Teilen

Bab 2

Guntur
Makan bersama berakhir dalam suasana hening. Tak seorang pun membahas kejadian tadi lagi.

Saat kami keluar dari restoran, langit sudah mulai gelap.

Kantor Catatan Sipil sudah tutup.

Brian mengerutkan kening dan melirik jam tangannya. Nada bicaranya terdengar ketus.

"Lain kali kalau mau ngambek, lihat situasi dong. Kita sengaja ambil cuti buat nemenin kamu, bukan buat nonton kamu ngambek nggak jelas."

"Kalau kamu bisa ngerti keadaan kayak Marisa, kita nggak bakal gagal ngurusin hal penting hari ini."

Kekurangan ke-197, tidak mengerti keadaan.

Aku mencatatnya dalam hati, tetapi tenggorokanku terasa tercekat hingga tak sanggup bersuara.

Hari ini memang hari libur mereka, bukan liburku.

Lagi pula, siapa yang peduli kalau aku juga harus lembur semalaman cuma buat bisa dapat jatah cuti hari ini?

Brian merasa Marisa lebih pandai mengatur segala sesuatunya dengan matang.

Karena itu, dia tak pernah menanyakan pendapatku saat memilih tanggal.

Sama seperti rencana perjalanan untuk merayakan hari jadi hubungan kami yang sudah lama kunantikan.

Aku menunggunya di bandara selama delapan jam dan meneleponnya sampai 108 kali.

Sampai malam tiba, barulah dia membalas dengan santai, "Marisa bilang dua hari lalu lebih cocok buat liburan. jadi, kami udah berangkat dua hari lalu. Hari ini lagi ngilangin jet lag."

"Kamu sendiri yang nggak sempet, terus nyalahin siapa?"

Dua hari lalu, aku masih sibuk memilih hadiah anniversary, sepasang cincin pasangan yang ingin kuberikan sebagai kejutan saat liburan.

Dia bertanya apakah aku punya waktu luang. Aku bilang sedang sibuk.

Dia hanya membalas: [Oke.]

Ternyata dia malah langsung pergi merayakan hari jadi kami bersama sahabatku sendiri.

Dia sama sekali tidak memberitahuku.

Aku bahkan sempat berpikir untuk menyimpan cincin itu dan memberikannya pada hari jadi kami berikutnya, supaya dia menyesal telah melewatkan sesuatu yang berharga.

Namun sekarang sudah tahun kesembilan, dan tidak sekali pun dia merayakan anniversary bersamaku.

Kotak cincin itu kini masih tergeletak di dalam koperku, bagaikan sebuah makam yang sunyi.

Marisa meninju lengannya pelan dengan santai. "Jangan galak sama Zhiu. Cuma ngurus surat nikah, 'kan? Lain kali juga masih bisa."

Brian mengelus kepala Marisa dengan penuh kasih.

"Tapi, belum tentu kamu mau pergi lagi nanti. Aku 'kan udah hafal kelakuanmu, maunya ngikutin mood aja."

"Gimana kalau sekarang aku mau ke pantai?"

"Ya udah, terserah kamu."

Mereka langsung sepakat memilih tujuan berikutnya cuma dengan obrolan santai.

Sosok mereka yang berjalan berdampingan menuju pantai di bawah cahaya senja terasa begitu menyakitkan hingga aku tak sanggup menatapnya.

Aku sangat ingin bertanya pada Brian, kenapa untuk mengurus surat nikah kami saja dia harus bertanya dulu apakah Marisa mau ikut atau tidak.

Namun, aku urung bertanya.

Seolah aku sudah tahu jawaban yang akan dia berikan.

Mungkin kekurangan ke-198-ku adalah sifat cemburuan.

Aku tersenyum kecut, lalu membuka ruang obrolan bosku.

[Pak Heri, saya menerima tawaran promosi dengan penugasan selama lima tahun yang Bapak sebutkan sebelumnya.]

Dia membalas: [Ok. Besok jam dua siang, kita ketemu di bandara.]

Kuarahkan pandanganku dari layar ponsel, melihat dua sosok di kejauhan sedang saling bersandar.

