ANMELDENWilson baru saja selesai berbincang dengan Harvey di telepon. Mereka sedang serius membicarakan sesuatu hal yang penting."Aku sudah membantumu tuan Harvey. Jadi, jangan mengusikku lagi!" ucap Wilson menekankan di teleponnya.Nampak Harvey tertawa di seberang telepon."Ya, kali ini kau bekerja dengan baik Wilson." ucap Harvey."Tapi, ada satu hal yang membuatku tertarik. Seseorang yang menyamar tadi, kurasa dia bukanlah orang sembarangan. Aku mengenal cucuku Dominic, jika ia mempercayakan pekerjaan penting padanya, artinya dia orang yang hebat. Dia berhasil mendapatkan file rahasia dengan mudah. Jika, kau bisa mencari tahu siapa dirinya, maka aku bisa berinvestasi besar pada perusahaanmu." ucap Harvey.Wilson tertawa sengak. "Apa ini sebuah perintah?""Ini sebuah tawaran." jawab Harvey."Sebenarnya aku sudah muak berurusan dengan keluargamu, tuan Harvey!" seru Wilson."Apa kau tak ingin mengetahui pesan terakhir Camelia?" tanya Harvey berusaha menggoyahkan Wilson."Mungkin nasib putri
Begitu tiba di rumah. Dominic turun lebih dulu dan berjalan menuju ke kamar. Dari sana Catriona sudah bisa menilai jika suaminya tersebut sedang marah padanya. Catriona segera membuntuti Dominic masuk ke dalam kamar."Sayang!" seru Catriona membuntuti Dominic yang masuk ke dalam walk in Closet."Ya." jawab Dominic singkat sambil melepaskan jasnya."Aku akan menjelaskan semuanya." ucap Catriona segera mengambil alih jasnya dan menggantungnya kembali.Saat Dominic hendak melepaskan dasinya, Catriona langsung menyambarnya. Dan mengambil alih."Aku tahu, kamu memiliki alasan yang kuat untuk itu Honey." ucap Dominic mencoba mengerti."Maaf Sayang. Aku sudah berkali-kali mencoba menghubungimu." ucap Catriona.Catriona menceritakan semua kejadian sejak ia sampai di rumah sakit dan tak sengaja bertemu dengan Maxim. Lalu dirinya ditolong oleh Derren dan dibawa pergi menemui kakeknya Barcklay."Maxim berani melakukan hal itu padamu?" Dominic terlihat kesal.Catriona mengangguk. "Sepertinya ia m
"Maaf lama menunggu, Tuan!" Mark datang, kemudian segera masuk ke dalam mobil. Ia langsung duduk di kursi kemudinya.Mark melirik dari kaca spion, terlihat ekspresi wajah tuannya yang diselimuti kemurkaan. Amarahnya belum redam."Kau bekerja untukku atau Wilson?" ucap Dominic dingin."Maaf Tuan. Saya harus membereskan barang terlebih dahulu." jawab Mark kemudian menyalakan mobilnya. Ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Wilson.Victor yang duduk di samping Dominic hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.Sementara itu, di dalam mobil lainnya. Catriona dan Derren tak saling bicara. Sejak keluar dari mansion Barcklay, Catriona hanya diam membisu. Hampir seluruh kata-kata kakeknya membekas di hatinya.Sejak dulu memang kakeknya selalu bersikap dingin padanya. Jarang sekali sang kakek memperlakukannya seperti seorang cucu pada umumnya. Tak pernah mereka bercanda tawa layaknya kakek dan cucu.Derren pun tidak ingin menganggu Catriona. Ia tahu jika hati Catriona sedang tida
Begitu murkanya Dominic hingga berhasil menghempaskan Mark dan Victor yang sejak tadi berusaha menahan amarahnya. Kini Dominic sudah mencekik leher Wilson dengan kuat."Jika kau membunuhku, maka kupastikan Catriona akan membencimu seumur hidup!" seru Wilson dengan senyum liciknya.Dominic semakin mengeratkan cekikan tangannya pada leher Wilson. "Kau bukan manusia Wilson. Kau adalah iblis!" Dominic seperti kehilangan kesadaran.Nampak Wilson kesulitan bernapas. Ia terengah-engah berusaha mencari oksigen. Wajahnya memerah karena darah yang berhenti mengalir."Catriona akan meninggalkanmu jika kau membunuhku!" ucap Wilson masih berusaha berbicara.Seketika tangan Dominic bergetar. Ia tahu Catriona begitu sayang pada Ayahnya. Seburuk apa pun ia tetap sayang pada ayahnya yang seperti iblis. Perlahan Dominic merenggangkan tangannya."Kau tak layak untuk hidup!" seru Dominic masih menyala-nyala."Tapi kau masih membutuhkanku. Cepat atau lambat Barcklay dan Harvey akan melangsungkan pernikaha
Dominic mulai membaca seluruh kronologi kejadian kematian Camelia. Benar, ternyata Camelia meninggal karena bunuh diri. Ia meregang nyawanya sendiri dengan menembuskan butir peluru ke kepalanya sendiri. Dan, semua dilakukan di rumah sakit. Tepatnya di depan mata kepala Jenny dan Jackson.Fakta mencengangkan tersebut sontak membuat tangan Dominic bergetar. Ia tak percaya jika kedua orang tuanya terlibat. Wajah Dominic seketika membuat saat mengetahui fakta tersebut.Namun, belum jelas apa alasan Camelia menghabisi nyawanya di depan kedua orang tuanya. Mata Dominic yang memancar pias menyorot pada Wilson untuk mencari kejelasan."Itu faktanya. Camelia berkorban untuk ibumu. Sebagai balas budi." ucap Wilson.Dominic semakin syok. Dadanya hampir meledak mendengarnya."Apa maksudnya?" tanya Dominic."Camelia menebus hutangku pada keluargamu dengan cara memberikan jantungnya pada ibumu." ungkap Wilson dengan gamblang.Sontak Dominic telonjak kaget. Seketika seluruh tubuhnya terasa tak berda
Dominic dan Wilson berada di dalam satu ruangan yang sama. Keduanya berbincang tenang, tidak seperti awal pertama mereka bertemu saat perjanjian hutang.Suasana hati keduanya lebih tenang. Bicara dari hati ke hati. Saat ini, tujuan mereka sama, untuk melindungi Catriona dari ancaman Barcklay.Selama mengalami kesulitan dan melihat pengorbanan Catriona untuknya, akhirnya mampu membuat hati Wilson tergugah. Jujur, dulu ia hampir tak pernah peduli pada Catriona.Sejak dulu, Wilson selalu dibutakan dengan harta. Baginya harta adalah segala-galanya. Keluarga hanya sebagai alat pelicin. Dan salah satu alasan ia menikahi Camelia juga karena kekayaan yang dimiliki oleh Camelia."Sejak dulu aku tidak pernah menyukai Barcklay. Karena dia tidak memiliki hati sama sekali. Bahkan dengan anaknya sendiri Camelia. Aku pikir, Barcklay adalah satu-satunya orang tua yang kejam. Ternyata tidak, justru aku yang lebih kejam darinya." Wilson mengakui kesalahannya selama ini.Dominic hanya menatap dingin pad
“Aku menyukai keputusanmu, Caty!” seru Dominic puas, suaranya dalam, penuh kemenangan. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.Perlahan, senjata di tangannya diturunkan, tak lagi mengancam dagu Catriona. Tapi cengkeraman di pinggang gadis itu justru mengencang, mengunci tubuh ramp
“Kau sangat keren!” puji Emely penuh kagum, matanya berbinar saat melihat Catriona melangkah keluar dari privat room dengan aura dingin namun memesona, bangga dan tanpa rasa bersalah. Catriona hanya menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah benar-benar hangat, tapi justru memancarkan el
Hanya ada satu orang. Satu-satunya teman yang pernah menyebutnya "kucing arogan" hanyalah Dominic, si lelaki cupu yang dulu kerap menjadi korban bully di sekolah.“Tidak mungkin…” gumam Catriona pelan. Masih tak percaya. Bagaimana mungkin Dominic, lelaki cupu yang dulu tak berani menatap mata siapa
Anda yakin akan menghabiskan malam di sini, Tuan?" tanya seorang pria tegap dari balik kursi kemudi. Nada suaranya sopan, namun jelas menyiratkan kegelisahan."Hm," jawab lelaki di belakangnya dengan suara berat dan dalam. Sebuah smirk angkuh menyungging di sudut bibirnya. Dingin. Tajam. Membekukan







