로그인"Aku tidak melihat alasan kenapa Aurelia harus menerima dana dari luar saat Hamilton Group punya divisi investasi sendiri." Caleb menatap Nathaeil dengan penuh intimidasi."Tapi aset dan keputusan bisnis Reid Corp jauh lebih fleksibel tanpa campur tangan keluarga besarmu, Caleb," sahut Nathaneil tenang, membalas tatapan mengintimidasi itu tanpa gentar sedikit pun. "Aurelia butuh kebebasan karya, bukan?"Aurelia bangkit dari kursinya dengan wajah memerah tahan amarah. Ia tidak bisa mentolerir cara kedua pria ini berdebat seolah dirinya adalah objek perlombaan."Cukup!" pangkas Aurelia keras, menepis pelan tangan Caleb di kursinya. "Ini studioku, dan ini urusan bisnisku! Jangan bertindak seolah kalian berhak menentukan apa yang terbaik untukku!"Caleb berbalik menatap Aurelia. Datar, tanpa ekspresi, namun urat di lehernya menegang. "Kau mau menerima tawaran dari pria yang secara terbuka mengincar posisi di sampingmu?""Aku menerima kesempatan untuk berdiri di atas kakiku sendiri!"
Aurelia tiba di studio. Melihat kedatangannya, Nathaneil menyambutnya dengan senyum ramah."Aku tidak tahu sepupumu Mora bekerja dengan Caleb."Kening Nathaneil sejenak berkerut untuk mencerna ucapan tersebut."Mora.""Oh." Barulah Nathaneil paham. "Aku tidak tahu. Dia menyulitkanmu."Aurelia menghempaskan tubuhnya di kursi. "Tidak. Aku hanya merasa dunia ini sempit. Keduanya terlihat berteman baik.""Kau cemburu," goda Nathaneil, seraya menarik kursi di depan Aurelia. Aurelia berdecak, lalu menghembuskan napas panjang seraya memendarkan pandangan ke studio miliknya. Mimpi dan harapannya."Ada apa? Caramu bernapas seolah beban dunia ada di pundakmu."Aurelia menggigit bibirnya. Ia butuh teman cerita. Tapi Nathaneil bukan orangnya, meski ia tahu pria di hadapanny ini sangat baik dan bijak."Kau tidak bekerja?" Lihat, Nathaneil peka sekali bukan? Melihat Aurelia tidak nyaman dengan pertanyaannya, dia segera mengalihkan topik."Aku mengambil cuti," gumamnya. Tepatnya, Caleb lah yang men
"Jangan mengusir mereka hanya agar kau terlihat seperti pahlawan di mataku, Caleb."Aurelia menepis pelan jemari Caleb yang berada di tengkuknya. Suasana kamar yang semula temaram dan hangat mendadak membeku. Ia melangkah mundur dua pijakan, sengaja menciptakan jarak fisik di antara mereka.Caleb menatapnya tenang. Tidak ada riak amarah di wajah tegas itu. "Aku tidak sedang berakting menjadi pahlawan, Aurelia. Ini soal keamanan tempat tinggal kita.""Mereka keluargamu," cetus Aurelia tajam."Dan kau istriku. Maxi anakku," balas Caleb dingin dan mutlak. "Nenek baru saja mengatakan pada Maxi bahwa jika kita berpisah, dia harus ikut ke mansion utama agar jadi anak yang hebat. Menurutmu aku harus membiarkan racun seperti itu bergulir setiap hari?"Aurelia terperanjat. Kata-kata itu menghantam dadanya kencang. Rasa protektifnya sebagai seorang ibu seketika terbakar. Nalurinya membenci kenyataan bahwa putranya mulai disusupi intrik dewasa."Dia baru tujuh tahun," bisik Aurelia, suaran
"Kenapa dia harus meminta izin segala." Nenek Moren pasang badan. Ya, tentu saja, mengingat Maya adalah cucu menantu keinginannya."Dia datang untuk menemaniku," tambah wanita tua itu. "Apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan Maxi bahwa dia senang dengan Maya."Caleb mendesah malas. Berdebat dengan orang tua memang butuh kesabaran ekstra. Dilawan durhaka, diabaikan jadi masalah."Lagi pula apa kau lupa jika Hamilton dan Sterling itu sudah menjalin hubungan sejak lama. Maya adalah keluarga kita.""Bagi Hamilton dia mungkin bukan orang lain. Tapi di rumah ini, dia tetap orang asing. Dan aku tidak ingin mengorbankan kenyamanan rumah ini hanya karena orang asing," ucap Caleb tegas.Aurelia yang mendengar hal itu hanya diam, tapi ia cukup tersanjung dengan cara pria itu membelanya."Ucapanmu bisa membuat Maya tersinggung, Caleb," Nenek Morem memberi peringatan dengan sengit. Tatapan dinginnya tertuju pada Aurelia, menganggap jika ini adalah kesalahannya."Nenek..." Maya angkat bicara. T
"Aku tidak ingat. Aku sudah melupakannya."Caleb mencengkeram setir kemudi mendengar jawaban acuh tak acuh yang dilontarkan Aurelia. Ia tidak menyukai jawaban itu. Lupa? Yang benar saja. Setelah mengetahui fakta itu, Caleb bahkan tidak pernah melupakannya sedetik pun. Ingatan itu menyiksanya. Sekuat tenaga ia mengenyahkan pikiran itu dan menyibukkan diri dengan hal lain, tapi tetap saja ingatan tentang Aurelia tidak membiarkannya hidup tenang. Dan sialnya, ia juga tidak ingat bagaimana ia malam itu. Apakah ia kasar?"Dan mengenai Mora, sepertinya dia tertarik padamu."Bodoh! Pembahasan apa lagi ini, Aurelia! Aurelia merutuki dirinya sendiri. Mengalihkan pembicaraan dengan cara tidak benar, huh!"Apa kau sedang mengalihkan pembicaraan? Atau kau memang penasaran dengan kisah asmaraku?""Lupakan tentang itu kalau begitu.""Apa kau mengenalnya?"Aurelia menganggukkan kepala. "Ya, dia terlihat mirip dengan sepupu Nathaneil. Aku memang hanya melihatnya sekilas, tapi mereka terliha
Apa ada hal lain yang ingin kau beli?" Caleb menoleh ke arah Aurelia sekilas sebelum memasang sabuk pengamannya. Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil."Tidak. Sebaiknya kita pulang. Aku khawatir Maxi menyulitkan nenekmu."Caleb mengangguk patuh lalu mulai menjalankan mobilnya. Seperti biasa, hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Bosan dengan suasana hening itu, Aurelia membuka tasnya, berniat mengambil ponsel."Aku tidak suka diabaikan."Sontak Aurelia menoleh ke arah Caleb yang bersuara dengan wajah datar sambil tetap fokus memperhatikan jalan."Siapa yang mengabaikanmu?" Aurelia mengernyitkan dahi."Kau berniat mengambil ponselmu," tuding Caleb tepat sasaran."Ya, aku bosan."Caleb meliriknya sepintas. "Jika bosan, kau tinggal mengajakku berbicara, bukan mengambil ponsel lalu asyik sendiri dengan benda itu. Kau pikir aku sopirmu?"Aurelia memutar bola mata jengah. Semakin ia perhatikan, Caleb semakin cerewet. Lagi dan lagi ia mempertanyakan dirinya sen
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.







