تسجيل الدخولAslan Del Piero, pria matang yang sangat sukses jatuh cinta kepada Aiko De Angelo. Gadis yang tidak sederhana karena dia adalah mantan pembunuh bayaran. Demi membuktikan cintanya kepada Gilbert sang kekasih, Aiko rela menyingkirkan Aslan yang menjadi musuh Gilbert. Namun, siapa sangka Aslan lolos dari maut yang membuat Gilbert khawatir diirinya terancam sehingga dia menyiksa bahkan akan membunuh Aiko. Saat semua orang mengira Aiko telah lenyap dari dunia ini, gadis itu muncul dengan wajah dan penampilan baru untuk membalaskan dendamnya. Aiko kembali bertemu dengan Aslan dan sebuah insiden membuat mereka menghabiskan malam panas bersama yang menumbuhkan benih-benih cinta di hati Aiko. Aiko bertekad untuk meluluhkan kembali hati sang bujang lapuk, tidak perduli bahwa pria itu sangat membencinya saat ini. "Sudah ku bilang jika aku membencimu, Aiko!" ucap Aslan tegas kepada Aiko. "Cinta dan benci hanya beda tipis, Aslan. Dulu kau mencintaiku, sekarang membenciku. Aku akan menghadirkan cinta itu lagi di hatimu." Aiko tersenyum manis menatap Aslan penuh cinta.
عرض المزيد---Di atap sebuah gedung apartemen, 200 meter dari apartemen milik Angela, seorang wanita berdiri membelakangi matahari sore. Rambut cokelatnya tergerai tertiup angin, tubuhnya terbungkus jaket kulit hitam. Di telinganya, earphone kecil terpasang, tersambung ke ponsel satelit.“Aku lihat targetnya,” ucapnya dingin. Suaranya datar, tapi matanya berkilat puas. “Dia tampak… rapuh.”Suara berat di ujung sambungan terdengar serak tapi penuh kuasa. “Jangan remehkan dia, Mira. Aiko bukan target biasa. Kau tahu bagaimana sifatku.”Wanita itu—Mira—tersenyum tipis. “Aku tahu. Dia yang selalu jadi favoritmu dulu… dan sekarang dia akan jatuh di tanganku.”“Aku tidak ingin dia mati. Belum. Bawa dia kembali.”Mira menatap langit Paris yang memerah. Jemarinya mengetuk pelatuk pistol yang diselipkan di pinggangnya.“Kalau dia menolak, kau tahu aku tidak sabar untuk mengakhiri hidupnya.”Sambungan terputus.Mira memasukkan ponselnya, lalu menatap ke arah jendela apartemen Angela. Senyum miringnya sem
Angela menarik napas panjang begitu pintu apartemen tertutup di belakangnya. Sepatu haknya ia lepaskan sembarangan, tubuhnya jatuh ke sofa dengan letih. Pertemuan dengan Maharani tadi masih berputar di kepalanya. Gadis itu tulus. Jauh lebih pengertian daripada yang ia duga. Tapi ketulusan itu justru membuat hatinya semakin perih.“Aku harus jujur pada Aslan… secepatnya,” gumamnya pelan.Tangannya secara refleks mengusap perutnya. Pikiran soal kehamilannya membuat dada Angela semakin sesak. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi apakah ini waktu yang tepat?Ia menatap test pack yang masih ia bawa di tas. Dua garis merah itu bagai garis takdir yang tak bisa dihapus. Angela menghela napas dalam, menutup mata sejenak.Bip!Suara notifikasi ponsel membuatnya tersentak. Tapi bukan pesan Aslan. Hanya iklan email. Ia mengabaikannya.Angela berdiri, berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Begitu kembali ke ruang tamu… langkahnya terhenti.Di depan pintu apartemen—tergeletak sebuah ko
Setelah sarapan manis penuh cinta dan janji yang tak terucap, Aslan memandangi Angela yang duduk di sofa dengan rambut setengah berantakan dan wajah polos tanpa riasan.“Sayang…” ucapnya lembut sambil berdiri di depan gadis itu.Angela mengangkat wajah, menatap mata Aslan yang serius.“Kamu istirahat saja hari ini. Tidak usah masuk kerja. Aku sudah kirim pesan ke HRD. Kamu perlu rehat, apalagi setelah semua kejadian kemarin.”Angela terkesiap pelan. “Tapi—”Aslan mengangkat telunjuknya dan menempelkannya ke bibir Angela.“Please. Hari ini cuma buat kamu. Makan yang cukup, tidur siang, nonton drama kesukaan kamu. Biar aku kerja dulu dengan tenang.”Angela menghela napas pasrah, lalu mengangguk pelan. “Oke, Tuan Del Piero.”Aslan tersenyum, mencium keningnya sekilas, lalu pamit dengan mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut. “Sampai sore.”Begitu pintu tertutup dan Angela sendirian… keheningan langsung terasa menggantung. Tapi bukan keheningan yang nyaman.Angela menghela napas.
Malam di Paris masih terasa hangat, tapi udara di dalam apartemen Angela seperti berhenti berputar. Hening. Sunyi. Dan menyesakkan.Aslan berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang bergemerlapan. Sementara Angela duduk di sofa, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, tapi dalam pikirannya ribuan suara berteriak minta dikeluarkan."Aslan..." suaranya pelan, hampir seperti bisikan.Aslan menoleh. "Hm?"Angela menarik napas dalam. “Selama ini... kamu hanya tahu aku adalah Aiko. Gadis yang memalsukan identitas dan mencuri posisi sebagai sekretarismu. Tapi aku belum pernah bilang... siapa aku sebenarnya.”Aslan diam. Tapi seluruh tubuhnya menegang. Matanya mengunci ke arah Angela yang kini menatapnya, tak lagi bersembunyi.“Aku bukan penipu biasa. Aku dulu pembunuh bayaran.”Keheningan runtuh seketika. Seperti kaca yang dibanting di lantai marmer."Aku… dulu bekerja untuk Organisasi Tangan Hitam. Mereka yang melatihku sejak aku berusia 12 tahun. Membuatku jadi senjata. Aku menghi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات