แชร์

Bab 38 - Penyakit Calvin

ผู้เขียน: Delf
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-08-20 20:31:58
Ada pepatah yang mengatakan, this too will pass. Jangan terlalu serius berlebihan dalam menjalani hidup. Saat bahagia, nikmati saja. Saat sedih, jangan terlalu terpuruk, karena semuanya akan segera berganti dan berlalu.

Knock knock…

Suara ketukan tergesa-gesa menyadarkan Ivan dari tidur malamnya yang sangat nyenyak. Tentu saja belakangan ini tidurnya sangat nyenyak karena hatinya sedang berbunga-bunga karena si bunga.

“Kak Ivan.. Kak…” suara Steffany terdengar panik.

Ivan mengucek-ngucek matanya dengan malas sambil membuka pintu kamarnya, “Hmm? Ganggu orang tidur aja.”

“Kak, Calvin.. Calvin masuk rumah sakit.” Suara Steffany bergetar menahan tangisnya.

Rasa kantuk Ivan seketika hilang, “Aku ganti baju dulu.” Dan dibalas oleh anggukan Steffany.

Tidak sampai dua puluh menit, Ivan dan Steffany telah berlari di lorong rumah sakit. Terlihat kedua orangtua Calvin sedang berdiri panik di depan ruang UGD, dengan Mama Calvin sedang terisak di dalam pelukan papa Calvin.

“Om.. Tante.. Calvin baga
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 84 - Teman dekat

    Olivia tersenyum menatap dirinya di depan cermin, belakangan ini hubungannya dengan Ivan semakin dekat dan harmonis. Olivia meminta waktu pada Ivan, dia memberi kesempatan pada pria itu. Olivia belum berani untuk memantapkan dirinya menuju hubungan yang lebih serius, karena Olivia tau hal itu mempunyai konsekuensi yang cukup besar. Dariel semakin akrab dengan Ivan, dan Olivia bisa melihat bahwa Ivan menyayangi Dariel dengan tulus. “Halo Liv, kamu sudah siap?”“Sudah, sebentar lagi aku berangkat.”“Aku jemput ya.”“Ga usa, Van. Aku ke sana saja sendiri.”“Dariel?”“Dariel lagi sama opa dan omanya. Ortu Randy mengajak Dariel menginap. mumpung besok libur.”“Oh oke..” ada perasaan tak suka Ivan mendengar hal itu, tapi Ivan tetap harus menerimanya karena bagaimanapun Dariel adalah anak Randy. “Ya uda, aku tunggu ya. Bye.”Olivia segera berangkat menuju ke tempat acara peresmian kantor baru Ivan naik transportasi online karena pasti tempat acara ramai dan parkir terbatas. Olivia hadi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 83 - Beri aku waktu

    Olivia menidurkan Dariel di atas kasur kemudian keluar dari kamar.“Liv..” Ivan seketika langsung berdiri.Olivia berjalan ke arah sofa dan kemudian duduk di hadapan Ivan, “Iel sudah tidur. Terima kasih sudah menemani Iel hari ini, setidaknya dia tidak terlalu sedih Calvin tidak datang.”Ivan tersenyum, “Tidak perlu berterima kasih, aku senang melakukannya. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu tidak mengusirku.”Olivia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkan niatnya.“Olivia, apakah aku menganggumu akhir-akhir ini?”“A.. aku..”“Aku hanya ingin diberi kesempatan untuk mendekatimu.”Olivia menarik nafas Panjang, “Ivan, aku tidak ingin membahas hal ini.”“Kita tetap harus membahasnya, Liv. Mau sampai kapan kamu menggantung aku?”Olivia menganga, “Aku menggantungmu??”“Yeah, jujur sikapmu benar-benar menghancurkanku.” Ucap Ivan santai.“What?? Kamu ga salah? Kepergianmu yang tiba-tiba dengan Callista, itu yang membuatku hancur!”“Aku minta maaf soal i

