ANMELDENMaris berenang perlahan melewati jalan utama pemukiman.Sejak beberapa minggu terakhir ia memang jarang keluar rumah. Namun hari itu ia memutuskan berkeliling sebentar agar pikirannya sedikit lebih tenang."..."Saat ia melewati sekelompok duyung… percakapan mereka mendadak berhenti. Maris sedikit mengernyit. Namun ia tetap melanjutkan renangnya.Baru beberapa saat kemudian… suara pelan kembali terdengar dari belakang."Itu dia.""Iya."Maris memperlambat gerakannya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Meskipun ia kembali berenang.Namun beberapa saat kemudian… ia mendengar percakapan yang sama."...""Katanya dia sering ke permukaan.""Kalau memang tidak pernah...""...kenapa tidak menjelaskan?"Maris menundukkan kepalanya. Jari-jarinya perlahan mengepal."Apa...""...yang sebenarnya terjadi?" gumamnya hampir tak terdengar.Tak jauh dari sana, be
Beberapa minggu telah berlalu sejak Maris terakhir kali pergi ke permukaan laut.Hari-harinya kembali dipenuhi rutinitas yang sama. Membantu kedua orang tuanya, berenang di sekitar pemukiman, lalu kembali pulang sebelum matahari tenggelam. Namun… tidak ada satu hari pun ia benar-benar merasa tenang."..."Tatapan para duyung masih sama. Sebagian memilih menghindarinya. Sebagian lagi sengaja berbisik ketika ia melintas.Maris mencoba mengabaikan semuanya. Ia terus mengingat satu hal."Asal ayah dan ibu tidak ikut terluka...""...itu sudah cukup."Siang itu Maris membantu ibunya merawat tanaman laut di depan rumah. Ibunya tersenyum kecil melihat putrinya yang sejak tadi bekerja tanpa banyak bicara."Maris,” panggil ibunya. "Hm?" jawab Maris. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya ibunya. Maris tersentak pelan."Apa terlihat begitu?"Ibunya terkekeh."Ibu mengenalmu sejak kau lahir.""Mana mungkin Ibu tidak tahu."Maris hanya tersenyum tipis."Tidak apa-apa, bu.""Aku hanya sedikit le
Pagi itu, pemukiman duyung kembali dipenuhi kesibukan seperti biasanya. Cahaya matahari menembus permukaan laut, memantulkan kilauan lembut di antara rumah-rumah karang yang berjajar rapi. Dari kejauhan, suara nyanyian laut kuno terdengar samar mengiringi aktivitas para duyung.Maris berenang keluar dari rumahnya setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya. Ia berusaha tersenyum seperti biasa, meski pikirannya masih dipenuhi percakapannya dengan Seraphine sehari sebelumnya."Dari mana mereka mengetahui bahwa aku pergi ke permukaan?" gumamnya pelan.Ia mulai berenang menyusuri jalan utama pemukiman. Beberapa duyung yang berpapasan hanya melirik sekilas, tetapi ada pula yang tampak saling berbisik sebelum buru-buru menghentikan percakapan mereka ketika Maris lewat. Maris berusaha mengabaikannya dan terus berenang tanpa menoleh sedikit pun.Menjelang siang, Maris membantu ibunya merapikan beberapa tanaman laut di sekitar rumah. Ayahnya sesekali berc
Meski suasana pemukiman kembali seperti biasa, obrolan tentang perayaan itu masih terdengar di berbagai sudut. Segerombolan duyung berkumpul di dekat taman karang. Mereka saling bertukar cerita sambil menikmati arus laut yang tenang."Perayaan kali ini benar-benar meriah.""Iya.""Aku bahkan masih merasakan kemeriahan itu sampai sekarang."Salah seorang duyung tertawa kecil."Untung saja Maris tidak datang."Beberapa duyung lain ikut tertawa pelan."Benar.""Kalau dia datang, suasananya pasti jadi suram.""Perayaan jadi tidak senyaman kemarin.""Tapi memang aneh juga."Semua menoleh ke arah duyung yang baru berbicara."Apa?""Aku tadi tidak sengaja melihat Maris.""Lalu?""...Kulitnya sedikit lebih gelap."Suasana mendadak hening."Lebih gelap?"Duyung itu mengangguk."Mungkin hanya perasaanku. Tapi seingatku kulitnya tidak seperti itu."Duyung lain mulai ikut mengingat."Kalau kau bilang begitu...""Aku juga merasa begitu.""Jangan-jangan..." ia tidak melanjutkan kalimatnya.Namun be
