ログインGelombang hitam itu datang tanpa ragu.Puluhan penunggang bertopeng memacu kuda lurus ke arah satu orang yang berdiri di tengah jalur sempit. Cahaya obor menari di bilah pedang mereka, memantulkan kilau dingin yang mematikan.Zhao Fenglin tidak mundur.Ia menghentakkan kudanya maju lebih dulu.Benturan pertama pecah seperti petir. Pedangnya menebas dari atas, membelah topeng dan tengkorak penyerang terdepan dalam satu garis lurus. Tubuh itu jatuh dari pelana sebelum sempat menjerit.Kuda-kuda di belakang kacau sesaat.Ia memanfaatkan celah itu. Bilahnya berputar ke samping, memotong leher penunggang kedua. Darah menyembur panas ke udara malam.“Lewat!” raung Shen Yu dari belakang.Shen Yu menerjang bersama belasan prajurit tersisa, menghantam sisi kanan musuh. Tawa gilanya kembali pecah meski wajahnya pucat karena kehilangan darah.Gu Liang di jalur tebing memaksa kudanya melompati batu besar sambil menyeret dua prajurit terluka. Tombak patahnya masih menghantam siapa pun yang terlalu
Malam telah larut sepenuhnya.Di kediaman Zhou, tepatnya di dalam kamar, hanya cahaya lampu minyak yang tinggal separuh menyala. Bayangannya bergoyang pelan di dinding, memanjang lalu memendek mengikuti tiupan angin dari celah jendela.Yuwen Shuang terbangun dalam keadaan duduk.Napasnya tidak teratur. Ujung rambut di pelipisnya basah oleh keringat dingin. Selimut yang menutupi tubuhnya telah bergeser setengah, jatuh di pangkuan tanpa ia sadari.Dadanya terasa sesak.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap ke depan dengan mata kosong, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Ingatan di kepalanya kacau seperti potongan kain yang tercabik-cabik.Rasa pahit di lidah. Suara seseorang berteriak, cangkir pecah, lalu gelap.Yuwen Shuang menunduk perlahan. Jemarinya menyentuh lehernya sendiri, lalu bergerak ke dada kiri. Detak jantung di sana begitu cepat, menghantam telapak tangannya tanpa ritme.Perasaannya sangat tidak enak.Seolah sesuatu sedang terjadi di tempat yang tidak bisa i
Wei Chen menoleh tajam ke arah lereng.Dari kegelapan hutan, bayangan-bayangan baru bermunculan di antara batang pohon. Obor kecil menyala satu per satu, memperlihatkan puluhan penunggang lain yang turun melalui jalur sempit di sisi atas.Semua memakai topeng hitam yang sama.Wajah Gu Liang berubah keras. “Mereka menunggu di sini sejak awal.”“Bukan menunggu,” gumam Wei Chen. “Mereka sudah menghitung jalur pulang kita.”“Mereka sudah menunggu kalau perang kali ini dimenangkan oleh kita!” Shen Yu ikut menyambut sambil mengusap keringat pada dahinya. Gelombang kedua langsung turun menghantam sisi belakang barisan Yuwen. Prajurit yang sedang menjaga kereta medis terkejut dan nyaris tak sempat mengangkat senjata. Jeritan pecah di tengah malam saat kuda-kuda menyeruduk masuk.Formasi Yuwen buyar.“Lindungi kereta!” raung Gu Liang sambil mencabut tombak cadangan dari punggung prajurit mati di dekatnya.Ia menerjang ke belakang, memukul jatuh satu penyerang dari pelana lalu menusuk penungga
Udara di jalur pegunungan mendadak membeku.Para penunggang berkuda itu terus melaju tanpa memperlambat langkah. Jumlah mereka puluhan, mungkin lebih, bergerak dalam barisan rapat seperti pasukan yang telah berlatih berkali-kali. Wajah mereka tertutup topeng hitam polos, tanpa lambang, tanpa warna, tanpa identitas.Namun Zhao Fenglin mengenali mereka.Ia pernah melihat topeng semacam itu malam penyergapan di penginapan beberapa bulan lalu. Malam saat perjalanan menuju Ibu kota setelah menyelamatkan Yuwen Shuang dari kerajaan Ling. Tatapannya langsung berubah tajam.Wei Chen menangkap perubahan itu lebih dulu. “Jenderal, sepertinya kita pernah melihat mereka!”Zhao Fenglin mengangguk. “Mereka yang menyergap kita di penginapan malam itu!” Bukan Zhao Fenglin yang menjawab, melainkan Gu Liang.“Turun dari kuda jika ingin hidup lebih lama,” jawab Zhao Fenglin dingin.Wei Chen tidak bertanya lagi. Tangannya segera terangkat memberi aba-aba ke belakang.“Formasi bertahan!”Wei Chen mengger
Pasukan Yuwen meninggalkan dataran perang. Tanah yang dipenuhi jejak kuda, darah, dan senjata patah kini tersapu oleh derasnya hujan. Sorot mata mereka lelah, wajahnya yang semula dipenuhi bercak darah kini bersih, tubuh mereka penuh luka.semua itu terbayar setelah kemenangan yang akan mereka bawa menuju Istana.Hujan sudah sepenuhnya reda. Kabar kemenangan itu menyebar dari barisan depan ke belakang seperti api yang menyambar rumput kering. Sorak-sorai pecah berkali-kali di sepanjang perjalanan. Beberapa prajurit saling menepuk bahu, beberapa lainnya tertawa keras meski perban masih melilit kepala dan lengan.“Kita hidup!” teriak seseorang.“Kerajaan Ling mundur!”“Jenderal muda Zhao menebas dua pangeran Ling dalam satu perang!”Tawa dan sorak kembali pecah.Kereta-kereta medis bergerak di tengah rombongan, membawa yang terluka parah. Tabib keliling mondar-mandir di antara barisan, mengganti perban sambil mengumpat pada prajurit yang terlalu banyak bergerak.Gu Liang menunggang di s
Rombongan Ling memasuki jalur pegunungan menuju ibu kota. Tidak ada nyanyian kemanangan, karena selama ini kerajaan Ling tidak pernah bisa menang melawan kekaisaran Yuwen. Tidak ada juga teriakan prajurit, hanya derap kaki kuda yang berat dan suara roda kereta medis yang berdecit pelan.Pasukan yang berangkat dengan kebanggaan kini pulang membawa kekalahan.Ling Xuanye tetap berada paling depan. Jubah hitamnya robek di beberapa bagian, darah dari pahanya masih merembes membasahi pelana. Namun ia seolah tidak merasakan sakit sedikit pun. Kedua tangannya masih memegang kepala Ling Ziye yang dibungkus kain hitam.Tidak seorang pun berani meminta benda itu diserahkan.Malam semakin dingin. Kabut turun di sela pepohonan. Obor-obor di barisan belakang bergoyang seperti arwah yang tersesat.Seorang jenderal tua akhirnya memberanikan diri mendekat. Wajahnya penuh debu dan luka.“Yang Mulia,” katanya hati-hati. “Luka Anda harus segera dirawat.”Ling Xuanye tidak menoleh. Tatapannya lurus ke ja
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Lepaskan! Jangan bersikap kurang ajar padaku!”Yuwen Shuang memberontak saat pria itu menyeretnya menuju sebuah kereta. Tangannya yang bebas berusaha memukul, mencakar, apa saja yang bisa ia lakukan agar terlepas dari cengkeraman itu. Namun genggaman Ling Ziye seperti besi tak bergeser sedikit pun
“Ibu ….”Suara Yuwen Shuang tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran.Kereta kembali berguncang keras. Sesuatu menghantam sisi luarnya hingga kayu tebal itu berderak seakan ingin pecah. Mei’er menjerit pelan dan semakin merapat, sementara Yunxi memeluk tubuh majikannya erat, berusaha menahan gun
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan







