首頁 / Romansa Pria / Mau Lagi, Om? / Bab 5 Mau Lagi, Om?

分享

Bab 5 Mau Lagi, Om?

作者: My Nona
last update publish date: 2026-08-29 13:25:40

Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. 

Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. 

Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. 

“Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. 

Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”

Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa heran yang campur aduk dengan emosi.

Gila. Sungguh tak habis pikir.

Transaksi ini sangat tidak sepadan. Seporsi sate kambing di pinggir jalan pedesaan paling mahal cuma tiga puluh ribu, bahkan tidak sebanding dengan harga rokoknya. Tapi di desa terpencil ini, seorang gadis muda rela menyodorkan tubuhnya demi seonggok daging bakar murah.

“Loh, kok dilepas? Om gak mau pegang ini ya? Mau yang lain aja?” tanya Dina polos.

Naluri liar Burhan yang tadi sempat bereaksi atas sentuhan Dina, seketika padam tak bersisa. Harga diri Burhan menolak keras memanfaatkan ketidaktahuan dan kepolosan anak ini. 

Burhan langsung memegang kedua pundak Dina dengan kuat. “Dengar Om, Dina! Mulai detik ini, buang pikiran kayak tadi! Jangan pernah biarkan badanmu dipegang atau dimainin laki-laki lain cuma demi makanan atau tumpangan! Siapa pun orangnya!”

Dina mengerjap bingung melihat rahang Burhan yang mengeras rapat. “T-tapi, Om. Kata bude—”

“Nggak ada tapi-tapi!” potong Burhan tanpa ampun. “Tubuhmu itu bukan barang obralan! Yang boleh sentuh dan buka cuma laki-laki yang sudah sah jadi suamimu nanti! Mengerti?!”

Dina menelan ludah melihat sorot mata pria kota di hadapannya yang begitu dominan dan tegas. Ia mengangguk patuh. “I-iya, Om ... Dina ngerti.”

“Bagus. Gadis baik.” Burhan melepas cengkraman di bahu Dina, lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. 

Sentuhan Burhan terasa sangat berbeda dibanding Mang Maman atau pria desa lain. Tidak ada nafsu, atau niat terselubung. Dina langsung tersipu mendapat perlakuan sehangat itu. 

“Ayo ikut. Om belikan sate!” ajak Burhan. Tak tega juga mendengar Dina tidak pernah makan sate.

Di warung tenda depan gapura desa, Burhan memesankan dua porsi sate kambing empuk, nasi, dan es teh manis. Begitu makanan disajikan, Dina langsung melahapnya dengan mata berbinar seolah itu makanan yang paling mewah.

“Om, makasih ya. Satenya enak banget,” ucap Dina kesekin kalinya saat Burhan mengantarnya pulang.

“Kamu udah ngomong sepuluh kali, Dina.”

“Hehehe. Abisnya Dina seneng banget. Akhirnya bisa ngerasain sate yang katanya enak itu.”

Dina jalan sambil lompat-lompat kecil saking senangnya. Senyum polos yang merekah tanpa beban di wajah manis itu membuat sudut bibir Burhan ikut terangkat. 

Ada rasa bangga di dadanya karena berhasil menahan dirinya sekaligus membuktikan pada Dina kalau, dia bisa dapet hal enak tanpa perlu menjual badan. Burhan hanya berharap Dina akan mengingat batas itu.

Tapi harapan Burhan langsung buyar esok subuhnya saat jogging pagi dan melewati rumah Dina.

Di halaman depan dekat sumur terbuka, Dina sedang duduk di dingklik kayu, asyik mengguyur badannya dengan gayung. Gadis itu hanya memakai kaos tipis dan celana pendek yang udah basah kuyup. Lekukan dua melon kualitas premiumnya sampai terjiplak gratis tanpa ada penutup sama sekali.

Tepat di sampingnya, ada Bude Lastri yang lagi asyik menyapu pekarangan. Wanita paruh baya bertubuh gempal itu sama sekali gak peduli saat ada dua bapak-bapak tua kampung yang lewat di depan dan sengaja memperlambat langkah sambil melotot lapar menatap lekuk tubuh basah keponakannya dengan tampang mesum.

Bukannya menegur Dina atau mengusir orang-orang tua tak tahu diri itu, Bude Lastri justru terus mengayunkan sapu lidinya sambil nyerocos mengomeli Dina dengan suara cempreng.

“Gosok daki di badanmu itu yang bersih, Dina! Mandi yang wangi! Nanti siang kamu dandan yang cantik, terus langsung ke rumah Juragan Sobri! Juragan udah mau lunasin utang-utang bude, jadi kamu harus nurut kalau disuruh ngelayanin calon suamimu itu!”

Dina hanya tertunduk diam di bawah kucuran air sumur, pasrah menerima omelan itu tanpa membantah sepatah kata pun.

Darah Burhan langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Tangannya mengepal keras di saku celana. Ingin rasanya Burhan maju dan melabrak mereka semua, tapi dia tidak punya hak membuat keributan di pekarangan orang subuh-subuh begini.

Pada akhirnya, Burhan memilih pergi dari sana.

***

Sekitar jam tujuh pagi, Burhan keluar membawa Jeep hitamnya untuk mengurus keperluan ke kantor kecamatan. 

Namun, baru saja mobilnya sampai di jalan depan, matanya langsung menangkap sosok Dina yang sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu bus desa, keranjang anyaman bambu berisi hasil kebun ditaruh di samping kakinya.

Burhan mengerem mobilnya tepat di depan gadis itu.

“Mau ke pasar kan? Taruh keranjangmu di bak belakang. Cepat naik!” perintah Burhan pendek.

Dina langsung tersenyum sumringah, buru-buru menaruh keranjangnya di bak belakang lalu masuk ke kursi penumpang.

“Wah, untung ada Om. Dina kesiangan hari ini. Makasih ya, Om,” ujar Dina riang.

Burhan menarik rem tangan, lalu menoleh menatap Dina dengan tatapan tajam dan galak.

“Kamu tuh kebiasaan ya?!” semprot Burhan langsung.

Dina terlonjak kaget, punggungnya menempel rapat ke sandaran jok. “E-eh? Kenapa lagi, Om?”

“Tadi subuh! Ngapain kamu mandi di sumur depan kayak gitu?!” bentak Burhan, rahangnya mengeras kaku. “Kamu sadar nggak kalau dari jalanan luar badan kamu itu kelihatan jelas?!”

Mendengar semprotan tiba-tiba itu, Dina awalnya kaget, tapi sedetik kemudian matanya malah mengerjap usil.

“Loh ... kok Om Burhan bisa tahu?” celetuk Dina santai dengan nada menggoda. “Om tadi subuh ngintip Dina mandi ya? Hayo ngaku! Ih, Om ternyata genit juga!”

Wajah Burhan seketika panas. Pria itu gelagapan setengah mati, buru-buru pasang tampang galak nutupin rasa malunya.

“Sembarangan! Siapa yang ngintip, hah?!” semprot Burhan. “Tadi subuh Om lagi joging, terus gak sengaja lewat depan sumur rumahmu!”

“Alah, alasan aja si Om,” tawa kecil Dina meluncur renyah. “Lagian cuma keliatan kaos sama celana pendek aja, Om. Dari dulu Dina mandi di sumur depan ya begitu. Gak pernah ada yang marahin.”

“Itu karena orang-orang di kampungmu otaknya pada mesum dan sengaja nonton kamu gratisan!” tegur Burhan keras. “Mulai besok, pasang terpal keliling sumur itu! Jangan sampai ada celah yang bisa dilihat! Dengar nggak?!”

Dina langsung menunduk dalam-dalam. Gertakan dominan Burhan justru membuat dadanya berdesir hangat. Belum pernah ada orang yang memarahinya hanya demi menjaga kehormatan tubuhnya seperti ini.

“I-iya, Om Burhan ... Maafin Dina. Nanti sore Dina cari terpal bekas,” cicit Dina patuh.

Burhan menghela napas panjang meredakan emosinya, lalu menginjak gas melajukan mobilnya menuju pasar kecamatan.

Begitu mobil berhenti di tepi pasar, Dina bersiap turun. Namun kebiasaan barter di kepalanya membuatnya kembali menoleh. Melihat Burhan menatap dengan senyum mengernyit, Dina langsung mengurungkan niatnya.

“Karena Om gak mau dibayar pake aneh-aneh, Dina bayar pake cara lain aja!”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mau Lagi, Om?   Bab 52 Mau Lagi, Om?

    Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden

  • Mau Lagi, Om?   Bab 51 Mau Lagi, Om?

    Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri

  • Mau Lagi, Om?   Bab 50 Mau Lagi, Om?

    Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi

  • Mau Lagi, Om?   Bab 49 Mau Lagi, Om?

    Burhan menundukkan badannya sedikit ke depan, menempelkan dadanya yang basah oleh peluh ke punggung mungil Dina.“Kamu denger apa yang Simbah omongin sama ibu-ibu tadi?” bisik Burhan.“Hah? A-apa, Om? Dina nggak tahu.”“Nggak tahu apa nggak denger?” sergah Burhan dingin.Dina menoleh susah payah. Keningnya basah oleh keringat, napasnya masih terengah-engah. “N-nggak denger, Om. Beneran suer!”Burhan melirik sekilas ke arah luar pagar. Sosok Mbah Siti dan Bu Susi sudah benar-benar lenyap di ujung jalan setapak kebun. Suasana kembali lengang.Tanpa aba-aba, Burhan menyentakkan pinggulnya ke depan, lebih dalam dan tajam hingga batangnya menghantam telak rongga terdalam Dina.“Akhh!” Dina memekik tertahan, punggungnya refleks melengkung kaget.“Jangan bohong,” desis Burhan dingin, rahangnya mengetat rapat. “Kamu pasti denger soal Mang Maman yang nungguin kamu di rumah, kan? Nama juragan juga disebut Simbah tadi.”“Emmp ... i-itu denger dikit—ahh, Om, pelan dong! Jangan ngegas terus!” rint

  • Mau Lagi, Om?   Bab 48 Mau Lagi, Om?

    Suara langkah terseok itu kian dekat di balik pagar bambu, disusul teriakan serak yang terdengar jengkel bercampur cemas.“Dina? Din?! Aduh, kemana to cah iki!”Burhan menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke pelipis Dina yang basah oleh peluh dingin.“Itu Simbah, kan?” bisik Burhan rendah. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara otot-otot tubuhnya masih menegang mengunci posisi.Dina mengangguk samar. Tubuhnya sempat gemetar, tapi raut panik di wajahnya perlahan luntur, berganti tatapan dingin yang kosong.“Iya, biarin aja, Om,” bisik Dina lirih namun tajam. “Ayo terusin. Biar Simbah liat sekalian.”Alis Burhan bertaut rapat. Tatapannya menatap punggung Dina dengan sorot tajam tak percaya. “Jangan ngawur! Katanya kamu sayang banget sama Simbah?”“Sayang, Om.” Mata Dina berkaca-kaca, tatapannya kosong menatap karung kentang tepat di depan wajahnya. “Tapi Mbah cuma diem aja pas Bude mau jual Dina ke juragan. Pas Dina digebukin juga Mbah nggak pernah belain Dina. Dina c

  • Mau Lagi, Om?   Bab 47 Mau Lagi, Om?

    Sentakan panggul Burhan langsung memicu derak keras pada bak besi Jeep. Suspensi per daun di bawah kolong mobil mengayunkan seluruh bodi kendaraan.Goyangan itu membuat keranjang bambu di sudut bak ikut berderak. Beberapa butir tomat merah yang menumpuk tinggi tergelincir, menggelinding jatuh.Mata Dina langsung membulat panik di sela napasnya yang tercekat. Tangannya menahan dada bidang Burhan. “O-Om ... pelan-pelan!” bisik Dina gelagapan, mendongak menatap wajah tegas Burhan yang kini rahangnya mengeras pekat. “Mobilnya goyang kenceng banget! Itu tomatnya udah jatuh loh.”Burhan menggeram kasar. Sensasi jepitan liang Dina yang meradang dan sempit justru menyedot batangnya makin dalam tanpa ampun. Tapi di posisi ini, gadis di depannya masih saja sempat meributkan dagangan orang lain.“Kalau rusak, Om ganti semuanya, Din,” bisik Burhan tajam, napas panasnya menyapu hidung Dina. Tangannya mencengkeram pinggang ramping itu lekat. “Nggak usah mikirin tomat. Fokus ke sini. Bukannya tadi

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status