LOGINWajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.
“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.
Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.
“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.
Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.
“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaan Yanti tadi denger suara si Endah teriak?” tanya Yanti heran sambil menoleh ke arah halaman.
Burhan berdehem keras, mencoba sekuat tenaga menetralkan napasnya yang memburu dan menyembunyikan rasa canggung yang luar biasa memalukan.
“Oh, wanita itu tadi namanya Endah? Dia siapa, Mbak? Kok bisa main nyelonong masuk begitu saja?” tanya Burhan berusaha menjaga nada bicaranya tetap berwibawa.
“Endah itu adik bungsu saya Mas, anak ketiganya Bapak. Dia memang ditugasi Bapak buat masakin makan malamnya Mas Burhan tiap hari. Tapi kok anak itu malah lari ketakutan begitu ya? Mas Burhan tahu kenapa?”
“Gak tahu, Mbak. Kaget lihat saya kayak setan mungkin,” sahut Burhan asal.
“Ih, Mas bisa aja. Mungkin dia kaget lihat Mas Burhan gantengnya kebangetan, gagah lagi. Anak itu memang dasar, serampangan banget, gak ada sopan-santunnya masuk rumah orang. Besok malam biar saya suruh dia minta maaf langsung sama Mas Burhan!”
Mendengar itu, rasa malu Burhan mendadak meroket sampai ke ubun-ubun. “Minta maaf langsung?! Yang bener aja!” batin Burhan menjerit frustasi.
Malam itu, badan Burhan memang terasa enteng setelah dipijat Yanti, dia juga tidak perlu susah payah mandi air dingin, sebab dedek gemesnya langsung kisut menahan malu. Tapi sialnya, rasa malu itu awet sampai besok malamnya.
Burhan sudah kepalang malu, ia juga tidak sanggup membayangkan harus bertatap muka dengan gadis yang kemarin melihat miliknya telanjang bulat dan menegang perkasa.
Tanpa pikir panjang, Burhan menyambar jaket hitam dan langsung melangkah cepat ke teras depan.
“Loh, Mas Burhan mau ke mana malam-malam begini? Ini anak saya Endah mau masak buat makan nanti,” tanya Pakde Darmo yang sedang duduk merokok di dipan teras.
“Cari angin segar sebentar, Pakde. Mau jalan-jalan santai saja keliling desa,” jawab Burhan beralasan, lalu bergegas melangkah keluar pekarangan sebelum Endah datang.
Burhan menyusuri jalanan desa yang sepi dan remang. Udara malam Jagawarga terasa menusuk kulit, tapi kepalanya yang penat perlahan mulai terasa dingin.
Namun, langkah kakinya mendadak melambat saat melintasi sebuah rumah berbahan bilik bambu di tepi kebun, suara bentakan keras terdengar memecah keheningan.
“Kamu gak boleh nolak, Dina! Utang bude itu banyak, sesekali kamu harus bantu bude dan nenek. Pokoknya, kamu harus nikah sama Juragan Sobri!”
“Nggak mau, Bude! Dina gak mau nikah, apalagi sama juragan! Dina bisa cari uang, bisa kerja ke kota! Pokoknya Dina gak mau nikah!”
Suara isakan tangis melengking terdengar menyayat hati, disusul suara gebrakan pintu bambu.
Dina berlari kencang keluar dari rumah, melintasi pagar bambu sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.Burhan sontak menghentikan langkah.
Dina pun terperanjat kaget begitu menyadari ada pria tegap berdiri di hadapannya. Ia buru-buru mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. Meski matanya sembab dan napasnya tersengal menahan sesak di dada, Dina yang terbiasa menutupi luka langsung memaksakan seulas senyum manis yang rapuh.
“Eh ... Pakde Burhan mau ke mana malam-malam begini?” sapa Dina lugu dengan suara yang sedikit bergetar.
Burhan menatap lekat wajah manis di depannya. Bekas basah air matanya masih ada di pipi, tapi senyumnya terukir ringan seolah tidak terjadi apa-apa.
Sungguh, Burhan salut sekaligus prihatin. Tidak menyangka gadis yang ia pikir beringas dan blak-blakan ini ternyata begitu pandai menutupi kesedihannya di depan orang lain. Sikap berani yang selama ini Dina tunjukkan rupanya hanya tameng untuk menutupi betapa rapuhnya dia.
“Jangan panggil Pakde. Gak keren. Panggil Om, aja!” sahut Burhan pura-pura tidak tahu.
Dina mengerjapkan matanya, lalu mengangguk patuh. “Iya, Om ... Om Burhan mau ke mana?”
“Lagi cari angin saja, jalan-jalan santai.”
“Dina temenin ya, Om? Dina tahu semua jalan pintas sama tempat bagus di desa ini.” Mata Dina langsung berbinar samar, seolah menemukan jalan keluar dari rasa sakit hatinya, dan Burhan bisa melihatnya.
“Ya sudah, sini jalan di samping om!”
Keduanya melangkah beriringan di bawah temaram lampu jalanan kampung. Dina mulai mencairkan suasana dengan ocehan ringannya.
“Di depan dekat pertigaan sana ada yang jualan sate kambing enak banget lho, Om,” celetuk Dina riang.
“Kok kamu tahu enak? Pernah makan di situ?”
Dina menggeleng polos tanpa rasa malu. “Nggak pernah, Om. Dina gak punya uang buat beli. Itu kata Bude Lastri aja kalau habis dibeliin orang.”
Dada Burhan berdenyut perih mendengar pengakuan jujur itu. Sosok gadis ini begitu sederhana dan malang. Belum sempat Burhan mengutarakan niatnya membelikan sate, suara panggilan pria paruh baya memecah obrolan.
“Eh, Neng Dina! Sini dulu, Neng!” panggil Mang Maman yang sedang duduk membakar jagung bersama dua pria kampung lainnya.
Dina melangkah mendekat tanpa curiga. “Ada apa, Mang?”
“Nih, jagung bakar manis buat Neng Dina yang cantik,” ujar Mang Maman sambil menyodorkan setongkol jagung panas.
Begitu tangan Dina menerima jagung, tangan Mang Maman yang kasar dan berminyak langsung melingkar mengelus pinggang ramping Dina. Tanpa rasa malu di depan orang lain, telapak tangan pria tua bangka itu meluncur turun, meraba dan meremas pelan paha Dina.
Dina hanya berdiri diam, tersenyum dan mengangguk polos seolah perlakuan itu adalah hal yang lumrah ia terima.
“Brengsek!”
Darah Burhan seketika mendidih hebat melihat gadis itu digrepe-grepe sembarangan. Tanpa basa basi, Burhan melangkah dengan aura dominan yang mengintimidasi, langsung menyambar pergelangan tangan Dina dan menyeretnya menjauh
Matanya menghunus tajam ke arah Mang Maman hingga pria paruh baya itu menciut gelagapan, sama sekali tak berani melarang.
“Sini ikut!” kata Burhan sambil menarik Dina menjauh menuju area sepi di bawah pohon randu yang gelap.
“Kamu tuh gimana sih?! Gak pernah diajarin kalau bagian tubuh sensitif kayak gitu gak boleh dipegang-pegang dan diraba sembarangan?!” tegur Burhan menahan murka luar biasa.
Dina tersentak kaget melihat amarah Burhan yang meledak. Gadis itu menatap Burhan dengan mata bulat beningnya yang tanpa dosa, lalu menjawab dengan suara lugu yang teramat polos.
“Tapi … kata Bude Lastri, kalau ada orang yang ngusap-ngusap pinggang sama paha gitu, artinya orangnya sayang dan kasihan sama Dina, Om.”
Deg.
Mendengar doktrin bejat itu meluncur dengan sangat tulus dari bibir Dina, Burhan rasanya ingin menelan bulat-bulat wanita bernama Lastri detik itu juga. Rahangnya mengeras rapat hingga urat di pelipisnya menonjol kencang.
Namun ditengah situasi seperti itu, Dina justru melangkah maju sambil meraih kedua tangan kekar Burhan, lalu menempelkan dan menekannya tepat di atas kedua buah melon kualitas import miliknya.
“Om Burhan marah ya? Ini Om juga bisa pegang punya Dina. Pegang yang kenceng, Om! Gak apa-apa kok.”
Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. “Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa
Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaa
“Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kret
“Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” DEG!Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin
“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di







