LOGINBertepuk sebelah tangan memang hal yang sangat menyakitkan. Apalagi jika hal itu terjadi dalam pernikahan. Perjodohan yang terjadi, membuat Miranda, seorang istri yang tak di inginkan Barak, berjuang untuk mengejar cinta suaminya. Ia berusaha sekuat dan semampunya. Perih dan sakit yang selalu ia rasakan, akan kah berbuah manis? Akankah lama kelamaan tumbuh cinta diantara mereka?
View MoreMuka Barak terlihat sangat frustasi saat tahu kalau Miranda tak ada dirumah nenek Ida. Kini ia bingung harus kemana lagi mencari sosok Miranda. "Apa mungkin dia merasa sangat tersiksa saat bersamaku? itu makanya, dia pergi egitu saja tanpa pamit padaku," terka Barak, tentang hati Miranda. Sebenarnya, Barak tak begitu peduli pada keadaan dan keberadaan Miranda. Hanya saja, ia begitu mengkhawatirkan kesehatan mama nya, yang akan kembali terganggu saat mengetahui kalau Miranda belum juga ditemukan. Ia hampir putus asa karena usahanya mencari Miranda, semuanya sia-sia. Saat ia duduk teemenung di pesisir pantai, berharap ia akan menemukan Miranda, seperti pertemuan awalnya dengan istrinya itu, ponselnya berdering membuyarkan lamunannya. Rasa malas menghinggapi Barak. Ia hanya sedang ingin sendiri, dan melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Namun seolah ingin diperhatikan, ponselnya terus berdering sampai beberapa kali. "Siapa sih? mengganggu sekali. Apa tak bol
"Apa dia punya riwayat penyakit berat?" "Entahlah! aku tak tahu!" jawab Miller singkat. "Sebaiknya tuan bawa saja nona ini ke rumahku. Biar kita lakukan cek lab. Agar terlihat penyakit apa yang sebenarnya sedang dialami nona ini," " Miranda! namanya Miranda!" tegas Miller. "Ya! siapapun namanya, sebaiknya harus segera ditangani serius. Ini bukanlah penyakit enteng!" imbuh dokter kembali, membuat Miller semakin khawatir. "Ya sudah! kita bawa saja sekarang! tunggu apalagi!" tegas Miller, yang kemudian dengan kedua tangannya, ia menggendong tubuh Miranda, dan memasukannya ke dalam mobil mewahnya. "Bawa semua keperluan yang akan di butuhkan Miranda!" perintah Miller pada Mia perawat khusus Miranda. Tak ingin kena marah Tuannya, Mia dengan cepat mempersiapkan semua kebutuhan Miranda. Dari mulai pakaian, pakaian dalam, dan apapun itu, sampai hal terkecil sekalipun, Mia menyiapkannya dengan sangat teliti. "Enaknya jadi perempuan ini. Kenapa tuan bisa jatuh cinta pad
Miranda mengerjapkan matanya sampai beberapa kali. Kepalanya terasa sangat pusing. Ia memijat keningnya menggunakan beberapa jarinya. "Aakhh.. bisa nya aku sampai pusing begini? ini kenapa ya?!" Miranda bertanya pada dirinya sendiri, sambil bangun dari tidurnya, dan bersandar di ranjangnya. Matanya terasa pegal saat harus berhadapan dengan tajamnya sinar matahari. "Apa mau aku pijatkan kepala nona?" "Aah tidak terimakasih!" jawab Miranda. Namun tiba- tiba ia sadar. "Siapa yang menawarkan pijatan padaku?" perlahan, Miran memaksakan matanya untuk terbuka. Dan_ alangkah terkejut ia, saat melihat sosok wanita cantik, masih muda, berseragam suster, berdiri dengan anggunnya didepannya. "Siapa kamu!" Miranda mundur dari tempat awal duduknya. "Tenang nyonya! saya pelayanmu!" jawabnya lembut, sambil membungkukan badannya, begitulah cara pelayan itu menghormati Miranda. "Aah tidak! sebentar! aku tak punya pelayan! katakan siapa kau sebenarnya? mama! dimana mama Anita dan Barak
"Dimana perempuan itu? Kenapa dia selalu saja membuat aku susah! Bukankah tadi aku melihatnya disini?" gumam Barak, sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia duduk sejenak, mencoba mengingat Miranda. Sebuah tangan tiba-tiba mendarat di bahu Barak. Tangan halus yang dulu selalu bisa membuatnya tenang. "Barak! kamu ngapain disini? Tadi kamu ninggalin aku, eh tahunya kamu disini sendirian juga. Sebenarnya kamu kenapa sih?" tanya Tiara, mantan kekasih Barak, yang kini kembali ke kehidupannya. "Aku sedang mencari seseorang," "Siapa?" Barak hanya menatap Tiara. Ia belum bisa berterus terang, kalau sebenarnya Barak sudah menikah. "Kenapa tak menjawab? kau sedang mencari siapa?" tanya Tiara kembali mengulang pertanyaannya. "Dia sedang mencari istrinya!!" suara mama terdengar dari belakang. Mama yang seharusnya berbahagia di acara ulang tahunnya ,kini malah sebaliknya. Dia dibuat stres oleh perempuan yang berstatuskan istriku," batin Barak. "Barak, bukankah mama menyuruhmu untu
"Apa? sekali lagi aku mau kau mengulang perkataanmu barusan. Kau bilang dia istrimu? Hahahaha!!" seketika tawa Miller meledak dengan kuat. Kedua tangannya bertepuk tangan, seolah menertawai perkataan Barak. "Kau menganggapnya sebagai istrimu. Tapi kau tak bisa menghargainya?" Miller semakin mendeka
"Jangan ke ge-er an kamu ya Miranda! Aku menggandengmu, bukan berarti aku peduli padamu. Ini hanyalah sandiwara, agar mama bisa senang melihat kita rukun!" bisik Barak, sambil berjalan, dan masih menggandeng tangan Miranda. "Dalam keadaan seperti ini pun, kamu masih tak mau membuat hatiku senang m
Saat mereka berdua sedang bersitegang, tiba-tiba nenek mengetuk pintu dari kamar. Belum sempat terucap maaf dari mulut Barak, nenek sudah menggagalkan niat Barak. "Miranda! Ada tamu yang mau bertemu denganmu!" ujar nenek dibalik pintu kamar. Seketika Miranda dan Barak terdiam, mendengarkan nenek
"Saya terima nikah dan kawinnya Miranda binti Bapak Nano,dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!!" "Bagaimana para saksi? sah?" tanya Bapak penghulu, pada saksi akad yang duduk didepan. "Sah!" jawab semua serentak. "Alhamdulillah!" jawab semuanya. Dan kini, Miranda dan Barak sudah sah menjad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.