Home / Male Adult / Mau Lagi, Om? / Bab 1 Mau Lagi, Om?

Share

Mau Lagi, Om?
Mau Lagi, Om?
Author: My Nona

Bab 1 Mau Lagi, Om?

Author: My Nona
last update publish date: 2026-08-28 16:53:44

“Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.

Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.

Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.

“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”

Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.

“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di sana. Dan tugasmu, cek batas-batas kebun, pastikan batasnya jelas sebelum akta jual beli ditandatangani. Sekalian temui Pak Bakti, calon pembeli yang mau bayar tanah itu. Nanti kalau ada masalah, telepon kakek!” ucap Kakek Budi sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai.

Kalau sang kakek sudah berdiri dan menghentakkan tongkat keramatnya, pantang hukumnya untuk dibantah kalau tidak mau dicoret dari silsilah keluarga atau dikutuk jadi batu kali.

Pada akhirnya, Burhan menerima.

Yah, daripada di kota terus-terusan kepikiran mantan istri, tidak ada salahnya Burhan mencoba peruntungan berangkat ke desa. Lagipula, di desa juga tidak seburuk yang Burhan pikir, pasti akan banyak hiburan mata yang bisa membuatnya lupa tentang mantan istrinya yang matre dan tukang selingkuh itu!

Sambil bertekad tidak akan membiarkan wanita sembarangan mempermainkannya, ia berangkat sore itu juga meninggalkan ibu kota.

Setelah mengemudi hampir 12 jam, jalanan tanah berbatu akhirnya menyambut kedatangan Jeep hitam Burhan di perbatasan desa. Udara sejuk pedesaan pagi itu langsung menyergap, tapi ketiadaan plang petunjuk jalan membuatnya bingung mencari letak pasti rumah tua peninggalan kakeknya.

Burhan memelankan laju mobil di samping pematang ladang palawija. Dari balik kemudi, matanya menangkap sosok gadis muda yang sedang sibuk membetulkan letak keranjang panen di pinggir jalan.

Burhan menarik rem tangan lalu melangkah turun. Tubuh tegapnya yang dibalut kaos polo abu-abu ketat melangkah mendekat.

“Permisi ....”

Gadis itu menyapu peluh di dahinya, lalu mendongak. Seketika, napas Burhan tertahan. Pandangan matanya otomatis memindai sosok di depannya dari atas ke bawah.

Dina, gadis yang masih berumur 19 tahun itu hanya mengenakan caping bambu sederhana, kaos oblong putih model neck-V yang pas-pasan, dan celana training lusuh yang digulung sebetis.

Meski gayanya sederhana khas anak desa, tapi postur tubuhnya padat dan sintal. Kulitnya juga bukan hasil perawatan mahal, tapi cukup bersih, kencang, dan segar layaknya buah ranum yang baru dipetik. Wangi peluh bercampur aroma manis tubuhnya menguar samar, sempat membuat jakun Burhan naik-turun menelan ludah sebelum buru-buru menepis pikirannya sendiri. 

“Eh ... iya, Pakde? Ada apa ya?” sahut gadis itu dengan mata bulat bening yang luar biasa polos dan bibir merah muda merekah basah.

Burhan segera berdehem, menjaga wibawa prianya. “Saya mau tanya rumah tua milik keluarga Pak Budi Handoko. Tahu arahnya ke mana?”

“Oh, rumah gedong juragan teh yang ada pagar kayunya ya? Pakde lurus aja lewatin kebun ini, nanti rumahnya ada di paling ujung jalan desa.”

“Terima kasih,” jawab Burhan singkat, lalu kembali naik ke mobilnya.

Mobil Burhan akhirnya tiba di pekarangan sebuah rumah bata merah megah berarsitektur kuno. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh Pakde Darmo, penjaga rumah tua keluarga mereka.

“Den Raka cucunya Kakek Budi, ya? Wah, sekarang sudah besar ya,” sambut Pakde Darmo.

“Pakde tahu saya?” tanya Burhan sambil menjabat tangan Pakde Darmo.

“Wah, ya jelas tahu toh, Den. Den Raka dulu pernah diajak Kakek Budi kesini waktu umur 5 tahunan. Pasti sudah nggak inget ya? Tadi Pak Budi juga sudah telepon ngabari. Pokoknya selama Den Raka disini, jangan sungkan kalau butuh apa-apa. Rumah pakde ada dibelakang, bisa langsng kesana atau telepon.”

Burhan tersenyum tipis sambil angguk-angguk. Tidak menyangka, dulu ia pernah diajak kesini oleh kakeknya. Padahal tadi sebelum berangkat, kakeknya cuma bercerita singkat soal Pakde Darmo yang dibayar untuk menjaga serta membersihkan rumah tuanya, dan akan membantunya selama disana.

“Kalau gitu panggil Burhan saja, Pakde. Jangan pakai sebutan Den,” pinta Burhan. Ia memang sengaja memakai nama itu agar terasa lebih membaur, sekaligus ingin menemukan kehidupan baru di sini.

Tak berselang lama setelah Burhan duduk di sofa ruang tamu, seorang wanita melangkah anggun dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat.

“Nah, ini anak pertama saya, Mas Burhan. Namanya Yanti,” kata Pakde Darmo memperkenalkan.

“Mari diminum tehnya, Mas Burhan,” sapa Mbak Yanti dengan senyum santun.

Burhan memperhatikan sosok janda mati berusia tiga puluh dua tahun itu. Sikapnya sangat tahu tata krama dan menghormati Burhan sebagai majikan.

Namun, daster tipis berbahan jatuh yang dikenakan Yanti menempel sangat ketat di lekuk tubuh matangnya. Aura matangnya sangat kuat, tipe wanita yang paham betul cara memancing mata pria.

Burhan terkesiap, buru-buru menyeruput teh menetralkan tenggorokan yang mendadak kering.

Sialnya, ketika Yanti membungkuk meletakkan piring pisang goreng, kerah daster yang longgar sontak terbuka lebar, memamerkan sepasang buah pepaya matang yang pucuknya ranum, menggantung bebas tanpa penyangga memadai tepat di depan matanya. 

UHUKK! 

BYURR!

Burhan tersedak. Teh hangat yang baru diseruputnya langsung menyembur keluar, membasahi sebagian meja dan celana panjangnya tepat di area selangkangan.

“Eh, ya ampun, Mas!” seru Yanti panik. Pakde Darmo juga langsung terjingkat kaget.

“Aduh! Cepet ambil lap, Yan!”

Dengan cepat, Yanti mengambil serbet kain lalu berlutut tepat di depan kaki Burhan. Berniat membersihkan tumpahan air secepatnya, tapi tangan Yanti yang tergesa-gesa justru tanpa sengaja menggosok pangkal paha hingga meraba area selangkangan celana Burhan yang basah dan menyentuh gundukan keras yang mendadak menegang di balik kain.

Burhan tersentak dan bangkit berdiri.

“Saya ... mau mandi dulu, Pakde, Mbak,” potong Burhan.

“O-oh, iya, Mas. Itu kamar mandinya di pojok samping dapur,” sahut Pakde Darmo.

Burhan langsung melangkah cepat menuju kamar mandi. Di bawah kucuran air sumur yang dingin, dia mengguyur kepalanya berkali-kali demi meredakan ‘dedek gemoy’-nya yang mendadak bangkit keras akibat rangsangan janda tadi.

Setelah amarah biologisnya agak mereda, Burhan langsung masuk ke kamar dan memilih untuk segera tidur. Ia lelah setelah menempuh perjalanan 10 jam lebih.

***

Keesokan harinya, pukul empat sore.

Matahari mulai condong ke barat, memayungi jalanan tanah dengan semburat jingga. Burhan menyetir Jeep-nya perlahan untuk meninjau batas lahan pabrik teh kakeknya.

Namun saat mobilnya melintasi jalanan perkebunan yang mulai gelap dan sepi, mata Burhan menangkap sesosok tubuh kecil di pinggir jalan.

Itu Dina, yang sedang berdiri di tepi jalan sambil menyeka keringat di lehernya. Karena kegerahan dan kakinya yang gemetar sehabis berjalan jauh memikul keranjang kosong, Dina tampak menyingsingkan sedikit kain rok bawahnya ke atas, paha mulusnya yang putih bersih dan bebas noda terlihat kontras dengan debu jalanan di sekitarnya.

Gadis itu jelas ketinggalan satu-satunya bus desa yang cuma beroperasi sampai jam tiga sore.

Begitu Dina melihat mobil melintas, ia mengayunkan tangan. Refleks Burhan menghentikan laju mobilnya.

Dina melangkah mendekat ke pintu samping kemudi. Dengan mata bening tanpa dosa dan bibir mungil yang merekah kelelahan, Dina menatap lurus ke mata Burhan.

“Om, Dina boleh nebeng sampai desa? Sebagai ongkosnya, Dina bisa bikin Om muncrat.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mau Lagi, Om?   Bab 5 Mau Lagi, Om?

    Hawa malam di bawah pohon randu terasa makin dingin, tapi telapak tangan Burhan justru mendadak panas. Mata Burhan nyaris melotot keluar saking kagetnya. Sedangkan di depannya, Dina malah memasang tatapan lugu tanpa terlihat malu apalagi takut, hanya ada senyum manis yang tersungging tulus di bibir tipisnya. Rupanya, Dina salah mengira Burhan marah karena tidak dapat jatah seperti pria-pria desa lainnya. Jadi, gadis itu berinisiatif menyodorkan bagian tubuhnya yang paling empuk untuk meredakan amarah Burhan. “Om jangan marah lagi ya? Dina sedih kalau Om marah-marah,” bisik Dina pelan dan manja. Tangan mungilnya yang hangat justru menekan tangan Burhan makin dalam ke dadanya. “Om juga boleh mainin punya Dina, kok. Nih oh, pegang! Kenyel kan, Om? Tapi abis main ini ... Dina boleh minta dibeliin sate nggak, Om?”Mendengar bisikan penawaran dari Dina, Burhan langsung menarik tangannya dan mundur setengah jengkal sambil mengusap wajahnya. Kepala pria itu berdenyut kencang menahan rasa

  • Mau Lagi, Om?   Bab 4 Mau Lagi, Om?

    Wajah Endah langsung merah padam sampai ke ujung telinga. Matanya melotot lebar menatap si Joni yang sedang dalam mode siaga itu.“Aaaakh!” jerit Endah tertahan sambil buru-buru membalikkan badan, sebelum akhirnya melempar kresek belanjaan dan lari terbirit-birit keluar rumah.Burhan yang kaget setengah mati langsung menyambar sarung hitamnya dari lantai, melilitkan kain itu kencang-kencang di pinggangnya. Rasa panas menjalar hebat membakar seluruh wajahnya hingga ke pangkal leher.“Waduh, dia sampai tahu bentukan Joni-ku! Gimana kalau dia malah kegoda? Apalagi sampai nyebarin berita kalau Joni-ku gede gimana coba? Bahaya urusannya kalau aku diminta layanin cewek-cewek desa tiap hari!” rutuk Burhan sambil menepuk jidatnya sendiri.Mendengar suara gaduh dan jeritan melengking dari arah depan, Mbak Yanti bergegas keluar dari area dapur. Dahinya berkerut bingung melihat pintu depan terbuka lebar dan kantong plastik berserakan di ubin.“Eh, Mas. Ini ada apa, kok berserakan begini? Perasaa

  • Mau Lagi, Om?   Bab 3 Mau Lagi, Om

    “Pijat plus-plus pun Yanti bisa, Mas.”Kalimat itu menggantung di udara ruang tamu yang sepi. Burhan yang baru saja menjatuhkan diri di sofa langsung membelalak. Napasnya tertahan. Matanya membesar menatap janda montok di depannya yang sedang tersenyum santun itu.“Gila, frontal banget anak Pakde Darmo ini! Apa semua wanita di desa ini modelannya begini?!” batinnya hampir berteriak. Bayangan saat Dina dengan teramat enteng membuka roknya demi membayar tumpangan langsung muncul. Belum genap satu jam otaknya dibuat pusing oleh kepolosan Dina, sekarang giliran Mbak Yanti, anak juru kunci rumah kakeknya sendiri, malah terang-terangan menyodorkan tawaran liar berkedok pijatan.Melihat ekspresi Burhan yang kaku menegang, tawa renyah Yanti seketika pecah. Janda itu mengerjapkan matanya yang bulat dengan senyum lugu tanpa dosa.“Loh, Mas Burhan kok malah bengong kaget gitu mukanya?” celetuk Yanti sambil membetulkan daster sutra ungunya yang agak melorot di dada. “Maksud Yanti tuh … plus kret

  • Mau Lagi, Om?   Bab 2 Mau Lagi, Om?

    “Mun-Muncrat maksudnya apa?” Burhan melotot lebar. Jakunnya naik-turun menelan ludah dengan susah payah, sementara tangannya mendadak kaku mencengkeram stir Jeep.“Alah, masa Om nggak paham sih? Om kan udah dewasa, pasti mau dong dimuncratin?” DEG!Dada Burhan berdentum kencang. Pikiranya seketika melayang liar ke mana-mana. Kalimat ambigu yang meluncur begitu enteng dari bibir gadis polos ini sukses membuat darah lelakinya berdesir panas.“Gila. Bocah ingusan kayak gini beneran ngerti maksud omongannya sendiri gak sih? Apa anak-anak di desa ini pergaulannya udah sebebas itu sampai bisa ngomongin hal ranjang di depan orang baru tanpa malu-malu?” batin Burhan campur aduk, antara kaget, curiga, dan mati-matian menekan fantasi liarnya yang terlanjur kepancing.Sebelum Burhan sempat membuka mulut untuk menegur, tangan mungil Dina sudah bergerak merogoh ke dalam kantong plastik kresek hitam di samping kakinya. Gadis itu menarik keluar sebuah kantong plastik bening panjang berisi es lilin

  • Mau Lagi, Om?   Bab 1 Mau Lagi, Om?

    “Sudah tiga bulan, Raka! Mau sampai kapan kamu mikirin mantan istri nggak tahu diri dan matre itu? Udah, sore ini kamu berangkat ke desa, pantau kebun yang mau Kakek jual,” titah Kakek Budi menggelegar.Sementara pria di depannya, Bumi Raka Handoko yang akhir-akhir ini minta dipanggil Burhan, hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.Pria itu terdiam lama. Niatnya ingin menolak, tapi ingatan terkutuk justru berputar liar di kepalanya. Pemandangan ranjang kamarnya tiga bulan lalu, saat mantan istrinya bergumul dengan sahabatnya mendadak terasa nyata lagi di pelupuk mata.“Ah ... Enak, Mas Danu! Gak kalah sama punya Raka. Suamiku itu, kalau gak kaya, mana mungkin aku mau nikah sama dia!”Perkataan mantan istrinya itu sukses membuat dada Burhan bergemuruh hebat menahan muak luar biasa.“Cepat kamu siap-siap. Begitu sampai di sana, kamu langsung temui Pakde Darmo yang selama ini jagain rumah kakek. Pakde dan anak-anaknya nanti bakal bantuin kamu selama di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status