Home / Romansa / Menipu Sang CEO Buta / #047 Cantik Tapi Aku Juga

Share

#047 Cantik Tapi Aku Juga

Author: aisakurachan
last update Last Updated: 2026-01-09 08:38:34
"Aku juga ingin menikmati pemandangan pantai. Mungkin aku hanya akan melihat kegelapan memang, tapi setidaknya aku bisa menghirup segarnya angin laut," kata Raven, dengan nada dan wajah yang tiba-tiba berubah melankolis.

Mencela betapa Ellie tidak simpatik pada keadaan matanya dengan bertanya.

"Aku hanya bertanya, karena biasanya kau sibuk. Tidak perlu mengubah semua menjadi drama." Ellie mendengus saat melihat Raven tersenyum puas.

Sepertinya Raven melepas semua keinginannya untuk menjahili Ellie selama masa dua hari dia tidur, sekaligus sekarang.

Ellie berbalik masuk, untuk mengambil mantel. Lalu sadar kalau dia tidak membawa baju apapun saat ke sini. Tidak ada benda yang terbawa selain tas yang berisi ponsel, dompet dan paspor.

"Lemari menempel di tembok sebelah utara. Sedikit lebih kecil dar pada yang ada di rumah yang dulu. Tapi aku rasa masih cukup untuk menampung baju kita."

Penyebutan 'baju kita' membuat Ellie berbalik menghadap Raven, yang sudah menutup pintu dan bergeser ke d
aisakurachan

dalam hal narsis pun kalah ya El 😝

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menipu Sang CEO Buta   #057 Rindu Tapi Tidak Bisa Diungkap

    SATU BULAN KEMUDIAN"Ellie!""El, kau dipanggil." Beth menyentuh wajah Ellie, untuk menarik perhatiannya, karena Ellie sepertinya tidak mendengar panggilan itu."Oh!" Ellie menoleh ke pintu, dan melihat salah satu perawat memanggilnya, untuk menyerahkan beberapa catatan pasien."Sebentar." Ellie berpamitan pada Beth, untuk mengambil dokumen itu"Kau melamun? Kau terlihat pucat, El." Beth mengelus lengan Ellie, saat kembali memijit tangannya."Aku hanya sedang memikirkan sesuatu tadi." Ellie tersenyum menenangkan.Ellie hanya belum terbiasa untuk dipanggil dengan nama Ellie lagi. Saat pikirannya kosong, atau sedang berkonsentrasi seperti tadi, Ellie menjadi abai dengan panggilan itu.Ellie tentu saja kesal, karena ini bukan pertama kalinya terjadi.Pikirannya masih belum bisa melupakan panggilan itu sepenuhnya, meski sudah sebulan ini dia kembali ke kehidupannya yang normal, dan menjadi Ellie Harken. Nama Hazel tidak akan pernah didengarnya lagi."Sepertinya semenjak kembali kau menjad

  • Menipu Sang CEO Buta   #056 Perhatian Tapi Yang Terakhir

    Ellie tahu dari obrolan Sophie dan Marlow sebelum hari ini, kalau pelakunya sudah tertangkap saat itu juga. Hanya beberapa jam setelah kejadian.Pengawal yang menolong Ellie, menghajar mereka tanpa ampun, baru melapor pada polisi. Tapi meski tertangkap basah, keterangan dari Ellie seharusnya masih diperlukan. Bagaimanapun korban harus menceritakan detail kejadian asal lukanya.Tapi tidak ada kunjungan atau panggilan apapun sebelum hari ini, di rumah sakit pun tidak.Ellie memang hanya tiga hari berada di rumah sakit. Menurut Sophie, Raven yang meminta rumah sakit melepaskan Ellie lebih awal, dan dokter menyetujuinya, karena semua lukanya adalah luka luar.Namun urusan dengan polisi berbeda, seharusnya Raven tidak mungkin bisa ikut campur.Lalu seakan mementahkan pendapat dalam benak Ellie, Raven muncul dari dalam rumah, dibantu oleh Jasper di belakangnya menyambut polisi itu. Dia langsung mengajak mereka masuk ke dalam.Polisi itu hanya mengangguk dan tersenyum pada Ellie, tidak menam

  • Menipu Sang CEO Buta   #055 Keanehan Tapi Baru Disadari

    Semua yang duduk di sekitar perapian langsung terdiam. Beberapa detik, hanya terdengar retih api dari perapian, sementara Ellie terus menunduk.Ellie takut jika memandang wajah Raven niatnya akan kembali goyah."Tentu. Jasper akan mengatur perjalananmu ke sana. Kau ingin berlibur berapa hari?" tanya Raven. Jawaban Raven membuat tangis Ellie nyaris tidak tertahankan."Bukan seperti itu." Ellie menggeleng, kedua tangannya meremas tepi gaun berbunga pilihan Sophie di pangkuan."Aku... aku ingin pulang ke London, aku mengundurkan diri menjadi terapis di sini." Suara Ellie gemetar menahan tangis, tapi pembicaraan ini belum selesai. Ellie menghela napas, kembali bertekat."Kenapa?" Raven kembali bertanya, kali ini dengan posisi duduk lebih tegak. Wajahnya lurus menghadap Ellie, sementara kacamata hitamnya memantulkan cahaya dari api, seolah melambangkan amarah Raven yang mulai menyala."Aku.... aku.. tidak bisa berada di sini." Sebenarnya bukan kalimat itu yang Ellie siapkan untuk alasan, t

  • Menipu Sang CEO Buta   #054 Mematahkan Hati Tapi Harus

    Ellie merapikan rok, begitu posisi duduknya telah nyaman. Kursi roda Raven terlihat seperti singgasana saat Ellie yang memakainya. Tubuhnya terlalu mungil untuk ukuran kursi itu."Bisa tolong kau bawakan ini? Dipangkuan saja. Aku lupa menggantinya tadi pagi. Padahal bunganya sudah layu semua." Sophie menyodorkan vas bunga yang menghiasi kamar Raven, dan Ellie menerimanya dengan senyuman.Di Katastari, Sophie sengaja menyediakan bunga segar setiap harinya untuk kamar Raven. Menurutnya kamar itu indah dan cocok dengan bunga. Berbeda jauh dengan kamar Raven di Gothenburg, yang dingin dan kaku."Ekh!" Ellie mengeluarkan suara seperti orang muntah, saat tidak sengaja mencium aroma yang menguar dari dalam vas."Jangan menciumnya! Aroma busuk dari batang bunga, berbeda jauh dengan wangi bunga." Sophie tertawa geli, melihat Ellie menutup hidung."Dan sekarang bayangkan, ada yang menyiramkan air dalam vas bunga ke tubuhku. Aku menghabiskan sebotol sabun, saat mencoba untuk menghilangkan baunya

  • Menipu Sang CEO Buta   #053 Tebakan Tapi Kali Ini Salah

    "Tenang, Haze."Raven menahan kedua tangan Ellie dengan sangat kuat, karena Ellie memang terus melawan."Mereka tidak melakukan apapun padamu. Pengawal yang bersamamu berhasil menemukan sebelum bajingan busuk itu melakukan hal bejat padamu. Mereka menganiaya tubuhmu, tapi hanya itu, Haze."Raven menjelaskan dengan kalimat jelas, dan nada lembut. Memastikan agar Ellie mendengar setiap kata.Ellie menggeleng tak percaya. "Mereka... Me... mereka... leher... dan wajahku..."Mulut Ellie tidak sanggup menjelaskan apa yang dialaminya. Tangis histeris kembali membobol pertahanan dirinya.Tangan Ellie kembali meronta, tapi tangan Raven tetap kuat."Dan mereka berhenti sampai di situ, Haze. Aku bersumpah! Ini yang sebenarnya! Mereka tidak melakukannya padamu. Kau terluka karena pukulan dan tamparan, tidak lebih dari itu."Raven meraba, meraih wajah Ellie, meminta agar Ellie memandangnya. Dia ingin Ellie mengerti jika semua kata-katanya adalah jujur.Ellie melihat mata Raven yang kosong, menyoro

  • Menipu Sang CEO Buta   #052 Langkah Yang Mungkin Salah Tapi Harus

    PLAK!Tamparan menggema. "Ini kedua kali kau melakukan kebodohan!" desis Raven, melotot pada Mark."Kau sudah bosan bekerja denganku? Seharusnya kau katakan saja! Tidak perlu seperti ini."Tongkat yang dipakai Raven untuk menopang tubuhnya melayang, menghantam paha Max yang menunduk di depan meja kerjanya. Raven jatuh terduduk di kursinya setelah itu, karena keseimbangannya terlalu terpengaruh emosi."Pekerjaan ini tidak sangat sulit! Apa kau tolol? Apa otakmu semakin tua semakin habis?!" cela Raven.Max sangat diam, karena memang merasa bersalah."Aku membayarmu mahal untuk menjaganya juga! Kau pasti tuli sampai perintah sederhana seperti itu saja kau langgar!"Bukan hanya Max yang diam, Jasper yang berdiri di samping kursi roda juga hanya menunduk. Jasper biasanya akan mencoba meredakan amarah Raven agar tidak semakin buruk, tapi kali ini sadar kalau apapun yang dikatakannya tidak akan berguna."Maafkan saya, Mr. Wycliff." Max berujar pelan."Aku meragukan kecakapanmu sekarang! Baga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status