로그인Pertunjukan orchestra yang diadakan di sebuah balai berjalan dengan meriah. Malam ini Sofia benar-benar gembira. Sudah lama ia tidak menonton musik yang membuat semangat dan gairahnya meningkat.
Kehidupan sehari-harinya cukup membosankan dengan bekerja di kantor, mengurus rumah, dan berusaha mendapatkan cinta serta perhatian dari suaminya yang selalu bersikap dingin. Berbeda dengan Carlo, Adito memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian. Selesai menonton, keduanya memutu
Khaelia melirik sepupunya dan tanpa banyak berpikir menyetujui ajakan Corrado. “Baiklah, tolong berikan alamatnya. Saya ke sana sekarang.”“Tidak usah. Kamu share lock saja. Biar sopirku yang menjemput.”“Percayalah, sopirku ada di mana-mana. Aku yakin yang paling dekat denganmu pun ada. Ayo, aku tunggu lokasimu.”Mau tidak mau Khaelia memberikan lokasinya pada Corrado. Ia bersiap menunggu jemputan paling tidak satu jam, dan selama itu pula ia harus meladeni obrolan Mila yang tidak berguna. Ternyata dugaannya salah. Corrado membalas pesannya dan mengatakan sopir akan tiba dalam lima belas menit. Ia tidak percaya membacanya.“Memangnya sopirnya ada di mana? Jangan-jangan memesan taksi untukku,” gumam Khaelia sedikit bingung.“Heh, mau ke mana kamu?” hardik Mila.Khaelia mengangkat bahu. “Kerja.”“Kamu pikir aku bodoh? Ini hari libur!”&l
Khaelia kabur dari kontrakan gara-gara Mila yang datang mendadak. Sepupunya itu menggedor pintu hingga nyaris membuat pemilik kontrakan marah. Ia bergegas keluar untuk menemui sepupunya.“Keluar juga kau! Sok penting sampai diajak ngomong aja susah!” bentak Mila.Memunggungi Mila, Khaelia mengunci pintu dengan dua gembok untuk jaga-jaga kalau ada yang mendobrak. Niatnya untuk beristirahat setelah beberapa hari kerja tanpa henti pun musnah. Ia berpikir untuk menginap di hotel terdekat agar bisa tidur dengan nyaman. Hal itu akan terjadi jika ia bisa mengusir Mila. Sepupunya ini memang kurang ajar sekali. Setelah tahu dirinya punya penghasilan bagus dengan limit kartu kredit yang cukup tinggi, Mila menjadi semakin berani untuk meminta.“Hei, jangan pura-pura budek!”Khaelia memutuskan untuk keluar dari gang, padahal tidak ada tujuan ke mana pun. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah lolos dari sepupunya yang mengesalkan ini. Dulu M
Keluarga Solitare berkumpul untuk menyambut kepulangan Celila dari luar negeri. Khaelia ada di antara mereka, bersama Karenia serta seluruh keluarga Emima. Saat Celila muncul dengan senyum terkembang di bibirnya yang pucat, semua orang menangis bahagia. Akhirnya, Celila sadar juga. Yang paling emosional adalah Eiwa dan Kaspia. Sebagai orang tua, keduanya sangat bahagia dan lega karena anak perempuan satu-satunya sudah pulih kembali.Celila berbaring di ranjang roda, didorong oleh dua perawat dan dijaga oleh dokter. Bayinya juga cukup sehat untuk digendong. Karena perjalanan jauh, orang-orang hanya diperbolehkan menggendong sang bayi tidak lebih dari dua menit. Si bayi kemudian dibawa pengasuhnya ke kamar atas.“Mama senang melihatmu, Sayang.” Eiwa mengecup pipi anaknya yang pucat, tetapi binar mata penuh kehidupan itu telah kembali. “Mama tidak menyangka hari ini akan tiba.”“Iya, Mama. Aku senang bisa sehat kembali,” Celila m
