Beranda / Fantasi / Legenda Pendekar Biru / Bab 304 Madu Lanang

Share

Bab 304 Madu Lanang

Penulis: Pujangga
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-18 20:48:00

Sebuah goa gelap tanpa cahaya di salah satu pulau terpencil di alam dewa semesta Maniloka.

Di dalam goa itu terdapat seorang pria tampan berpakaian pendekar yang sedang duduk bersila dengan kedua tangan ditelungkupkan di depan dada.

Rambut panjang tergelung rapih di atas kepala, sedangkan matanya tertutup rapat seakan tidak ingin lagi melihat dunia.

Sementara sebilah pedang warisan dari perguruan Awan Selatan miliknya masih tetap tertancap di atas batu tidak jauh darinya.

Pedang itu memang jarang sekali digunakan, tetapi dahulu, dia sempat menorehkan banyak cerita bersama seorang sahabat yang kini telah tiada.

Pedang yang pernah membantai ribuan pasukan iblis dalam sekali tebas, sebuah senjata pusaka yang selalu menemani tuannya ke mana pun dia pergi.

Baik saat menyusuri langit, menjelajah lautan, menembus batas alam, bahkan sampai menyebrangi semesta, pedang itu tidak pernah tertinggal.

Dalam suka dan duka, terang dan kelam, maupun di semua penderitaan kehidupan. Pedang itu selalu se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1175

    Semua orang tidak bisa main-main dengan kesaktian Lintang karena meski tubuh Lintang dalam keadaan terluka, tetapi puncak kekuatannya tetap saja bisa menghancurkan dunia dengan sangat mudah.Selain Lesmana, Galuh, dan Raja Kancradaka, tidak ada lagi yang mengetahui tentang luka tersebut.Mereka sengaja menyembunyikannya agar tidak menciptakan kesedihan lain di hati semua orang. Terlebih keluarga Wardana dan Weda Warta.Anantari, Putri Asmara, Atmarani, Putri Widuri, Putri Purbararang, Putri Shalya, Mayang, Pangeran Arundia, Anjeli, Jinggo, Asgar, Limo, Samhu, Linguy, Cantika Ayu, Yunla, Nindhi, Saudagar Weda, Kianti Dharma, Prabu Dorokundo, Raja Tunggara Setya, Raden Rakean, Prabu Tapa Mukti, Prabu Lhangkem Lhamuri, Prabu Dewangga, Raden Buana, Ratu Ambar, Ratu Isyana, Ratu Utari, Kanjeng Ratu Kidul, bahkan Ratu Gayatri sudah berkumpul berdiri di tepi medan laga yang sudah para sakti beri segel pelindung.Termasuk Raja Masalemba dan Senopati Drupada, mereka juga turut hadir karena in

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1174

    Hari berganti hari, mingggu berubah menjadi bulan namun belum menyentuh hitungan tahun.Selama itu pula para raja, rakyat, dan saudagar yang berniat menetap di wilayah tersebut bergotong royong membangun kembali peradaban.Mereka mulai menebang kayu, membersihkan hutan, serta mengumpulkan bebatuan dan tanah liat sebagai pondasi dasar hunian yang akan didirikan.Kemudian dalam hitungan bulan, berdirilah kedaton istana, kaputren keluarga raja, benteng pertahanan, gerbang, menara pengawas, komplek kediaman para bangsawan, dan rumah-rumah warga.Begitu pula dengan kota raja yang akan menjadi pusat perekonomian masyarakat. Bahkan sawah dan ladang-ladang pertanian pun turut bermunculan secara bertahap.Dalam hitungan bulan, peradaban manusia sudah kembali seperti semula.Meski masih berupa peradaban sederhana, tetapi setidaknya mereka memiliki tempat untuk hidup dan mengolah sumber kehidupan (Pertanian, peternakan, perikanan, budidaya dan berbagai bentuk ketahanan pangan lain).Kerajaan Mal

