanganku gemetar hebat.
Byur!
Air panas itu meluap, tumpah mengenai punggung tanganku.
"Ah!" Aku memekik tertahan, menjatuhkan sendok kecil ke lantai. Kulitku memerah seketika. Perih.
Tapi rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan rasa takut yang merayap di perutku. Kopi ini harus sempurna. Jika aku salah sedikit saja, aku tidak tahu hukuman apa yang menungguku di balik pintu tertutup Penthouse nanti malam.
Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""
Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan
Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras
Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."
Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m
Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."







