เข้าสู่ระบบPengalaman hidupnya terasa begitu matang dan berbobot, sebuah kontras yang tajam bagi sosok yang selama tiga bulan ini ia kenal sebagai penjual donat di trotoar kampus."Siapa sebenarnya pria itu?"Satu pertanyaan besar masih mengganjal kuat di benaknya. Tentang black card premium di kasir restoran dan toko sepatu beberapa bulan yang lalu. Logikanya bekerja. Apa iya seorang pedagang kaki lima bisa memiliki kartu eksklusif seperti itu? Alibi Zein yang mengaku melakoni pekerjaan apa saja demi menyambung hidup sebelum akhirnya diterima kerja di Jakarta, mendadak terasa ganjil di mata analisis akuntansinya Zahra.Gadis itu membalikkan tubuh, memeluk gulingnya erat-erat. Setidaknya ia bersyukur Aurel tidak mengendus hubungan rahasia ini pasca ia kepergok malam itu. Sejak saat itu Zahra menjadi jauh lebih waspada. Zahra bertekad kuat untuk tidak melanggar batasan yang telah digariskan orang tuanya. Ini adalah pembuktian prinsip dan cara terbaiknya untuk membalas ketulusan papa sambungnya y
Baguslah kalau Zahra dilarang pacaran selama kuliah oleh orang tuanya. Ia yakin kalau Zahra akan mematuhi hal itu. Di dalam hati Zein, rencana mulai tersusun rapi. Jika aturan ketat orang tua Zahra melarang adanya hubungan asmara selama masa kuliah, artinya posisi Zahra saat ini benar-benar bersih dari intervensi pria mana pun. Itu memberinya peluang emas dan waktu yang sangat lapang untuk mendekati gadis itu secara serius setelah momen wisudanya tiba. Waktu yang bisa ia manfaatkan untuk menyusun strategi terbaik demi menjelaskan siapa diri 'Zein' yang sebenarnya. Bahwa ia bukan sekadar pekerja kantoran biasa, melainkan seorang perwira intelijen.🖤LS🖤Dua bulan kemudian ....Waktu terus berlalu. Sekarang Zein mendapatkan penugasan di Semarang. Masih dalam misi target yang sama. Tentang narkoba dan obat-obatan terlarang. Sebab dia cukup memahami bilang itu. Bisa membaca gerak-gerik para pengedar, pemakai, dan organisasi terlarang mereka. Sudah beberapa kali ia berhasil menyelesaikan
Zein 7 Janjian "Astaga, Aurel. Bikin kaget saja!" dengkus Zahra sambil menoleh cepat ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Ia sengaja menaikkan volume suaranya, memberi isyarat agar pria yang berada di seberang sana bisa menangkap situasi ini.Tatapan Aurel menyipit, menangkap gelagat canggung yang berusaha disembunyikan saudara tirinya. Ia melangkah masuk, menghampiri meja belajar Zahra. "Siapa yang tadi kamu panggil 'Bang'? Serius sekali tampaknya."Jantung Zahra berdegup lebih cepat. Otaknya berputar kilat mencari alasan yang aman agar tidak dicurigai Aurel. "Bang siapa? Kamu salah dengar. Ini tadi Bonita, temanku waktu SMP dulu," jawab Zahra sekenanya, berusaha menjaga intonasi suaranya agar terdengar biasa.Ia sengaja memilih 'teman SMP'. Jika ia berbohong bahwa itu teman SMA, Aurel dipastikan akan langsung mencecarnya dengan puluhan pertanyaan. Mengingat mereka berdua menghabiskan masa remaja di gedung Sekolah Menengah Atas yang sama. Saat SD dan SMP saja mereka sekolah di tem
Meninggalkan sepetak trotoar kosong yang kini menyimpan rahasia kecil di antara Zahra dan pria yang kini sedang dalam perjalanan untuk memulai profesi barunya.🖤LS🖤Udara pagi Surabaya yang biasanya hanya dipenuhi deru knalpot, hari ini mendadak pekat oleh desas-desus. Di depan rombong nasi uduk mpok Nur, beberapa ibu-ibu kos dan warga saling mendekatkan kepala, berbicara dengan nada setengah berbisik tapi begitu serius. Zahra dan Aurel berdiri mengantre di belakang mereka. Diam tapi menyimak."Beneran, Bu. Jam dua malam, mobil polisi banyak banget berderet di depan gerbang rumah itu. Pintu pagarnya sampai didobrak, lho!" seru seorang wanita beraster batik sambil menunjuk ke arah seberang jalan."Iya, saya juga dengar samar-samar ada suara teriakan. Kata suami saya yang baru pulang narik malam tadi, rumah mewah itu digerebek karena sarang narkoba sama senjata api," timpal warga lainnya.Mpok Nur yang sedang membungkus nasi uduk pesanan Aurel ikut bicara, "Padahal kelihatan seperti r
[Iya, Mbak Zahra. Terima kasih banyak. Selamat malam, selamat istirahat.]Zein mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di nakas. Di luar sana angin malam Malang berembus dingin. Ia sudah di rumah, tapi hatinya seakan masih tertinggal di Surabaya. Besok dia akan kembali ke sana, tapi mungkin tidak sempat bertemu Zahra.🖤LS🖤"Sneakers baru nih, ye," sindir Aurel yang sedang bersedekap begitu daun pintu kamar sebelah terbuka. Sepasang matanya langsung tertuju pada alas kaki putih dengan aksen garis denim yang membungkus rapi sepasang kaki mungilnya Zahra.Zahra hanya membalasnya dengan senyuman seraya memutar anak kunci. Memastikan kamarnya aman sebelum mereka berangkat kuliah."Kapan belinya, Ra? Kok aku nggak tahu," cecar Aurel lagi. Masih menatap sepatu yang tampak berkelas dan mahal itu dengan pandangan menyelidik."Kemarin," jawab Zahra santai, menyelipkan anak kunci ke dalam saku ranselnya. "Waktu kamu pergi ke Kenjeran.""Oalah, pantesan kemarin kamu menolak kuajak pergi. Terny
Zein- 6 Perwira"Ibu suka melihatmu tampil rapi begitu? Tadi Ibu sampe pangling." Bu Hindun menggeser cangkir teh ke depan Zein, lalu menatap lekat-lekat wajah putranya yang duduk di seberang meja. Laki-laki tegap dengan potongan rambut rapi yang baru saja tiba dari Surabaya. Dan malam itu mereka baru selesai makan."Kurapikan karena aku akan kembali ke Jakarta, Bu," jawab Zein sambil menyesap teh beraroma melati itu."Kapan?" Tatapan matanya yang mulai digerogoti usia memancarkan kerinduan sekaligus kecemasan yang selalu diredamnya rapat-rapat. Dia benar-benar memahami profesi yang dipilih putranya."Dua atau tiga hari lagi. Setelah urusan di Surabaya selesai," jawab Zein. Ia tidak akan menceritakan target operasi yang bakalan terjadi beberapa hari lagi. Tiga bulan menyamar menjadi tukang donat merupakan rahasia dinasnya. Zein hanya ingin ibunya tahu bahwa ia pulang dalam keadaan selamat dan utuh.Bu Hindun sendiri paham dunia anaknya. Seberapa berbahayanya itu. Makanya ia tak perna
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da







