LOGINRaka baru saja memarkir motornya, saat Sari menghampirinya. Gadis manis itu menarik ujung belakang kaosnya, hingga lelaki muda itu memperhatikannya.
“Mas ganteng, ada yang nyari tuh,” ujarnya setengah berbisik, sementara bola matanya bergerak ke arah teras kos yang terlihat lengang, tak seperti biasanya. “Katanya … Mas ganteng calon suaminya.”Raka langsung mengerutkan keningnya.“Beneran, nih? Mas ganteng udah punya tunangan? Dijodohin ya, Mas?” cecar Sari. MataWajah Tante Feli memucat. Ia menatap sekelilingnya seperti kebingungan. Raka masih memeluk pinggangnya dengan manja. “Jadi … malam ini, Tante nggak jadi bayar hutang dua ronde lagi, nih?” goda Raka. Lelaki itu menggigit cuping telinga perempuan cantik itu. Tante Feli mendesah pelan. Tangannya mendorong lembut dada lelaki muda yang sudah membangkitkan gairahnya itu. “Kamu … mulai nakal, ya,” gumam Tante Feli, “tante urus suami tante dulu. Kamu … tunggu Tante di sini.” Feli memutar tubuhnya. Namun sedetik kemudian ia kembali berbalik dan melangkah cepat ke arah Raka. Sepasang kakinya berjinjit dan memberikan kecupan singkat di bibir Raka. “Aku nggak akan lama.” Pesannya sebelum keluar dari kamar itu. Raka mengintip dari jendela kamarnya. Matanya menatap ibu kos nya menghampiri lelaki tua dengan perut buncit yang berdiri tak jauh dari kamarnya. Lelaki tua itu langsung memeluk Tante Feli dan menciumnya dengan penuh gairah.
Raka baru saja memarkir motornya, saat Sari menghampirinya. Gadis manis itu menarik ujung belakang kaosnya, hingga lelaki muda itu memperhatikannya. “Mas ganteng, ada yang nyari tuh,” ujarnya setengah berbisik, sementara bola matanya bergerak ke arah teras kos yang terlihat lengang, tak seperti biasanya. “Katanya … Mas ganteng calon suaminya.”Raka langsung mengerutkan keningnya. “Beneran, nih? Mas ganteng udah punya tunangan? Dijodohin ya, Mas?” cecar Sari. Mata gadis itu membulat, jelas menunggu sebuah jawaban dari Raka. “Mas ganteng, ini nggak bener kan? Sari patah hati, loh ini …” lanjut gadis itu. Mulutnya langsung mengerucut memperlihatkan rasa frustasinya. Raka mengangkat pundaknya dan tertawa pelan. “Jangan ngawur. Jangankan calon istri, pacar aja … aku nggak punya.” Sari langsung tertawa sumringah. Ia menegakkan tubuhnya, membuat dadanya semakin membusung hingga puncaknya tercetak jelas dari balik kaos yang dipakain
Raka menepati janjinya. Dia menelpon Vero untuk mengajak teman kuliahnya itu pergi makan. Pemuda itu tak lupa untuk berterima kasih, bagaimana pun berkat si Gori dia mendapatkan pekerjaan hebat ini. “Kamu yakin kita makan di sini?” tanya Raka. Dia bermaksud membawa Vero ke restaurant yang lebih bagus, tetapi si Gori justru meminta untuk makan sate ayam saja di pinggir alun-alun. “Iya, sate ayam Pak Saipul terkenal enak loh.” Gadis dengan julukan gori itu mengacungkan dua jempolnya. “Baiklah. Itu pilihanmu sendiri loh ya. Jangan nyesel … padahal aku mau ajak kamu makan di mall.” Raka berujar penuh percaya diri. “Mahal.” Vero duduk di bangku yang kosong. “Dua porsi, Bang.” teriaknya pada si penjual. “Minum, Neng?” tanya si penjual ramah. “Es jeruk … dua.” Vero memesan dua saat Raka menganggukan kepala juga. “Ga masalah mahal. Aku baru dapat tip besar.” Raka terkekeh. “Oh ya?” Vero melirik Raka dengan malas. “Iya, hari pertama saja aku sudah dapat tip besar. Hari k
Raka serba salah. Dia suka sama Luna hanya sekedar teman satu kost. Gadis itu terlihat kasihan sekali karena beberapa hari ini tampak ketakutan. “Sudah kamu gak perlu lagi tutupi apapun. Tante tahu kamu baik hati dan mau memastikan semuanya aman. Cuma kamu gak boleh egois dong!” Feli bersikap tegas kali ini. “Apa cuma karena satu perempuan kamu mau mengorbankan kita semua?” Tante Feli melotot. Tidak ada lagi mata yang mengerling manja padanya, Senyum yang lebar ataupun suara yang lembut. Sekarang yang ada hanya seorang perempuan tegas yang terlihat sedang marah pada anaknya. Raka terdiam. Persis seperti yang diucapkan tante Felli, tatapan para wanita penghuni kost ini pun tertuju padanya. Mereka seolah berkata hal yang sama, apakah pantas hanya demi Luna saja keselamatan semua orang dikorbankan? “Tante … aku hanya merasa kasihan ….” Dia berkata dengan jujur. “Kasihan - kasihan. Apa kamu mau k
“Hiyaa!” Ketiga pria itu dengan kompak berteriak dan langsung mengarahkan pukulannya ke Raka. Untung saja Raka dengan sigap mengelak, hingga ketiga pukulan yang mengarah ke satu titik itu bertemu dan saling beradu. Sesaat ketiga preman itu mengibaskan tangannya. Rasa sakit saat kepalan mereka beradu, membuat tangannya terasa kebas seketika. Tapi mereka bertiga masih tak putus asa. Lagi mereka menyerang dengan bersamaan kali ini dengan tiga titik yang berbeda. Namun kedua tangan Raka tetap melayani setiap pukulannya dengan gesit. Liukan tubuhnya saat menghindari setiap pukulan lawannya, jelas menunjukkan kemampuan bela dirinya yang tinggi. Ketiga preman itu tak juga menyerah, mereka kembali mengayunkan tinjunya masih secara bersamaan. Dan Raka masih melayani dengan gerakan cepat dan terlatih untuk menghindar dan menangkis.“Goblok!” teriak lelaki dengan tato naga tadi. “Kalian masih mau ladeni dia bermain? Habisi dia! Kita harus cepat pulang!” Ketiga preman itu mengeluarkan pisau d
Raka pulang dari panti pijat dengan keinginan yang tertahan. Hari ini tante Sisca memberinya pemandangan luar biasa, tetapi tak memberinya kesempatan untuk merasakan. Dia harus cari tante Feli untuk menyalurkan rasa yang mau meledak di dalam hatinya. Urusan mentraktir Vero bisa nanti saja. Tambahan tips dua juta dari tante Sisca, sudah cukup lumayan.Tunggakan uang kuliah selama enam bulan ini pasti akan segera terlunasi. Lalu, dia akan membeli motor baru, jam tangan baru, pakaian baru, bahkan rumah baru. Raka tersenyum-senyum sambil mengecup cincinnya.Pemuda itu baru saja menjagrak miring motornya dan menutup pintu gerbang kos-kosan saat suara ponselnya berbunyi. Tapi ia tak segera mengangkatnya. Setelah memarkir dan mengunci ganda motornya, lelaki muda itu merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih dari dalamnya. Melihat nama Lira di layarnya, ia bergegas menggeser tombol hijau di layarnya. “Ka, kamu kemana aja … kok lama nggak munc
Raka meraih gundukan kenyal di dada wanita yang seharusnya hampir seumuran dengan ibunya itu. Tangannya meremas dengan liar. "Tentu saja, Tan. Rugi banget nolak rejeki." Pria muda itu tersenyum menggoda. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Aku bisa bebas uang sewa kamar, sekaligus bisa nikmatin
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah







