LOGIN“Raymond!”Jeritan Clara pecah bersamaan dengan tubuh pria itu yang ambruk ke lantai.Bruk!Suaranya terdengar begitu keras. Sebagian orang langsung berdiri dan menghampiri. Noah langsung mundur setengah langkah, matanya membulat penuh ketakutan melihat pria yang baru saja ia panggil papa jatuh seperti itu—membuat dadanya ikut sesak.“Papa!” teriak Noah panik.Clara langsung berlutut di lantai. Tangannya gemetar saat meraih wajah Raymond.“Tuan Ray... Tuan…” suaranya pecah. “Buka mata Anda… tolong…”Wajah pria itu pucat dan bibirnya sedikit membiru. Keningnya dipenuhi keringat dingin. Raymond masih sadar samar, namun pandangannya kabur. Suara Clara terdengar jauh, seperti datang dari tempat yang sangat jauh.“Kenapa…” bisiknya pelan.Clara menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak menangis semakin keras.“Jangan bicara… tolong jangan bicara…”Bibi Janeta langsung berdiri dengan panik. “Cepat! Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang juga!” serunya.Noah mulai menangis, tangis kecil
Napas Clara memburu tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik perlahan dari dalam. Tangannya gemetar hebat saat terus mencoba menghubungi nomor Raymond, lagi dan lagi, berkali-kali, seolah dengan begitu ia bisa mengubah kenyataan mengerikan yang baru saja ia lihat di layar televisi. Namun hasilnya tetap sama—nomor itu tidak aktif. “Tidak…” bisiknya lirih, nyaris seperti suara orang yang kehilangan pijakan. “Tidak mungkin…” Air matanya mulai jatuh satu per satu tanpa bisa ia tahan lagi. Di layar televisi, berita itu terus diputar berulang. Mobil hitam mewah yang sudah hancur, kaca pecah berserakan di jalan, asap mengepul, lampu sirine, kerumunan orang. Dan mobil itu—mobil itu milik Raymond. 'Bagaimana jika pria itu… sudah terlambat diselamatkan?' “Ma…” Suara kecil Noah membuat Clara tersentak. Anak itu menatapnya dari kursi dengan wajah bingung. Melihat Clara menangis seperti itu—membuat Noah ikut takut. “Kenapa Mama nangis?” tan
Suara benturan itu meledak di tengah jalan seperti ledakan bom.Kaca mobil pecah berhamburan ke segala arah. Potongan-potongan kecil berkilat di udara sebelum jatuh seperti hujan pecahan kristal.Mobil Raymond terpental keras ke samping, ban-ban bergesekan brutal dengan aspal. Tubuh mobil itu berputar setengah lingkaran sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan suara logam yang memekakkan telinga.Dugg! Benturan kedua terdengar lebih keras. Dalam hitungan detik—suara klakson bersahutan di mana-mana. Teriakan orang-orang mulai terdengar. Seseorang menjerit, seorang lagi berteriak meminta tolong.Asap tipis mulai keluar dari kap mobil yang ringsek parah. Orang-orang mulai berkerumun. Ada beberapa orang yang memotret, dan beberapa lainnya berteriak. “Cepat panggil polisi!”***Sementara itu—di sebuah kafe tempat mereka janji bertemu—Clara duduk di dekat jendela.Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah lama dingin.Permukaannya bahkan sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Ta
Rapat itu berlangsung hampir satu jam. Suara gelas kristal, lembaran dokumen yang dibalik, dan angka-angka besar terus memenuhi ruangan. Namun sejak Tuan Clark mengatakan bahwa putranya telah kembali—pikiran Raymond tidak benar-benar di sana. Bukan takut, tapi kali ini dia merasa punya seseorang yang harus ia lindungi. Tak lama kemudian, pertemuan itu pun selesai. Satu per satu pria-pria penting itu berdiri, berjabat tangan, lalu keluar dari ruangan dengan wajah serius. Tuan Clark juga pergi lebih dulu, diikuti para pengawalnya. Pintu ruang rapat itu tertutup, menyisakan Raymond dan Ken di ruangan besar yang mendadak terasa sunyi. Ken berdiri di dekat meja, tangannya masuk ke saku celana. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup beberapa detik sebelum akhirnya bicara. “Aku dengar putra Tuan Clark itu sangat berbahaya, dan..." Ken menundukkan kepalanya. Raymond tidak menjawab. Ia hanya mengambil rokok dari saku jasnya. Krek. Api menyala, lalu asap tipis mengepul pelan saat
Clara membeku di tempatnya. Pria berpakaian hitam itu berdiri diam di sudut lift. Topinya menutupi sebagian wajah, masker hitam menutupi sisanya. Hanya matanya yang terlihat—gelap, tajam, dan menatap lurus ke arahnya melalui pantulan pintu lift. Udara di dalam lift mendadak terasa sempit. Clara menelan ludah. Tangannya perlahan menggenggam tasnya lebih erat. Lift terus bergerak naik, lalu sampai di lantai dua. Tidak ada yang keluar atau pun masuk. Pria itu masih diam. Namun tatapannya belum bergeser sedikit pun. Deg. Jantung Clara berdetak semakin cepat. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin ia terlalu takut. Mungkin pria itu hanya tamu biasa, atau mungkin semua ini hanya karena Raymond tidak ada di dekatnya. Kemudian, lift kembali berhenti. Ting—pintu terbuka. Seorang pasangan suami istri masuk sambil mengobrol pelan, diikuti dua tamu lain yang membawa koper kecil. Seketika, suasana lift yang semula mencekam mendadak berubah ramai. Clara langsung bergerak, ta
Keesokan paginya, rumah kecil Bibi Janeta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai tipis di ruang makan, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua yang sudah mulai kusam. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara. Clara duduk diam. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapannya kosong, sejak semalam, ia hampir tidak tidur. Pikirannya dipenuhi dua orang—Raymond dan Noah. Bibi Janeta duduk di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Thomas berdiri di dekat jendela, bersandar dengan tangan terlipat di dada. “Ada apa sebenarnya?” tanya Bibi Janeta lembut. “Dari tadi kau terlihat gelisah, Clara." Clara menarik napas panjang. Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya. “Aku… ingin memberitahu Raymond tentang Noah.” Ruangan mendadak sunyi. Thomas langsung menoleh cepat. Sementara Bibi Janeta tampak membeku beberapa detik. “Kau serius?” tanya wanita tua itu lirih. Clara mengangguk pelan. “Aku capek terus b