LOGIN“Aku akan membantumu dengan satu syarat, jadilah kekasihku.” Elena hanya bisa tertegun kala mendengar kalimat yang terucap dari Drake, mantan suaminya. Di tengah situasi yang terpojok karena kondisi perusahaan yang memburuk, ia harus mendengar ide gila dari pria yang selama pernikahan bisnis mereka tak pernah tidur dengannya. Kini saat tahu mantan istrinya terdesak, pria selicik iblis dan setampan malaikat itu mengambil kesempatan untuk mengikat Elena. Apa rencana Drake sebenarnya?Bagaimana kehidupan keduanya setelah ini?
View MoreLeilani
I owed my life to Phoenix Baxter.
Not in one of those metaphorical ways, either. Some people said they owed their life to someone when that person just did something nice for them.
No, not in this case. Phoenix Baxter saved my life in a very real way. Without him, I'd be dead, sure as anything in this world.
I was just a little girl when I first met him. Phoenix was one of my daddy's friends, one of the tough men who smiled tender at me while they road their loud bikes around the city. Phoenix and my daddy, they went way back. They knew each other as kids and were as close as could be.
Which was why it took Phoenix so long to put a bullet in Daddy's head.
I still remembered that night and always would. I was ten years old. Ever since I could remember, Daddy was a violent man, a drinker. He had a temper and was famous for it. Daddy got in fights all over town, but nobody thought twice about that. If you were a biker, you were practically expected to drink too much and to get in a fight or two.
But Daddy took it all too far; he always did. He started hitting my mom when I was around six or seven. I could still vaguely remember the sounds they'd make, the yelling and the screaming, and eventually the crying as Daddy went too far and beat mom down to a pulp.
It went on like that for a few years, getting worse and worse. At the height of it all, before Phoenix saved me, I'd wake up wondering how long I had before Daddy got drunk enough to smack me around.
Usually, that was before noon.
I'd never forget the night Phoenix came and changed everything. Daddy was getting drunk as usual, but he had some work to do in the backyard, something to do with the shed. I couldn't remember exactly what, but it kept him busy. Kept his hands off Mom and me.
But it also pissed him off. He was working himself into a rage back there, unable to fix whatever needed patching, drinking more and more whisky, getting louder, harder, scarier.
Until around four in the afternoon, when he came inside. Mom said one thing, probably asked if he was hungry or something like that, and he started beating on her.
He didn't stop beating on her. She screamed and tried to get away, but Daddy wouldn't stop. I'd seen him mad, seen him hit and smack, but never like this.
Daddy was out of his mind.
I hid in my bedroom, and eventually Mom stopped making noise.
That was when he came for me with this look in his eyes and blood on his hands. He slipped the belt from his jeans and just looked at me, blood dropping onto the carpet. I couldn't breathe.
I had no clue when Phoenix decided to come over. But Phoenix, he must have heard me screaming as Daddy beat me with his belt over and over, leaving deep welts along my back, bloody scars I carried to this day.
I didn't know what he thought when he found Mom's body beaten to death in the kitchen. I didn't know how fast he got upstairs.
But I remembered the door getting kicked open.
"Frank," Phoenix said, "what did you do?"
Phoenix held a gun leveled at Daddy's head. I could barely understand what was happening.
"Mind yourself, Phoenix," he snapped.
"Drop the belt, Frank. Come with me."
"Fuck you." He hit me again.
"Don't hit the girl again," Phoenix said, cold as he could be.
Daddy just laughed and laughed. "Stop me." He hit me again and again.
And Phoenix put a bullet into his skull.
One second Daddy was hitting me, and the next there was a loud roar in the room and Daddy collapsed onto the floor, red spilling from his face.
Phoenix swooped me up in his arms.
"It's okay," he said. "It's okay, Leilani. I got you."
He carried me outside, put me on the back of his bike, and took me far away.
I never went home after that. There was talk of finding me a foster home, but Phoenix decided to raise me himself. I never understood why a single man running one of the most violent motorcycle gangs in the country wanted a little daughter for his own, but Phoenix took me in and kept me safe.
He gave me a life, gave me a home. In return, I gave him and the Sandcastles Motorcycle Club my full and unwavering loyalty.
I grew up in the club. I was Phoenix's little girl, though most guys knew the real story. As far as they were concerned though, I was off-limits. I wasn't just another club whore, although sometimes I tried to pretend like I was.
Because maybe it was safer that way, if I was just another normal girl.
Living with the Sandcastles MC taught me one important lesson, though: Nothing was safe, not ever, and you better learn to take care of yourself.
Drake menatap layar datar di seberang meja kerjanya. Sore itu sidang putusan yang akan membacakan vonis untuk Alfred dan Paman Smith, serta Alexa akan dibacakan. Momen yang paling ditunggu oleh Drake dan Elena. Will duduk di sofa tamu, tak jauh dari meja Drake, juga turun memperhatikan jalannya sidang di layar kaca. Menit demi menit hingga jam berlalu. Alexa dan Paman Smith telah menyelesaikan sidang lebih dulu dibandingkan Alfred. Karena Alexa yang membuka semua pintu di kasus ini, layaknya whistle blower, ia divonis 5 tahun penjara atas tuduhan intimidasi, ancaman dan membantu Alfred dalam menjual nark*ba. Sedangkan Paman Smith dijatuhi hukuman seumur hidup atas percobaan pembunuhan. Sampai pada saat sebelum putusan dibacakan. Hakim memberikan kesempatan pada Alfred untuk bersuara. Dalam pembelaannya, Alfred menyangkal semua bukti dan tuduhan yang selama ini diajukan pihak lawan. Usai menyampaikan suaranya, hakim membacakan vonis. Dalam sidang putusan hari in
Usai melaksanakan tugas dari Drake hari itu, Carl bergegas memasuki mobilnya. Dalam perjalanan, ia menelepon Kate. “Halo, kau ke mana saja?” “Kate, aku sedang dalam perjalanan pulang. Apa Steven dan Dean masih di sana?” “Tentu saja. Kami sedang bermain kartu.” “Apa kalian minum?” “Sedikit wine. Dean, jangan coba-coba curang ya.” Suara Kate terlihat memarahi Dean, rekan setim Carl yang bertugas menjaga keluarga Drake Graysen. Hari ini mereka bertugas menjaga Kate karena Carl sibuk di luar seharian. “Sial! Jangan minum dengan mereka.” “Carl, kau mengumpat padaku?” “Tidak, Kate. Aku mengumpat pada Steven dan Dean. Aku akan segera sampai.” Carl buru-buru menutup panggilannya, ia menambah kecepatan mobilnya. *** “Kami hanya bosan dan bermain kartu terlihat seru.” Kate memberi penjelasan seraya menuangkan jus apel ke sebuah gelas. Pria di depannya itu diam tak bergeming. Hanya menatapnya dengan tajam. “Ini, minumlah.” Carl dan Kate duduk di ruang makan. Pria itu meneguk seg
“Aku tak mengerti mengapa kau menanggapi pendekatan Alfred padahal kau tahu jelas motif di baliknya.”“Karena dia yakin bisa memanfaatkanku untuk menjatuhkan Elena, aku ingin melakukan hal yang sama dan membalikkan situasinya. Aku yakin bila dekat dengan Alfred, aku bisa membantu Elena dengan caraku.”“Apa Nyonya Elena saat itu tahu rencanamu?”“Elena tahu, tentu saja ia tak setuju. Katanya seolah menjadikanku umpan atau martir.”“Perkataannya benar.”“Carl, waktu itu aku hanya ingin membantu.”“Kau pasti bersikeras menjalankan rencanamu, kan? Meski Nyonya Elena tak setuju?”“Ya. Jadi, aku mencoba bersabar di dekat. Semuanya tampak berjalan sesuai rencana dan aku bisa tahu lebih awal rencana Alfred terhadap Elena. Sampai pria kasar itu .... Ya, akhirnya aku memilih pergi dan tak melanjutkan rencana konyol itu.”“Kenapa berhenti?”“Apa?”“Kate, kau mendadak memutuskan menghentikan rencanamu. Kalimatmu berhenti usai mengatakan ‘sampai pria kasar itu .... Apa yang dilakukannya
“Katakan padaku detailnya, Will. Apa yang terjadi?”“Nona Alexa mengaku mendapatkan intimidasi di lingkungan penjara.”“Dari siapa? Sipir?”“Tidak hanya dari sipir, sesama narapidana juga.” Drake mengerutkan keningnya, ia tak menduga kehidupan Alexa yang ingin mengutarakan kebenaran di depan pengadilan, harus dibayar sepahit itu. Kehidupan di penjara bukanlah hal yang mudah, bagai hukum rimba. Jika tidak dibantu, Alexa, yang merupakan satu-satunya kunci mengungkap keburukan Alfred dan ayahnya, bisa celaka. Tentu ini buruk untuknya dan Elena. “Tempatkan orang-orang kita untuk membantu Alexa bertahan. Bagaimana pun caranya, kita harus menjaganya tetap hidup, karena Alexa adalah saksi kunci.”“Ya, kami akan menempatkan orang-orang kita di antara sipir, narapidana dan ada seorang dokter yang cukup bisa dipercaya.”“Dokter? Siapa?”“Kakaknya Carl. Sudah empat tahun ini bekerja di penjara tempat Alexa ditahan.”“Oh, ya? Apa Carl yakin kalau kakaknya bisa dipercaya untuk tuga
Tatapan sendu Drake terlihat jelas. Istrinya itu kini tampak rapuh di matanya. Sesekali menghela napas panjang, mengingat setiap momen Elena membantunya mandi, berganti pakaian dan makan. Terkadang ia juga membantu mengetikkan pekerjaan kantornya saat bahunya mulai sakit. Ia ingin merutuki d
Kate langsung menekan tombol panggil pada kontak dengan nama Carl. Tangannya gemetaran saat mengangkat ponsel ke telinganya.“Halo, Kate, aku sedang di depan rumahmu.”“Jadi, itu kau? Yang berdiri di depan pintuku sekarang?”“Iya, buka pintunya.”Kate langsung bernapas lega sebelum membuka pintunya. Beg
“Ya Tuhan, ini sudah pukul tujuh. Drake, cepat bangun, kita bisa terlambat.”Bukannya menuruti perintah istrinya untuk segera bangun, Drake justru mengeratkan pelukannya. Membuat Elena semakin kesal.“Tidak bisakah kita libur saja hari ini?”“Kita sudah libur sepuluh hari, sayang. Ayo, bangun! Tidak bo
Bulan madu Drake dan Elena ke Asia selama 10 hari. Tepatnya ke Pulau Lombok dan Raja Ampat di Indonesia. Atas saran dari Elena yang sejak dulu ingin berlibur di wilayah tropis. Wanita itu begitu senang, karena Drake tak mengungkungnya di kamar hotel terus. Karena banyaknya hal gang ingin mereka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews