Share

Caleb Dan Maxi

Author: Shinee
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-03 11:29:31

"Bagaimana harimu, Sayang?"

Ibu dan anak itu sedang berjalan menuju kamar sambil bergandeng tangan.

Maxi mengangkat kedua bahunya dengan gaya sok dewasa. "Robby selalu cari gara-gara."

Aurelia langsung terlihat cemas. Bocah bernama Robby itu sudah lama mengusik Maxi. Bahkan Aurelia sempat beradu mulut dengan ibu bocah itu.

"Tapi jangan khawatir," Maxi tersenyum hangat. "Aku bisa menghadapinya," ia menekan dadanya seperti pria dewasa.

Aurelia terkekeh. "Aku tahu kau memang hebat dan selalu bis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Tidak Ada Yang Memberimu Izin Masuk

    ​"Aku tidak ingat. Aku sudah melupakannya."​Caleb mencengkeram setir kemudi mendengar jawaban acuh tak acuh yang dilontarkan Aurelia. Ia tidak menyukai jawaban itu. Lupa? Yang benar saja. Setelah mengetahui fakta itu, Caleb bahkan tidak pernah melupakannya sedetik pun. Ingatan itu menyiksanya. Sekuat tenaga ia mengenyahkan pikiran itu dan menyibukkan diri dengan hal lain, tapi tetap saja ingatan tentang Aurelia tidak membiarkannya hidup tenang. Dan sialnya, ia juga tidak ingat bagaimana ia malam itu. Apakah ia kasar?​"Dan mengenai Mora, sepertinya dia tertarik padamu."​Bodoh! Pembahasan apa lagi ini, Aurelia! Aurelia merutuki dirinya sendiri. Mengalihkan pembicaraan dengan cara tidak benar, huh!​"Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan? Atau kau memang penasaran dengan kisah asmaraku?"​"Lupakan tentang itu kalau begitu."​"Apa kau mengenalnya?"​Aurelia menganggukkan kepala. "Ya, dia terlihat mirip dengan sepupu Nathaneil. Aku memang hanya melihatnya sekilas, tapi mereka terliha

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Malam Itu, Apa Aku Menyakitimu?

    Apa ada hal lain yang ingin kau beli?" Caleb menoleh ke arah Aurelia sekilas sebelum memasang sabuk pengamannya. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.​"Tidak. Sebaiknya kita pulang. Aku khawatir Maxi menyulitkan nenekmu."​Caleb mengangguk patuh lalu mulai menjalankan mobilnya. Seperti biasa, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Bosan dengan suasana hening itu, Aurelia membuka tasnya, berniat mengambil ponsel.​"Aku tidak suka diabaikan."​Sontak Aurelia menoleh ke arah Caleb yang bersuara dengan wajah datar sambil tetap fokus memperhatikan jalan.​"Siapa yang mengabaikanmu?" Aurelia mengernyitkan dahi.​"Kau berniat mengambil ponselmu," tuding Caleb tepat sasaran.​"Ya, aku bosan."​Caleb meliriknya sepintas. "Jika bosan, kau tinggal mengajakku berbicara, bukan mengambil ponsel lalu asyik sendiri dengan benda itu. Kau pikir aku sopirmu?"​Aurelia memutar bola mata jengah. Semakin ia perhatikan, Caleb semakin cerewet. Lagi dan lagi ia mempertanyakan dirinya sen

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Tidak Peduli

    "Resleting ini akan tersangkut di kulitmu."​Bisikan dingin Caleb tepat di tengkuknya membuat Aurelia membeku seketika. Pria itu mendadak muncul di belakangnya tanpa suara, merebut ujung resleting gaun malam berwarna merah marun yang sedang diusahakan Aurelia sejak tadi.​Jemari hangat Caleb bergerak naik perlahan, merapatkan kain gaun itu. Tanpa sengaja, ujung jarinya yang kasar menyapu permukaan kulit punggung mulus Aurelia.​Aurelia tersentak pelan, refleks memajukan tubuhnya. "Aku bisa sendiri."​"Mulailah terbiasa dengan sentuhan-sentuhan kecil ini, Aurelia," kata Caleb datar. Jemarinya tuntas mengaitkan kancing paling atas di tengkuk wanita itu. "Kita sudah menikah."​Begitu gaunnya terkancing sempurna, Aurelia langsung berbalik dan mengambil langkah lebar memutar. Ia melangkah tergesa menuju pintu keluar kamar, menyembunyikan pipinya yang mendadak terasa panas terbakar. "Sebaiknya kita turun sekarang. Maxi pasti bosan menunggu terlalu lama."​Aurelia menyusuri anak tangga menu