Posisi yang semula menjadi milikku kini sepenuhnya ditempati Marisa. Mereka begitu mesra, seolah memang sudah seharusnya begitu.

Saat aku masih terpaku, Brian tiba-tiba berhenti, berbalik, lalu melambaikan tangan ke arahku.

"Zhiu, sini!"

Tanpa sadar aku menarik napas, hendak berteriak menyuruh mereka agar tidak perlu menungguku.

Detik berikutnya, kulihat mereka sudah membalikkan badan, bahu mereka kembali bersandar satu sama lain.

Rasanya seluruh udara di dadaku terkuras seperti bola yang tertusuk.

Aku berkedip, enggan berlama-lama di sana.

Aku pun melangkah pergi ke arah yang berlawanan.

Selama sembilan tahun, aku menjadi burung bodoh yang terus menunggu di tempat. Kali ini, aku juga ingin terbang lebih dulu dari mereka.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 8

    Brian sampai berkeringat dingin karena panik, tetapi dia nggak berani memaksa cincin itu masuk.Dia hanya terus mengulang kata-katanya dengan gugup dan terbata-bata. "Bukan gitu, Zhiu. Tanganku aja yang licin. Biar aku atur lagi, sebentar lagi pasti bisa masuk!""Tunggu, ya!"Begitu kata-katanya selesai, aku langsung menarik tanganku menjauh.Cincin yang basah oleh keringatku jatuh ke lantai, berdenting nyaring."Aku udah nunggu sembilan tahun, Brian.""Dari masa kuliah, aku udah suka sama kamu dan nungguin kamu. Nunggu sampai lulus, sampai pasangan-pasangan yang seangkatan dengan kita udah pada nikah dan punya anak, aku masih aja nunggu.""Kamu tahu nggak sih aku nunggu apa?"Belum sempat dia buka suara, aku buru-buru memotong dengan dingin."Aku nunggu kamu nengok ke belakang dan lihat aku, cuma lihat aku doang.""Bukan bawa-bawa Marisa, terus membandingkan dia sama aku, sampai ngejatuhin harga diriku habis-habisan.""Aku juga nunggu kapan kamu sadar sama perubahanku, sadar kalau ak

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 7

    Mengabaikan Marisa yang menangis meraung-raung, Brian menghapus habis semua jejak wanita itu dari rumah.Dia mengusir Marisa beserta semua barang bawaannya keluar pintu.Bahkan sidik jari di kunci pintu pun tak luput dihapus. Saat menghapus sidik jari itu, Brian kembali mendengar suara sambutan pintu khusus itu.Dulu, saat merekam sidik jari Marisa, dia hanya ingin memudahkan sahabat Zhiu itu datang berkunjung.Siapa sangka, tanpa disadarinya, Marisa ternyata menyimpan niat terselubung. Dia tak berani membayangkan betapa pahitnya perasaan Zhiu jika wanita itu juga mendengar suara tersebut.Bagaimanapun, untuk Zhiu, Brian cuma menyediakan satu anak kunci.Sementara untuk Marisa, Brian sampai repot-repot merekam sidik jarinya.Penyesalan yang menyakitkan merayap di hatinya, membuat nada suaranya saat memperingatkan Marisa terdengar jauh lebih kejam."Dulu aku bersikap lunak cuma karena kamu sahabatnya Zhiu. Aku nggak pernah curiga, makanya kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu.""Tapi

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 6

    Brian menginjak pedal gas seperti orang gila, memacu mobilnya pulang dengan kecepatan tinggi.Dia ingin membereskan barang-barangnya, lalu buru-buru memesan tiket pesawat untuk mencari Zhiu.Dia tak mengharap Zhiu memaafkannya, dia hanya ingin menjelaskan semuanya.Setidaknya, dia ingin Zhiu mengerti bahwa di dalam hatinya, hanya ada Zhiu seorang.Dia hanya mencintai Zhiu!Namun, begitu memasuki kamar tidur, dia sampai terperanjat dan mundur selangkah melihat kondisi kamar itu.Kamar utama yang tadinya kosong melompong kini penuh sesak, dipenuhi jejak-jejak wanita lain.Sepatu hak tinggi Marisa, tas-tasnya, perlengkapan makeup-nya, tersusun rapi di berbagai sudut ruangan.Seolah-olah kamar ini memang miliknya sejak awal.Di atas ranjang kamar utama, ada gundukan selimut yang membentuk lekukan tubuh. Itu Marisa."Brian, kamu udah pulang? Gimana, udah selesai ngurus surat nikah sama Zhiu?"Dia berbaring di atas ranjang, di posisi yang seharusnya milik Zhiu, dengan nada riang dan manja.N

