Home / Male Adult / Mau Lagi, Om? / Bab 3 Mau Lagi, Om

Share

Bab 3 Mau Lagi, Om

Author: My Nona
last update publish date: 2026-08-29 13:23:14

“Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”

Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.

“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. 

Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.

Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.

“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kretek tulang, plus kerok angin, sama plus pijat kepala gitu lho, Mas ... Biar capeknya tuntas. Mas Burhan mikir apa hayo?”

Deg.

Burhan terkesiap. Wajahnya mendadak terasa hangat. Ia buru-buru berdeham keras, mengelus dadanya yang bidang demi menutupi rasa salah tingkah yang luar biasa memalukan.

“Uhuk ... Oh, saya kira plus apa tadi, Mbak,” sahut Burhan berusaha menjaga wibawa suaranya agar tetap datar dan berat.

“Ya ampun, Mas Burhan mikir yang aneh-aneh ya?” goda Yanti sambil tersenyum simpul. “Yanti ini emang biasa mijat orang tua di rumah kalau lagi masuk angin. Badan Mas Burhan kelihatan kaku, pasti capek banget itu.”

“Iya, seharian di jalan dan kepanasan keliling pabrik,” jawab Burhan beralasan, padahal otot leher dan pundaknya tegang karena menahan gejolak syok saat bersama Dina di mobil tadi. “Boleh deh kalau begitu, Mbak. Di kamar saja ya, biar leluasa.”

“Yanti ambil minyak urut dulu ya, Mas. Itu celananya dilepas sekalian Mas, diganti sarung biar enak,” ucap Yanti lalu melangkah pergi, memperlihatkan liukan pinggul padat yang bergoyang sensual di balik kain daster tipisnya.

Di dalam kamar tidur utama yang temaram, aroma minyak kelapa berpadu aroma bedak melati pekat langsung menyergap indra penciuman.

Burhan sudah menanggalkan celananya dan berganti sarung, langsung tengkurap di atas kasur. Punggung pria kota itu tampak kokoh, kecokelatan, dengan otot-otot sayap yang terbentuk tegas.

“Permisi ya, Mas Burhan ... Yanti oles minyaknya dulu,” bisik Yanti lembut saat duduk bersimpuh di samping pinggang Burhan.

“Iya, Mbak,” sahut Burhan pelan.

Begitu telapak tangan Yanti yang hangat dan licin menempel di kulit pundaknya, desiran nikmat langsung merambat ke seluruh tubuh Burhan.

Pijatan tangan janda berusia tiga puluh dua tahun itu terbukti sangat lihai. Jemarinya yang berisi menekan titik-titik saraf yang tegang dengan ritme yang teratur.

“Urat pundak Mas Burhan keras banget ... Tapi badannya bagus, kekar, beda sama orang-orang desa sini yang kurus kering,” puji Yanti membuka obrolan, nada suaranya mendayu manja.

“Rutin olahraga angkat berat, Mbak,” jawab Burhan singkat, berusaha menahan desah kenikmatan.

“Pantesan padat begini punggungnya ... Istrinya pasti seneng ya punya suami tegap gini?” pancing Yanti santai.

Burhan menarik napas tipis, rahangnya sedikit mengeras. “Saya baru cerai sebulan lalu, Mbak. Sendiri sekarang.”

“Eh ... ya ampun, maaf ya, Mas. Yanti gak tahu,” ucap Yanti terdengar kaget tapi ada nada tertarik yang terselip halus. “Sama dong kalau gitu ... Yanti juga sendiri, Mas.”

“Mbak Yanti cerai juga?” tanya Burhan sekadar merespons obrolan.

“Nggak cerai, Mas. Yanti janda mati. Udah hampir tiga tahun ditinggal almarhum suami sakit paru-paru,” bisik Yanti pelan, helaan napasnya yang hangat terasa menyapu kulit punggung Burhan.

“Tiap malam kedinginan tidur sendirian di kamar belakang. Gak ada yang diajak ngobrol, gak ada yang dipeluk. Kadang ngenes rasanya, Mas. Mau cari pengganti juga orang-orang kampung sini niatnya cuma mau main-main doang, gak ada yang beneran tulus.”