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1173

    Setelah Ruh Swarnakesa melarikan diri, cukup lama Galuh dan semua orang hanyut dalam kesedihan.Termasuk Lesmana karena bagaimana pun, dia pernah hidup lama bersama Arga. Bahkan jauh lebih lama dari pada Galuh dan Lintang.Namun Lesmana tidak menitikan air mata, ia hanya memendam kesedihan itu di dalam hati agar tidak terlalu terbawa suasana.Bagi Lesmana, kelahiran, kematian, jodoh, dan kehidupan sudah bagian dari takdir.Setiap pertemuan pasti akan diakhiri oleh perpisahan, pun begitu pula dengan pertemuannya dengan Arga.Akan tetapi Lesmana percaya, Arga sangat kuat sehingga dia pasti bertahan.Sudah terlalu lama Lesmana meninggalkan semesta Raya. Pria itu berkelana jauh ke semesta Raya yang lain.Alhasil untuk mengetahui semua yang terjadi, Lesmana meminta Galuh menceritakan semuanya. Dimulai dari kemunculan Nawadurja, Dewa Kegelapan yang kembali hidup, kelahiran Lintang, serta alasan Arga memilih jalan kematian.Memang benar saat ini dia telah memiliki kesaktian jauh di atas mahl

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1172

    Namun Lesmana, dia mampu berpindah tempat dalam sekejap. Bahkan hampir tidak terikat waktu seakan sedari awal dirinya memang sudah berada di sana.“Siapa dia sebenarnya? Mengapa teknik dan ajian yang dia miliki sangat berbeda dengan ajian para pendekar pada umumnya?” ruh Swarnakesa bertanya-tanya sendiri di dalam hati.Wajah dingin, tatapan tajam, serta senyuman tipis di bibir Lesmana sudah lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa dia tidak memiliki ketakutan.Kemudian dengan sikapnya yang tenang dan aura kegelapan yang begitu besar, Lesmana sepertinya jelas memiliki banyak cara untuk mengalahkan Ruh Swarnakesa.Namun dia masih menunggu keputusan Lintang dimana sedari awal, Lintang tidak pernah menunjukan niat membunuh terhadap lawan.Sebuah teka-teki yang sulit dicerna oleh Lesmana. Terlebih sedari dulu Lintang memang jarang terbuka. Terutama terhadap sesuatu yang menyangkut kematian.Wush! Jleg!Raja Kegelapan tiba-tiba muncul di sisi Lintang. “Kawan, apa yang kau pertimbangkan dari

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1171

    “Grrrrrrrrrrrth!”Ruh Swarnakesa menggeram, menggertakan gigi menahan amarah.Dia menatap Lesmana tajam penuh kebencian.Ruh Swarnakesa tidak menduga akan adalagi mahluk maha sakti selain Nawadurja, Lintang, mau pun dirinya.Sembari memulihkan diri akibat hantaman energi milik Lesmana sebelumnya. Ruh Swarnakesa berpikir keras, menganalisa seberapa jauh kekuatan kegelapan calon lawan.Hal itu penting karena secara terang-terangan Lesmana telah menunjukan keberpihakannya kepada Lintang.Artinya, Ruh Swarnakesa akan menghadapi dua jago secara bersamaan.Sebuah tindakan sulit yang tentu dapat membahayakan nyawa-nya.Belum lagi keberadaan Galuh dan rombongan sahabat Lintang.Meski kesaktian mereka tidak seberapa, tetapi kehadiran lebih banyak musuh juga tidak menguntungkan karena akan dapat memecah perhatian.“Bedebah! Gara-gara mahluk gelap sialan itu, aku sepertinya memang tidak akan bisa mendapatkan mangsa lagi,” umpat Ruh Swarnakesa dongkol.Sesaat dia melirik ke arah Lintang seakan ti

  • Legenda Pendekar Biru   Bab 1170

    Setelah itu Lintang melesat terbang ke atas, membawa badai energi cahaya yang melindungi Galuh dan semua orang.Mereka berhenti di tengah semesta Maniloka, tidak jauh dari bekas medan pertempuran semula.Kemudian dengan sisa-sisa kekuatannya, Lintang dengan cepat memulihkan kondisi mereka, membuat Galuh dan semua orang kembali bugar seperti sedia kala.“Terimakasih nak, tapi tubuhmu ...,” Galuh terkejut mendapati Lintang ternyata mengalami luka.Meski luka itu tidak terlihat mata, tetapi sebagai pemilik kekuatan jantung samudra Galuh mampu melihat ke dalam tubuh terdalam Lintang.“Aku tidak apa-apa ayah. Setidaknya aku masih bisa hidup untuk ribuan tahun lagi,” ungkap Lintang menenangkan.Namun pangeran Arundia, dan yang lain yang mendengar itu malah menjadi sangat cemas.Terlebih putri Shalya karena Lintang adalah tujuan hidupnya.“A-apa ayah terluka? A-ayah cepat obati luka itu, ayah kan seorang alkemis. Ayah pasti bisa melakukannya,” Anjeli memeluk Lintang.“Tidak putri kecilku. Ay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status