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 5

    Mendengar itu, Brian langsung berseru tak percaya, "Nggak mungkin!" "Kita udah janji mau ngurus surat nikah hari ini, mana mungkin Zhiu pergi penugasan luar negeri? Lagian, masa iya langsung pergi lima tahun!" "Kamu bohongin aku, ya? Zhiu ada di samping kamu, 'kan?""Tolong bilang ke Zhiu, kalau dalam sejam dia nggak muncul juga, pernikahan kita batal!"Mendengar suara Brian yang makin mengamuk, rekan kerjanya terdiam sejenak, lalu akhirnya tak tahan dan bertanya."Kamu benaran udah janjian sama Zhiu?"Brian tertegun. "Maksudnya apa?"Rekan kerjanya menarik napas panjang, seolah ingin menumpahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatinya sekaligus."Aku tanya, kamu udah diskusi sama Zhiu belum?""Atau jangan-jangan dari awal sampai akhir, rencana ini cuma keinginan sepihakmu dan si Marisa yang sok polos itu?""Kamu pernah nanya nggak, Zhiu ada waktu atau nggak, terus dia mau nggak diajak ngurus nikah sama kamu?"Raut wajah Brian sedikit berubah, tetapi dia masih bersikeras membela d

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 4

    Pada akhirnya, ambulans yang dijanjikannya tak pernah datang. Sebelum kehilangan kesadaran, aku masih berharap, setidaknya demi memaksaku meminta maaf pada Marisa, Brian pasti punya sedikit belas kasihan untuk memanggilkan ambulans.Namun, dia tidak melakukannya.Saat terbangun di tengah malam, aku masih tergeletak di lantai yang sama, dengan noda darah yang telah mengering.Dengan susah payah, aku bangkit dan naik taksi ke rumah sakit sendirian.Sambil merawat lukaku, dokter UGD itu menghela napas prihatin."Kamu ini padahal sudah dewasa. Udah waktunya cari pacar. Soalnya kalau tengah malam sakit atau luka begini, cuma bisa nanggung sendiri, 'kan?""Kamu tahu nggak, tadi malam ada perempuan yang mengalami nyeri haid. Pacarnya sampai menggendongnya ala putri ke meja operasi, lalu terang-terangan mengancam karier kami!"Aku hanya tersenyum getir tanpa berkata apa-apa. Dia tidak tahu bahwa aku sebenarnya punya pacar, bahkan hampir menikah. Hanya saja, tunanganku tengah malam meninggal

  • Mengganti Romansa Ini, Tanpa Mengenang Kekasih Lama   Bab 3

    Sesampainya di rumah, aku membuka koper di samping tempat tidur dan mulai mengemasi barang-barang.Kami baru sebulan menempati rumah ini, jadi barang-barangku belum banyak.Setelah membuang kotak cincin yang kusimpan selama sembilan tahun ke tempat sampah, semuanya terasa makin kosong.Baru saja aku menutup koper, terdengar suara elektronik dari pintu."Minggir semua! Nona Besar Marisa mau lewat!"Udara laut yang lembap dan asin menerobos masuk. Aku menatap tak percaya saat Marisa melenggang masuk."Zhiu, kok kamu pulang lebih awal nggak bilang-bilang sih? Aku sama Brian nungguin kamu lama banget di pantai!"Mengabaikan tatapan merengut manjanya, pandanganku malah tertuju pada pintu. "Gimana kamu bisa masuk?""Brian udah ngerekam sidik jariku sejak hari pertama. Dengar, suara pembuka pintu khusus buatku keren, 'kan!"Aku mengangguk, merasakan getir dan pahit di lidah. Sudah sebulan menempati rumah ini, Brian hanya memberiku satu kunci.Kalau lupa bawa kunci, aku hanya bisa menunggu B

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status