Pertunjukan orchestra yang diadakan di sebuah balai berjalan dengan meriah. Malam ini Sofia benar-benar gembira. Sudah lama ia tidak menonton musik yang membuat semangat dan gairahnya meningkat.Kehidupan sehari-harinya cukup membosankan dengan bekerja di kantor, mengurus rumah, dan berusaha mendapatkan cinta serta perhatian dari suaminya yang selalu bersikap dingin. Berbeda dengan Carlo, Adito memperlakukannya dengan baik dan penuh perhatian. Selesai menonton, keduanya memutuskan untuk makan. Kali ini Sofia mengikuti saran Adito untuk makan di sebuah kafe kecil yang menyediakan piza serta pasta.“Maaf, cuma bisa traktir makanan murah,” ucap Adito merasa tidak enak hati.Pemilik restoran menyuguhkan secara langsung pesanan mereka berupa salad, piza loyang sedang, dan spageti.“Waah, ini enak sekali.” Sofia mengambil satu potong piza dan mencicipinya. “Benar-benar piza rumahan yang lezat. Aku menyukainya, Adito.&rdquo
Karenia melepaskan cengkeramannya di dagu Khaelia. Ia bersedekap, menunjukkan kekesalannya pada Carter yang tiba-tiba sudah berada di sana.“Kenapa? Marah karena kami mengajak bicara sekretaris kesayanganmu?”Carter meraih lengan Khaelia dan menyampirkannya ke bahunya. “Khaelia, ayo bangun.”Khaelia menurut. Ia bangun dengan lengan melingkar di bahu Carter, sementara kepalanya berayun-ayun di udara. Tanpa ragu, meskipun ada dua perempuan di depannya, Carter melingkari pinggang Khaelia.“Aku pulang dulu. Selamat malam.”Carter tidak menunjukkan kemarahan atau emosi apa pun pada Karenia. Ia membawa Khaelia melewati pintu dan masuk ke mobil golf yang akan membawa mereka menaiki helipad.Karenia sangat tersinggung dengan sikap Carter, begitu pula Joice. Mereka tidak percaya kalau laki-laki yang dijodohkan dengan mereka lebih memilih perempuan lain daripada diri mereka. Keduanya mendesah bersamaan, lalu berpenc
Selesai pertemuan, Carter menolak ajakan Corrado untuk minum. Dengan dalih harus pulang karena ada hal mendesak, ia berniat mengajak Khaelia ke rumah pribadinya.Khaelia sedang mabuk karena selama acara makan tadi terus-menerus minum anggur yang disodorkan Emima. Keduanya mengobrol dengan suara lirih tentang Sofia, perhiasan, gaun, dan segala hal. Sambil mengobrol mereka terus minum, hingga tanpa sadar membuat keduanya mabuk.Emima digendong pulang oleh Ernest, sedangkan Khaelia masih cukup sadar untuk berjalan sendiri. Namun, tingkahnya mendapatkan kecaman bertubi-tubi dari Joice dan Karenia.“Bisa-bisanya seorang sekretaris mabuk?” Joice berucap bingung. “Keren amat dia.”“Carter, bagaimana kamu bisa sabar ngadepin sekretarismu itu? Kalau aku punya sekretaris macam dia, sudah aku pecat!” Karenia mencela, menatap Khaelia yang berjalan sempoyongan dengan kemarahan yang menyala di matanya. “Heih, perempuan miskin.
Setelah puas melihat-lihat, ia memutuskan untuk minum teh. Dengan malu-malu duduk di sofa sementara Carter merokok di sudut dekat gazebo. Menyesap tehnya, Khaelia diam-diam menatap profil atasannya. Carter yang ketampanannya tidak seperti manusia pada normal ternyata mempunyai sikap yang ramah. Tid
Laki-laki muda dan tampan itu bernama Carter June Solitaire. Tidak banyak yang tahu kalau ia adalah anak kedua dari keluarga Solitaire yang merupakan pemilik saham terbanyak sekaligus pimpinan di Capital Group. Carter yang berambut sehitam arang dan bermata tajam, saat ini sedang memandang seorang
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung







