首頁 / Romansa Pria / Mau Lagi, Om? / Bab 4 Mau Lagi, Om?

分享

Bab 4 Mau Lagi, Om?

作者: My Nona
last update publish date: 2026-08-29 13:24:26

Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.

“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.

Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.

“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.

Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.

“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaan Yanti tadi denger suara si Endah teriak?” tanya Yanti heran sambil menoleh ke arah halaman.

Burhan berdehem keras, mencoba sekuat tenaga menetralkan napasnya yang memburu dan menyembunyikan rasa canggung yang luar biasa memalukan.

“Oh, wanita itu tadi namanya Endah? Dia siapa, Mbak? Kok bisa main nyelonong masuk begitu saja?” tanya Burhan berusaha menjaga nada bicaranya tetap berwibawa.

“Endah itu adik bungsu saya Mas, anak ketiganya Bapak. Dia memang ditugasi Bapak buat masakin makan malamnya Mas Burhan tiap hari. Tapi kok anak itu malah lari ketakutan begitu ya? Mas Burhan tahu kenapa?”

“Gak tahu, Mbak. Kaget lihat saya kayak setan mungkin,” sahut Burhan asal.

“Ih, Mas bisa aja. Mungkin dia kaget lihat Mas Burhan gantengnya kebangetan, gagah lagi. Anak itu memang dasar, serampangan banget, gak ada sopan-santunnya masuk rumah orang. Besok malam biar saya suruh dia minta maaf langsung sama Mas Burhan!”

Mendengar itu, rasa malu Burhan mendadak meroket sampai ke ubun-ubun. “Minta maaf langsung?! Yang bener aja!” batin Burhan menjerit frustasi.

Malam itu, badan Burhan memang terasa enteng setelah dipijat Yanti, dia juga tidak perlu susah payah mandi air dingin, sebab dedek gemesnya langsung kisut menahan malu. Tapi sialnya, rasa malu itu awet sampai besok malamnya. 

Burhan sudah kepalang malu, ia juga tidak sanggup membayangkan harus bertatap muka dengan gadis yang kemarin melihat miliknya telanjang bulat dan menegang perkasa.

Tanpa pikir panjang, Burhan menyambar jaket hitam dan langsung melangkah cepat ke teras depan.

“Loh, Mas Burhan mau ke mana malam-malam begini? Ini anak saya Endah mau masak buat makan nanti,” tanya Pakde Darmo yang sedang duduk merokok di dipan teras.

“Cari angin segar sebentar, Pakde. Mau jalan-jalan santai saja keliling desa,” jawab Burhan beralasan, lalu bergegas melangkah keluar pekarangan sebelum Endah datang.

Burhan menyusuri jalanan desa yang sepi dan remang. Udara malam Jagawarga terasa menusuk kulit, tapi kepalanya yang penat perlahan mulai terasa dingin. 

Namun, langkah kakinya mendadak melambat saat melintasi sebuah rumah berbahan bilik bambu di tepi kebun, suara bentakan keras terdengar memecah keheningan.

“Kamu gak boleh nolak, Dina! Utang bude itu banyak, sesekali kamu harus bantu bude dan nenek. Pokoknya, kamu harus nikah sama Juragan Sobri!”

“Nggak mau, Bude! Dina gak mau nikah, apalagi sama juragan! Dina bisa cari uang, bisa kerja ke kota! Pokoknya Dina gak mau nikah!”

Suara isakan tangis melengking terdengar menyayat hati, disusul suara gebrakan pintu bambu.

Dina berlari kencang keluar dari rumah, melintasi pagar bambu sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Burhan sontak menghentikan langkah. 

Dina pun terperanjat kaget begitu menyadari ada pria tegap berdiri di hadapannya. Ia buru-buru mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. Meski matanya sembab dan napasnya tersengal menahan sesak di dada, Dina yang terbiasa menutupi luka langsung memaksakan seulas senyum manis yang rapuh.

“Eh ... Pakde Burhan mau ke mana malam-malam begini?” sapa Dina lugu dengan suara yang sedikit bergetar.

Burhan menatap lekat wajah manis di depannya. Bekas basah air matanya masih ada di pipi, tapi senyumnya terukir ringan seolah tidak terjadi apa-apa.

Sungguh, Burhan salut sekaligus prihatin. Tidak menyangka gadis yang ia pikir beringas dan blak-blakan ini ternyata begitu pandai menutupi kesedihannya di depan orang lain. Sikap berani yang selama ini Dina tunjukkan rupanya hanya tameng untuk menutupi betapa rapuhnya dia.

“Jangan panggil Pakde. Gak keren. Panggil Om, aja!” sahut Burhan pura-pura tidak tahu.

Dina mengerjapkan matanya, lalu mengangguk patuh. “Iya, Om ... Om Burhan mau ke mana?”

“Lagi cari angin saja, jalan-jalan santai.”

“Dina temenin ya, Om? Dina tahu semua jalan pintas sama tempat bagus di desa ini.” Mata Dina langsung berbinar samar, seolah menemukan jalan keluar dari rasa sakit hatinya, dan Burhan bisa melihatnya.

“Ya sudah, sini jalan di samping om!”

Keduanya melangkah beriringan di bawah temaram lampu jalanan kampung. Dina mulai mencairkan suasana dengan ocehan ringannya.

“Di depan dekat pertigaan sana ada yang jualan sate kambing enak banget lho, Om,” celetuk Dina riang.

“Kok kamu tahu enak? Pernah makan di situ?”

Dina menggeleng polos tanpa rasa malu. “Nggak pernah, Om. Dina gak punya uang buat beli. Itu kata Bude Lastri aja kalau habis dibeliin orang.”

Dada Burhan berdenyut perih mendengar pengakuan jujur itu. Sosok gadis ini begitu sederhana dan malang. Belum sempat Burhan mengutarakan niatnya membelikan sate, suara panggilan pria paruh baya memecah obrolan.

“Eh, Neng Dina! Sini dulu, Neng!” panggil Mang Maman yang sedang duduk membakar jagung bersama dua pria kampung lainnya.

Dina melangkah mendekat tanpa curiga. “Ada apa, Mang?”

“Nih, jagung bakar manis buat Neng Dina yang cantik,” ujar Mang Maman sambil menyodorkan setongkol jagung panas.

Begitu tangan Dina menerima jagung, tangan Mang Maman yang kasar dan berminyak langsung melingkar mengelus pinggang ramping Dina. Tanpa rasa malu di depan orang lain, telapak tangan pria tua bangka itu meluncur turun, meraba dan meremas pelan paha Dina.

Dina hanya berdiri diam, tersenyum dan mengangguk polos seolah perlakuan itu adalah hal yang lumrah ia terima.

“Brengsek!”

Darah Burhan seketika mendidih hebat melihat gadis itu digrepe-grepe sembarangan. Tanpa basa basi, Burhan melangkah dengan aura dominan yang mengintimidasi, langsung menyambar pergelangan tangan Dina dan menyeretnya menjauh

Matanya menghunus tajam ke arah Mang Maman hingga pria paruh baya itu menciut gelagapan, sama sekali tak berani melarang.

“Sini ikut!” kata Burhan sambil menarik Dina menjauh menuju area sepi di bawah pohon randu yang gelap.

“Kamu tuh gimana sih?! Gak pernah diajarin kalau bagian tubuh sensitif kayak gitu gak boleh dipegang-pegang dan diraba sembarangan?!” tegur Burhan menahan murka luar biasa. 

Dina tersentak kaget melihat amarah Burhan yang meledak. Gadis itu menatap Burhan dengan mata bulat beningnya yang tanpa dosa, lalu menjawab dengan suara lugu yang teramat polos.

“Tapi … kata Bude Lastri, kalau ada orang yang ngusap-ngusap pinggang sama paha gitu, artinya orangnya sayang dan kasihan sama Dina, Om.”

Deg.

Mendengar doktrin bejat itu meluncur dengan sangat tulus dari bibir Dina, Burhan rasanya ingin menelan bulat-bulat wanita bernama Lastri detik itu juga. Rahangnya mengeras rapat hingga urat di pelipisnya menonjol kencang. 

Namun ditengah situasi seperti itu, Dina justru melangkah maju sambil meraih kedua tangan kekar Burhan, lalu menempelkan dan menekannya tepat di atas kedua buah melon kualitas import miliknya.

“Om Burhan marah ya? Ini Om juga bisa pegang punya Dina. Pegang yang kenceng, Om! Gak apa-apa kok.” 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mau Lagi, Om?   Bab 52 Mau Lagi, Om?

    Jemari Yanti meraba makin dalam ke dasar saku celana panjang Burhan. Ujung jarinya menjepit gumpalan kain tipis yang terasa licin dan agak lembap. Perlahan, ia menariknya keluar.Mata janda tiga puluh dua tahun itu seketika membelalak selebar piring. Napasnya tercekat kaku di kerongkongan.Di tangannya, terjuntai selembar celana dalam wanita berbahan kaos tipis warna merah muda cerah dengan renda kusam yang sudah agak mbrudul di pinggirannya. Ukurannya kecil, jelas tidak akan muat untuk pantat semok miliknya, dan mustahil juga kalau punya Endah.“Ya Gusti ... iki … suwal e sopo?!” Tangan Yanti gemetar hebat.Teka-teki beberapa menit lalu seketika berputar di kepalanya. Pemandangan Burhan yang telanjang dada dengan peluh membanjiri otot-otot kekarnya di udara dingin menusuk, serta wajah Dina yang merah padam dengan daster kusut acak-acakan, sampai cara jalan gadis itu yang meletat-meletot mengangkang lebar.Belum sempat Yanti mencerna semuanya, suara panggilan bapaknya mendadak terden

  • Mau Lagi, Om?   Bab 51 Mau Lagi, Om?

    Melihat mata menyelidik Yanti di teras semen, Burhan terlihat santai. Rahang tegasnya tetap tenang tanpa raut gugup.“Ini loh, Mbak, bantuin Dina angkat karung kentang. Berat banget ternyata,” sahut Burhan enteng.Mata Yanti menyipit tajam, jelas belum puas menatap pemandangan ganjil di depannya. “Nata sayur kok sampai buka baju to, Mas? Jam segini dinginnya nusuk tulang. Itu muka Dina juga merah banget.”Kali ini giliran Dina yang lekas maju. Gadis itu menepuk-nepuk debu di daster kusamnya dengan lagak sok sibuk.“Hoalah, ini tadi Dina sama Om angkatin keranjang sayur, Mbak. Tuh, dari depan sana ....” Dina menunjuk gerbang pekarangan, tempat sepedanya disandarkan. “Om Burhan kan mau ke kecamatan, jadi Dina nebeng sekalian ke pasar. Pas Om bantuin, keringetnya ngucur, Mbak. Jadi lepas kaos deh.”“Oalah, kamu ke sini pagi-pagi mau nebeng? Udah janjian to?” Dina nyengir polos tanpa beban. “Iya, Mbak. Janjian kemarin pagi itu lho.”Yanti manggut-manggut pelan. Ekor matanya sempat meliri

  • Mau Lagi, Om?   Bab 50 Mau Lagi, Om?

    Dina menelan ludahnya susah payah. Sorot matanya sempat goyah ditatap tajam sedekat itu.Tapi sedetik kemudian, dia malah nyengir manis tanpa dosa. Tubuhnya yang sudah lepas dari kungkungan Burhan berbalik membelakangi bak Jeep. Tangannya buru-buru menarik turun ujung daster kusamnya yang basah dan kusut, menutupi paha dalamnya yang lengket.“A-Apa sih, Om. Jangan mikir kejauhan deh!” sungut Dina sambil mencibir sebal. “Ya kali bisa nikah kilat kayak beli gorengan. Juragan itu cuma mau ketemu doang nanti sore, cuma dikenalin!”Burhan menyipitkan mata. Rahangnya mengetat kaku, nggak kemakan omongan itu. “Jangan bohongin Om, Din.”“Siapa yang bohong sih, Om Burhan?” Dina malah tertawa renyah. Tangannya terangkat santai, mencubit pipi brewok Burhan tanpa rasa takut. “Mukanya tegang amat kayak mau razia polisi. Udah ah. Mending buruan ke pasar, keburu siang ini!”Burhan bergeming. Dina jelas-jelas lagi ngeles, dan Burhan bukan anak kemarin sore yang bisa dialihkan pakai cubitan manja begi

  • Mau Lagi, Om?   Bab 49 Mau Lagi, Om?

    Burhan menundukkan badannya sedikit ke depan, menempelkan dadanya yang basah oleh peluh ke punggung mungil Dina.“Kamu denger apa yang Simbah omongin sama ibu-ibu tadi?” bisik Burhan.“Hah? A-apa, Om? Dina nggak tahu.”“Nggak tahu apa nggak denger?” sergah Burhan dingin.Dina menoleh susah payah. Keningnya basah oleh keringat, napasnya masih terengah-engah. “N-nggak denger, Om. Beneran suer!”Burhan melirik sekilas ke arah luar pagar. Sosok Mbah Siti dan Bu Susi sudah benar-benar lenyap di ujung jalan setapak kebun. Suasana kembali lengang.Tanpa aba-aba, Burhan menyentakkan pinggulnya ke depan, lebih dalam dan tajam hingga batangnya menghantam telak rongga terdalam Dina.“Akhh!” Dina memekik tertahan, punggungnya refleks melengkung kaget.“Jangan bohong,” desis Burhan dingin, rahangnya mengetat rapat. “Kamu pasti denger soal Mang Maman yang nungguin kamu di rumah, kan? Nama juragan juga disebut Simbah tadi.”“Emmp ... i-itu denger dikit—ahh, Om, pelan dong! Jangan ngegas terus!” rint

  • Mau Lagi, Om?   Bab 48 Mau Lagi, Om?

    Suara langkah terseok itu kian dekat di balik pagar bambu, disusul teriakan serak yang terdengar jengkel bercampur cemas.“Dina? Din?! Aduh, kemana to cah iki!”Burhan menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan bibirnya ke pelipis Dina yang basah oleh peluh dingin.“Itu Simbah, kan?” bisik Burhan rendah. Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara otot-otot tubuhnya masih menegang mengunci posisi.Dina mengangguk samar. Tubuhnya sempat gemetar, tapi raut panik di wajahnya perlahan luntur, berganti tatapan dingin yang kosong.“Iya, biarin aja, Om,” bisik Dina lirih namun tajam. “Ayo terusin. Biar Simbah liat sekalian.”Alis Burhan bertaut rapat. Tatapannya menatap punggung Dina dengan sorot tajam tak percaya. “Jangan ngawur! Katanya kamu sayang banget sama Simbah?”“Sayang, Om.” Mata Dina berkaca-kaca, tatapannya kosong menatap karung kentang tepat di depan wajahnya. “Tapi Mbah cuma diem aja pas Bude mau jual Dina ke juragan. Pas Dina digebukin juga Mbah nggak pernah belain Dina. Dina c

  • Mau Lagi, Om?   Bab 47 Mau Lagi, Om?

    Sentakan panggul Burhan langsung memicu derak keras pada bak besi Jeep. Suspensi per daun di bawah kolong mobil mengayunkan seluruh bodi kendaraan.Goyangan itu membuat keranjang bambu di sudut bak ikut berderak. Beberapa butir tomat merah yang menumpuk tinggi tergelincir, menggelinding jatuh.Mata Dina langsung membulat panik di sela napasnya yang tercekat. Tangannya menahan dada bidang Burhan. “O-Om ... pelan-pelan!” bisik Dina gelagapan, mendongak menatap wajah tegas Burhan yang kini rahangnya mengeras pekat. “Mobilnya goyang kenceng banget! Itu tomatnya udah jatuh loh.”Burhan menggeram kasar. Sensasi jepitan liang Dina yang meradang dan sempit justru menyedot batangnya makin dalam tanpa ampun. Tapi di posisi ini, gadis di depannya masih saja sempat meributkan dagangan orang lain.“Kalau rusak, Om ganti semuanya, Din,” bisik Burhan tajam, napas panasnya menyapu hidung Dina. Tangannya mencengkeram pinggang ramping itu lekat. “Nggak usah mikirin tomat. Fokus ke sini. Bukannya tadi

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status