แชร์

Ilmu Yang Bermanfaat

ผู้เขียน: Black Jack
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-14 12:33:24

Sisa perjalanan setelah insiden di hutan berjalan jauh lebih lancar. Tak ada lagi kendala berarti, jalanan mulus tanpa hambatan, dan suasana di dalam kabin truk pun jadi lebih hangat; Pak Warsito dan Dadang kini memandang Tarjo dengan rasa hormat yang berbeda, seperti melihat sosok yang jauh lebih berharga dari sekadar buruh angkut biasa.

Di setiap kota tujuan, Tarjo bekerja dengan semangat yang tak pernah surut. Ia mengangkat kardus demi kardus, gulungan kain demi gulungan kain, menurunkannya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Ternyata Keris Curian

    Jalan setapak menuju rumah Mbah Wiro gelap dan sepi. Joko berjalan terpincang sambil menekan perutnya, sementara Bimo memapah lengannya sendiri yang masih lemas. Di depan mereka Mbah Wiro melangkah dengan tongkat yang diketukkan lebih keras dari biasanya, seperti ingin menghukum tanah.Lama tak ada yang bicara. Akhirnya Bimo yang memecah sunyi dengan suara serak.“Mbah... bukan sekadar jago berkelahi dia itu. Tadi saya pukul, rasanya seperti memukul batu. Waktu saya ayunkan kayu, saya lihat sendiri, lengannya tidak bergerak, tidak terluka.”“Saya juga merasakan,” timpal Joko sambil meringis. “Ada yang aneh, Mbah. Waktu dia tatap kami, bulu kuduk saya berdiri. Seperti ada yang lain berdiri di belakangnya.”Mbah Wiro berhenti melangkah. Ia menoleh, wajahnya separuh tertutup bayang-bayang. “Kalian merasakannya juga?”Keduanya mengangguk.“Perewangan,” desis Mbah Wiro. “Dia punya khodam, atau makhluk pendamping yang sangat tua. Waktu Sulastri kemasukan, makhluk di tubuh gadis itu lari ket

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Memberi Pelajaran Kecil

    Tarjo sesungguhnya tak mau berkelahi, tak mau masalah itu bertambah panjang. Masalahnya, ia harus menahan keris itu. Dan tiga orang yang datang itu jelas tak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban pasti; keberhasilan, atau kegagalan.Joko maju lebih dulu, tangan kanannya melayang lurus ke wajah Tarjo. Di mata Tarjo, serangan itu tampak lambat. Dan entah kenapa, dalam benaknya, ia bisa mengetahui arah serangan dan bagaimana ia menghindar.WUZZZZTarjo hanya memiringkan kepala. Kepalan itu lewat sejengkal dari telinganya, dan angin pukulannya mengibaskan rambutnya. Sebelum Joko menarik tangannya, Tarjo sudah bergeser setengah langkah ke samping.Di saat yang sama, Bimo mengerahkan tendangannya menyapu rendah ke arah lutut. Tarjo mengangkat kakinya sedikit, membiarkan tendangan itu lewat di bawah telapaknya, lalu menapak lagi seolah baru melangkahi genangan air.“MATI KAAUUU!!!”Joko kembali menyerang dengan rangkaian pukulan cepat, kiri-kanan-kiri. Gerakannya rapi, jelas hasil latihan

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Menebus Keris Dari Tarjo

    Semua perhatian kini tertuju ke arah Tarjo dan dukun tua itu.Sebetulnya, Tarjo tidak ingin persoalan itu berlanjut. Ia sudah menolong Sulastri, dan itu cukup. Yang ia inginkan sekarang hanya keluar dari rumah ini, membeli sabun yang tadi ia cari, lalu pulang.Tapi di dalam benaknya, roh itu bersuara. ‘Ambil kerisnya!’Tarjo memejamkan mata sekejap. ‘Tidak bisakah kita biarkan saja?’ batinnya.‘Ambil!’ Roh itu memaksa. Tak ada tawar menawar.Ia menghela napas. Dengan berat hati, ia menoleh pada si dukun yang masih duduk kaku dengan keris di pangkuan.“Mbah,” ucapnya pelan, hampir seperti meminta maaf, “saya tidak bermaksud memaksa. Tapi tadi kita sudah sepakat, dan banyak yang mendengar.”Dukun itu tak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkeram sarung kayu jati itu kuat-kuat. Dalam kepalanya ia sedang mencari celah: pura-pura lupa, bilang tadi hanya gertakan, atau menuduh Tarjo menggunakan ilmu hitam. Tapi puluhan pasang mata menatapnya. Ibu-ibu yang tadi berbisi

