Se connecter"Anterin aku pipis, yuk. Aku takut sendirian," pinta Vera dengan nada manja yang sulit ditolak.
Meski sisa kantuk masih menggelayuti mata, Erik akhirnya bangkit. Ia mengambil jaket dan keluar menemani Vera. "Ayo," ajaknya singkat.
Mereka berdua melangkah menjauh dari perkemahan, menyusuri kegelapan hutan yang hanya diterangi cahaya remang bu
Sesampainya di area parkir luar sekolah, Fanny yang semula sudah memantapkan niat untuk mempertanyakan perihal luka memar Rizky kepada wali kelas, langsung turun darisepeda guna mengantar putra sulungnya sampai ke kelas.Namun, begitu mereka tiba di depan gerbang sekolah, langkah Fanny seketika tertahan. Ia mendapati teman-teman Rizky menyambut kedatangan putranya dengan sorak gembira yang tulus. Rizky pun melempar senyum lebar, melambaikan tangan untuk pamit pada Fanny, lalu melangkah masuk ke halaman sekolah dengan sangat ceria.Fanny tertegun di tempatnya berdiri, merasakan perang batin yang berkecamuk hebat di dalam dada. Ia mendadak teringat ucapan Rian tadi pagi soal kemungkinan alergi makanan. Logika rasionalnya langsung menampar kekhawatirannya sendiri. Jika ia nekat masuk ke ruang gur
Tunggu! Rambut gondrong? Tidak! Rian tidak berambut gondrong!Fanny memejamkan matanya rapat-rapat, menggelengkan kepala dengan kuat untuk mengusir kilasan visual aneh yang baru saja melintasi kepalanya.Setelah beberapa detik menarik napas dalam, Fanny membuka mata dan merasa pikirannya sudah kembali jernih. Bayangan pria gondrong bertubuh tinggi besar dengan raut penuh murka itu telah lenyap. Sosok itu kembali berganti menjadi Rian yang kini sedang duduk tenang di samping Rizky sembari merangkul bahu bocah itu sambil mengelus kepalanya penuh rasa sayang.“Rizky jangan takut, ya. Ayo bilang sama Ayah, Rizky dipukul sama siapa?,” tanya Rian dengan suara yang kembali melembut.
Besok siangnya, sepulang sekolah, Rizky kembali asyik bermain. Kali ini ia tidak bermain bersama teman-teman kampungnya, melainkan asyik sendirian di samping rumah dengan mainan mobil-mobilanmiliknya.Sedang asyik menggerakkan mainan mobilnya di atas tanah, Rizky mendadak melihat bocah yang kemarin ikut bersembunyi bersamanya di semak-semak, kini sedang menatapnya sambil berdiri diam di bawah pohon mangga, tak jauh dari tempatnya bermain.Rizky spontan melambaikan tangan, mengajak bocah itu untuk ikut bermain bersamanya.Bocah itu tidak langsung menghampiri. Ia memandangi Rizky cukup lama dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya melangkah mendekat dengangesturyang sangat kikuk dan penuh kewaspadaan.
Terlebih lagi, suara senandung itu terasa begitu dekat. Seperti bukan berasal dari luar rumah.Melainkan ... dari dalam.Jantung Fanny berdebar kencang. Ia mencoba mencari alasan paling rasional yang bisa diterima logikanya. Namun, semua pikiran positifnya patah begitu saja. Jika itu adalah orang asing yang menyusup, rasanya mustahil, karena posisi sofa ruang TV berada tepat di tengah rumah. Dari tempat duduknya, Fanny bisa mengawasi setiap sudut ruangan rumah itu dengan jelas.Suara itu terdengar lagi. Kali ini, nadanya terdengar jauh lebih sedih dan menyayat hati. Fanny memberanikan diri menoleh, mempertajam pendengarannya untuk mencari sumber suara.Seketika dada Fanny berdesir hebat saat menyadari senandung pilu itu berasal dari dalam kamar Rizky.Jantung Fanny terasa berdegup makin kencang. Ingin rasanya ia berlari ke kamar utama dan membangunkan Rian, tetapi ia merasa tidak tega mengganggu suaminya yang pasti sudah kelelaha
Fanny baru saja memejamkan mata, ketika tiba-tiba ia merasakan gelombang kesedihan dan ketakutan yang luar biasa menyelimuti pikirannya. Entah bagaimana mulanya, ia tiba-tiba mendapati dirinya tengah meringkuk di sudut ruangan, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Rambut panjang sepinggangnya terurai berantakan, menutupi sebagian tubuhnya yang gemetar. Ada rasa sakit yang berkedut hebat di pelipis serta belakang kepalanya, membuat pandangannya kabur dan ia hanya bisa merintih menahan nyeri yang menyiksa."Sia ulah loba tingkah!Nurutwaekaaing!" Sebuah suara laki-laki yang berat, tertahan, tetapi sarat akan ancaman yang sepertinya tak main-main, mendadak menggema di dalam kepalanya.Seketika itu pula, Fanny merasakan rasa takut yang luar biasa kembali
Tak berselang lama, kasurnya terasa melesak karena sebuah tekanan, entah apa, yang memberati salah satu sisi ranjangnya. Seperti ada seseorang yang sedang menduduki ranjang itu. Euis makin gemetar ketakutan di balik selimut.Tiba-tiba.“Teh ....” Terdengar suara lirih seorang perempuan yang memanggilnya. Suaranya terdengar begitu lirih dan menyedihkan. Sama persis dengan suara yang memanggilnya di rumah Minah tadi siang. Menyadari itu, tiba-tiba Euis merasa ketakutan. Ia memejamkan matanya lebih erat dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak mau mendengar atau melihat apa pun di dalam ruangan kamarnya.
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di