Malam itu, saat Maris tiba di rumahnya, suasana masih sunyi. Ia membuka jendela kamarnya perlahan lalu masuk tanpa menimbulkan suara. Kedua orang tuanya rupanya belum kembali dari perayaan."Syukurlah..." gumam Maris pelan.Ia menghela napas lega sebelum merebahkan tubuh di atas tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar, sementara pikirannya kembali pada pertemuannya dengan Lycander."..."Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. Ia masih mengingat bagaimana Lycander buru-buru menghentikannya saat hampir memakan pisang bersama kulitnya. Mengingat itu saja sudah cukup membuatnya menahan tawa."Lucu sekali..."Malam itu, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari diliputi kecemasan, Maris tertidur dengan hati yang jauh lebih tenang. Keesokan paginya… Maris baru saja keluar dari kamarnya ketika suara pintu depan terbuka."Maris?"Ibunya langsung tersenyum."Kau sudah bangun rupanya."Ayahnya ikut menoleh."Kami baru kembali."Maris membalas senyum mereka."Selam
Malam itu, Lycander tetap datang ke pantai. Langkahnya berhenti di tempat yang selama ini selalu menjadi tempat pertemuan mereka. Ombak bergulung pelan, membawa suara laut yang kini terasa jauh lebih sepi."..."Tatapannya menyapu permukaan laut. Maris tidak ada."Mungkin... aku datang terlalu cepat," gumamnya pelan.Ia memilih duduk di atas batu besar yang menghadap ke laut. Angin malam berhembus perlahan, sementara cahaya bulan memantul di atas permukaan air. Lycander tidak pergi dan terus menunggu.“…”Waktu berlalu tanpa terasa. Bulan semakin tinggi, lalu perlahan mulai condong ke barat. Namun laut tetap sunyi, tak ada tanda-tanda kedatangan Maris. "..."Lycander akhirnya berdiri."Hari ini sepertinya kau tidak datang..." gumamnya. Lycander sempat berdiri beberapa saat lagi. Tatapannya tetap tertuju ke permukaan laut, seolah berharap ombak berikutnya akan membawa sosok yang selama ini sel
Arus laut bergerak pelan di sekitar taman laut sore itu. Cahaya dari tumbuhan laut berwarna biru kehijauan memantul lembut di antara batu karang besar, menciptakan suasana tenang yang jarang berubah sejak dulu.Maris berenang perlahan di samping Seraphine sambil membawa rangkaian bunga laut kecil d
Laut malam itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Arus bergerak lambat di sekitar tubuh Maris saat ia berenang sendirian melewati wilayah laut yang gelap, saat ia hendak kembali pulang setelah bertemu dengan Seraphine. Cahaya-cahaya kecil dari tumbuhan laut hanya memantul samar di antara
Kepulangan para penjaga arus laut dalam masih menjadi pembicaraan banyak duyung bahkan beberapa hari setelah mereka kembali. Tidak banyak dari mereka yang benar-benar memahami seperti apa kehidupan para penjaga itu. Mereka hanya tahu satu halㅡpara penjaga laut dalam adalah duyung yang dipilih lau
Hari-hari setelah itu kembali berjalan seperti biasa. Laut tetap dipenuhi arus yang tenang, suara duyung-duyung lain yang saling bercakap, dan kehidupan bawah laut yang tidak pernah benar-benar berubah sejak dulu.Namun bagi Maris, akhir-akhir ini ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan







