แชร์

BAB 8

ผู้เขียน: Avelynne
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-06 14:17:53

Aku membawa nampan berisi cangkir kopi hitam itu dengan hati-hati.

Tanganku yang masih merah karena terkena air panas tadi sedikit gemetar. Perihnya masih terasa menyengat, tapi aku mengabaikannya. Rasa takut membuat kesalahan di depan Arjuna jauh lebih menyiksa daripada luka bakar derajat satu ini.

Aku berhenti di depan pintu ganda kayu jati yang kokoh itu. Menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu liar.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban. Namun, aku tahu itu artinya aku boleh masuk.

Aku menekan gagang pintu dengan siku, lalu mendorongnya perlahan. Udara dingin dari dalam ruangan langsung menyambutku, membawa aroma leather dan kertas arsip yang khas.

Arjuna duduk di balik meja kerjanya yang luas. Dia sedang memeriksa tumpukan dokumen, kacamata baca bertengger di hidung mancungnya. Dia tidak menoleh saat aku masuk.

Aku melangkah sepelan mungkin. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasinya. Aku hanya perlu meletakkan kopi ini, lalu keluar dan menghilang kembali ke mejaku yang menyedihkan.

Karpet bulu tebal melapisi lantai ruangan VVIP ini. Sangat empuk, seolah menelan langkah kakiku. Namun, justru itulah jebakannya.

Ujung sol sepatuku yang sudah menganga sedikit tersangkut di serat karpet yang tebal itu.

Tubuhku limbung ke depan.

"Ah!"

Aku memekik tertahan, berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak jatuh terjerembap.

Nampan di tanganku miring. Cangkir kopi itu berguncang hebat.

Byur!

Cairan hitam panas itu meluap keluar dari bibir cangkir. Bukan jatuh ke lantai, melainkan tumpah tepat ke arah dadaku.

Panas.

Sensasi terbakar langsung menjalar di kulit dada dan perutku. Kemeja putih murahan yang kupakai basah kuyup seketika, menyerap cairan pekat itu dengan cepat.

"Ma... maaf, Pak!" cicitku panik. Aku buru-buru meletakkan cangkir yang isinya tinggal setengah itu ke atas meja tamu.

Aku menunduk melihat kekacauan di tubuhku. Dan saat itulah darahku berdesir dingin, membekukan rasa perih di kulitku.

Kemeja putih ini sudah tua dan tipis. Saat kering saja bahannya sudah agak menerawang. Kini, dalam keadaan basah kuyup dan lengket oleh kopi, kain itu kehilangan fungsinya sebagai penutup.

Kain basah itu menempel lekat seperti kulit kedua. Memperlihatkan dengan jelas warna kulitku dan pakaian dalamku di baliknya. Kain itu transparan sepenuhnya di bagian dada.

Wajahku memanas hebat. Rasa malu yang luar biasa menghantamku lebih keras daripada rasa sakit akibat air panas.

Aku refleks menyilangkan kedua tangan di depan dada, berusaha menutupi diri. Mataku melirik panik ke arah meja kerja Arjuna.

Dia sudah berhenti membaca.

Arjuna melepas kacamata bacanya perlahan. Dia meletakkannya di atas tumpukan dokumen. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi kaget atau marah. Datar.

Namun, matanya tertuju lurus ke arahku. Ke arah noda basah yang mencetak lekuk tubuhku.

Aku mundur selangkah, kakiku gemetar. Aku harus keluar. Aku harus lari dari tatapan itu.

"Sa... saya minta maaf, Pak. Saya tidak sengaja," ucapku terbata-bata, suaranya nyaris seperti bisikan. "Saya akan bersihkan... saya permisi ke toilet sebentar untuk ganti..."

Aku berbalik badan, siap untuk lari sekencang-kencangnya keluar dari ruangan ini. Menjauh dari rasa malu ini.

"Berhenti."

Satu kata itu terdengar rendah, tenang, namun memiliki daya hentak seperti cambuk.

Langkahku terhenti di tempat. Tubuhku kaku, tidak berani melawan perintah mutlak itu. Tanganku makin erat mencengkeram lengan sendiri, berusaha menutupi dada.

"Siapa yang mengizinkan kamu keluar?" tanyanya. Suara kursi bergeser terdengar di belakangku. Dia berdiri.

Aku menelan ludah yang terasa pahit. "Tapi... baju saya basah, Pak. Saya... saya tidak pantas dilihat..."

"Balik badan, Alea."

Perintah lagi.

Dengan sisa keberanian yang nyaris habis, aku memutar tubuhku perlahan. Aku tidak berani mengangkat wajah. Aku terus menunduk, menatap ujung sepatu pantofelnya yang mengilap yang kini berjalan mendekat.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depanku.

Hawa keberadaannya begitu kuat, menekan udara di sekelilingku hingga terasa tipis.

"Turunkan tanganmu," perintahnya.

Mataku membelalak. "Ta... tapi, Pak..."

"Saya tidak suka mengulang perintah." Nadanya turun satu oktaf, menjadi geraman rendah yang berbahaya.

Dengan bibir gemetar menahan tangis, aku perlahan menurunkan tanganku yang menyilang di dada. Membiarkan diriku terpampang jelas di hadapannya.

Rasanya seperti ditelanjangi. Aku ingin menangis. Aku ingin menjerit. Tapi aku hanya bisa berdiri mematung.

Arjuna tidak segera bicara. Dia menatap noda kopi di kemejaku. Tatapannya intens, menelusuri setiap inci kain basah yang menempel di kulitku.

Tidak ada nafsu yang meledak-ledak di matanya. Yang ada hanyalah rasa kepemilikan yang dingin dan absolut. Dia menatapku seperti seseorang yang sedang memeriksa noda pada lukisan mahal miliknya. Menilai kerusakannya. Mengagumi detailnya.

Keheningan itu berlangsung selama lima detik yang terasa seperti lima tahun.

"Kulitmu merah," gumamnya akhirnya. Matanya menyipit sedikit, melihat kulitku yang mulai melepuh ringan karena panas kopi.

Dia mengulurkan tangan. Aku menahan napas, mengira dia akan menyentuhku. Tapi tangannya hanya melayang sesaat di udara, lalu menunjuk ke arah sofa kulit panjang di sudut ruangan.

"Duduk di sana," katanya tegas.

Aku mendongak bingung, mataku berkaca-kaca. "Saya... saya mau ganti baju dulu, Pak. Di toilet..."

"Dan membiarkan seluruh karyawan di koridor melihat kamu dalam keadaan begini?" potongnya tajam.

Kata-katanya menamparku. Benar. Jika aku keluar sekarang, semua orang akan melihatku. Gosip murahan tentang "simpanan bos" akan berubah menjadi fakta visual yang memalukan. Aku akan hancur.

"Tunggu sampai kering di sini," lanjutnya. Dia berjalan kembali ke meja kerjanya, seolah pemandangan tubuhku yang terekspos bukan hal penting lagi baginya.

"Tapi... AC-nya dingin, Pak..."

Arjuna duduk kembali di kursinya. Dia mengambil pulpen, siap menandatangani dokumen lagi.

"Saya tidak peduli," ucapnya tanpa menoleh.

Lalu, dia menambahkan satu kalimat yang membuat darahku membeku, sekaligus membuat kakiku lemas.

"Jangan berani-berani melangkah keluar pintu itu dengan baju basah. Kamu milik saya, Alea. Bukan tontonan gratis untuk karyawan saya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
si om posesif sebenarnya
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 232

    Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 231

    Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 230

    Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 229

    Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 41

    Hujan turun lagi malam ini.Bukan gerimis romantis yang menenangkan, melainkan badai yang marah. Air menghantam dinding kaca raksasa di kamarku dengan bunyi buk-buk-buk yang tumpul, seolah langit sedang berusaha mendobrak masuk untuk menyelamatkanku—atau mungkin untuk menertawakan nasibku.Suara it

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 35

    Uap panas dari kamar mandi mengikutiku keluar seperti hantu, lalu lenyap seketika ditelan udara dingin ruang kerja Arjuna.Aku melangkah keluar dengan kaki telanjang yang menapak ragu di atas karpet tebal. Jantungku berpacu begitu kencang hingga rasanya tulang rusukku sakit menahannya.Ruangan itu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 39

    Pintu lift terbuka dengan denting halus yang biasa, namun bagiku hari ini suaranya terdengar seperti lonceng dimulainya babak baru penyiksaan.Arjuna berdiri di tengah ruang tamu.Dia tidak menyapaku. Dia tidak bertanya bagaimana hariku di kampus.Dia hanya berdiri di sana dengan satu tangan di dal

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 40

    Napas kami berdua perlahan kembali normal, mengisi keheningan yang tersisa di ruang tamu Penthouse yang luas ini.Aku berbaring menyamping di sofa, kepalaku berbantal dada bidang Arjuna.Tangan besarnya yang hangat melingkar di bahuku, mengusap lengan atasku dengan gerakan ritmis yang menenangkan—k

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status