“Mbak Yanti masih muda dan cantik, pasti nanti ada jodoh yang baik,” timpal Burhan berusaha sopan.

“Ah, Mas Burhan bisa aja ngenakin hati Yanti,” sahut Yanti tersipu.

Namun, di tengah obrolan itu, sensasi fisik pria dewasa yang membakar akal sehat tak bisa dibohongi.

Untuk menjangkau belikat dan pangkal leher Burhan, Yanti harus mencondongkan tubuhnya ke depan. Akibatnya, dua buah pepaya padat nan kenyal itu tanpa sadar terus menempel, menggesek, dan menekan punggung liat Burhan mengikuti gerakan Yanti.

Srett... srett...

Gesekan lembut pucuk ranum yang menonjol di balik kain tipis itu terasa cukup   nyata di kulit punggung Burhan. Setiap kali Yanti menekan kuat atau merapatkan badannya untuk mengurut area tulang belakang, sepasang buah ranum itu membal dan menindih tubuhnya dengan panas yang membakar. 

Burhan memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas kain sprei menahan erangan yang nyaris lolos dari tenggorokan.

“Sialan …” rutuk Burhan dalam hati, membatin geli sekaligus frustasi pada dirinya sendiri. “Padahal tadinya udah janji gak mau peduli sama cewek lagi gara-gara diselingkuhin mantan. Eh, baru dua hari di desa ini, otak sama Si Joni udah dibuat cenat-cenut begini!”

Meski begitu, nuraninya berontak keras, mengingatkan dirinya untuk tetap menjaga kendali dan tidak memanfaatkan statusnya sebagai majikan. 

“Gimana, Mas? Kerasa enakan gak punggungnya?” tanya Yanti berbisik tepat di samping telinga Burhan, napasnya memburu halus karena tenaga memijat.

“E-enak, Mbak ... udah lebih enteng,” jawab Burhan dengan suara serak parau yang tertahan.

“Syukur deh kalau Mas Burhan suka pijatan Yanti. Kapan-kapan kalau pegal lagi, panggil Yanti aja ya, Mas. Yanti siap kapan pun,” tawar Yanti penuh arti sebelum akhirnya menyudahi urutan.

“Sudah selesai, Mas. Yanti ke belakang sebentar ya, mau cuci tangan.”

“Iya, Mbak. Makasih banyak,” sahut Burhan tanpa berani menatap wajah Yanti, takut isi kepalanya terbaca.

Yanti melangkah keluar kamar, membiarkan pintu sedikit terbuka.

Pegal di punggung Burhan memang hilang, tapi bagian bawahnya justru menegang keras membatu sehabis digesek dari belakang. Burhan bangkit, menunduk menatap bagian depannya yang menonjol luar biasa, lalu menghela napas pasrah.

“Alamat mandi air sumur lagi ... argh! Godaannya gila semua!” gumam Burhan kesal.

Ia buru-buru melilitkan sarung hitam ke pinggang secara asal untuk menutupi si Joni yang meronta di balik sarung. Karena tenggorokannya haus, sarung itu hanya ia pegang longgar sambil melangkah keluar kamar menuju dispenser.

Tapi baru sampai depan pintu kamar, tiba-tiba 

BRAAAK!

Pintu utama mendadak didorong kencang dari luar.

Endah, adik bungsu Yanti yang menenteng belanjaan makan malam, langsung nyelonong masuk tanpa mengetuk. Suara dobrakan itu membuat Burhan terperanjat kaget hingga refleks melepas pegangan sarungnya.

Wusss!

Sarung licin itu melorot bebas ke lantai, dan Si Joni yang lagi ngambek itu langsung terpampang bulat tepat di ambang pintu kamar.

“WUAAAA! PENTUNGAN SISKAMLING NYASAR!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mau Lagi, Om?   Bab 5 Mau Lagi, Om?

    Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. “Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa

  • Mau Lagi, Om?   Bab 4 Mau Lagi, Om?

    Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaa

  • Mau Lagi, Om?   Bab 3 Mau Lagi, Om

    “Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kret

  • Mau Lagi, Om?   Bab 2 Mau Lagi, Om?

    “Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” DEG!Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin

  • Mau Lagi, Om?   Bab 1 Mau Lagi, Om?

    “Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status