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Taruhan Dengan Sang Dukun

    Ruang tengah rumah Pak Slamet pengap oleh bau kemenyan dan keringat. Orang-orang berdiri rapat di sepanjang dinding, sebagian memegang tasbih, sebagian hanya menatap dengan wajah tegang. Di tengah ruangan, di atas tikar pandan, Sulastri terduduk dengan rambut kusut menutupi separuh wajah. Dua lelaki memegangi lengannya, tapi tubuh gadis itu terus menggeliat. Matanya mendelik putih, dan dari mulutnya keluar geraman rendah yang sama sekali bukan suaranya.Di hadapannya duduk bersila seorang lelaki bertubuh gempal dengan ikat kepala hitam dan kalung batu akik berlapis-lapis. Di pangkuannya tergeletak sebilah keris berselongsong kayu jati, gagangnya berukir. Keringat menetes dari pelipisnya, tapi ia berusaha mempertahankan wibawa.Tarjo berhenti di ambang pintu. Pak Slamet, yang berdiri di dekat anaknya dengan mata merah dan bahu merosot, menoleh dan mengenalinya.“Jo? Kamu...”“Pak,” ucap Tarjo pelan, melangkah masuk. “Maaf mengganggu. Saya dengar Sulastri sakit. Kalau Bapak mengizinkan,

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Ada Yang Kesurupan

    Tarjo melangkah pelan ke terasnya. Dian masih duduk di bangku kayu itu, dan begitu Tarjo mendekat, perempuan itu berdiri. Matanya sembab, tapi rahangnya mengeras, jelas sedang menahan sesuatu yang sudah hampir meluap.“Ada urusan apa kamu ke sini?” tanya Tarjo datar.Dian menarik napas dalam. Kedatangannya hari ini bukan karena apa yang ia intip semalam di lubang pintu. Soal itu belum ingin ia singgung, tidak di sini, tidak sekarang. Ia menyimpannya jauh di dasar dadanya, seperti menyimpan bara dalam sekam.“Kamu apakan suamiku?”“Maksudnya apa?” Alis Tarjo terangkat, wajahnya dibuat sebingung mungkin.“Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh. Kamu sengaja bikin dia impoten, kan!” tuding Dian, suaranya bergetar.Pagi tadi, sebelum matahari benar-benar naik, ia dan Bondan bertengkar di kamar setelah Bondan pulang diam-diam menjelang subuh. Dian mendesaknya sampai Bondan akhirnya bicara. Dengan wajah menunduk dan suara nyaris tak terdengar, ia mengaku bahwa sore itu Tarjo memukul perutnya

  • Mas! Jangan Lupa Jatahku Ya!   Mendapatkan Rejeki Lagi Di Kamar Mandi

    Dian menarik napas, serasa menelan sesuatu yang pahit, dan akhirnya dalam dilema batinnya itu, akhirnya ia memilih diam. Sementara, ia akan diam, membiarkan mereka melakukan tindakan yang sungguh tidak terpuji.Ia tetap berdiri di sana, bukan karena ingin menonton, tapi karena kakinya tak mau bergerak. Ia mendengar suara-suara itu sampai akhirnya mereda, berganti bisikan pendek, bunyi kain yang dirapikan, lalu langkah pelan menuju jendela samping. Dian bergegas mundur dan menyelinap kembali ke kamarnya sebelum pintu kamar ibunya terbuka. Ia merapatkan daun pintu tanpa bunyi dan berbaring dengan selimut ditarik sampai dagu, jantungnya berdebar seperti pelari yang baru selesai berlari.Dari balik dinding terdengar jendela dibuka dan ditutup lagi dengan hati-hati. Lalu hening.Dian menatap langit-langit sampai matanya perih. Kini ia bisa merasakan rasa sakit hati yang sesungguhnya.‘Tarjo… beginikah caramu membalas pengkhianatanku? Sakit sekali rasanya…’ Dian menangis dalam diam.***Tar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status