LOGINSore itu setelah meminta Rino untuk mengawal Shakira pulang, ia bergegas masuk ke dalam sebuah cafe yang lokasinya tak seberapa jauh dari gedung Danu Artha Jaya Group.
Sesaat lelaki itu berhenti melangkah. Tatapannya menjelajah ke dalam ruang dengan aroma kopi pekatnya itu, hingga menemukan sosok yang dicarinya. Perempuan cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai itu baru saja menutup buku menunya. Ia buru-buru memperbaiki letak kacamatanya saat melihat Rak“Sudah Suhu.” Totok menjawab lebih cepat. “Tadi situasinya mendesak jadi saya minta Boss Rino segera tanda tangan.” “Mendesak?” Raka mengernyitkan keningnya heran. Situasi apa yang begitu mendesak, sehingga kerja sama harus selesai dalam hitungan jam. Apa mungkin mereka sudah memperhatikan isi kontrak dengan jelas. Raka juga belum berpengalaman dalam hal ini. Kontrak pertama dari Rocker cafe saja tidak memaksanya untuk tandatangan hari itu juga. Pihak marketing memberi waktu beberapa hari untuk mempelajari perjanjian dari kedua belah pihak. “Tadi itu memang mendesak, Raka. “ Rino mulai bisa memanggil Raka tanpa embel-embel apapun. “Bu Maya mau membatalkan kerja sama kalau kita tidak segera menyetujui kontrak.” “Benar itu, Suhu. Bu Maya itu si Maya Bidadari, kan dia terkenal dan punya banyak karaokean dengan brand yang berbeda-beda, tetapi semua punya dia. Nah, dia itu kan kerja sama sudah sama banyak agenc
Setibanya di rumah sekaligus kantor, Totok tak bisa menahan perasaan senangnya. Pria itu langsung saja berteriak dengan lantang mengumpulkan enam anggota pria yang ada di sana. “Kalian dengar hari ini kita dapat kontrak besar lagi!” ucapnya penuh semangat. “Wah, Totok, kontrak dimana?” Tora yang masih menganggur pun jadi bersemangat. “Kontrak jadi penjaga keamanan di karaokenya Bu Maya. Kalian tau Bu Maya itu siapa?” Totok menatap ke enam temannya dengan mata yang cerah. “Siapa … Maya Estianty, Maya Rumantir, atau Maya Septha?” Vico menebak dengan cepat. “Pasti Maya KDI!” tebak Gufron tak mau kalah. Tora tersenyum lebar. Dia menatap ke arah Rino yang masih berdiri tenang sambil melipat tangan di pojokan. Artis terkenal satu ini memang sempat vakum di pertelevisian, pantas saja mereka tidak terlalu ingat. “Salah … yang benar adalah Maya Bidadari!” teriaknya penuh semangat.
“Boss!” Totok mendesak tak ingin kesempatan langka ini hilang begitu saja. Teman-temannya sudah berhenti dari pekerjaan mereka masing-masing dan sekarang pengangguran. Mereka tidak mungkin terus-terusan tanpa pekerjaan dan tidak punya uang. Meskipun Raka sudah menyiapkan dana persiapan untuk kebutuhan sehari-hari, makan dan peralatan mandi, dan gratis tinggal di rumah Rino, tetapi tetap saja mereka semua harus punya uang untuk dikirimkan ke keluarga masing-masing. Totok tidak bisa membiarkan hal ini terus menerus. Dia juga ingin teman-temannya sukses. Apalagi, sekarang bagian pemasaran jadi tangungannya. “Teman-teman butuh pekerjaan. Enam orang yang tersisa sudah menganggur satu bulan, gak mungkin kan terus-terusan nganggur. Kalau Sekar yang nganggur sendirian gak masalah, masih bisa bantu-bantu urusan kantor.” “Cuma kita belum baca semua kontrak dan belum bicara sama Raka.” Rino sedikit ragu, tetapi tak ka
“Mas Rino, gimana deal ya dengan harga segitu?” Seorang perempuan cantik menatap manja ke arah wakil dari Raka tersebut. Rino menoleh ke arah Totok yang duduk di sisinya. Dia menyodorkan draft kontrak ke arah mantan administrasi perusahaan jasa paket itu. Uang yang mereka tawarkan memang sangat besar, nyaris setara dengan Cafe Sosialita yang menawarkan kontrak pertama. “Sikat, Boss. Ini termasuk langkah yang bagus sekali. Apalagi dia adalah mantan artis terkenal.” Totok berbisik memberikan semangat. “Iya juga sih. Tawaranya ini lumayan banget, sepuluh juta per orang. Satu setengah juta untuk agency dan delapan setengah juta untuk teman-teman.” Totok langsung menunjuk pada pasal tentang finansial. Rino menganggukkan kepalanya. Dia merasa ini adalah hal luar biasa. Mereka perlu enam orang sekaligus yang ditempatkan pada dua tempat karaoke yang mewah. Pas jumlah yang tersisa adalah enam orang. Artinya semua dapat pekerjaan d
“Aku cuma pengawal. Mana mungkin orang seperti Bu Shakira mau sama aku,” sahut Raka. Lelaki itu tertawa terkekeh, walau hatinya menjerit mengamini pernyataan Jessica. “Kalau kamu? Memangnya kamu mau punya pacar macem aku?” Pertanyaan itu membuat Jessica terkejut. Gadis itu langsung diam seketika. “Papi sama Mami nggak akan setuju, sih,” sahut Jessica, “mereka sudah jodohin aku sama si Rangga.” “Rangga … siapa?” tanya Raka penasaran. “Putra sulungnya Pak Devon.” Jessica menjawab dengan frustasi. “Kamu suka sama dia?” tanya Raka lagi. Jessica menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak suka. Rangga sangat arogan. Dia sering kali membentak Sari, sekretarisnya hanya karena sebuah kesalahan kecil saja. “Mau nggak, aku bantu?” tawar Raka. “Bantu apa?” “Bantu lepasin perjodohan.” “Kamu gila?” Jessica langsung melotot.
Sore itu setelah meminta Rino untuk mengawal Shakira pulang, ia bergegas masuk ke dalam sebuah cafe yang lokasinya tak seberapa jauh dari gedung Danu Artha Jaya Group. Sesaat lelaki itu berhenti melangkah. Tatapannya menjelajah ke dalam ruang dengan aroma kopi pekatnya itu, hingga menemukan sosok yang dicarinya. Perempuan cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai itu baru saja menutup buku menunya. Ia buru-buru memperbaiki letak kacamatanya saat melihat Raka melangkah ke arahnya. “Sudah lama, nunggunya?” tanya Raka seolah akrab lalu mengulurkan tangan kanannya pada perempuan itu. “Jessica, kan? Aku Rakasya.” Jessica menghela napas. Alih-alih membalas uluran tangan Raka, ia justru menyilangkan tangannya, bersedekap di dada. “Langsung saja pada intinya,” ketus perempuan cantik itu dengan angkuh. “Kamu mau ketemu aku, buat apa?” Raka tersenyum. Dengan santai ia menurunkan tangannya dan m
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







