LOGIN“Bagaimana, Yang Mulia? Apakah ide saya bisa Anda terima?” Claude melihat pada sang Raja.Cassian terdiam sejenak. Matanya berkilat saat memikirkan kembali kata-kata Claude. Sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. Itu dia. Sebuah alasan mutlak yang tidak akan bisa ditolak oleh siapapun, bahkan oleh Marielle sekalipun."Usulan yang bagus, Claude," ujar Cassian memecah keheningan, suaranya kembali dipenuhi otoritas mutlak. "Kita akan membawa para pengkhianat dari Kepala Keluarga Valerante yang membelot ke ibukota untuk dieksekusi di hadapan publik. Dan mengenai Lady Marielle... sebagai Raja, aku secara resmi akan menganugerahkannya gelar Pahlawan Kerajaan atas jasanya menyelamatkan nyawaku dan kontribusinya atas perang ini.”Aldric memicingkan mata hitamnya, langsung menangkap niat terselubung dibalik keputusan mendadak Cassian. Rahangnya mengeras. Pria itu tahu Cassian sedang menggunakan kekuasaannya untuk menyeret Marielle kembali ke sisinya."Jika Anda memutu
“Lebih baik kau istirahat dahulu. Aku tahu kamu masih marah soal kematian Enzo.” Cassian melangkah pergi. Langkahnya pelan.“Aku akan rapat dengan yang lainnya. Aku akan menghampirimu setelah selesai,” lanjut Cassian sebelum benar-benar keluar tenda.Namun Marielle hanya diam, bahkan wanita itu tak menatap Raja sedikitpun. Akhirnya, dengan hati yang berat Cassian pergi.Di dalam tenda komando utama yang megah, sebuah meja kayu jati besar membentang, dipenuhi oleh peta wilayah, laporan kerusakan, serta estimasi logistik.Di kedua ujung meja, duduk dua pria paling berpengaruh di kekaisaran Minerva. Cassian, sang Raja, duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat, mengenakan jubah kebesarannya yang masih menyisakan aura dingin. Di ujung lainnya, Aldric, sang Grand Duke, bersandar dengan ekspresi kaku, matanya sedalam jurang es menatap lembaran kertas di hadapannya. Claude, Jackson, beberapa jenderal, dan para menteri ikut mengelilingi meja rapat."Kita mulai rapat ini," Cassian mem
“Yang Mulia…” Suara Marielle mendadak lirih.Cassian memegang tangan Marielle, menggenggamnya erat seperti harta karun miliknya yang sangat berharga.“Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik. Tidak akan aku biarkan siapapun menghinamu, termasuk Ratu.” Cassian menatap mantan selirnya penuh harap.Namun Marielle langsung menarik kembali tangannya. Ia melihat wajah Raja dengan tatapan tidak percaya.“Maaf… tapi saya sudah tidak berminat untuk menjadi selir Anda lagi,” ucap Marielle mutlak.Mendengar penolakan yang begitu dingin dan mutlak dari bibir Marielle, Cassian merasa seolah-olah seluruh dunianya runtuh seketika. Genggaman tangannya yang kosong di udara perlahan turun, gemetar kecil akibat syok yang luar biasa."Kenapa...?" tanya Cassian, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap Marielle dengan tatapan terluka yang mendalam. "Bukankah kau... masih mencintaiku, Marielle? Semua hal yang kau lakukan selama ini, pengorbananmu terkena panah beracun saat perang... bukank
Suasana di dalam tenda yang semula panas oleh adu mulut antara Marielle dan Aldric, seketika membeku begitu otoritas tertinggi Minerva melangkah masuk. Cassian berjalan dengan anggun namun pasti, zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang temaram, menciptakan kesan agung sekaligus mengintimidasi.Aldric membalikkan tubuhnya perlahan, menghadapi sang Raja dengan rahang yang kembali mengeras. Rasa bersalah yang baru saja menghantam dadanya akibat ucapan Marielle seketika tersamarkan oleh topeng keangkuhannya yang dingin."Yang Mulia Raja," ujar Aldric, membungkuk formal dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Fasilitas darurat ini berada di bawah pengawasan wilayah saya. Wajar jika saya memastikan langsung bahwa... rakyat saya tidak kehilangan nyawanya karena kelalaian dokter.""Dia terluka karena melindungiku, Grand Duke. Itu menjadikannya tanggung jawab mutlak kerajaan, bukan sekadar urusan domestik Valerante," balas Cassian dingin. Mata elangnya beralih dari Aldri
"Aku... ingin meluruskan sesuatu. Anggap saja ini permintaan maaf dariku. Atas semua hal yang kulakukan di masa lalu, dan... karena kelalaian pasukanku yang membuat penyusup Eldora bisa melepaskan anak panah di wilayahku tadi."”Hah?!” Marielle terkejut. Ia tak percaya seorang Grand Duke yang ia kenal memiliki sikap bengis bisa minta maaf dan mengakui kesalahannya.Alis Marielle bertaut dalam, menatap Aldric dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang dipenuhi rasa sangsi. Alih-alih merasa tersentuh, bulu kuduk Marielle justru meremang.“Permintaan maaf? Dari seorang Grand Duke Aldric yang dingin dan kejam? Ini benar-benar terasa aneh dan tidak wajar,” batin Marielle. Ia langsung memperlebar jarak diantara mereka."Tunggu sebentar," potong Marielle, menatap Aldric penuh curiga. "Anda baru saja meminta maaf? Anda tidak sedang berencana untuk meracuniku secara diam-diam setelah ini, kan? Atau ini taktik baru untuk mengusirku dari Valerante?"Mendengar respons Marielle
“Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang,” ucap Marielle saat baru terbangun dari tidurnya yang singkat.Matahari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menumpahkan warna jingga di atas tanah Valerante. Setelah melewati siang hari yang riuh oleh pemeriksaan medis bertubi-tubi, tenda darurat tempat Marielle dirawat akhirnya terasa sedikit lebih tenang.“Lady Marielle!” Suara isakan familiar yang dipenuhi akan kepanikan memecah kesunyian. Tirai tenda disibak terburu-buru, dan sesosok gadis muda berlari masuk dengan air mata yang sudah membasahi seluruh pipinya. Itu Diana. Tanpa memperdulikan tatapan para asisten dokter, pelayan pribadi itu langsung menghambur dan memeluk leher Marielle dengan sangat hati-hati, takut menyentuh luka di punggung sang nona."Hiks... Lady... saya sangat takut... Saya pikir saya akan kehilangan Anda," tangis Diana pecah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan itu.Marielle tersenyum tipis. Tangannya yang
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
“Enzo, bagaimana perkembangan latihan Lady Marielle denganmu?” tanya salah satu rekan Enzo.“Lumayan bagus,” jawabnya singkatEnzo yang masih mengelap pedang, hanya tersenyum samar, mengingat bagaimana perkembangan dari Marielle beberapa hari terakhir ini.Baru selesai menjawab, mereka dikejutkan o
“Elira, apa kau sudah siap? Ayo kita turun, semuanya sudah menunggu.” Cassian menghampiri Elira yang masih merapikan pakaiannya di depan kamar.Elira mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan Cassian semangat.Pagi itu terasa berbeda dari biasanya.Langit tampak lebih cerah, seolah memberi restu pa
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar