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kencan

    "Astaga..." Aurelia hampir memekik saat menemukan dirinya memang menjadikan Caleb bantal hidup.Dengan penuh hati-hati, dia menarik diri dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya.Tatapannya terhenti di wajah Caleb saat ia hendak meletakkan batas di antara mereka.Aurelia menelan ludah. Wajah Caleb masih setampan dulu. Tangannya terulur, namun berhenti di udara. Ia tersenyum getir. 'Bagaimana bisa setelah hitungan tahun, jantungku tetapa berdebar seperti ini?'Aurelia menggeleng kuat. 'Kenapa aku sangat konsisten menyukainya.'Aurelia terus menatap wajah tenang Caleb selama beberapa saat. Akhirnya ia tidak tahan, ia menyentuh lembut hidung mancung itu dan buru-buru menarik tangannya."Kau tidak tahu apa yang kurasakan," gumam Aurelia, lalu ia segera berbaring setelah menjauhkan diri seaman mungkin menurut versinya.Keesokan paginya, ia terlambat bangun. Aroma wangi yang manis mengganggunya. Perlahan ia membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah Caleb yang memandanginya

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pelukan Sebentar

    "Nenek tidak usah sampai merusak kesehatan Nenek hanya demi masalah ini."​Maya mengusap lembut jemari kaku Nenek Moren. Raut wajahnya dipasang seanggun mungkin, memancarkan rasa iba dan kepedulian yang dibuat-buat.​Nenek Moren menepuk dada dengan telapak tangannya yang gemetar. Napasnya memburu keras. "Hamilton selalu saja berhasil dikelabui oleh dua wanita kakak beradik itu!"​"Nenek, tenanglah dulu," bisik Maya halus.​"Bagaimana aku bisa tenang?" potong Moren dengan nada sarat kebencian. "Kenapa dulu orang tua Caleb mengizinkan anak itu bergaul dengan keluarga rendahan seperti mereka? Lihat sekarang, Caleb benar-benar kena sihir mereka!"​Moren berpaling, menatap Maya dengan binar mata yang melunak. Tangan tuanya terulur mengusap punggung tangan Maya pelan.​"Kau wanita yang sangat sabar, Maya," gumam Moren, suaranya melemah. "Wanita terpelajar dan berkelas sepertimu yang sebenarnya dibutuhkan keluarga Hamilton."​Maya menundukkan kepala, memamerkan senyum tipis yang sengaja dibu

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Aku Suamimu

    "Kau jadi murah senyum.""Sejak kapan kau peduli pada siapa aku tersenyum?"​Aurelia memutar tubuhnya, melepaskan cengkeraman tangan Caleb begitu pintu mobil mewah itu tertutup rapat. Pria itu baru saja mengunci seluruh sistem pintu dari kursi pengemudi.​Tatapan Caleb lurus menembus kaca depan, sebelum perlahan berbalik menatap Aurelia. "Aku peduli ketika pria itu menatap istriku seolah kau masih lajang."​Aurelia tertawa hambar. "Astaga, ayolah Caleb, jangan katakan bahwa kau menganggap serius pernikahan ini."​"Nathaneil Reid menyimpan rasa padamu sejak lama," potong Caleb dingin. "Jangan pura-pura tidak tahu."​"Dia menghargaiku!" balas Aurelia tajam. "Dia tidak mendatangi tempat kerjaku dan mengatakan hal konyol tentang hak asuh di depan wajahku seperti yang dilakukan tunanganmu!"​Suasana di dalam mobil mendadak hening. Caleb menoleh penuh. Dahinya berkerut dalam. "Apa maksudmu?"​Aurelia memalingkan wajahnya. "Tanyakan saja pada Maya. Dia datang ke kantorku pagi ini. Dia bilan

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Pria Itu Caleb

    Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Selamat Tinggal

    Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Berulah, Aureli

    Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Bip Panjang

    “Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status