登入makasih buat yang masih baca 🫶🏻
Malam itu, Nathan menepati janjinya. Tepat setelah jam kerja berakhir, mobil hitam yang sama sudah menunggu di depan gedung kantor. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara.Tatapan Lovelle ke luar jendela memandangi lampu kota yang menyala di kedua sisi jalan, orang-orang memenuhi trotoar, kendaraan berlalu-lalang di tengah udara malam yang dingin. Semuanya terasa begitu normal. Nathan akhirnya membawa Lovelle ke sebuah restoran kecil yang cukup tenang, mewah namun juga hangat dan nyaman. Setelah makanan mereka datang, suasana sempat hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya Lovelle meletakkan garpunya. "Kamu bilang akan menjelaskan semuanya." Nathan tersenyum tipis. "Aku memang bilang begitu." Tatapannya perlahan menjadi lebih serius. "Lalu dari mana aku harus mulai?" Lovelle mencondongkan tubuhnya sedikit. "Dari awal. Aku ingin tahu bagaimana semua ini bisa terjadi." Nathan mengangguk, lalu menatap keluar jendela selama beberapa detik seolah sedang menyusun k
Begitu memasuki area kantor, beberapa orang langsung menyambut Lovelle. Ada yang tersenyum dan ada yang melambaikan tangan, ada pula yang sekadar mengangguk dari meja kerja mereka. Berita tentang dirinya yang tenggelam di sungai ternyata beredar sampai di tempat kerjanya. Meskipun tidak terlalu dekat dengan semua orang, tapi Lovelle tetap merasa hangat setelah menerima sambutan tersebut. Setidaknya masih ada orang-orang yang senang melihatnya kembali. Saat ia baru saja meletakkan tas di atas mejanya, sebuah suara pria terdengar dari belakang. "Lovelle." Gadis itu segera menoleh. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berjalan mendekatinya sambil membawa tablet di tangan. Rambut cokelatnya mulai memutih di beberapa bagian, namun wajahnya masih tampak ramah seperti biasa. Dia Daniel Carter, atasan langsungnya sekaligus kepala tim analis. Lovelle mengangguk pelan. "Pak Carter." Daniel tersenyum kecil. "Bagaimana keadaanmu?" "Jauh lebih baik." "Bagus." Pria itu tampak
Lovelle menatap Nathan tanpa berkedip dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat, seolah pikirannya belum mampu mengejar kenyataan yang baru saja menghantam dirinya. Dan tampak begitu lega melihatnya. "Aku..." suara Lovelle terdengar pelan. "Aku benar-benar sudah kembali?" Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gadis itu beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Ya." Untuk beberapa saat, Lovelle tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap selimut putih yang menutupi tubuhnya. Ia sudah kembali. Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi justru terasa sulit untuk dipahami. Karena anehnya, saat mendengar bahwa dirinya telah kembali, yang pertama kali muncul di dalam pikirannya... adalah sebuah Mansion megah yang berdiri di bawah langit asing. Mansion Crow. Dan disusul oleh satu per satu wajah mulai bermunculan di benaknya. Profesor Seraphine yang selalu terlihat tenang di balik kecerdasannya. Crelia dengan segala kebencian dan rasa sak
Suara berdenging nyaring memenuhi telinga Lovelle. Kepalanya terasa sangat berat., seluruh tubuhnya pun juga terasa mati rasa. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, tetapi bahkan gerakan sesederhana itu pun terasa begitu sulit. Gelap. Dingin. Dan rasanya... seperti baru saja jatuh dari tempat yang sangat tinggi. Dengan santai perlahan, Lovelle pun mulai membuka matanya, lalu mengernyit saat cahaya putih yang menyilaukan langsung menusuk penglihatannya. Pandangannya pun seketika terihat buram, semuanya tampak tidak jelas. Bayangan manusia yang bergerak ke sana kemari membuatnya semakin pusing. Lalu tiba-tiba sebuah suara terdengar. "Dokter!" Seseorang berteriak. "Pasien sudah sadar!" Dan suara langkah kaki bergegas mendekat, sebelum beberapa wajah asing muncul. "Nona? Bisakah Anda mendengar saya?" Lovelle mengerjap pelan. Aneh. Ia bisa mengerti kalimat itu, tapi entah kenapa rasanya begitu rumit. Seseorang menyentuh pergelangan tangannya. Dan seseorang yang la
Sirene ambulans meraung-raung membelah malam Namun bahkan di dalam kendaraan itu, Xeyren menolak untuk melepaskan Lovelle dari dekapannya. Salah satu paramedis beberapa kali mencoba membujuknya "Tuan, kami harus meletakkan pasien di brankar agar lebih mudah ditangani." "Tidak." Jawaban Xeyren terdengar datar, tidak ada ruang untuk perdebatan. Lovelle yang masih setengah sadar hanya bisa bersandar lemah di dada Xeyren, membuat darah membasahi sebagian besar kemeja pria itu. Namun Xeyren sama sekali tidak memedulikannya, seluruh perhatiannya hanya tertuju pada wajah pucat gadis tersebut. "Tekanan darahnya terus turun," bisik salah satu petugas kepada rekannya. Mereka berusaha bekerja secepat mungkin, tetapi suasana di dalam ambulans terasa lebih mencekam daripada ruang operasi. Karena setiap kali monitor berbunyi terlalu lama, tatapan tajam Xeyren langsung berpindah ke arah mereka. Sesampainya di rumah sakit, keadaan pun tidak menjadi lebih baik. Para dokter dan per
Jeritan melengking itu menggema di seluruh lantai tiga, suara yang begitu nyaring hingga membuat para pelayan di koridor membeku di tempat. Beberapa orang saling berpandangan untuk beberapa saat, lalu kepanikan pun pecah seketika. "Itu dari kamar Nona Crelia!" "Ya, Tuhan! Apa yang terjadi?!" Salah seorang pelayan berlari menuju tangga, sementara yang lain segera menghubungi penjaga. Hanya dalam hitungan detik, seluruh sayap timur Mansion itu pun mulai heboh. Sementara di ruang kerjanya, Xeyren sedang menatap layar data yang masih menampilkan wajah pria bersurai pirang yang baru saja berhasil diidentifikasi sebagai Anomali Kedua. Pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan, sampai pintu ruangannya terbuka dengan mendadak. "Tuan Crow!" Seorang penjaga masuk dengan wajah pucat. Xeyren pun mengangkat kepala dan menatap ke arahnya. "Ada apa?" "Nona Crelia!" Alis lebat dan gelap Xeyren seketika berkerut. "Apa lagi yang dia lakukan?" Penjaga itu menelan ludah. "Kami... kamu me







