LOGIN“Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.
“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?”
DEG!
Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.
“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.
Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin aneka rasa yang sudah mulai berembun dingin.
Dina mengarahkan ujung es lilin itu ke depan wajah Burhan sambil nyengir lebar tanpa dosa.
“Ini loh, esnya muncrat, Om! Kalau digigit ujungnya, rasa sirup manisnya langsung muncrat seger di lidah, apalagi siang-siang panas terik begini!”
Burhan mematung.
Napas yang sejak tadi ia tahan mendadak terhembus kasar lewat hidung. Rasa salah tingkah, malu, dan kesal seketika bercampur aduk menghantam kepalanya.
Sialan. Ternyata cuma es lilin.
Otak dewasanya yang sudah berpikir kotor ke mana-mana telak dibuat mati kutu oleh kepolosan seorang gadis penjual hasil kebun yang cuma berniat menawarkan jajanan dingin.
“Kamu … yang kemarin nunjukin rumah Pak Budi Handoko, kan?” tanya Burhan mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa malunya sudah berpikiran yang tidak-tidak.
“Oh, ini Pakde yang tanya kemarin ya? Pantas aja gak asing,” sahut Dina riang. Kali ini ia melangkah maju setengah jengkal, mencondongkan badannya hingga menempel di pintu mobil. “Jadi gimana, Pakde? Dina boleh numpang?”
“Iya, masuk,” ucap Burhan dengan suara serak, masih syok dengan pikiran liarnya tadi. Ia murni hanya ingin menolong anak gadis yang kelelahan ini sebagai balas budi sudah menunjukkan rumah kakeknya.
Begitu diizinkan menumpang, Dina langsung menaruh keranjang bambu kosongnya ke bak belakang, lalu bergegas naik dan duduk di kursi penumpang.
Hembusan hawa dingin dari kisi-kisi AC seketika menyergap kulit Dina yang basah oleh peluh.
“Waaah ... dingin, enak,” celetuk Dina dengan mata berbinar takjub. “Mobilnya Pakde adem banget, wangi pula, beda sama mobilnya Kang Maman. Nggak adem gini.”
Saking gerahnya habis jalan jauh, Dina refleks menarik dan mengibaskan ujung kaus putihnya untuk memasukkan hawa dingin ke dalam baju.
Gerakan santai itu sontak membuat kerah neck-V-nya terbuka lebar, dan lagi-lagi, dua melon ranum dengan gagang merah muda itu terlihat jelas di pelupuk mata.
Jakun Burhan naik-turun menelan ludah samar. Naluri lelakinya berdesir, tapi ia buru-buru membuang muka ke depan dan mulai menginjak pedal gas, melajukan mobil perlahan di jalanan perkebunan yang kian sepi.
“Makasih ya, Pakde, udah mau numpangin Dina,” ucap gadis itu dengan senyum manis tanpa beban.
“Hmm,” sahut Burhan singkat, berusaha menjaga wibawa dinginnya.
Namun belum sempat Burhan menetralkan detak jantungnya, Dina mendadak memutar tubuh menghadap ke arahnya. Tanpa ragu apalagi malu-malu, jemari lentik gadis itu menyibakkan rok lusuhnya tinggi-tinggi, mengekspos kulit paha yang mulus bersih.
“Jadi, Om mau Dina jilat apa digesek-gesek? Biasanya Mang Maman sukanya digesek dulu sampai basah,” tanya Dina dengan mata bulat bening menatap Burhan tanpa dosa.
Burhan sempat bengong, lalu menyunggingkan senyum tipis. Ia kira bocah di sampingnya ini cuma lagi melempar candaan frontal khas anak kampung yang asal ceplas-ceplos.
Tapi senyum Burhan langsung lenyap tak bersisa saat tangan Dina dengan santai mendarat di paha Burhan. Tangan kecil itu merayap naik tanpa ragu sampai hinggap tepat di atas sangkarnya si Joni.
Sret! Sret!
Tangan kecil itu mulai meraba dan mengelus tonjolan keras di balik celana levis yang mendadak menegang mode siaga.
“Ka-kamu ngapain?!” tanya Burhan kaget setengah mati.
“Mau bikin Om muncrat,” jawab Dina tanpa dosa sambil menurunkan resleting celana Burhan, sementara tangan kirinya sudah menyibakkan rok lusuhnya tinggi-tinggi.
Sebelum aksi liar bocah itu makin jauh, tangan kekar Burhan langsung mencengkram tangan Dina, menyentaknya menjauh dari sangkarnya di bawah sana.
“Diam, Dina! Kamu mau kita berdua mati nabrak pohon gara-gara mobil ini oleng?” sentak Burhan tegas. Batinnya menjerit keras, dia sungguh tak menyangka gadis desa dikira polos bisa bertindak nekat.
“Duduk yang benar dan tutup rokmu!” tegur Burhan sambil menepikan mobilnya. Tapi Dina justru heran dengan sikap Burhan.
“Loh, kenapa, Pakde? Dina salah ya? Pakde gak suka digesek?”
Burhan mengusap wajahnya dengan kasar. Urat di pelipisnya terasa berdenyut saking herannya.
“Anak ini waras atau enggak sih? Wajah ayu, mata bening, tapi kelakuannya … sialan! Apa dia gak pernah dapat edukasi seumur hidupnya?!” batin Burhan. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh memastikan Dina sudah menutupi bagian bawah tubuhnya.
“Dina, kamu sadar nggak barusan ngapain? Kayak gini tuh nggak boleh!” lantang Burhan.
“Loh, tapi kan Pakde udah kasih Dina tumpangan? Kata Bude, gak apa-apa kalau cuma dielus. Biasanya Dina cuma gesek di paha atau dipegang-pegang. Kadang diisep dikit juga boleh.”
Dipegang? Diisep?
Kepala Burhan rasanya mau meledak, emosi panas mendadak mendidih membakar ubun-ubunnya.
“Bude kamu sendiri yang ngajarin begitu?!”
Dina mengangguk polos. “Iya. Kata Bude, mereka kan udah mau bantuin Dina, jadi Dina harus kasih imbalan balasan.”
“Siapa lagi selain Mang Maman? Apa mereka pernah masukin itu ke dalam tubuhmu?” cecar Burhan, menatap tajam manik mata gadis itu.
“Selain Mang Maman, paling orang-orang di warung kopi depan. Kadang kalau lewat, mereka panggil Dina suruh pegang-pegang, terus dikasih uang. Kalau Mang Maman cuma minta dielus-elus saja, kadang digesek-gesek sampai belepotan cairan kayak lem kanji di telapak tangan Dina. Mereka gak berani masukin kok, Pakde, takut Dina hamil katanya.”
Tangan Burhan mencengkeram setir kencang banget sampai urat-uratnya menonjol tegang. Gila. Benar-benar biadab.
Bisa-bisanya keluarga sendiri tega mendoktrin anak sepolos ini jadi bahan mainan laki-laki bejat di kampung cuma demi imbalan tak seberapa itu?
“Tumpangannya gratis, kamu gak perlu bayar apapun,” kata Burhan tegas.
“Tapi, Pakde ... Dina nggak enak kalau gratisan. Nanti Bude marah kalau Dina nggak balas budi. Dina elus sebentar saja ya? Tangan Dina pintar kok—”
“Nggak usah!” potong Burhan. “Kalau kamu masih maksa, mending kamu turun aja tengah kebun gelap ini. Mau?!”
Dina langsung ciut. Gadis itu menarik tangannya ke pangkuan dan menggeleng patuh. “Jangan, Pakde ... Dina takut gelap. Iya, Dina gak pegang-pegang.”
“Bagus,” sahut Burhan, lalu memindahkan tuas transmisi dan kembali menginjak pedal gas. Jeep itu kembali melaju membelah keheningan perkebunan.
Setelah menurunkan Dina di dekat rumahnya, Burhan langsung putar balik. Kepalanya masih mendidih, dadanya masih sesak. Bayangan wajah polos gadis itu yang sudah terbiasa digesek dan dipegang pria kampung membuat amarahnya tak kunjung redah.
Burhan menginjak gas lebih kasar dari biasanya, debu jalanan beterbangan di belakang Jeep. Begitu masuk rumah, ia langsung melepas kaos lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tamu.
Tak lama, Yanti muncul dari arah dapur, masih memakai daster tipis seperti sebelumnya. Kain itu menempel di tubuh matangnya karena keringat.
“Eh, Mas Burhan sudah pulang. Baru lihat pabrik ya, Mas?” tanyanya sambil menyeka tangan di kain.
“Iya, Mbak. Lokasinya agak jauh,” jawab Burhan lesu, menutup mata sebentar.
“Mas Burhan kelihatan capek banget, mau yanti pijetin ngak? Pijet plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”
Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. “Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa
Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaa
“Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kret
“Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” DEG!Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin
“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di







