Compartilhar

Kamar ke-13

Autor: Goresantinta
last update Data de publicação: 2026-09-27 21:24:33

Koridor ini terasa tidak ada ujungnya. Di kiri kanan kami ada puluhan pintu kayu hitam. Semua tertutup rapat. Dari balik beberapa pintu, aku bisa mendengar suara-suara samar. Ada yang menangis pelan, ada yang tertawa cekikikan, ada yang menggaruk-garuk pintu dari dalam seperti ingin keluar.

"Jangan dengarkan," kata Adrian lagi tanpa menoleh. Seolah dia tahu aku mendengarnya.

Sampai akhirnya kami berhenti di depan satu pintu di ujung paling akhir koridor. Pintu ini berbeda. Kayunya lebih baru, dan di atasnya terukir angka 13 dengan ukiran mawar yang sama seperti di gelangku.

Kamar ketiga belas. Kamarku.

Adrian mendorong pintu itu. Tidak terkunci.

Di dalamnya aku tidak tahu harus berkata apa. Kamar ini indah. Terlalu indah untuk rumah semenyeramkan ini. Ranjang empat tiang dengan kelambu putih, perapian besar yang menyala hangat, meja rias dengan cermin besar, dan lemari pakaian penuh dengan gaun-gaun mahal. Jendelanya besar, menghadap ke taman yang gelap.

Tapi ada yang salah.

Di atas ranjang, sudah ada seseorang yang berbaring.

Perempuan berkebaya putih itu. Clara.

Kali ini aku melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya cantik, tapi pucat kebiruan. Bibirnya ungu. Matanya hitam kosong tanpa putih, menatap langit-langit. Lehernya ada bekas lebam memanjang seperti bekas cekikan. Dan di pergelangan tangannya, ada gelang yang persis sama denganku. Hanya saja gelangnya sudah berkarat dan penuh darah kering.

Dia berbaring kaku di atas ranjang pengantinku.

Aku menjerit tertahan dan langsung bersembunyi di belakang Adrian.

Adrian tidak terkejut sama sekali. Ia hanya menghela napas panjang, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat pemandangan ini.

"Clara," panggilnya dingin. "Ini bukan kamarmu lagi."

Perempuan di atas ranjang itu perlahan menoleh. Kepalanya bergerak dengan bunyi yang tidak wajar, seperti lehernya patah. Matanya yang hitam kosong kini menatapku. Langsung ke arahku yang bersembunyi di belakang Adrian.

Kemudian bibir ungunya bergerak.

"Dia akan sama sepertiku." Suaranya bukan keluar dari mulutnya, tapi bergema di dalam kepalaku. Suara yang sama dengan bisikan tadi. Persis seperti suaraku, tapi versi yang sudah mati.

Gelang di tanganku tiba-tiba berdenyut sangat sakit. Panasnya berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Aku memegangi pergelangan tanganku dan jatuh berlutut.

"Argh!"

"Elodie!" Adrian langsung berlutut di depanku dan memegangi wajahku. Tangannya yang hangat menempel di pipiku yang dingin. "Tatap aku. Jangan tatap dia. Tatap aku saja!"

Aku memaksakan diri menatap mata Adrian. Mata merah hitamnya. Anehnya, menatap matanya yang menakutkan itu justru membuat rasa sakit di gelangku sedikit berkurang.

Di belakang Adrian, aku masih bisa melihat Clara bangkit dari ranjang. Gerakannya kaku, seperti boneka. Dia turun dari ranjang dan berjalan ke arah meja rias. Di depan cermin besar itu, dia berdiri dan mulai menyisir rambutnya yang panjang dengan jari-jarinya yang pucat. Sambil tersenyum ke arah pantulan cermin, tapi senyumnya kosong.

"Mengapa dia tidak pergi?" bisikku sambil menangis. Air mataku jatuh ke tangan Adrian.

"Karena dia belum digantikan," jawab Adrian pelan. Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Gerakannya lembut, sangat bertolak belakang dengan kata-katanya yang kejam. "Aturan rumah ini sederhana. Harus selalu ada tiga belas pengantin. Jika yang baru datang, yang lama harus pergi. Tapi Clara. Dia menolak pergi. Dia terobsesi dengan kamar ini."

Adrian berdiri dan berjalan ke arah Clara. Clara berhenti menyisir dan menatapnya.

"Keluar," perintah Adrian. Suaranya mengandung kekuatan yang membuat seluruh kamar bergetar. Perapian yang menyala hangat tadi berderak keras.

Clara tidak bergerak, ia malah tertawa. Tawa pelan yang menyedihkan.

"Kenapa? Kamu takut istrimu yang baru akan tahu apa yang kamu lakukan pada kami, Adrian?" Suara Clara kini terdengar jelas, tidak lagi di dalam kepalaku. Suara perempuan yang serak karena terlalu lama menangis. "Kamu bilang istri hanya perlu tinggal. Tapi kamu tidak pernah bilang tinggalnya harus dalam keadaan hidup atau mati."

Adrian tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan. Dari telapak tangannya, muncul asap hitam yang berputar-putar dan melilit tubuh Clara.

Clara memekik. Bukan jeritan marah, tapi jeritan kesakitan yang sudah lama ditahan.

Asap hitam itu menyeret Clara kembali ke dalam cermin besar di meja rias. Cermin itu bergetar keras, permukaannya yang semula memantulkan kamar yang indah kini memantulkan koridor batu bata yang gelap dengan puluhan pintu.

Dan di dalam pantulan itu, aku melihatnya. Dua belas perempuan berkebaya putih. Semua berdiri berjejer di koridor. Semua menatapku dari dalam cermin. Termasuk Clara yang baru saja diseret masuk.

Mereka semua memakai gelang yang sama.

Aku terisak dan menutup mulutku dengan tangan.

Adrian berjalan kembali ke arahku dan menutup cermin itu dengan kain putih yang ada di meja rias. Seketika, kamar menjadi sunyi lagi. Hanya ada suara perapian.

"Kamu sudah melihat terlalu banyak untuk malam pertama," kata Adrian. Ia mengangkatku dari lantai dengan mudah dan menggendongku ke arah ranjang yang tadi ditempati Clara. Ranjang itu kini bersih, seprainya putih tanpa noda. Seolah tidak pernah ada yang berbaring di sana.

Ia membaringkanku dengan hati-hati. Aku masih gemetar hebat.

"Apakah aku akan jadi seperti mereka?" tanyaku. Ini pertanyaan yang sejak tadi ingin kutanyakan. "Apakah kamu akan membunuhku juga?"

Adrian terdiam lama. Ia duduk di tepi ranjang, menatapku dari atas. Tangannya kembali menyentuh gelang di pergelangan tanganku. Kali ini usapannya sangat pelan, seperti sedang menenangkan hewan yang ketakutan.

"Dua belas yang sebelum kamu," katanya pelan, "Mereka semua mencoba melepas gelang itu. Mereka semua mencoba lari dari koridor itu. Mereka semua mencoba melawan rumah ini dan rumah ini tidak suka dilawan."

Ia mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat.

"Tapi kamu, Elodie," bisiknya. "Kamu berbeda. Kamu tidak lari ketika melihat Clara. Kamu berlutut dan memelukku. Kamu meminta perlindunganku."

Jari-jarinya naik dari gelangku ke daguku, mengangkat wajahku agar menatapnya.

"Jika kamu tetap patuh, jika kamu tetap tinggal di sini bersamaku, di kamar ini, di rumah ini. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu. Bahkan Clara sekalipun."

Kata-katanya terdengar seperti janji. Tapi janji dari seorang monster tetaplah janji monster.

Di luar kamar dari balik pintu yang tertutup, aku masih bisa mendengar suara langkah kaki basah itu. Kali ini bukan satu, tapi banyak. Dua belas langkah kaki, mondar-mandir di depan kamarku.

Menunggu.

Adrian mendengarnya juga. Ia menoleh ke arah pintu, matanya kembali menyala merah.

"Sepertinya malam ini mereka tidak akan membiarkan kita tidur," katanya dengan nada kesal.

Ia kemudian naik ke atas ranjang, berbaring di sampingku. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya.

"Pejamkan matamu, Nyonya Blackwood," bisiknya di telingaku sambil menarik selimut untuk menutupiku. "Dan apapun yang kamu dengar di luar pintu malam ini, jangan pernah membukanya. Bahkan jika suara itu adalah suara ibumu."

Jantungku yang tadi sedikit tenang kembali berdegup kencang.

Bagaimana dia tahu nama ibuku? Bagaimana dia tahu suara ibuku?

Di luar, langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarku.

Lalu terdengar ketukan pelan.

Sebuah suara yang sangat kukenali, suara yang membuat air mataku langsung jatuh, terdengar dari balik pintu.

"Elodie, putriku, buka pintunya, Elodie. Ibu kedinginan di luar."

Itu suara ibu.

Adrian langsung memelukku erat dari belakang dan membekap mulutku dengan tangannya sebelum aku sempat berteriak.

"Jangan," bisiknya dingin di telingaku. "Itu bukan ibumu."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • MAHAR DARAH KE-13   Malam Kedua

    Perutku tidak lagi rata.Setelah pernikahan darah itu, perutku sempat mengecil. Tapi di hari kedua, ia kembali membesar. Lebih cepat. Lebih besar.Sekarang terlihat seperti hamil sembilan bulan.Dan yang paling mengerikan, aku tidak lagi sendirian di dalam kepalaku."Ibu, aku lapar."Aku terbangun tengah malam karena suara itu. Bukan suara Adrian. Bukan juga suara dua belas pengantin. Suara itu datang dari dalam perutku sendiri. Kecil, serak, seperti anak kecil yang berbisik di dalam air.Aku memegangi perutku yang bergerak pelan. Kulitku yang pucat kini dipenuhi urat-urat emas tipis, sama persis seperti akar gelang duri mawarku. Urat itu berdenyut, seirama dengan detak jantungku, dan satu detak lain yang jauh lebih cepat di dalamnya."Ibu, beri aku makan.""Adrian! Adrian cepat bangun!"Aku panik dan mengguncang tubuh Adrian yang tidur di sampingku. Sejak pernikahan darah, dia tidak lagi tidur di sofa. Dia tidur memelukku. Satu tangannya selalu siaga di atas perutku.Adrian langsung

  • MAHAR DARAH KE-13   Malam Pertama Sebagai Nyonya Blackwood

    Darah Adrian masih terasa di bibirku. Manis, bau besi dan mawar busuk.Lingkaran darah di lantai kamar tiga belas itu perlahan mengering, meresap ke dalam kayu hitam, meninggalkan bekas ukiran mawar yang menyala redup. Sama seperti gelang duri di tanganku.Sunyi.Setelah jeritan dua belas pengantin itu berhenti dan semua pintu di koridor tertutup sendiri dengan suara yang menggema, kamar ini kembali sunyi.Adrian berlutut di depanku. Pergelangan tangannya yang tadi robek masih mengucurkan darah hitam, tapi lukanya perlahan menutup sendiri. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan tatapan dingin tuan rumah. Tapi tatapan seorang suami yang takut kehilangan istrinya."Kamu sudah melakukannya," bisiknya pelan."Kamu sudah jadi Nyonya Blackwood yang sah. Sekarang rumah ini tidak bisa menolakmu. Mereka juga tidak bisa mengambil paksa lagi."Aku menatap perutku yang rata. Aku mengusapnya pelan. Urat emas tipis dari gelangku masih terlihat samar di bawah kulit

  • MAHAR DARAH KE-13   Pernikahan Darah

    "Pernikahan dengan darah? Apa maksudmu?" bisikku. Perutku yang sudah sebesar hamil lima bulan itu terasa berat, panas, dan terus bergerak-gerak seperti ada kuku yang menggaruk dari dalam.Gedoran di luar semakin brutal.BRAK!Retakan di pintu kayu hitam itu semakin lebar. Asap hitam Adrian mulai menipis. Aku bisa melihat bayangan dua belas gaun putih di balik celah pintu, semuanya merapat, semuanya mengerikan."Mereka tidak akan bertahan lama!" geram Adrian. Matanya merah padam, urat-urat hitam mulai muncul di lehernya. Ia tidak lagi terlihat seperti pria tampan yang menikahiku. Ia terlihat seperti penjaga rumah ini yang sebenarnya.Tanpa ragu, ia merobek pergelangan tangannya sendiri dengan kuku jarinya yang tiba-tiba memanjang dan hitam mengkilat.Darah merah pekat, hampir hitam, langsung mengucur deras. Tetesannya jatuh ke lantai kayu hitam dan mendesis, seperti air yang jatuh di atas bara."Di keluarga Blackwood, gelang hanya untuk mengikat jiwa. Tapi darah untuk mengikat rahim,"

  • MAHAR DARAH KE-13   Benih Rumah Blackwood

    Aku terbangun karena mual.Bukan mual biasa. Mual yang naik dari perut sampai ke tenggorokan, asam, pahit. Aku langsung lari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tiga belas ini dan muntah.Tidak ada isi. Hanya cairan bening dan darah segar.Darah itu bukan dari tenggorokanku. Aku bisa merasakannya. Darah itu keluar dari dalam perutku.Adrian sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Entah sejak kapan dia ada di sana. Jas hitamnya sudah dilepas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung. Matanya kembali normal, hitam dengan semburat merah tipis, bukan hitam pekat seperti semalam."Kamu hamil," katanya. Datar. Bukan pertanyaan. Pernyataan.Aku membeku sambil masih memegangi kloset. Tangan yang ada gelang duri mawarnya gemetar."Apa maksudmu hamil? Kita bahkan belum melakukan apa pun semalam!" jeritku. Suaraku pecah karena panik.Adrian berjongkok di depanku. Ia meraih daguku dengan lembut, memaksaku menatapnya. Tangannya yang satu lagi menyentuh perutku yang masih rata di balik keba

  • MAHAR DARAH KE-13   Dua Belas Pasang Mata

    "Elodie, putriku, buka pintunya."Suara itu lagi. Persis suara ibu. Serak, pelan, seperti orang yang sudah lama menangis di tengah hujan.Tanganku refleks ingin mendorong tangan Adrian yang membekap mulutku. Itu ibu. Ibu yang hutangnya dilunasi dengan menjualku ke Adrian."Shhh," bisik Adrian tepat di telingaku. Napasnya panas. Pelukannya semakin erat, tubuhku terkunci di dalam pelukannya di atas ranjang. "Dengar baik-baik, Elodie. Itu bukan ibumu."Aku menggeleng keras di dalam bekapannya. Air mataku membasahi jari-jarinya."Jika itu ibumu, bagaimana dia bisa tahu kamu di kamar nomor tiga belas?" bisik Adrian lagi. "Tidak ada seorang pun di desamu yang tahu denah rumah ini. Bahkan ayahmu."Kalimat itu membuatku membeku.Benar. Ayah hanya bilang aku akan dinikahkan dengan Tuan Blackwood yang kaya raya dari kota. Ayah tidak pernah menyebut koridor batu bata, lilin biru, atau kamar nomor tiga belas.Di luar pintu, suara itu berubah. Dari memanggil pelan menjadi menggedor.BRAK!"Elodie!

  • MAHAR DARAH KE-13   Kamar ke-13

    Koridor ini terasa tidak ada ujungnya. Di kiri kanan kami ada puluhan pintu kayu hitam. Semua tertutup rapat. Dari balik beberapa pintu, aku bisa mendengar suara-suara samar. Ada yang menangis pelan, ada yang tertawa cekikikan, ada yang menggaruk-garuk pintu dari dalam seperti ingin keluar."Jangan dengarkan," kata Adrian lagi tanpa menoleh. Seolah dia tahu aku mendengarnya.Sampai akhirnya kami berhenti di depan satu pintu di ujung paling akhir koridor. Pintu ini berbeda. Kayunya lebih baru, dan di atasnya terukir angka 13 dengan ukiran mawar yang sama seperti di gelangku.Kamar ketiga belas. Kamarku.Adrian mendorong pintu itu. Tidak terkunci.Di dalamnya aku tidak tahu harus berkata apa. Kamar ini indah. Terlalu indah untuk rumah semenyeramkan ini. Ranjang empat tiang dengan kelambu putih, perapian besar yang menyala hangat, meja rias dengan cermin besar, dan lemari pakaian penuh dengan gaun-gaun mahal. Jendelanya besar, menghadap ke taman yang gelap.Tapi ada yang salah.Di atas r

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status