ログインMereka terdiam selama beberapa saat. Suasana canggung perlahan-lahan mulai mencair, digantikan oleh rasa saling menghargai. Zein memilih untuk membatasi cerita tentang dirinya. Ia belum bisa menceritakan detail jati dirinya secara rinci. Apalagi mengungkapkan fakta bahwa ia adalah bagian dari unit elite tingkat nasional yang menangani kasus-kasus kriminal kelas berat seperti sindikat perdagangan senjata dan narkotika. Cukup bagi Zahra untuk mengetahui bahwa dirinya adalah seorang intel kepolisian yang tugas penyamarannya di trotoar kampus telah berakhir dan ia harus kembali ke unit asalnya di kantor pusat. Misi yang baru saja selesai di Semarang juga menjadi rahasia negara yang tidak boleh ia sentuh dalam obrolan ini.Keheningan di antara mereka terurai ketika pintu ruang privat diketuk dari luar. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi dua porsi steak ayam lada hitam, nasi goreng Taiwan yang harum, serta minuman pesanan mereka. Setelah menyajikan semuanya dengan rapi, pelayan it
Keheningan yang membentang terasa begitu kontras dengan keakraban yang biasa mereka rajut melalui sambungan telepon hingga larut malam selama beberapa bulan terakhir. Zahra melempar pandangan ke luar jendela, sedang Zein bolak-balik memandangnya.Begitu sampai di depan sebuah kafe bergaya lawas dengan pohon-pohon rindang yang berada di sekitarnya, Zein turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Zahra. Sebelum melangkah masuk ke dalam kafe, Zein menghentikan langkahnya sejenak, menatap Zahra dengan raut penuh kesungguhan."Zahra, sebelum kita masuk. Aku ingin meminta izin untuk memesan private room di dalam. Aku ingin memastikan apa yang akan kita bicarakan nanti benar-benar aman dan tidak terdengar oleh pengunjung lain atau pelayan yang lalu lalang. Apakah kamu keberatan?" tanya Zein dengan nada yang sangat sopan.Zahra memperhatikan setiap jengkal ekspresi wajah pria di depannya. Ada kejujuran yang tulus dan rasa hormat yang mendalam di sepasang mata itu, bukan tatapan licik seorang
Zein- 8 Jujur "Setelah ini nanti kita bicara." Suara bariton Zein terdengar tenang. Namun sepasang mata pria itu tidak dapat menyembunyikan riak kecemasan yang mendalam saat ia menatap wajah gadis di sampingnya. Tak menyangka kalau pertemuan hari ini diawali dengan sesuatu yang tidak pernah ia duga. Padahal sepuluh tahun lebih berdinas di kepolisian sebagai Intel, rahasia itu bisa ia jaga serapat mungkin dari siapapun. Bahkan kerabatnya sendiri. Namun kali ini, hal tak terduga terjadi.Jemari Zahra sedikit bergetar ketika ia mengulurkan secarik kartu plastik tebal itu kembali ke telapak tangan Zein. Kepalanya tiba-tiba terasa penuh, sementara jantungnya berdetak kencang hingga menimbulkan rasa sesak. Apa aku tidak salah lihat tadi?Kilasan foto formal berlatar belakang warna merah dengan logo Tribrata yang tegas di sudut atas kartu itu masih tercetak jelas di ingatan Zahra. Foto itu benar-benar wajah pria di hadapannya. Pria sama yang selama tiga bulan ini mengenakan pakaian kusam
Pengalaman hidupnya terasa begitu matang dan berbobot, sebuah kontras yang tajam bagi sosok yang selama tiga bulan ini ia kenal sebagai penjual donat di trotoar kampus."Siapa sebenarnya pria itu?"Satu pertanyaan besar masih mengganjal kuat di benaknya. Tentang black card premium di kasir restoran dan toko sepatu beberapa bulan yang lalu. Logikanya bekerja. Apa iya seorang pedagang kaki lima bisa memiliki kartu eksklusif seperti itu? Alibi Zein yang mengaku melakoni pekerjaan apa saja demi menyambung hidup sebelum akhirnya diterima kerja di Jakarta, mendadak terasa ganjil di mata analisis akuntansinya Zahra.Gadis itu membalikkan tubuh, memeluk gulingnya erat-erat. Setidaknya ia bersyukur Aurel tidak mengendus hubungan rahasia ini pasca ia kepergok malam itu. Sejak saat itu Zahra menjadi jauh lebih waspada. Zahra bertekad kuat untuk tidak melanggar batasan yang telah digariskan orang tuanya. Ini adalah pembuktian prinsip dan cara terbaiknya untuk membalas ketulusan papa sambungnya y
Baguslah kalau Zahra dilarang pacaran selama kuliah oleh orang tuanya. Ia yakin kalau Zahra akan mematuhi hal itu. Di dalam hati Zein, rencana mulai tersusun rapi. Jika aturan ketat orang tua Zahra melarang adanya hubungan asmara selama masa kuliah, artinya posisi Zahra saat ini benar-benar bersih dari intervensi pria mana pun. Itu memberinya peluang emas dan waktu yang sangat lapang untuk mendekati gadis itu secara serius setelah momen wisudanya tiba. Waktu yang bisa ia manfaatkan untuk menyusun strategi terbaik demi menjelaskan siapa diri 'Zein' yang sebenarnya. Bahwa ia bukan sekadar pekerja kantoran biasa, melainkan seorang perwira intelijen.🖤LS🖤Dua bulan kemudian ....Waktu terus berlalu. Sekarang Zein mendapatkan penugasan di Semarang. Masih dalam misi target yang sama. Tentang narkoba dan obat-obatan terlarang. Sebab dia cukup memahami bilang itu. Bisa membaca gerak-gerik para pengedar, pemakai, dan organisasi terlarang mereka. Sudah beberapa kali ia berhasil menyelesaikan
Zein 7 Janjian "Astaga, Aurel. Bikin kaget saja!" dengkus Zahra sambil menoleh cepat ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia sengaja menaikkan volume suaranya, memberi isyarat agar pria yang berada di seberang sana bisa menangkap situasi ini.Tatapan Aurel menyipit, menangkap gelagat canggung yang berusaha disembunyikan saudara tirinya. Ia melangkah masuk, menghampiri meja belajar Zahra. "Siapa yang tadi kamu panggil 'Bang'? Serius sekali tampaknya."Jantung Zahra berdegup lebih cepat. Otaknya berputar kilat mencari alasan yang aman agar tidak dicurigai Aurel. "Bang siapa? Kamu salah dengar. Ini tadi Bonita, temanku waktu SMP dulu," jawab Zahra sekenanya, berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar biasa.Ia sengaja memilih 'teman SMP'. Jika ia berbohong bahwa itu teman SMA, Aurel dipastikan akan langsung mencecarnya dengan puluhan pertanyaan. Mengingat mereka berdua menghabiskan masa remaja di gedung Sekolah Menengah Atas yang sama. Saat SD dan SMP saja mereka sekolah di tem
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan







