ANMELDENMatahari pagi baru saja terbit ketika Pram mengetuk pintu apartemen Evora dengan ketukan yang teratur namun tergesa-gesa. Di dalam ruang tamu yang masih diselimuti pendar fajar, Pram meletakkan sebuah buku catatan tua bersampul kulit kusam di atas meja. Buku itu adalah jurnal perawatan berkala Villa Arverra yang selama belasan tahun tersimpan di lemari arsip bawah tanah."Nona Evora ... petunjuk itu sebenarnya tidak pernah keluar dari villa," ujar Pram, napasnya sedikit tertahan oleh rasa haru dan ketegangan. Ia membuka lembar demi lembar jurnal tua itu hingga berhenti di sebuah lembaran dengan nomor kode unik dan nomor seri peti simpanan deposit."Nyonya Besar Carla tidak menyimpan halaman terakhir surat wasiatnya di dalam brankas rumah yang mudah dibongkar atau disabotase. Beliau mendaftarkannya di sebuah 'safe deposit box' khusus atas nama pribadi di Bank Central Utama, jauh sebelum beliau jatuh sakit."Kabar mengenai ditemukannya lokasi lembaran krusial tersebut segera menggerakka
Angin malam berembus dingin di area pemakaman keluarga yang tenang di pinggiran kota. Pepohonan rimbun berdengung pelan disapu angin, menaburkan aroma tanah basah dan kelopak bunga kamboja yang gugur. Di tengah keheningan kompleks makam yang sepi, pendar rembulan menyusup tipis dari balik awan, menyinari nisan batu marmer hitam tempat mendiang Nyonya Besar Carla bersemayam. Evora duduk menyendiri di atas bangku batu di samping nisan sang nenek. Ia mengenakan mantel tebal berwarna gelap, menyilangkan kedua tangannya untuk menghalau dingin. Di depan batu nisan yang bertabur bunga mawar segar itu, perisai ketegaran yang selama ini dipasang Evora di dunia korporasi perlahan meluruh. Dengan suara halus yang bergetar pelan, Evora mulai berbicara pada kesunyian malam, menumpahkan segala isi hatinya kepada sosok yang paling ia hormati. "Nenek..." bisik Evora, matanya berkaca-kaca menatap ukiran nama Carla pada batu nisan. "Satu per satu kebenaran mulai terungkap, seperti yang Nenek harapk
Lantai teratas gedung pusat Mordie Group diselimuti oleh atmosfer dingin yang begitu menekan. Pagi itu, sebuah rapat tertutup tingkat tinggi digelar secara mendadak di dalam ruang direksi utama. Tirai-tirai tebal ditutup rapat, memblokir pendar sinar matahari luar, sementara pendingin udara yang berhembus pelan seolah mendinginkan darah setiap orang yang hadir di dalam ruangan.Di ujung meja rapat mahoni yang panjang, Fasco duduk mendampingi Evora dengan aura dominasi yang tak tergoyahkan. Sementara itu, Fredo berdiri di samping layar proyektor besar, memegang sebuah remote pointer dengan raut wajah sangat dingin dan profesional. Di hadapan mereka, Roldie, Andreas, dan jajaran direksi senior duduk mematung dengan ketegangan yang memuncak.Audit forensik independen yang dipimpin secara rahasia oleh Fredo dan tim ahli keuangan Roys Corporation akhirnya telah selesai sepenuhnya."Terima kasih atas kehadirannya, Tuan-Tuan," buka Fredo, suaranya tenang namun bergema tajam di dalam ruangan
Akhir pekan yang dingin disambut oleh embun tebal yang menyelimuti kawasan pesisir tempat Villa Arverra berdiri tegap. Setelah berminggu-minggu berkutat dengan dinamika bursa saham dan gelombang gosip media yang tak berkesudahan, Evora memutuskan untuk mengunjungi villa peninggalan sang nenek. Diiringi oleh deru ombak pantai selatan yang bersahut-sahut dari balik tebing, Evora melangkah menaiki anak tangga batu menuju teras depan, bermaksud untuk mencari ketenangan sejenak sekaligus memeriksa kondisi bangunan tua tersebut.Namun, begitu jemarinya menyentuh gagang pintu utama, instingnya seketika bersiaga. Pintu kayu jati yang tebal itu ternyata sedikit renggang, tidak terkunci rapat seperti biasanya.Dengan langkah kaki yang pelan tanpa bersuara, Evora mendorong pintu utama dan melangkah masuk ke dalam koridor remang-remang. Suasana di dalam villa terasa sangat asing dan mencekam. Tepat saat ia melewati area tangga menuju lantai dua, pendengarannya menangkap suara gesekan berderak pel
Pagi hari di ibu kota disambut oleh riak kekacauan yang meledak serentak di jagat maya dan berbagai media cetak bisnis ternama. Foto-foto hasil bidikan tersembunyi dari balik dinding kaca restoran semalam mendadak menghiasi halaman utama portal berita hiburan dan korporasi. Dengan judul bombastis yang membakar rasa penasaran publik: "Aliansi Bisnis atau Asmara? CEO Roys Corporation Terlihat Dekat dengan Pewaris Mordie Group."berita itu langsung memuncaki tangga popularitas dalam hitungan jam.Di kediaman utama keluarga Mordie, ruang makan yang megah seketika berubah menjadi medan pertempuran emosi. Meyla melempar tablet digitalnya ke atas meja hingga memunculkan suara benturan yang keras. Wajahnya merah padam diliputi kemurkaan yang tak tertahankan."Kurang ajar! Wanita sialan itu benar-benar mengandalkan rupa dan godaannya untuk mengunci posisi di Roys Corporation!" geram Meyla, napasnya memburu saat melihat foto Evora dan Fasco duduk berdampingan yang dipajang di layar.Lizi yang d
Suasana main dining room di restoran eksklusif bernuansa klasik modern di kawasan Jakarta Selatan malam itu terasa amat hangat dan privat. Seluruh area lantai teratas telah disewa secara khusus oleh manajemen Roys Corporation untuk menggelar jamuan makan malam apresiasi atas keberhasilan penanganan krisis operasional dan stabilisasi saham Mordie Group.Pendar cahaya dari lampu gantung kristal berdesain hangat membiaskan kilau ke atas meja panjang berbahan kayu mahoni yang ditata dengan begitu sempurna. Di balik tatanan bunga segar dan denting peralatan makan perak, atmosfer profesional yang biasanya kaku dan penuh tekanan korporasi perlahan mereda, tergantikan oleh alunan musik jazz instrumental yang mengalir lembut dari sudut ruangan.Malam itu, Evora hadir memukau dalam balutan gaun simpel berwarna krem elegan yang membalut tubuhnya dengan sangat pas. Di sampingnya, Fasco duduk dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga siku—sebuah tampilan kasual yang sangat jarang di
“Vernon, kau dari mana saja? Bukankah tadi hanya izin ke toilet?” Lizi menatapnya dengan senyum tulus saat Vernon kembali ke ruang makan.Vernon berhenti sejenak sebelum menjawab, “Ada telepon mendadak. Aku sekalian keluar sebentar.”Lizi mengernyit. “Ke taman belakang?”Vernon hanya mengangguk sin
Vernon dan Lizi masih berdiri di atas panggung dengan Lizi yang merangkul lengan Vernon layaknya pasangan serasi. Lizi mengambil mikrofon lalu berkata, “Terima kasih kepada semua yang hadir di hari spesial ini. Berkat dukungan kalian, acara ini berjalan dengan lancar. Aku juga ingin berterima kasi
Kejam.Kata itulah yang terlintas di benak Evora tentang Fasco.Tapi sebelum ia sempat membalas, Grace muncul membawa air kelapa.“Sudahlah, lebih baik kau minum ini sebelum mendengar lebih banyak kuliah darinya.”.“Terima kasih, Grace.”“Aku sudah memasak nasi goreng untuk kalian, ayo makan dulu!”
“Apa kamu nggak bisa diam?”Fasco melirik ke kaca jendela mobil yang mulai berkabut karena hujan gerimis. Di sampingnya, Evora terisak keras, bahunya bergetar. Fasco mendesah pelan, berusaha mengabaikan suara tangis itu. Ia tidak tahu cara menenangkan seseorang, apalagi wanita yang baru dikenalnya.







