ANMELDENBrian sampai berkeringat dingin karena panik, tetapi dia nggak berani memaksa cincin itu masuk.Dia hanya terus mengulang kata-katanya dengan gugup dan terbata-bata. "Bukan gitu, Zhiu. Tanganku aja yang licin. Biar aku atur lagi, sebentar lagi pasti bisa masuk!""Tunggu, ya!"Begitu kata-katanya selesai, aku langsung menarik tanganku menjauh.Cincin yang basah oleh keringatku jatuh ke lantai, berdenting nyaring."Aku udah nunggu sembilan tahun, Brian.""Dari masa kuliah, aku udah suka sama kamu dan nungguin kamu. Nunggu sampai lulus, sampai pasangan-pasangan yang seangkatan dengan kita udah pada nikah dan punya anak, aku masih aja nunggu.""Kamu tahu nggak sih aku nunggu apa?"Belum sempat dia buka suara, aku buru-buru memotong dengan dingin."Aku nunggu kamu nengok ke belakang dan lihat aku, cuma lihat aku doang.""Bukan bawa-bawa Marisa, terus membandingkan dia sama aku, sampai ngejatuhin harga diriku habis-habisan.""Aku juga nunggu kapan kamu sadar sama perubahanku, sadar kalau ak
Mengabaikan Marisa yang menangis meraung-raung, Brian menghapus habis semua jejak wanita itu dari rumah.Dia mengusir Marisa beserta semua barang bawaannya keluar pintu.Bahkan sidik jari di kunci pintu pun tak luput dihapus. Saat menghapus sidik jari itu, Brian kembali mendengar suara sambutan pintu khusus itu.Dulu, saat merekam sidik jari Marisa, dia hanya ingin memudahkan sahabat Zhiu itu datang berkunjung.Siapa sangka, tanpa disadarinya, Marisa ternyata menyimpan niat terselubung. Dia tak berani membayangkan betapa pahitnya perasaan Zhiu jika wanita itu juga mendengar suara tersebut.Bagaimanapun, untuk Zhiu, Brian cuma menyediakan satu anak kunci.Sementara untuk Marisa, Brian sampai repot-repot merekam sidik jarinya.Penyesalan yang menyakitkan merayap di hatinya, membuat nada suaranya saat memperingatkan Marisa terdengar jauh lebih kejam."Dulu aku bersikap lunak cuma karena kamu sahabatnya Zhiu. Aku nggak pernah curiga, makanya kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu.""Tapi
Brian menginjak pedal gas seperti orang gila, memacu mobilnya pulang dengan kecepatan tinggi.Dia ingin membereskan barang-barangnya, lalu buru-buru memesan tiket pesawat untuk mencari Zhiu.Dia tak mengharap Zhiu memaafkannya, dia hanya ingin menjelaskan semuanya.Setidaknya, dia ingin Zhiu mengerti bahwa di dalam hatinya, hanya ada Zhiu seorang.Dia hanya mencintai Zhiu!Namun, begitu memasuki kamar tidur, dia sampai terperanjat dan mundur selangkah melihat kondisi kamar itu.Kamar utama yang tadinya kosong melompong kini penuh sesak, dipenuhi jejak-jejak wanita lain.Sepatu hak tinggi Marisa, tas-tasnya, perlengkapan makeup-nya, tersusun rapi di berbagai sudut ruangan.Seolah-olah kamar ini memang miliknya sejak awal.Di atas ranjang kamar utama, ada gundukan selimut yang membentuk lekukan tubuh. Itu Marisa."Brian, kamu udah pulang? Gimana, udah selesai ngurus surat nikah sama Zhiu?"Dia berbaring di atas ranjang, di posisi yang seharusnya milik Zhiu, dengan nada riang dan manja.N
Mendengar itu, Brian langsung berseru tak percaya, "Nggak mungkin!" "Kita udah janji mau ngurus surat nikah hari ini, mana mungkin Zhiu pergi penugasan luar negeri? Lagian, masa iya langsung pergi lima tahun!" "Kamu bohongin aku, ya? Zhiu ada di samping kamu, 'kan?""Tolong bilang ke Zhiu, kalau dalam sejam dia nggak muncul juga, pernikahan kita batal!"Mendengar suara Brian yang makin mengamuk, rekan kerjanya terdiam sejenak, lalu akhirnya tak tahan dan bertanya."Kamu benaran udah janjian sama Zhiu?"Brian tertegun. "Maksudnya apa?"Rekan kerjanya menarik napas panjang, seolah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya sekaligus."Aku tanya, kamu udah diskusi sama Zhiu belum?""Atau jangan-jangan dari awal sampai akhir, rencana ini cuma keinginan sepihakmu dan si Marisa yang sok polos itu?""Kamu pernah nanya nggak, Zhiu ada waktu atau nggak, terus dia mau nggak diajak ngurus nikah sama kamu?"Raut wajah Brian sedikit berubah, tetapi dia masih bersikeras membela d
Pada akhirnya, ambulans yang dijanjikannya tak pernah datang. Sebelum kehilangan kesadaran, aku masih berharap, setidaknya demi memaksaku meminta maaf pada Marisa, Brian pasti punya sedikit belas kasihan untuk memanggilkan ambulans.Namun, dia tidak melakukannya.Saat terbangun di tengah malam, aku masih tergeletak di lantai yang sama, dengan noda darah yang telah mengering.Dengan susah payah, aku bangkit dan naik taksi ke rumah sakit sendirian.Sambil merawat lukaku, dokter UGD itu menghela napas prihatin."Kamu ini padahal sudah dewasa. Udah waktunya cari pacar. Soalnya kalau tengah malam sakit atau luka begini, cuma bisa nanggung sendiri, 'kan?""Kamu tahu nggak, tadi malam ada perempuan yang mengalami nyeri haid. Pacarnya sampai menggendongnya ala putri ke meja operasi, lalu terang-terangan mengancam karier kami!"Aku hanya tersenyum getir tanpa berkata apa-apa. Dia tidak tahu bahwa aku sebenarnya punya pacar, bahkan hampir menikah. Hanya saja, tunanganku tengah malam meninggal
Sesampainya di rumah, aku membuka koper di samping tempat tidur dan mulai mengemasi barang-barang.Kami baru sebulan menempati rumah ini, jadi barang-barangku belum banyak.Setelah membuang kotak cincin yang kusimpan selama sembilan tahun ke tempat sampah, semuanya terasa makin kosong.Baru saja aku menutup koper, terdengar suara elektronik dari pintu."Minggir semua! Nona Besar Marisa mau lewat!"Udara laut yang lembap dan asin menerobos masuk. Aku menatap tak percaya saat Marisa melenggang masuk."Zhiu, kok kamu pulang lebih awal nggak bilang-bilang sih? Aku sama Brian nungguin kamu lama banget di pantai!"Mengabaikan tatapan merengut manjanya, pandanganku malah tertuju pada pintu. "Gimana kamu bisa masuk?""Brian udah ngerekam sidik jariku sejak hari pertama. Dengar, suara pembuka pintu khusus buatku keren, 'kan!"Aku mengangguk, merasakan getir dan pahit di lidah. Sudah sebulan menempati rumah ini, Brian hanya memberiku satu kunci.Kalau lupa bawa kunci, aku hanya bisa menunggu B







