LOGINHawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya.
Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya.
Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan.
“Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja.
Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”
Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa heran yang campur aduk dengan emosi.
Gila. Sungguh tak habis pikir.
Transaksi ini sangat tidak sepadan. Seporsi sate kambing di pinggir jalan pedesaan paling mahal cuma tiga puluh ribu, bahkan tidak sebanding dengan harga rokoknya. Tapi di desa terpencil ini, seorang gadis muda rela menyodorkan tubuhnya demi seonggok daging bakar murah.
“Loh, kok dilepas? Om gak mau pegang ini ya? Mau yang lain aja?” tanya Dina polos.
Naluri liar Burhan yang tadi sempat bereaksi atas sentuhan Dina, seketika padam tak bersisa. Harga diri Burhan menolak keras memanfaatkan ketidaktahuan dan kepolosan anak ini.
Burhan langsung memegang kedua pundak Dina dengan kuat. “Dengar Om, Dina! Mulai detik ini, buang pikiran kayak tadi! Jangan pernah biarkan badanmu dipegang atau dimainin laki-laki lain cuma demi makanan atau tumpangan! Siapa pun orangnya!”
Dina mengerjap bingung melihat rahang Burhan yang mengeras rapat. “T-tapi, Om. Kata bude—”
“Nggak ada tapi-tapi!” potong Burhan tanpa ampun. “Tubuhmu itu bukan barang obralan! Yang boleh sentuh dan buka cuma laki-laki yang sudah sah jadi suamimu nanti! Mengerti?!”
Dina menelan ludah melihat sorot mata pria kota di hadapannya yang begitu dominan dan tegas. Ia mengangguk patuh. “I-iya, Om ... Dina ngerti.”
“Bagus. Gadis baik.” Burhan melepas cengkraman di bahu Dina, lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Sentuhan Burhan terasa sangat berbeda dibanding Mang Maman atau pria desa lain. Tidak ada nafsu, atau niat terselubung. Dina langsung tersipu mendapat perlakuan sehangat itu.
“Ayo ikut. Om belikan sate!” ajak Burhan. Tak tega juga mendengar Dina tidak pernah makan sate.
Di warung tenda depan gapura desa, Burhan memesankan dua porsi sate kambing empuk, nasi, dan es teh manis. Begitu makanan disajikan, Dina langsung melahapnya dengan mata berbinar seolah itu makanan yang paling mewah.
“Om, makasih ya. Satenya enak banget,” ucap Dina kesekin kalinya saat Burhan mengantarnya pulang.
“Kamu udah ngomong sepuluh kali, Dina.”
“Hehehe. Abisnya Dina seneng banget. Akhirnya bisa ngerasain sate yang katanya enak itu.”
Dina jalan sambil lompat-lompat kecil saking senangnya. Senyum polos yang merekah tanpa beban di wajah manis itu membuat sudut bibir Burhan ikut terangkat.
Ada rasa bangga di dadanya karena berhasil menahan dirinya sekaligus membuktikan pada Dina kalau, dia bisa dapet hal enak tanpa perlu menjual badan. Burhan hanya berharap Dina akan mengingat batas itu.
Tapi harapan Burhan langsung buyar esok subuhnya saat jogging pagi dan melewati rumah Dina.
Di halaman depan dekat sumur terbuka, Dina sedang duduk di dingklik kayu, asyik mengguyur badannya dengan gayung. Gadis itu hanya memakai kaos tipis dan celana pendek yang udah basah kuyup. Lekukan dua melon kualitas premiumnya sampai terjiplak gratis tanpa ada penutup sama sekali.
Tepat di sampingnya, ada Bude Lastri yang lagi asyik menyapu pekarangan. Wanita paruh baya bertubuh gempal itu sama sekali gak peduli saat ada dua bapak-bapak tua kampung yang lewat di depan dan sengaja memperlambat langkah sambil melotot lapar menatap lekuk tubuh basah keponakannya dengan tampang mesum.
Bukannya menegur Dina atau mengusir orang-orang tua tak tahu diri itu, Bude Lastri justru terus mengayunkan sapu lidinya sambil nyerocos mengomeli Dina dengan suara cempreng.
“Gosok daki di badanmu itu yang bersih, Dina! Mandi yang wangi! Nanti siang kamu dandan yang cantik, terus langsung ke rumah Juragan Sobri! Juragan udah mau lunasin utang-utang bude, jadi kamu harus nurut kalau disuruh ngelayanin calon suamimu itu!”
Dina hanya tertunduk diam di bawah kucuran air sumur, pasrah menerima omelan itu tanpa membantah sepatah kata pun.
Darah Burhan langsung mendidih sampai ke ubun-ubun. Tangannya mengepal keras di saku celana. Ingin rasanya Burhan maju dan melabrak mereka semua, tapi dia tidak punya hak membuat keributan di pekarangan orang subuh-subuh begini.
Pada akhirnya, Burhan memilih pergi dari sana.
***
Sekitar jam tujuh pagi, Burhan keluar membawa Jeep hitamnya untuk mengurus keperluan ke kantor kecamatan.
Namun, baru saja mobilnya sampai di jalan depan, matanya langsung menangkap sosok Dina yang sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu bus desa, keranjang anyaman bambu berisi hasil kebun ditaruh di samping kakinya.
Burhan mengerem mobilnya tepat di depan gadis itu.
“Mau ke pasar kan? Taruh keranjangmu di bak belakang. Cepat naik!” perintah Burhan pendek.
Dina langsung tersenyum sumringah, buru-buru menaruh keranjangnya di bak belakang lalu masuk ke kursi penumpang.
“Wah, untung ada Om. Dina kesiangan hari ini. Makasih ya, Om,” ujar Dina riang.
Burhan menarik rem tangan, lalu menoleh menatap Dina dengan tatapan tajam dan galak.
“Kamu tuh kebiasaan ya?!” semprot Burhan langsung.
Dina terlonjak kaget, punggungnya menempel rapat ke sandaran jok. “E-eh? Kenapa lagi, Om?”
“Tadi subuh! Ngapain kamu mandi di sumur depan kayak gitu?!” bentak Burhan, rahangnya mengeras kaku. “Kamu sadar nggak kalau dari jalanan luar badan kamu itu kelihatan jelas?!”
Mendengar semprotan tiba-tiba itu, Dina awalnya kaget, tapi sedetik kemudian matanya malah mengerjap usil.
“Loh ... kok Om Burhan bisa tahu?” celetuk Dina santai dengan nada menggoda. “Om tadi subuh ngintip Dina mandi ya? Hayo ngaku! Ih, Om ternyata genit juga!”
Wajah Burhan seketika panas. Pria itu gelagapan setengah mati, buru-buru pasang tampang galak nutupin rasa malunya.
“Sembarangan! Siapa yang ngintip, hah?!” semprot Burhan. “Tadi subuh Om lagi joging, terus gak sengaja lewat depan sumur rumahmu!”
“Alah, alasan aja si Om,” tawa kecil Dina meluncur renyah. “Lagian cuma keliatan kaos sama celana pendek aja, Om. Dari dulu Dina mandi di sumur depan ya begitu. Gak pernah ada yang marahin.”
“Itu karena orang-orang di kampungmu otaknya pada mesum dan sengaja nonton kamu gratisan!” tegur Burhan keras. “Mulai besok, pasang terpal keliling sumur itu! Jangan sampai ada celah yang bisa dilihat! Dengar nggak?!”
Dina langsung menunduk dalam-dalam. Gertakan dominan Burhan justru membuat dadanya berdesir hangat. Belum pernah ada orang yang memarahinya hanya demi menjaga kehormatan tubuhnya seperti ini.
“I-iya, Om Burhan ... Maafin Dina. Nanti sore Dina cari terpal bekas,” cicit Dina patuh.
Burhan menghela napas panjang meredakan emosinya, lalu menginjak gas melajukan mobilnya menuju pasar kecamatan.
Begitu mobil berhenti di tepi pasar, Dina bersiap turun. Namun kebiasaan barter di kepalanya membuatnya kembali menoleh. Melihat Burhan menatap dengan senyum mengernyit, Dina langsung mengurungkan niatnya.
“Karena Om gak mau dibayar pake aneh-aneh, Dina bayar pake cara lain aja!”
Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. “Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa
Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaa
“Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kret
“Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” DEG!Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin
“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di







