MasukZul yang begitu mencintai istrinya Nuraini harus menerima kenyataan bahwa istrinya tak lagi mampu membersamai hidupnya karena tak sanggup hidup dalam kekurangan. Nuraini yang telah menemukan tambatan hati lain memilih untuk meninggalkan Zul. Dalam kesakitan, Zul berusaha bangkit. sanggupkah dia?
Lihat lebih banyakPOV Leona
—Esto es lo mejor, créeme. Con el tiempo me lo agradecerás —dice Ignacio Della Rovere, con esa firmeza que usa cuando ya decidió algo y no piensa dar el brazo a torcer—. No te preocupes, tendrás todo lo que necesites, como lo estipula el contrato de confidencialidad que firmaste.
Lo miro sin pestañear. Tres años. Tres años esperando que este hombre se dignara a darme un lugar en su vida, y él me lo resuelve con la misma calma con la que resolvería una reunión de negocios.
Durante tres años en donde fuimos, casi todo, casi nada o casi algo. Porque cuando intentanba alejarme, Ignacio volvía a buscarme, hasta que terminé enamorandome por completo de él.
—¿Todo lo que necesite? —repito, y no reconozco mi propia voz—. Qué generoso de tu parte, Ignacio.
Él frunce el ceño, como si mi ironía lo tomara desprevenido. Bien. Que se acostumbre, porque la Leona que se tragaba cada silencio suyo se acaba de morir aquí, en esta sala.
—No te pongas así.
—¿Así cómo? —Doy un paso hacia él, y por primera vez en tres años, no bajo la mirada—. ¿Cómo se supone que me ponga cuando el hombre con el que hice el amor anoche viene hoy a anunciarme su casamiento?
Algo cruza por su rostro. No sé si es culpa o solo incomodidad, y la verdad, ya no me importa distinguirlo.
—Nunca te prometí nada, Leona.
—No. Pero tampoco me dijiste que no me querías —el temblor se me cuela en la última palabra, y lo odio por eso—. Y yo fui lo bastante tonta como para llenar cada uno de tus silencios con esperanza. Cada viaje que cancelabas a último momento, cada cumpleaños que festejamos a puertas cerradas, cada vez que te pedí conocer a tu familia y me dijiste que «todavía no era el momento». Yo lo convertí todo en promesas. Tú nunca prometiste nada. Tienes razón.
Se acerca. Me toma del brazo y me pega a su cuerpo con esa mezcla de urgencia y control que siempre logró desarmarme.
—No es tan simple —murmura contra mi cuello, aspirando mi perfume—. Sabes bien que me vuelves loco…
Por un segundo, mi cuerpo lo traiciona todo y se estremece. Por un segundo, quiero quedarme ahí, fingir que nada de esto está pasando, que mañana no va a vestirse con su impecable traje para otra mujer.
Pero me aparto.
—Solo que no lo suficiente como para elegirme —termino la frase por él—. ¿Qué pensaría tu prometida si supiera que mientras la cortejabas, tú me tenías a mí esperando en las sombras? ¿Que cuando yo te preguntaba por ella cuando salieron esas fotos, me decías que no era nadie, que solo era la hija de unos amigos de tus padres?
La mandíbula de Ignacio se tensa. Cierra el puño.
—¡Leona, no empieces!
Sonrío. Una sonrisa amarga que no sabía que tenía guardada.
—¿Empezar? Llevo tres años sin reclamarte absolutamente nada. Hoy es la primera vez, y va a ser la última, porque después de hoy no pienso volver a dirigirte la palabra. Si se termina, se termina para siempre.
Se pasa una mano por la sien, frustrado. Y yo, con lo poco de dignidad que me queda, camino hasta la puerta de mi apartamento y la abro de par en par.
—Leona, escúchame…
—No, escúcheme, señor. De ahora en más —lo interrumpo, y esta vez mi voz sale firme y cortante—, para usted soy la señorita Eleonora Ferrás. Si el destino me condena a cruzarme con usted otra vez, así deberá dirigirse a mí.
Él avanza hacia mí con la rapidez de un depredador que no está acostumbrado a que su presa se le escape.
—¡Basta de dramas, Leona! Entiendo que estés dolida, pero esto no hace falta.
Cierro los ojos un instante. ¿No hace falta? Qué fácil es todo cuando el corazón roto es el ajeno.
Lo miro directo a los ojos —esos ojos que alguna vez creí saber leer— y le digo, con una calma que me sorprende hasta a mí:
—Váyase, Señor Della Rovere. Y esta vez, créame cuando se lo digo yo: es lo mejor para los dos.
Él esboza una sonrisa cargada de desdén.
—Volveré para terminar de hablar cuando se te pase. Contigo no se puede hablar cuando te pones así.
Le cierro la puerta en la cara antes de que termine la frase. Y ahí, sola, con la espalda pegada a la madera, dejo caer la máscara.
Las lágrimas que contuve durante toda la conversación caen sin permiso. Me deslizo hasta el piso, abrazando mis piernas, y por un largo rato me permito llorar todo lo que no lloré delante de él.
Hubiese querido decirle que le deseaba la muerte. Pero mi estúpido corazón, el mismo que él pisoteó durante tres años, todavía lo sigue amando.
Claro que sí. Porque mañana Ignacio Della Rovere se comprometerá con la dulce, perfecta e intachable Clara Lombardo.
Y yo no quiero estar aquí cuando eso suceda porque apenas puedo respirar por el dolor que siento.
Me seco las lágrimas con el dorso de la mano y me pongo de pie. Miro el apartamento que compartimos tantas noches, los libros que dejó a medio leer, la copa que todavía tiene su marca.
Y, por primera vez en tres años, tomo una decisión que es solo mía.
Suara decit Ban memekakan telinga, menghentak tubuh Rania yang terbelit oleh Safety Belt ke depan hingga kepalanya hampir terantuk ke dasboard mobil. Sementara suaminya, Zul, Tergugu di balik kemudi dengan wajah pucat pasi. Hampir saja. Hampir saja Zul menabrak ibu – ibu yang tengah hamil besar yang berjalan tertatih – tatih dan tanpa melihat ke kiri dan ke kanan jalan lg dia langsung menyeberang hingga nyaris di tabrak oleh Zul. Beruntung Zul masih sempat menginjak pedal rem hingga kecelakaan itu dapat di hindari. Rania bergegas membuka pintu dan menghambur keluar menghampiri ibu hamil yang kini tengah terduduk lemas dengan wajah pucat pasi di pinggir jalan. “Kalo Jalan jangan ngebut – ngebut wooyyy!!” Bentak salah seorang pejalan kaki sembari memukul kap mobil depan Zul dengan wajah beringas. Zul hanya mengangguk dan melemparkan senyum canggung. Dia segera membuka pintu mobil dan menyusul istrinya. Itu semua bukan sepenuhnya salahnya, Ja
Pukul satu siang Pak RT diantar oleh Adit datang menemui Zul. “Gimana keadaan Nur, Pak? Apa kata dokter?” Tanya Zul berbasa basi. “Udah diperiksa semua, kata dokter gak ada sakit apa – apa Zul. Tapi kemungkinan alergi kata dokter yang memeriksanya tadi.” Terang Pak RT “Oh, Jadi dirawat atau dibawa pulang ke rumah.” Zul bertanya sembari netranya menyapu keadaan rumah Nur dari jauh. “Dibawa ke pesantren akhirnya. Paman Nur memaksa. Katanya mau di rukiyah di sana.” Terang Pak RT lagi. “Baguslah kalau begitu, Pak. Masuk dulu pak. Rania baru saja selesai masak. Kita makan siang bareng.” Zul mengajak Pak RT dan Adit masuk. Meski merasa sungkan, akhirnya Pak RT dan Adit akhirnya menuruti undangan Zul. Rania yang tak menyangka akan kedatangan tamu akhirnya kalang kabut. Untung saja Rania masak untuk sekalian makan malam. Hingga lauk yang dimasak Rania yang sejatinya untuk makan malam juga habis tak bersisa.
Malam masih mencekam, Lolongan kesakitan yang keluar dari mulut Nur yang begitu menyayat membuat suasana semakin seram. Lengkingan jerit yang keluar dari mulut Nur membuat merinding semua orang yang mendengar tak terkecuali Zul dan Rania. Meski rumah mereka berjarak sekitar seratus meter dari rumah Nur, namun lolongan tersebut masih terdengar dengan begitu jelas. “Bang, aku takut.” Zul mengetatkan pelukannya pada Rania meski sebenarnya dia sendiripun bergidik ngeri setiap kali mendengar suara lolongan kesakitan Nur. Zul tetap berusaha menenangkan Rania yang begitu gelisah dengan mendekapnya. “Baca ayat kursi atau ayat – ayat pendek lain, Dek. Biar hati tenang.” Saran Zul sembari membelai rambut legam Rania. Berkali – kali kalimat tahmid dia lafazkan, karena telah terhindar dari sihir Nur. Zul yakin, Nur tak akan berhenti sampai di sini. Akan ada serangan lain ke depannya yang mungkin lebih beringas lagi. “Pagari diri dengan doa dan murajaah
“Gimana ini, Bang? Kenapa Asep jadi begini?” Adit kebingungan bercampur takut melihat mata Asep yang tiba – tiba melotot dengan mulut yang meracau menggunakan Bahasa yang tidak mereka fahami. “Duniaku ada tiga warna… DUNNIIAAA KUUU AADDAAA TTIIIGAA WARNA… Hihihihihihi…” Ceracau Asep dengan Mata menyalak garang lalu menoleh ke Zul dengan seringai seramnya. “Aku juga gak tau ini, Dit. Coba kamu panggil Pak De Darkum aja. Suruh si Memet jemput beliau. Bawa Asep ke dalam kamar, Jangan sampe ganggu pembeli yang lagi makan.” Titah Zul yang sedang cemas bercampur takut melihat netra Asep yang terus menerus menatapnya dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri. Tiba – tiba Asep terjatuh dan menggelepar di lantai, mulutnya mengeluarkan suara ngorok dari tenggorokan yang mengerikan seperti orang yang sedang mereggang nyawa. Mulutnya mengeluarkan busa air liur yang kemerahan karena bercampur darah. “Cepat angkat ke dalam.” Zul memerint
Kedua kakiku sudah teramat sangat pegal menunggu Bang Zul lewat di depan rumahku. Begitu juga dengan Leherku karena celingukan dari tadi mengawasi ujung jalan untuk melihat Bang Zul lewat tetapi yang ditunggu tak kunjung juga muncul batang hidungnya. Bagaimana mungkin dia berubah menjadi begitu gan
Sebuah mobil SUV perlahan berhenti di depan rumahku saat aku baru saja kembali dari melihat keadaan kebun sawitku. Sesosok kepala berhijab menyembul dari pintu yang terbuka diiringi oleh senyum manis seorang wanita cantik dan ramah, Ririn. Dia datang bersama Adjie dan seorang wanita paruh baya yang
Acara Takziah sudah hampir usai, tradisi di kota ini biasanya tuan rumah menyediakan tempat untuk santap malam bersama. Nasi dan lauk pauknya biasanya diberi oleh jiran tetangga kemudian dinikmati bersama. Pak Darkum mengajakku bersalaman dengan tuan rumah sebelum bersantap. Aku mengekor Pak Darkum
Aku melangkah keluar berusaha untuk terlihat tegar. Namun tak urung Tanganku gemetar saat Aku menyalakan motor dan mulai menjalankannya perlahan membelah jalan aspal yang hitam. Dadaku terasa penuh dan sesak seperti terhimpit sekat yang semakin merapat. Jika bisa Aku begitu ingin berteriak sekadar u






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan