Home / Romansa Pria / Mau Lagi, Om? / Bab 2 Mau Lagi, Om?

Share

Bab 2 Mau Lagi, Om?

Author: My Nona
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-28 20:44:14

“Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.

“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” 

DEG!

Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.

“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.

Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin aneka rasa yang sudah mulai berembun dingin.

Dina mengarahkan ujung es lilin itu ke depan wajah Burhan sambil nyengir lebar tanpa dosa.

“Ini loh, esnya muncrat, Om! Kalau digigit ujungnya, rasa sirup manisnya langsung muncrat seger di lidah, apalagi siang-siang panas terik begini!”

Burhan mematung.

Napas yang sejak tadi ia tahan mendadak terhembus kasar lewat hidung. Rasa salah tingkah, malu, dan kesal seketika bercampur aduk menghantam kepalanya.

Sialan. Ternyata cuma es lilin.

Otak dewasanya yang sudah berpikir kotor ke mana-mana telak dibuat mati kutu oleh kepolosan seorang gadis penjual hasil kebun yang cuma berniat menawarkan jajanan dingin.

“Kamu … yang kemarin nunjukin rumah Pak Budi Handoko, kan?” tanya Burhan mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa malunya sudah berpikiran yang tidak-tidak.

“Oh, ini Pakde yang tanya kemarin ya? Pantas aja gak asing,” sahut Dina riang. Kali ini ia melangkah maju setengah jengkal, mencondongkan badannya hingga menempel di pintu mobil. “Jadi gimana, Pakde? Dina boleh numpang?”

“Iya, masuk,” ucap Burhan dengan suara serak, masih syok dengan pikiran liarnya tadi. Ia murni hanya ingin menolong anak gadis yang kelelahan ini sebagai balas budi sudah menunjukkan rumah kakeknya.

Begitu diizinkan menumpang, Dina langsung menaruh keranjang bambu kosongnya ke bak belakang, lalu bergegas naik dan duduk di kursi penumpang.

Hembusan hawa dingin dari kisi-kisi AC seketika menyergap kulit Dina yang basah oleh peluh.

“Waaah ... dingin, enak,” celetuk Dina dengan mata berbinar takjub. “Mobilnya Pakde adem banget, wangi pula, beda sama mobilnya Kang Maman. Nggak adem gini.”

Saking gerahnya habis jalan jauh, Dina refleks menarik dan mengibaskan ujung kaus putihnya untuk memasukkan hawa dingin ke dalam baju.

Gerakan santai itu sontak membuat kerah neck-V-nya terbuka lebar, dan lagi-lagi, dua melon ranum dengan gagang merah muda itu terlihat jelas di pelupuk mata.

Jakun Burhan naik-turun menelan ludah samar. Naluri lelakinya berdesir, tapi ia buru-buru membuang muka ke depan dan mulai menginjak pedal gas, melajukan mobil perlahan di jalanan perkebunan yang kian sepi.

“Makasih ya, Pakde, udah mau numpangin Dina,” ucap gadis itu dengan senyum manis tanpa beban.

“Hmm,” sahut Burhan singkat, berusaha menjaga wibawa dinginnya.

Namun belum sempat Burhan menetralkan detak jantungnya, Dina mendadak memutar tubuh menghadap ke arahnya. Tanpa ragu apalagi malu-malu, jemari lentik gadis itu menyibakkan rok lusuhnya tinggi-tinggi, mengekspos kulit paha yang mulus bersih.

“Jadi, Om mau Dina jilat apa digesek-gesek? Biasanya Mang Maman sukanya digesek dulu sampai basah,” tanya Dina dengan mata bulat bening menatap Burhan tanpa dosa.

Burhan sempat bengong, lalu menyunggingkan senyum tipis. Ia kira bocah di sampingnya ini cuma lagi melempar candaan frontal khas anak kampung yang asal ceplas-ceplos.

Tapi senyum Burhan langsung lenyap tak bersisa saat tangan Dina dengan santai mendarat di paha Burhan. Tangan kecil itu merayap naik tanpa ragu sampai hinggap tepat di atas sangkarnya si Joni.

Sret! Sret!

Tangan kecil itu mulai meraba dan mengelus tonjolan keras di balik celana levis yang mendadak menegang mode siaga.

“Ka-kamu ngapain?!” tanya Burhan kaget setengah mati.

“Mau bikin Om muncrat,” jawab Dina tanpa dosa sambil menurunkan resleting celana Burhan, sementara tangan kirinya sudah menyibakkan rok lusuhnya tinggi-tinggi.

Sebelum aksi liar bocah itu makin jauh, tangan kekar Burhan langsung mencengkram tangan Dina, menyentaknya menjauh dari sangkarnya di bawah sana. 

“Diam, Dina! Kamu mau kita berdua mati nabrak pohon gara-gara mobil ini oleng?” sentak Burhan tegas. Batinnya menjerit keras, dia sungguh tak menyangka gadis desa dikira polos bisa bertindak nekat.

“Duduk yang benar dan tutup rokmu!” tegur Burhan sambil menepikan mobilnya. Tapi Dina justru heran dengan sikap Burhan.

“Loh, kenapa, Pakde? Dina salah ya? Pakde gak suka digesek?”

Burhan mengusap wajahnya dengan kasar. Urat di pelipisnya terasa berdenyut saking herannya.

“Anak ini waras atau enggak sih? Wajah ayu, mata bening, tapi kelakuannya … sialan! Apa dia gak pernah dapat edukasi seumur hidupnya?!” batin Burhan. Ia menarik napas panjang, lalu menoleh memastikan Dina sudah menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Dina, kamu sadar nggak barusan ngapain? Kayak gini tuh nggak boleh!” lantang Burhan.

“Loh, tapi kan Pakde udah kasih Dina tumpangan? Kata Bude, gak apa-apa kalau cuma dielus. Biasanya Dina cuma gesek di paha atau dipegang-pegang. Kadang diisep dikit juga boleh.”

Dipegang? Diisep? 

Kepala Burhan rasanya mau meledak, emosi panas mendadak mendidih membakar ubun-ubunnya. 

“Bude kamu sendiri yang ngajarin begitu?!”

Dina mengangguk polos. “Iya. Kata Bude, mereka kan udah mau bantuin Dina, jadi Dina harus kasih imbalan balasan.”

“Siapa lagi selain Mang Maman? Apa mereka pernah masukin itu ke dalam tubuhmu?” cecar Burhan, menatap tajam manik mata gadis itu.

“Selain Mang Maman, paling orang-orang di warung kopi depan. Kadang kalau lewat, mereka panggil Dina suruh pegang-pegang, terus dikasih uang. Kalau Mang Maman cuma minta dielus-elus saja, kadang digesek-gesek sampai belepotan cairan kayak lem kanji di telapak tangan Dina. Mereka gak berani masukin kok, Pakde, takut Dina hamil katanya.”

Tangan Burhan mencengkeram setir kencang banget sampai urat-uratnya menonjol tegang. Gila. Benar-benar biadab. 

Bisa-bisanya keluarga sendiri tega mendoktrin anak sepolos ini jadi bahan mainan laki-laki bejat di kampung cuma demi imbalan tak seberapa itu?

“Tumpangannya gratis, kamu gak perlu bayar apapun,” kata Burhan tegas.

“Tapi, Pakde ... Dina nggak enak kalau gratisan. Nanti Bude marah kalau Dina nggak balas budi. Dina elus sebentar saja ya? Tangan Dina pintar kok—”

“Nggak usah!” potong Burhan. “Kalau kamu masih maksa, mending kamu turun aja tengah kebun gelap ini. Mau?!”

Dina langsung ciut. Gadis itu menarik tangannya ke pangkuan dan menggeleng patuh. “Jangan, Pakde ... Dina takut gelap. Iya, Dina gak pegang-pegang.”

“Bagus,” sahut Burhan, lalu memindahkan tuas transmisi dan kembali menginjak pedal gas. Jeep itu kembali melaju membelah keheningan perkebunan.

Setelah menurunkan Dina di dekat rumahnya, Burhan langsung putar balik. Kepalanya masih mendidih, dadanya masih sesak. Bayangan wajah polos gadis itu yang sudah terbiasa digesek dan dipegang pria kampung membuat amarahnya tak kunjung redah.

Burhan menginjak gas lebih kasar dari biasanya, debu jalanan beterbangan di belakang Jeep. Begitu masuk rumah, ia langsung melepas kaos lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tamu.

Tak lama, Yanti muncul dari arah dapur, masih memakai daster tipis seperti sebelumnya. Kain itu menempel di tubuh matangnya karena keringat.

“Eh, Mas Burhan sudah pulang. Baru lihat pabrik ya, Mas?” tanyanya sambil menyeka tangan di kain.

“Iya, Mbak. Lokasinya agak jauh,” jawab Burhan lesu, menutup mata sebentar.

“Mas Burhan kelihatan capek banget, mau yanti pijetin ngak? Pijet plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mau Lagi, Om?   Bab 52 Mau Lagi, Om?

    Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden

  • Mau Lagi, Om?   Bab 51 Mau Lagi, Om?

    Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri

  • Mau Lagi, Om?   Bab 50 Mau Lagi, Om?

    Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi

  • Mau Lagi, Om?   Bab 49 Mau Lagi, Om?

    Burhan menundukkan badannya sedikit ke depan, menempelkan dadanya yang basah oleh peluh ke punggung mungil Dina.“Kamu denger apa yang Simbah omongin sama ibu-ibu tadi?” bisik Burhan.“Hah? A-apa, Om? Dina nggak tahu.”“Nggak tahu apa nggak denger?” sergah Burhan dingin.Dina menoleh susah payah. Keningnya basah oleh keringat, napasnya masih terengah-engah. “N-nggak denger, Om. Beneran suer!”Burhan melirik sekilas ke arah luar pagar. Sosok Mbah Siti dan Bu Susi sudah benar-benar lenyap di ujung jalan setapak kebun. Suasana kembali lengang.Tanpa aba-aba, Burhan menyentakkan pinggulnya ke depan, lebih dalam dan tajam hingga batangnya menghantam telak rongga terdalam Dina.“Akhh!” Dina memekik tertahan, punggungnya refleks melengkung kaget.“Jangan bohong,” desis Burhan dingin, rahangnya mengetat rapat. “Kamu pasti denger soal Mang Maman yang nungguin kamu di rumah, kan? Nama juragan juga disebut Simbah tadi.”“Emmp ... i-itu denger dikit—ahh, Om, pelan dong! Jangan ngegas terus!” rint

  • Mau Lagi, Om?   Bab 48 Mau Lagi, Om?

    Suara langkah terseok itu kian dekat di balik pagar bambu, disusul teriakan serak yang terdengar jengkel bercampur cemas.“Dina? Din?! Aduh, kemana to cah iki!”Burhan menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke pelipis Dina yang basah oleh peluh dingin.“Itu Simbah, kan?” bisik Burhan rendah. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara otot-otot tubuhnya masih menegang mengunci posisi.Dina mengangguk samar. Tubuhnya sempat gemetar, tapi raut panik di wajahnya perlahan luntur, berganti tatapan dingin yang kosong.“Iya, biarin aja, Om,” bisik Dina lirih namun tajam. “Ayo terusin. Biar Simbah liat sekalian.”Alis Burhan bertaut rapat. Tatapannya menatap punggung Dina dengan sorot tajam tak percaya. “Jangan ngawur! Katanya kamu sayang banget sama Simbah?”“Sayang, Om.” Mata Dina berkaca-kaca, tatapannya kosong menatap karung kentang tepat di depan wajahnya. “Tapi Mbah cuma diem aja pas Bude mau jual Dina ke juragan. Pas Dina digebukin juga Mbah nggak pernah belain Dina. Dina c

  • Mau Lagi, Om?   Bab 47 Mau Lagi, Om?

    Sentakan panggul Burhan langsung memicu derak keras pada bak besi Jeep. Suspensi per daun di bawah kolong mobil mengayunkan seluruh bodi kendaraan.Goyangan itu membuat keranjang bambu di sudut bak ikut berderak. Beberapa butir tomat merah yang menumpuk tinggi tergelincir, menggelinding jatuh.Mata Dina langsung membulat panik di sela napasnya yang tercekat. Tangannya menahan dada bidang Burhan. “O-Om ... pelan-pelan!” bisik Dina gelagapan, mendongak menatap wajah tegas Burhan yang kini rahangnya mengeras pekat. “Mobilnya goyang kenceng banget! Itu tomatnya udah jatuh loh.”Burhan menggeram kasar. Sensasi jepitan liang Dina yang meradang dan sempit justru menyedot batangnya makin dalam tanpa ampun. Tapi di posisi ini, gadis di depannya masih saja sempat meributkan dagangan orang lain.“Kalau rusak, Om ganti semuanya, Din,” bisik Burhan tajam, napas panasnya menyapu hidung Dina. Tangannya mencengkeram pinggang ramping itu lekat. “Nggak usah mikirin tomat. Fokus ke sini. Bukannya tadi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status