เข้าสู่ระบบ"Pak, halamannya penuh." lapor Kenny ketika gerbang pintu rumah dibuka. Yaksa mengangkat wajah, melongo ketika benar halaman rumahnya sudah penuh dengan mobil berjejer. Satu-dua mobil yang bukan miliknya itu, Yaksa tahu betul itu milik siapa, tapi mobil putih pabrikan Jerman yang plat-nya masih merah itu ... mobil siapa? "Kamu bisa pulang dulu, Ken. Saya kabari nanti kalau ada apa-apa."Dengan segera Yaksa turun dari mobil, menghampiri pak Adi yang sigap berdiri tegak ketika Yaksa mendekatinya. "Pak, itu mobil siapa?" tanya Yaksa dengan segera. "Mobil ibu, Pak."Jawaban itu tidak seketika memuaskan rasa penasaran Yaksa, ia memperhatikan mobil itu lalu kembali bertanya. "Ibu siapa? Mama saya?"Pak Adi menggeleng cepat, senyuman manis nampak terlukis di wajahnya. "Ibu Syifa, Pak. Itu hadiah dari ibu besar."Mata Yaksa membulat, ia bahkan lupa mengucapkan terimakasih dan segera masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang menyambutnya, namun suara riuh di meja makan membuat kaki Yaksa mela
"Pulang sama pak Adhi nggak apa-apa?"Syifa mengangguk patuh, mereka sudah sampai di halaman parkir dan pak Adi sudah muncul dengan mobilnya. Semua pemeriksaan sudah selesai, mereka bahkan bertemu juga dengan Irma yang menyusul ke rumah sakit. Yaksa membawa Syifa melangkah menghampiri mobil, membuka pintu mobil untuk sang istri. "Terus kabari aku, ya?" pinta Yaksa sembari menatap istrinya lekat-lekat. "Pasti." Syifa hendak masuk, ketika Yaksa mencekal tangannya. Mata Syifa membulat, membalas tatapan mata Yaksa yang sama sekali tidak melepaskan pandangan darinya, seolah hendak bertanya dengan sorot mata yang dilemparkan kepadanya. "Aku sayang banget sama kamu, Fa." ucap Yaksa tegas, tanpa keragu-raguan. Matanya masih belum berpaling membuat Syifa tertegun di tempatnya berdiri. "Jaga dia baik-baik, ya."Syifa melepaskan genggaman tangannya dari pintu mobil, memeluk tubuh itu erat-erat dengan wajah memanas."Kita bersusah-payah bikin dia ada, tentu saja aku akan jaga dia baik-baik."
Burhan terburu melangkah turun dari mobil. Langkahnya tergesa-gesa dengan snelli di tangan. Ia bahkan belum memakai jas putih kebanggaan, untuk sekarang sampai di poli adalah yang nomor satu. Untung dia tidak harus visite pasien pagi ini, masih sekitar pukul 10 nanti. Tidak ada cito, jadi ia bisa segera menemui anak gadisnya yang tiba-tiba menelepon dan mengatakan sudah menunggunya di rumah sakit. Ah! Itu mereka. Burhan makin mempercepat langkahnya, Yaksa lebih dulu menyadari kehadiran sang ayah mertua, bangkit dan menyapa Burhan dengan sangat sopan. "Syifa kenapa, Yak?" tanya Burhan dengan nada panik. Mendengar itu Syifa hanya nyengir lebar, ia merogoh tas, memamerkan 5 buah testpack yang hasilnya positif itu. Sejenak Burhan tercengang, sama responnya seperti Yaksa tadi. Namun ia segera bertindak cepat, melukiskan senyum bersamaan dengan matanya yang langsung memerah. Ia merebut testpack itu, mengamatinya satu persatu lalu menepuk bahu Yaksa dengan sorot mata bangga. "Sudah t
Dua minggu kemudian .... Syifa tersentak, ia terengah sembari menoleh dan mendapati Yaksa masih begitu pulas dalam tidurnya. Sudut mata Syifa menangkap kalender meja yang ada di nakas. Sebuah lingkaran besar yang dia buat dengan spidol merah, tertuju pada hari ini. Sembari mengawasi sang suami, Syifa melangkah turun dari kasur, menghampiri pintu walk in closet mereka lalu merangsak masuk ke dalam. Sejenak, Syifa berdiri mematung di depan sebuah kabinet dekat gantungan baju. Ia terdiam cukup lama di sana, sampai kemudian dengan hati-hati, Syifa menarik salah satu laci, menatap nanar barang yang tersimpan rapi di dalamnya. Sebuah cup plastik, beberapa alat tes kehamilan dari berbagai merek, terjajar rapi di dalam sana. Dengan tangan bergetar, Syifa mengulurkan tangan, meraih satu cup dan satu alat tes kehamilan dengan bungkus kertas berwarna putih. Sembari terus bergumam dalam hati, Syifa melangkah masuk ke kamar mandi, duduk di atas kloset dengan wajah dan hati ragu luar biasa. Sy
"Aku pamit, ya?"Syifa mengangguk, kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yaksa, mengabaikan Kenny yang seketika menundukkan wajah, tidak berani memperhatikan interaksi manis apa yang tersaji di depan matanya. Yaksa menunduk, menciumi puncak kepala Syifa lalu menarik sang istri dari pelukan. "Istirahat. Nanti jalan-jalan, mau?"Mata Syifa membulat, ia segera mengangguk cepat, dengan binar mata cerah dan sorot bahagia. Yaksa terkekeh, mencubit gemas hidung Syifa lalu menoleh ke arah Kenny. "Ayo." titahnya lalu melangkah keluar dari rumah. Kenny segera mengangkat wajah, berpamitan dengan sopan pada Syifa lalu memburu langkah Yaksa yang sudah hampir mencapai gerbang. "Ada tambahan agenda hari ini?" tanya Yaksa yang terpaksa menarik kembali tangannya, ketika Kenny sudah dengan sigap membuka pintu mobil untuknya. "Belum ada, Pak. Semua masih seperti jadwal yang saya kirim semalam."Kenny segera menutup pintu mobil, beringsut menghampiri sisi lain mobil dan masuk ke dalam. "Saya n
"Jangan kamu suruh Syifa ngurus kucing-kucingmu, Yak. Mama nggak izinin." ucap Juliana pagi-pagi sekali sudah mengomel. Yaksa yang sudah rapi dengan setelan kemeja itu hanya menarik napas panjang, berdoa dalam hati supaya nanti malam mamanya sudah tidak lagi menginap di sini. "Tentu tidak, Ma. Sudah Yaksa pikir soal itu.""Mama tahu selama mereka sehat dan bersih, aman ibu hamil berinteraksi sama mereka, cuma ini ... kucing kamu selusin lebih."Yaksa melirik sang istri. Syifa hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum simpul. "Heran ya ... nggak bapak, nggak anak ... suka banget rumahnya macam kebun binatang." kembali Juliana mengomel, kali ini sukses membuat Suhud terbatuk-batuk. Dengan wajah pasrah, Suhud meletakkan cangkir kopi di meja, mengusap bekas kopi di bibir sembari menarik napas panjang. "Namanya juga bapak sama anak." sahutnya santai. Juliana nampak ingin kembali mengomel, namun ia urungkan Agaknya Juliana lebih memilih fokus pada sepiring nasi gorengnya ketimbang t
"Bawa pak Adi pulang, ya? Biar mobilnya saya yang bawa besok." titah Yaksa begitu sampai di depan rumah mertuanya. "Saya besok tidak jemput Bapak kemari?" tanya suara itu setengah terkejut. "Tidak. Jemput saja ibu besok ketika jam pulang klinik, saya bawa mobil ibu."Kenny tidak membantah, hanya
"Kita nggak mungkin nikahin mereka, kan?"Pertanyaan itu membuat langkah Gunawan terhenti, ia menarik napas panjang, menatap Hilda yang masih sesegukan menangis. "Itu tidak mungkin, Ma. Ada jalan lain, percayalah." Hilda tidak berani membantah. Ia hanya lanjut melangkahkan kaki mengikuti Gunawan.
"Ah ... kenapa pikiran kamu sampai kesana, Fa?" tukas Burhan yang seketika membuat hati Syifa seketika tenang. "Terus?" kejar Syifa yang sebenarnya tidak perlu, namun ia hendak memastikan terlebih dahulu! "Tentu solusi untuk masalah kalian, Syifa."Syifa tersenyum, masih dengan mata memerah dan m
"Saya benar-benar minta maaf, Dokter." cicit suara itu pelan. "Dokter begitu baik pada saya, namun saya malah bikin Dokter kecewa dan rugi banyak hal."Syifa terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak kelepasan melampiaskan emosinya, meskipun jujur rasanya sangat sulit ditahan, namun sekuat tena