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 82 - Pembelaan diri Dariel

    Olivia mengabaikan telpon yang terus berbunyi tanpa henti. Sudah seminggu ini Ivan terus berusaha menghubunginya, mencarinya di kantor, tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya, dan entah berapa ratus pesan dan telpon yang terus membuat handphonenya kelelahan berdering.Olivia menghembuskan nafasnya kasar, dan tetap fokus memakaikan Dariel baju adat Kalimantan. Bocah itu terlihat sangat tampan, Olivia tersenyum.“Mama.. kenapa telponnya tidak diangkat?”“Hanya orang iseng.”“Bagaimana kalau ternyata penting, Ma?” Ucap Dariel. Olivia menghentikan kegiatannya, menatap mata sang anak, entah mengapa Olivia merasa anak ini begitu cepat tumbuh dewasa.“Mama akan menghubungi kembali setelah Mama selesai memasang baju Dariel, oke?”Dariel tersenyum dan mengangguk. “Papa Calvin nanti datang kan, Ma?”Olivia mengangguk, “Ya, Om Calvin berjanji akan datang.”“Asik..”Olivia kembali tersenyum. Hari ini adalah Indonesia culture day, acara sekolah di mana murid-murid akan mempertunjukkan beberapa t

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 81 - Berjuang bersama

    Ivan sedang duduk di sofa kamar tidurnya sambil memandang handphonenya, ingin rasanya dia menelpon Olivia, atau mengetik sebuah pesan. Namun keraguan besar menghampirinya. Apakah dia harus terus melangkah atau masih menarik ulur.Ivan memejamkan matanya, angannya kembali mengingat kejadian tiga puluh menit lalu. Entah keberanian dari mana dia berani mencium bibir Olivia. Yang Ivan tau, dia merasa sangat gemas dengan rasa minder Olivia. Mengapa wanita begitu sulit dimengerti? Mengapa wanita tidak bisa menerima begitu saja, ketika pria mengatakan bahwa dia mencintainya, ya sudah percaya saja. Terima saja.Satu sisi Ivan merasa jengkel, namun di sisi lain ada debaran mengingat kecupan bibir Olivia. Walau ciuman itu begitu singkat, namun Ivan terhanyut di dalamnya. Ivan menjilat bibirnya, rasa manis bibir Olivia masih terasa hingga kini.Knock..knockk..“Kak..” wajah Steffany muncul di balik pintu.Ivan mendongakkan kepalanya menatap sang adik yang nampak cemberut. Steffany melangkah ke a

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 80 - Keraguan Olivia

    Ivan senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya, mengingat kejadian barusan. Tepat ketika dia menunggu jawaban Olivia, suara Dariel mengagetkan mereka berdua.“Mama dan Om Ivan lagi ngapain?” tanya Dariel polos.Wajah Olivia memerah, tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah.“Om Ivan dan Mama tadi kejedut.” Ucap Ivan pura-pura mengelus-elus dahinya. Kemudian menatap Olivia sekilas, sungguh menggemaskan melihat wajah Olivia yang memerah karena malu.Untung saja Dariel tidak memperhatikan tangan Ivan yang ternyata sudah menyelinap di balik pakaian Olivia. Ya ciuman tiba-tiba itu ternyata membuat kedua pasangan itu menjadi kehilangan akal, terjebak pada memori masa lalu. Walaupun awalnya ragu, namun akhirnya Olivia menyambut reuni ciuman tersebut yang selalu dirindukannya."Dariel uda bangun? Sini duduk depan, mama pangku."Dariel pun mengangguk dan setelah lepas dari baby car seatnya, anak laki-laki yang super menggemaskan itu pindah ke kursi depan. Ivan kemudian kembali melajukan mobil.S

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 79 - Ciuman Ivan

    Flashback OnIvan sibuk memainkan handphonennya, sibuk mengetik pada layar datar tersebut dengan tampang serius.“Kak Ivan ga makan? Koq minum aja? Nanti lapar loh.” tanya Nanda dengan sedikit manja.“Aku belum lapar. Aku nanti ada janjian makan malam juga.” Ucap Ivan sambil tetap mengetik di layar handphonenya. Dia sedang menyusun strategi dengan Calvin dan juga Steffany.“Dengan siapa?”Ivan mengalihkan pandangannya pada Nanda, “Olivia.” Jawab Ivan singkat kemudian tetap melanjutkan mengetik pada keyboard handphone.Seketika wajah Nanda berubah masam, “Olivia yang tadi datang itu ya?”Ivan hanya mengangguk tanpa menoleh.“Cantik ya, badannya bagus.”Ivan tersenyum, “Yeah, cantik.”“Tapi kata Bude, dia janda ya? Kalau wanita secantik itu bisa jadi janda, pasti ada yang ga beres dengan dia. Iya ga sih?”Seketika Ivan langsung meletakkan handphonenya dan menatap Nanda, “Jangan menghakimi orang karena masa lalunya. Jika ada perceraian, artinya ada yang tidak beres dalam pernikahan. Dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status