LOGIN"Kau pikir aku sedang bercanda, Zhao Jun?" sahut Zi Han tenang, menatap lurus ke dalam manik mata sang kaisar tanpa ada sedikit pun keraguan di raut wajahnya. "Ya, aku sangat yakin. Aku ingin kita berpisah." Zhao Jun tercengang, mematung di tempatnya seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Bibirnya terbuka sedikit, berusaha mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut wanita di hadapannya. "Berpisah katamu?!" ulang Zhao Jun, suaranya meninggi, memecah kesunyian Paviliun Barat yang kumuh. "Zi Han, apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?!" Zi Han menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Zhao Jun dengan pandangan meremehkan. "Aku sangat sadar. Bukankah ini bagus untukmu? Kau tidak perlu lagi melihat wanita yang semalam kau sebut menjijikkan ini. Kita selesai, lalu aku bisa pergi dari istana busuk ini." Zhao Jun mendengus kasar, lalu tertawa hambar yang dipaksakan. Ia melangkah satu ketuk mendekati Zi Han, menatap permaisurinya dengan raut wajah yang berubah me
"Yang Mulia! Anda tidak apa-apa?! Hamba sangat mengkhawatirkan keadaan Anda!" Suara melengking Selir Yao Xian bergema di sepanjang koridor menuju ruang kerja kekaisaran. Dengan gaun sutra berlapis wewangian bunga yang mencolok dan riasan wajah yang dibuat tampak cemas, ia melangkah terburu-buru. Di dalam hatinya, Yao Xian tersenyum menang. Ia mendengar kabar bahwa Kaisar Zhao baru saja mengamuk hebat akibat ilusi racun Gharba Maha. Ini adalah momen emas baginya untuk hadir sebagai penyelamat, memperlihatkan pesonanya, dan membuat Zhao Jun semakin berlutut di bawah pengaruhnya. Namun, tepat ketika Yao Xian hendak menerobos ambang pintu dengan kedua tangan terulung, sosok tinggi tegap berbalut jubah naga menerjang keluar dari dalam ruangan. "Singkirkan tubuhmu! Jangan menghalangi jalanku!" bentak Zhao Jun dengan napas memburu dan tatapan mata yang tajam membakar. Yao Xian terperanjat hebat. Pria itu bahkan tidak memandangnya sedikit pun. Meski kepalanya masih terasa berat dan pa
"Jangan coba-coba mengancamku dengan besi berkarat itu, Zhao Jun!" pekik Zi Han, suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut ruangan yang berantakan. Alih-alih melangkah mundur untuk menyelamatkan nyawanya, Zi Han justru mengikis jarak, bergerak maju menantang ujung pedang kerajaan yang bergetar hebat di tangan Zhao Jun. Rasa kesal yang membakar dadanya sejak semalam akibat diusir secara hina ke Paviliun Barat, kini memuncak hingga ke ubun-ubun. Sret! Bilah pedang itu sempat menggores tipis udara, melayangkan tebasan liar karena ilusi racun yang memutarbalikkan penglihatan sang kaisar. Namun, Zi Han bergerak lebih cepat. Dengan ketangkasan luar biasa, ia memiringkan tubuhnya, mengelak tipis dari sasar, lalu menyalurkan seluruh rasa jengkelnya pada satu tendangan memutar yang presisi. Brak! Ujung kakinya menghantam leher Zhao Jun dengan telak. Sentakan kuat pada titik saraf itu membuat mata sang kaisar mendadak bergulir ke atas. Pedang di tangannya terlepas, berdenting keras
"Kau sudah gila, Zhao Jun?!" pekik Zi Han, matanya membelalak tak percaya menatap pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Paviliun Utama mendadak mendingin. Lampu-lampu minyak di sudut ruangan meliuk-liuk tertiup angin malam yang menerobos masuk dari pintu yang terbuka lebar. Zi Han memegang ujung selimutnya erat-erat, berdiri menantang kaisar yang kini menatapnya seolah ia adalah makhluk paling hina di muka bumi. "Aku gila?" Zhao Jun terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang terdengar begitu asing dan menyakitkan. Pria itu menutupi hidung dan mulutnya dengan lengan baju mewahnya, berusaha menghalau bau busuk imajiner yang terus membakar saraf penciumannya akibat pengaruh racun Gharba Maha. "Mungkin aku memang gila karena selama ini membiarkan wanita menjijikkan sepertimu tinggal di kediaman utamaku!" bentak Zhao Jun, suaranya menggelegar menembus sunyinya malam. "Lihat dirimu! Kulitmu, wajahmu, bahkan aromamu... membuat perutku mual! Aku tidak tahu sihir apa yang kau gunak
"Serahkan ramuan itu padaku, Long Feng!" cetus Yao Xian seraya mendorong pintu kayu kamar sang perdana menteri hingga terbuka lebar, napasnya memburu di balik keremangan lampu minyak. Perdana Menteri Long Feng yang sedang duduk santai menyesap teh panasnya hanya terkekeh pelan. Pria tua itu meletakkan cangkirnya, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu jati carved yang megah. Matanya berkilat licik mengamati wajah selir muda yang tampak frustrasi di hadapannya. "Mengapa terburu-buru, Selir Yao Xian?" tanya Long Feng dengan suara serak yang memuakkan. "Di mana sopan santunmu sebagai wanita terhormat istana?" Yao Xian melangkah mendekat, matanya menatap tajam sebuah botol porselen kecil berwarna hitam yang tergeletak manis di atas meja kerja sang menteri. "Aku tidak punya waktu untuk basa-basi! Kau bilang kau punya ramuan yang bisa membuat Kaisar membenci Zi Han selamanya. Berikan itu padaku!" Ketika tangan Yao Xian terulur hendak menyambar botol porselen itu, jemari keriput
"Harganya sangat sederhana, Selir Yao Xian," bisik Long Feng, senyum di bibirnya makin melebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang tampak menyeramkan di balik kegelapan. "Bayarlah ramuan itu dengan tubuh molekmu." Setelah membisikkan kalimat beracun itu, Perdana Menteri Long Feng menepuk bahu sang selir pelan, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa memedulikan wanita di belakangnya. Mendengar ucapan pria tua itu, tubuh Yao Xian seketika membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Sensasi merinding yang teramat luar biasa menyerang seluruh permukaan kulitnya. "Menjijikkan... Sungguh menjijikkan!" bisik Yao Xian dengan napas memburu. Jemarinya refleks mengusap-usap kedua tangannya dan meraba pakaiannya sendiri seolah-olah ada noda kotor yang baru saja menempel di tubuhnya. Rasanya benar-benar ingin muntah. Bagaimana mungkin seorang menteri tua bangka yang sudah berkepala lima berani meminta hal serendah itu padanya? Ia adalah Selir Agung Kesayangan Kekaisaran, wanita pal







